
Jam 2 siang, Hansel pulang lebih dulu sementara Aileen dan Havana masih mengikuti kelas terakhir mereka untuk hari ini.
Sampai di rumah dia langsung di sambut oleh Artur yang mengatakan jika Robin dan Angeline pergi dari rumah.
"Tuan Robin mengatakan jika diantara kalian butuh waktu untuk sendiri dulu, memberi jarak agar bisa mengerti arti satu sama lain."
Mendengar laporan itu, Hansel menghentikan langkah kakinya di ruang tengah. Dia membuang nafasnya dengan kasar.
Tentang sang ayah sambung kini dia pun masih bingung harus bagaimana.
Tapi Angeline bukanlah wanita yang tepat untuk ada ditengah-tengah keluarga mereka.
"Tuan Robin dan Nyonya Angeline memutuskan untuk tinggal di rumah milik tuan Robin," jelas Artur lagi dan Hansel mengangguk kecil.
Lalu membuat gerakan mengusir dengan menggerakan tangan kanannya pelan.
Sore hari Hansel menjemput Aileen dan Havana pulang.
Namun ada yang berbeda yang terlihat dari wajah pria tampan Ini, raut wajahnya seolah tengah menyimpan beban.
Havana dan Aileen menyadari itu, kedua wanita ini sontak saling pandang.
Ketika mobil berhenti di lampu merah, Aileen memberanikan diri untuk bertanya ada apa.
"Kak, apa ada sesuatu yang terjadi? Kak Hansel seperti sedang memikirkan sesuatu," ucap Aileen sekaligus bertanya.
Membuat Hansel menoleh pada sang istri yang tengah duduk di sampingnya.
Lalu menoleh ke belakang dan melihat Havana yang juga menatapnya lekat, seolah menunggu jawaban yang akan dia berikan.
Hansel tahu, seberapapun marahnya sang adik pada Robin tapi pria itu adalah ayah Havana. Dan kepergian Robin dari rumah pasti akan semakin membuat Havana kecewa.
"Apa yang terjadi?" tanya Havana pula, dari tatapan sang kakak dia tahu jika sepertinya akar masalah itu ada pada dia.
Dan mendengar penuturan sang kakak membuat Havana langsung terdiam, sesaat jantungnya seperti tersengat. Karena lagi-lagi sang ayah lebih mementingkan wanita itu dibanding keluarga mereka.
"Baguslah, setidaknya wanita itu tidak lagi sok berkuasa di rumah milik mama," balas Havana, ingin terlihat baik-baik saja dihadapan Hansel dan Aileen. Tidak ingin memperlihatkan kekecewaan yang berulang kali dia rasakan.
Dan mendengar ucapan Havana itu, Hansel pun hanya mampu diam. Dia tahu Havana hanya sedang berpura baik-baik saja.
Sementara Aileen tak berani bicara, suasana di dalam mobil ini jadi semakin dingin.
"Akhir pekan nanti ajaklah Denis kencan, aku dan Aileen juga ingin menghabiskan waktu bersama tanpa gangguan mu," ucap Hansel, ingin mengalihkan pembicaraan.
Tidak ingin tentang Robin menjadi luka tak berkesudahan bagi mereka.
Hansel ingin dia dan Havana saling menyembuhkan.
"Benar aku boleh kencan dengan kak Denis?" tanya Havana, kembali antusias. Hatinya yang sendu mendadak jadi membaik.
"Hem, agar kamu tidak menganggu ku dan Aileen."
"Iss, siapa juga yang mau ganggu kalian. Yang ada kak Hansel jangan ganggu hubunganku dengan kak Denis. Jangan melarang jika akhirnya kami berciuman."
"Astaga Havana, otak mu mesum sekali. Kalian kan masih pacaran, tidak boleh ciuman." Aileen yang syok langsung melarang.
"Boleh Ai, yang tidak boleh itu anu anu."
"Anu anu apa?"
"Itu yang sampai kamu tidak bisa jalan."
"Memangnya punya kak Denis juga besar?"
"Astaga!" geram Havana, sementara Hansel langsung mengecup bibir istrinya dengan gemas. Tak peduli jika Havana di belakang semakin meronta.