
Pagi datang.
Pagi ini Aileen juga memasangkan dasi untuk Hansel. Pria matang itu duduk di tepi ranjang dan Aileen bediri di hadapan.
Tapi kali ini saat Aileen memasang dasi itu, Hansel terus mengajaknya bicara. Hingga Aileen lupa bagaimana caranya.
"Jangan bertanya dulu," kesal Aileen, dia melerai dasi itu dan membalas tatapan Hansel dengan tatapan yang lebih tajam.
Kedekatan diantara mereka membuat Aileen merasa sangat nyaman, dia tak canggung lagi untuk menunjukan semua rasa. Termasuk marah.
"Kamu yang lupa kenapa menyalahkan aku."
"Aku tidak lupa, tapi Kak Hansel selalu mengajakku bicara. Aku jadi lupa," jawab Aileen.
Sebuah jawaban yang membuat Hansel ingin tertawa, namun dia tahan. Akhirnya dia hanya memilik diam, memeluk pinggang Aileen dan menikmati semua debaran yang tercipta di hatinya.
Debaran yang sudah sangat lama tidak pernah ia rasa, kini tiba-tiba Aileen menghidupkannya kembali.
Hansel sadar, dia mulai tertarik pada gadis kecil ini. Pada gadis yang bahkan rambutnya masih seperti bocah laki-laki.
"Aku meminta Denis untuk menemani kalian berbelanja dan nonton hari ini."
"Bukannya aku sudah bilang, kata Havana kak Denis tidak usah ikut."
"Bagaimana jika saat kalian pergi bertemu dengan Freya dan Pharsa? atau bahkan mama Helda."
"Aku akan jadi lebih berani."
"Benarkah?"
"Iya."
"Janji?"
"Aku usahakan."
Gemas, Hansel menarik hidung Aileen pelan.
"Kak, aku benar-benar lupa bagaimana caranya. Hari ini Kak Hansel terlalu banyak bicara."
"Benarkah?"
"Iya."
Hansel kembali membimbing kedua tangan Aileen untuk memasangkan dasi di lehernya, mengulang pelajaran kemarin hingga Aileen ingat.
Hingga gadis ini mulai tersenyum saat semua ingatannya kembali, lalu memasang dasi itu sendiri dan bersimpul dengan benar.
"Kalau besok masih lupa lagi aku akan menghukum mu."
Aileen mencebik, kata hukuman selalu identik dengan pukulan.
"Aku tidak akan memukul mu."
"Lalu?"
"Cium pipi ku."
Seperti sebuah ciuman kasih sayang kepada sang ayah.
Tanpa banyak kata, Aileen pun langsung mengecup sekilas pipi Hansel. Menempelkan bibirnya yang lembab pada pipi hangat itu.
"Tidak perlu menghukum ku, tiap pagi aku akan mencium kak Hansel sebelum pergi bekerja." jelas Aileen dengan bibir tersenyum lebar, seolah ciuman singkat itu tidak memberikan efek apapun pada hati dan jantungnya.
Sementara Hansel tidak, pria ini mematung mendapatkan sentuhan lembut itu.
Jantungnya bergemuruh bahkan hingga menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Bibir Aileen benar-benar lembut.
Hansel lalu menatap senyum Aileen yang membuatnya merasa seperti pedofiill. Karena sepertinya Aileen tidak menganggap jika ini adalah sebuah ciuman untuk 2 orang dewasa.
"Aileen."
"Iya Kak."
"Kamu hanya boleh mencium ku seperti itu, tidak boleh pada orang lain."
Aileen mengangguk patuh.
"Miliki batasan ketika berteman dengan laki-laki."
"Iya."
"Bila perlu selalu ciptakan jarak 1 meter diantara kalian."
"Kenapa begitu?"
"Karena aku tidak suka istriku nanti dekat-dekat dengan pria lain."
Aileen menganggukkan kepalanya lagi, dia akan menuruti semua perintah Hansel. Terlebih perintah itu tidak menyulitkan dirinya.
"Kuliah mu 2 hari lagi kan?"
"Iya."
"Hari ini pergilah bersama Havana, sementara besok pergi dengan ku."
"Mau apa?"
"Memilih cincin pernikahan."
Aileen tersenyum dan mengangguk. Dia bahkan langsung menyentuh jari manis tangan kanannya yang masih kosong.
"Mengerti?"
"Iyaaaaaa."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dah cium pipi ya, jangan lupa bunga dan kopinya.
Iyaaaa🤣