
Dion di turunkan di depan pintu masuk perusahaan, di sana dia menjadi pusat perhatian. Dalam batin Dion dia berkata.
“ Padahal aku sudah berusaha untuk tidak mencolok!”
Semua karyawan yang berada di lobi, memandang Dion dengan takjub, walaupun tidak melihat wajahnya, semua orang tetap merasakan auranya.
“ Bukankah anak itu tampan?”
“ Apakah dia salah satu Brand dari perusahaan ini?”
“ Wah, sepertinya dia sangat cocok untuk jadi model pakaian musim ini!”
Tiba-tiba security menghampiri Dion, dia bertanya. “ Hei , anak kecil. Apa yang kau lakukan di sini!”
Dion dengan sopan menjawab. “ Aku datang ke sini, karena ingin bertemu dengan ayahku!”
Dalam batinnya security bertanya. “ Siapa ayahmu? Ada keperluan apa? Sehingga kau datang menemuinya!”
Dengan spontan Dion menjawabnya. “ Karena aku akan pergi bermain dengan ayahku! Apakah tidak boleh?”
Security dengan halus, dan lembut dia berkata. “ Sebaiknya kamu pulang, di sini tidak di perbolehkan ada anak-anak berkeliaran.”
Dion sedikit bersabar, dengan sopan dia menjelaskan maksud kedatangannya. “ Aku adalah Dion, aku adalah putra kedua dari Nelson Hongli, Nelson Hongli adalah ayahku! Apakah aku sudah bisa masuk? ungkap Dion.
Namun, security itu tidak mempercayai perkataannya, dengan sedikit memaksa dia mendorong Dion menjauh dari lobi perusahaan.
Dion sedikit kesal, tiba-tiba ada seorang perempuan menghampiri security seraya berkata. “ Ada apa?”
Security mengalihkan pandangannya, seraya berkata. “ Nona, anak ini, mengaku-ngaku sebagai putra Presdir Nelson! Dan memaksa untuk masuk menemuinya!”
“ Apa !!! Berani-beraninya anak ini mengaku sebagai anak dari Presdir!” Seru seorang wanita, yang di bilang sekretaris itu.
“ Hei, anak kecil! Jangan mengada-ngada. Presdir itu tidak memiliki anak, dari pernikahannya.”
“ Jadi kau tidak perlu susah payah berbohong.” Ungkapan sinis darinya membuat Dion merasa bingung.
Dion mencoba merana sakunya, ternyata dirinya tidak membawa ponselnya. “ Ah, gawat. Ternyata aku tidak membawa ponsel, bagaimana aku menghubungi ayah?”
Dion tidak menghiraukan perkataan wanita tersebut. Dia melangkahkan kakinya menuju meja resepsionis. Dengan sopan dia bertanya. “ Permisi, apakah saya boleh menggunakan telepon?”
Karyawan yang berada di meja resepsionis itu sedikit bingung, seraya bertanya. “ Kau ingin menelpon siapa?”
Dion kembali menjawabnya dengan sopan. “ Nelson Hongli, aku ingin menelponnya. Jadi dapatkah aku menggunakan teleponnya?”
Saat Dion mencoba berbicara lagi, tiba-tiba wanita tadi menariknya hingga terjatuh.
“ Hati-hati.” Teriak karyawan wanita yang kebetulan lewat.
Tubuh Dion di tarik cukup kasar oleh wanita itu, hingga kepalanya mengalami benturan yang cukup keras.
“ Ah, ini terlalu sakit! “ ungkap Dion seraya bangkit.
Karyawan wanita itu menghampiri Dion, dia menanyakan keadaannya. “ Anak kecil, kau tidak apa-apa?”
“ Ah, kepalaku sakit sekali!” ungkap Dion, saat dia memegangi kepalanya terlihat dahinya memar, dan mengeluarkan darah.
“ Ah, kenapa harus ada darah di simi?” Dion sedikit kesal di buatnya.
“ Itu balasan untuk anak yang nakal, dan tidak tahu sopan santu sepertimu!”
“ Wah, wah, Nona, kau terlalu kasar untuk wanita yang memiliki paras cantik sepertimu.”
“ Pantas saja, ternyata wajah cantik dan bersih itu bukan jaminan!” ungkap Dion.
Orang-orang mulai mengerumuni mereka berdua.
Di ruangannya, Nelson sudah terbangun. Dia yang menunggu putranya datang pun merasa ada yang aneg, karena menurut laporan sopirnya, Dion sudah sampai di lobi. Namun, sekian lama dia menunggu putranya tak kunjung sampai.
Nelson memerintahkan Roy untuk turun ke bawah untuk mencari Dion.
“ Roy, turunlah ke bawah. Cari Dion, menurut sopir seharusnya Dion sudah bersamaku.”
“ Tapi putraku tidak ada, bahkan ponselnya tidak bisa di hubungi!” Perintah Nelson.
Roy menganggukkan kepalanya, seraya meninggalkan Nelson.
Di lantai dasar keributan semakin menjadi, wanita yang di duga sekretaris itu kembali menarik Dion dengan kasar! Seraya berkata. “ Sebaiknya, kau cepat pergi! Di sini bukan tempatmu!”
Dion semakin jengkel, tidak ada seorang pun yang membantunya, dengan keras dia berteriak. “ Harus berapa kali aku katakan, bahwa aku ini putra Nelson Hongli!”
“ Eh, anak ini benar-benar mengada-ngada!”
Dion hanya menghela napas beratnya, dalam hatinya berkata. “ Apakah perlakuan ini yang aku dapat, saat ingin bertemu dengan ayahku! Apakah tidak ada yang mau membantuku?”
“ Aah, ayah bagaimana ini? Apakah kau rela melihat putramu di aniaya seperti ini.” Dion terlihat pasrah. Orang-orang hanya menonton. Namun, tidak membantu sedikit pun.
Saat Dion di seret paksa saat itu Roy melihat keributan, dan menghampirinya.
Betapa kagetnya dia, melihat Dion di seret seperti itu. Roy membelah kerumunan, seraya berteriak. “ Tuan, Tuan kecil!”
Roy memeriksa keadaan Dion, dia berteriak pada orang-orang yang berada di sana.
“ Apa yang kalian lakukan? Lepaskan anak itu! Perinta Roy.
Security kaget, saat mendengar kemarahan Roy.
Wanita sekretaris itu berkata. “ Tuan Roy, mungkin ada sedikit kesalahan. Anak ini mengaku sebagai putra Presdir! Sedangkan Presdir tidak memiliki anak dari pernikahannya.” ungkap wanita itu, percaya diri.
Roy mengabaikannya, dia berjalan menghampiri Dion. Dengan lembut Roy melepas topi yang menutup wajah Dion.
Dan betapa kagetnya semua orang kala melihat wajah anak yang di makinya.
Semua orang berbisik. “ Lihatlah wajah anak itu, sangat mirip dengan presdir!”
“ Jangan-jangan anak itu, benar anak Presdir?”
“ Kau benar, bagaimana ini? Aku jadi takut terbawa-bawa!”
“ Tuan kecil, apa yang terjadi?” Roy menengadahkan wajah Dion, betapa kagetnya dia ketika melihat memar di sekitar dahinya yang cukup membuat orang meringis kala melihatnya.
Dion tidak banyak bicara, dengan tenangnya dia bertanya. “ Di mana ayahku?”
Roy menatap anak yang ada berada di depannya itu dengan heran, seraya berkata. “ Tuan kecil, sepertinya lukamu cukup parah!”
“ Akh, ini hanya sedikit tergores saja, tidak perlu di khawatirkan!”
Roy memalingkan pandangannya, pada orang-orang yang berada di sana.
“ Aku tidak akan banyak bicara, lagi pula aku sendiri tidak memiliki wewenang itu! Kalian sudah tahu bukan konsekuensinya mengganggu Presdir?”
Semua orang bergidik ngeri kala membayangkan apa yang akan di lakukan oleh Nelson Hongli yang terkenal kejam itu!”
Roy mencoba menggendong Dion, seraya meminta seorang karyawan membawakan alat P3K, dan kantong es untuk mengompres luka memar Dion.
Saat melangkahkan kakinya, seorang wanita memegangi kaki Dion, seraya memohon belas kasihan. “ Tolong, tolong maafkan aku!”
“Aku mengaku salah!” Tolong jangan adukan aku, pada Presdir, aku mohon.”
“ Aku tidak ingin di pecat! Aku sudah bekerja dengan keras, untuk mencapai posisi ini! Seru wanita itu saraya berlutut, dan menangis.
Dion tidak bergeming, dia memilih pergi meninggalkan wanita yang berlutut, seraya menangis itu!
Tok.. tok… tok… suara pintu di ketuk.
Saat pintu di dorong, memperlihatkan Dion di gendong oleh Roy.
Nelson sedikit heran, mengapa Roy menggendongnya. Dan betapa kagetnya dia kala melihat luka memar yang cukup besar, di dahi putranya itu!”
Nelson bergegas menghampiri Dion dengan cepat, tanpa memikirkan luka di perutnya, seraya bertanya. “ Apa yang terjadi? Bagaimana bisa kau terluka seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi?”
Nelson sedikit tidak sabar di buatnya. Nelson sedikit berteriak, “ Roy jelaskan padaku!”
Roy pun, menjelaskan duduk permasalahannya pada Nelson.
Nelson yang mendengar penjelasannya pun geram, bagaimana bisa karyawannya mampu menyakiti putranya.
“ Roy, hubungi Andre, biarkan dia membereskan wanita yang menyakiti putraku! Jelaskan padanya, bahwa jangan sampai ada yang terlewat!”
Nelson ambruk di hadapan Dion, Nelson terlihat begitu kesakitan, dia meringkuk, memegangi bagian perutnya.
“ Ayah!!!! Teriak Dion.
Roy yang melihat Nelson tersungkur pun segera membantunya bangkit.
“ Kita harus membawanya ke rumah sakit sekarang!”Dion begitu panik di buatnya.
“ Cepatlah, apa yang kau tunggu!” Perintah Dion.
Jangan lupa like. Vote dan komen ya guys. Terima kasih. 🙏🥰🫶🌹🌹
Bersambung