
Hansel kembali mencium bibir Aileen, seirama dengan pinggulnya yang mulai bergerak naik dan turun.
Sementara Aileen memejamkan matanya erat, merasakan sensasi sakit dan nikmat sekaligus. Gadis kecil ini bahkan mencengkeram kuat lengan Hansel, seraya bergerak mengimbangi sang suami.
Mereka terus saling memberi sentuhan hingga akhirnya desahaan itu saling bersahutan merdu.
Aileen tak malu-malu lagi mengeluarkan suara manjanya saat Hansel menghentak lebih kuat.
Mereka berbagi peluh, sampai akhirnya berbagi denyut panjang di kedua inti itu. Hansel menghentak di bagian terdalam dan menyemburkan semua Hasrat yang selama ini terpendam.
Nafasnya terengah, sementara Aileen dadanya terlihat naik turun seperti habis berlari.
Melihat itu Hansel tersenyum kecil, dia lantas merebahkan diri di samping sang istri dan memeluk Aileen erat.
"Sakit?"
"Enak," jawab Aileen tak kalah singkat, jawaban yang membuat senyum Hansel jadi semakin lebar.
"Mau lagi?"
"Capek."
"Kalau begitu tidur lah." Hansel memeluk erat istrinya, sedangkan Aileen mulai menutup mata.
"Kak?"
"Apa?"
"Tapi aku Haus," ucap Aileen dengan matanya yang sudah terpejam. Kakinya lemas sekali dan inti tubuhnya terasa pedih, Aileen seolah tak mampu lagi menggerakkan tubuhnya.
"Aku akan ambilkan minum."
"Terima kasih Kak."
Hansel bangun, lebih dulu menuju lemari dan mengambil celana pendek yang nyaman untuk dia gunakan. Lalu mengambil segelas air putih di meja sofa yang sudah tersedia di dalam kamar ini.
Dengan membawa segelas air putih itu Hansel kembali mendatangi ranjang. meletakkan airnya di atas nakas dan membantu Aileen untuk bangun.
"Badan mu sakit semua?"
"Iya, itunya juga perih," jawab Aileen setelah dia duduk dan menerima uluran gelas dari sang suami.
"Nanti coba aku lihat."
"Jangan! aku malu."
"Kenapa malu? Aku kan sudah lihat."
"Su-sudah tidak sakit kok," jawab Aileen gugup, minumnya sudah jadi gelas itu dia kembalikan pada Hansel.
"Berbaringlah."
"Kak Hansel mau apa?"
"Memeriksa."
"Jangan, malu."
Aileen mengerucutkan bibir, dia tidak bisa membantah Hansel.
Lantas dengan hati-hati dia kembali merebahkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang. kemudian pasrah saat Hansel kembali membuka kedua kakinya lebar.
Membiarkan sang suami untuk menatap lekat intinya yang jadi berkedut lagi.
"Maafkan aku Ai, benar-benar lecet."
"Kak Hansel sih!"
"Iya, salah ku."
"Terus bagaimana?"
"Kita cuci dulu ya biar bersih, berendam pakai hangat sebentar habis itu baru tidur."
"Tapi aku tidak bisa jalan."
"Aku gendong."
Aileen tersenyum, dia bahkan mengulurkan kedua tangannya ingin diangkat.
Dan Hansel menyambut itu, dengan hati-hati dia menggendong sang istri dan membawanya ke dalam kamar mandi.
Mereka berdua sama-sama berendam air hangat sejenak, membersihkan tubuh yang tadi penuh peluh.
Lalu saat kembali ke ranjang Hansel juga masih menggendong Aileen.
"Tunggu disini, aku ambilkan baju ganti mu."
"Maaf ya Kak, jadi Kak Hansel yang harus melayani aku."
"Karena itu cepat sembuhlah, lalu setelahnya layani aku lagi."
"Iya," jawab Aileen patuh, tanpa tahu pelayanan apa yang suaminya maksud.
Hansel kemudian kembali dengan membawa baju ganti Aileen, dia juga bantu untuk memasangkannya.
"Kak."
"Hem?"
"Kakak juga cepat pakai baju."
"Kenapa?"
"Terlalu indah," jawab Aileen kemudian terkekeh sendiri. Tubuh Hansel yang hanya mengunakan handuk seperti itu benar-benar membuatnya terpesona. Wajar saja jika tubuh kecilnya jadi sakit. Hansel benar-benar pria yang perkaasa.
"Kamu menggoda ku?"
"Tidak, aku serius. Sana cepat pakai baju." balas Aileen pula, dia juga buru-buru membaringkan tubuhnya. Lalu menatapi Hansel yang tengah memakai baju di depan sana.
Dan melihat betapa sempurna nya Hansel, membuat Aileen juga ingin tampil sempurna.
Dadaku pasti terlalu kecil untuk kak Hansel, aku harus membesarkannya juga. Batin Aileen mantap.