ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 119


Andre menatap Dean. Dia tersenyum sendirian.


Yohan yang melihat Andre tersenyum pun mendekat. “ Apa yang kau pikirkan?” tanyanya.


“ Ah kau. Mengagetkanku saja,” ungkap Andre.


Andre sedikit berpikir. Dia pun berkata. “ Aku membayangkan anak itu tumbuh dewasa, bersamaan dengan kita yang menua,” ucapnya. Seraya menyesap minumnya.


Yohan mengerti tentang apa yang di katakan Andre.


Lima tahun yang lalu Andre harus kehilangan putri yang dia cintai selama hidupnya, karena kanker darah atau biasa di kenal dengan nama Leukimia.


Putrinya telah berjuang cukup lama. Hingga akhirnya dia mengakhiri perjuangannya. Dengan meninggalkan dunia ini.


Padahal peninggalan satu-satunya dari istrinya adalah putri semata wayangnya. Namun, dia harus rela kehilangan lagi.


Andre begitu rapuh saat itu. Setelah dia kehilangan istrinya. Putri tercintanya pun pergi meninggalkannya. Setelah pemakaman. Setiap harinya dia mengurung diri di kamar rumahnya.


Dia tidak ingin ada seseorang berada di sampingnya. Hingga akhirnya Nelson lah yang membujuknya, dan juga berbagi kesedihan bersamanya.


Dan pada akhirnya Andre dan Nelson menjadi teman baik. Bahkan urusan apa pun yang menghambat Nelson. Andre lah yang membereskannya.


Kini Andre merasakan kesedihan yang di alami oleh Nelson. Dia sedikit mengerti tentang rasa sakit yang di derita Dean. Dia tidak ingin anak yang ada dalam pandangannya itu memilih untuk pasrah tanpa berjuang lebih dulu.


Namun, yang dia yakini adalah Dean pasti berhasil melawan penyakitnya, dia pasti sembuh seperti semula. Andre yakin bahwa Dean mampu melewati masa kritisnya.


Setelah puas berjalan-jalan keliling kota. Mereka pun memutuskan untuk kembali ke Hotel. Terlihat Dean sudah cukup lelah karena perjalanan yang cukup panjang.


Sesampainya di Hotel Dean masih tertidur. Evan akan mengambil alih Dean. Namun di hentikan oleh Andre.


Andre berkata. “ Biarkan aku yang menggendongnya,” ucapnya.


Evan hanya menyerahkan Dean ke pangkuan Andre.


Andre menatap sendu pada Dean. Rasanya seperti dia sedang menggendong kembali putri kecilnya.


“ Tidurlah. Aku akan membawamu ke kamar,” bisiknya.


Yang lainnya di belakang Andre seakan nostalgia pada momen di mana Andre masih bersama putrinya, dia selalu menggendongnya hingga akhir hayat putrinya.


“ Mengapa aku jadi sedih seperti ini?” ucap Yohan.


“ Aku seperti merasakan kerinduan Andre yang tak berujung,” ucap Ronald.


Robin hanya mematap nanar pada Andre saat menggendong Dean. Rasanya dia pernah melihat hal seperti ini.


“ Ah. Rasanya seperti nostalgia. Aku harap Nelson tidak akan merasakan luka yang pernah Andre rasakan dulu,” batinnya.


Evan membukakan pintu kamar, sedangkan Andre membawa Dean menuju kamarnya. Dean di baringkan, dia tertidur begitu lelap.


“ Oliver. Tolong bersihkan tubuh Tuan kecil. Dan gantilah pakaiannya, dengan baju tidur,” pinta Evan.


“ Baik, Tuan,” ucap Oliver.


Andre menyukai Oliver. Di perhatikannya dia cukup tulus menjaga dan merawat Dean.


Andre meninggalkan kamar Dean menuju ke ruang tamu.


“ Apakah kau ingin minum?” tanya Evan.


“ Tentu,” jawab Andre.


“ Apakah yang lain telah kembali ke kamarnya?” tanya Andre pada Evan.


“ Ya, mereka sudah kembali,” ucap Evan. Seraya menyerahkan sekaleng bir pada Andre.


“ Terima kasih,” ucap Andre. Seraya menerima bir.


“ Aku lihat kau begitu murung,” ucap Evan.


“ Emmm..” seraya menganggukkan kepalanya dia berkata. “ Aku seakan kembali ke masa di mana putriku masih di sisiku,” ucapnya.


“ Melihat Dean yang sakit , aku begitu patah hati,” ungkap Andre sambil menyesap bir di tangannya.


“ Aku juga. Aku begitu terluka kala rasa sakitnya menyerang,” ucap Evan.


Andre termenung. “ Lalu apakah ibunya sudah tahu?”


“ Tentu, dia tahu baru-baru ini. Menurut Presdir dia cukup syok kala mengetahuinya. Namun, sekarang sudah stabil kembali,” ucap Evan.


“ Baguslah, setidaknya ada keluarga yang akan mendukung kesembuhannya,” ucap Andre.


“ Ya. Perusahaan itu telah di ambil alih oleh Presdir, beserta vilanya.” ungkap Evan.


Andre sedikit tercengang kala mengetahui kebenarannya. “ Jadi Nelson yang membeli vilanya?”


“ Tentu saja. Dia tidak akan membiarkan vila milik istrinya jatuh ke tangan orang lain.” ungkap Evan.


“ Baru kali ini aku melihat Nelson begitu perhatian pada wanita.” ucap Andre.


“ Kau akan tahu bagaimana manisnya Presdir saat bersama istrinya,” ucap Evan.


“ Apakah seperti itu?” Andre sedikit tercengang mendengar pernyataan Evan.


“ Aku akan pergi mandi lebih dulu, tunggulah sebentar,” ucap Evan pamit.


“ Baiklah,” ucap Andre.


Andre berada di depan jendela bergaya Prancis. Andre memiliki paras yang menawan tak kalah tampan dari Nelson, dia juga memiliki lukanya sendiri.


Andre adalah salah satu orang kepercayaan Nelson. Apa pun masalah yang di hadapi Nelson. Andre akan senantiasa berdiri tegap membereskan kekacauan yang telah terjadi.


Saat Andre tengah menyesap bir di tangannya, terdengar sebuah suara.


“ Kau masih di sini?”


Spontan Andre mengalihkan pandangannya, dan terlihatlah Dean yang sedang berdiri di ambang pintu.


Dengan perlahan dia berjalan menghampiri Andre, dan duduk di sofa.


Andre bertanya. “ Bukankah kau sedang tidur?”


“ Emm. Aku haus sehingga terbangun. Dan melihatmu berdiri,” ucap Dean.


“ Apakah kau ingin minum?” Tanya Andre.


Dean menganggukkan kepalanya. Andre dengan cekatan mengambilkan segelas air padanya.


“ Minumlah,” ucap Andre.


“ Terima kasih,” balas Dean.


Dean bertanya. “ Apakah kau sangat dekat dengan ayahku?”


“ Tentu saja, aku cukup lama mengenalnya,” ucap Andre.


“ Apakah kau bisa menceritakannya padaku?”pinta Dean.


Andre sedikit terdiam. Dia pun berkata. “ Tentu saja.”


“ Ayahmu adalah seorang yang luar biasa, di usianya yang begitu muda. Dia sudah menjadi seorang Jenderal, dia dikagumi banyak orang di kalangan militer.”


“ Walaupun dia bersikap dingin, dan tegas. Namun, dia adalah seorang pria yang hangat.”


“ Terlebih dia memiliki banyak nyawa. Saat penangkapan pengkhianat negara yang melarikan diri ke gunung.”


“ Ayahmu hampir terbunuh di sana. Namun, sebuah keajaiban saat dia kembali hidup-hidup.”


“ Bahkan saat dia memutuskan untuk meneruskan perusahaan Hongli Group banyak orang menyayangkannya.”


“ Karena Ayahmu adalah salah satu aset yang di miliki negara.”


“ Aku sangat berhutang budi padanya, jika Ayahmu tidak menyelamatkanku saat kejadian itu. Mungkin aku tidak akan bicara di hadapanmu.”


Andre mengenang kembali saat mereka masih berada di militer. Berjuang bersama.


“ Kau sangat beruntung memiliki Ayah seperti Nelson. Namun, dia juga memiliki musuh di mana-mana. Jika kau dan adikmu sampai terekspos pada mereka. Aku khawatir kau akan menjadi incaran mereka.”


Andre bertanya. “ Sekarang Apakah kau takut setelah mendengar perkataanku?”


Dean menggelengkan kepalanya seraya berkata. “ Tidak. Aku sama sekali tidak takut. Karena aku percaya Ayahku akan melindungiku, dan adikku. Sepenuh jiwa dan raganya.”


Andre hanya tersenyum menanggapi perkataan Dean.


“ Ya. Kau benar. Dia akan melindungimu,” ucap Andre.


“ Ah aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan adik, dan ibuku,” ujar Dean.


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰🫶🌹🌹🌹


Bersambung