
Puas berenang, Hansel mengajak sang istri untuk menepi. Mereka berhenti di tangga stainlis di pinggir kolam.
Hansel lalu mendudukkan Aileen disana, membuat posisi mereka sejajar. Hansel bisa melihat dengan jelas kedua mata Aileen yang berbinar senang.
"Sekarang mana bayarannya?" tanya Hansel.
"Bayaran?"
"Hem, dari tadi kamu seperti benalu menempel di punggung ku. Jadi sekarang aku minta imbalannya."
"Imbalan? kak Hansel pamrih sekali. Memangnya mau imbalan apa?"
"Ciuman panas."
"Iih!" Aileen memukul dada suaminya yang polos, pukulan itu sedikit mengenai air hingga membasahi wajah mereka.
"Lakukan."
"Aku yang mulai?" tanya Aileen dan Hansel mengangguk, menunggu sang istri memberikannya sebuah ciuman panas.
Dan Aileen mulai menyentuh tengkuk sang suami, mengikis jarak dengan bibirnya yang terbuka dan menjangkau bibir suaminya.
Aileen mulai melumaat dengan kaku, membuat Hansel tersenyum kecil dalam ciuman itu.
"Bibir mu jangan tegang," ucap Hansel, memberi pelajaran penting.
"Baiklah, aku coba lagi."
Aileen mengulangi ciumannya, kini jadi lebih lembut dan begitu menggoda. Lama-lama Aileen bahkan hanyut sendiri dalam ciumannya itu, apalagi saat Hansel memeluk erat pinggangnya dan kembali membawanya masuk ke dalam air.
Ciuman itu lama-lama berubah jadi panas, mereka bahkan tidak merasa kedinginan sedikitpun.
Dan saat ciuman itu terlepas, nafas sama-sama memburu.
"Kak, kita harus jemput Havanah," ucap Aileen dengan suaranya yang terengah, terdengar seperti desaah di telinga Hansel.
"Aku akan minta Denis untuk menjemput dia lagi."
"Kok gitu?"
"Karena aku belum puas berenang."
Hansel kembali mencium bibir sang istri, kini tangannya mulai berkelana hingga ke bawah sana. Hingga celana pendek Aileen dan CD itu mengapung di atas air.
"Kak Hansel!" Aileen memukul bahu Hansel, saat suaminya ini mencari celah untuk masuk lebih dalam.
Dan ketika berhasil, Aileen tak mampu lagi berkata-kata. Kedua matanya yang awas kini jadi sayu. Dia menggeliat mencari denyut paling mematikan untuk mereka berdua.
Menciptakan gelombang paling dasyat di kolam renang itu.
Malam tiba.
Denis menginap di rumah ini, sehabis makan malam Denis, Hansel, Aileen dan Havana duduk di taman yang ada di samping ruang keluarga.
Antara ruang keluarga dan taman itu hanya disekat oleh dinding kaca.
"Kak, aku mau mengatakan sesuatu," ucap Havana, lebih dulu buka suara sebelum kakaknya membahas tentang pekerjaan.
"Mau bicara apa?" Aileen yang bertanya, karena dia juga penasaran. Sementara Hansel hanya diam, menatap sang adik menunggu Havana melanjutkan ucapannya.
"Aku mau pacaran, masa umurku udah sudah 21 tahun tapi tidak pernah tahu rasanya jatuh cinta," keluh Havana.
Denis yang juga mendengar pun langsung melirik ke arah gadis ini sekilas, ternyata Havana benar-benar mengutarakannya pada Hansel.
"Lulus kuliah dulu, baru aku izinkan kamu dekat dengan pria."
Sudut bibir Denis tersenyum kecil, dia tahu Hansel tidak akan setuju.
"Bagaimana jika pria nya kak Denis? boleh tidak sekarang saja pacarannya."
"Denis?"
"Iya, asisten Denis."
"Kalau Denis pria nya tidak masalah pacaran sekarang."
Ha?! Denis tercengang, Aileen masih mencerna pembicaraan itu dan Havana langsung tertawa keras penuh kemenangan.
"Benar ya?" tuntut Havana sekali lagi dan Hansel mengangguk, Hansel sangat mengenal Denis, dia yakin Denis malah akan melindungi sang adik.
Tawa riang Havana itu tak lepas dari pantauan Robin yang duduk di ruang tengah, dia sangat bersyukur masih bisa melihat Havana dan Hansel hidup rukun.
Dan disaat Robin begitu menikmati kebersamaan anak-anaknya, Angeline justru menatap penuh kebencian.