
Drrrttt… drrrttt… drrttt
Ponsel Bella bergetar, di layar tertulis nama Anita Ye.
Di seberang telepon terdengar suara setengah berteriak. “ Bella ada apa? Apakah telah terjadi sesuatu?”
Bella menjawab. “ Ada hal yang harus aku urus. Maafkan aku karena tidak memberimu kabar.”
“ Kau tahu aku sangat mengkhawatirkanmu,” ungkap Anita.
“ Aku sedang berada di rumah sakit sekarang, kau tidak perlu mengkhawatirkan aku sekarang,” ucap Bella.
“ Siapa yang sakit? Apakah kau sakit? Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau sakit?” ungkap Anita cemas.
“ Bukan aku yang sakit,” ungkap Bella.
“ Apakah itu Nelson?” Anita dengan lantangnya memanggil nama Nelson.
“ Hei. Jaga bicaramu, aku di sini sedang bersamanya,” Bella memberitahu Anita.
“ Opps, maaf. Aku tidak tahu jika kau sedang bersamanya,” ungkap Anita.
“ Apakah kau baik-baik saja? Bagaimana dengan kedua putramu, apakah kabar mereka baik?” Anita bertanya.
“ Aku baik-baik saj, untuk Dean dia baik-baik saja. Sedangkan Dion dia mengalami hari yang buruk,” ungkap Bella.
Anita bertanya. “ Ada apa? Apakah hal buruk menimpanya?”
“ Emmm, Dion terjatuh di kantor Nelson, kepalanya terbentur. Sehingga kepalanya terluka. Namun, kondisinya stabil dan tidak parah. Kau tidak perlu khawatir,” ungkap Bella.
“ Baguslah jika keadaannya baik-baik saja. Maafkan aku karena tidak bisa menjenguk kalian. Karena aku sedang di luar kota sekarang,” ungkap Anita.
“ Tidak apa-apa Anita. Terima kasih karena kau sudah mengkhawatirkan kami di sini, aku harap kau baik-baik saja di sana, dan pekerjaanmu lancar,” ucap Bella.
Anita bertanya. “ Oh ya. Apakah kau sudah berbaikan dengan Nelson? Apakah kau sudah memaafkan apa yang telah terjadi?”
“ Ya. Aku memaafkannya atas dasar anak-anak, aku tidak ingin mengecewakan mereka berdua. Walaupun sebenarnya aku juga bersalah,” ungkap Bella.
“ Jika keputusanmu sudah seperti itu, aku hanya bisa mendukungmu. Namun, jika tidak ada tenpat untukmu pulang, pintu rumahku selalu terbuka untukmu, dan kedua putramu, ingatlah itu.” seru Anita.
“ Oh ya Bella. Aku dengar Vila keluarga Xia telah laku terjual. Apakah kau tahu itu?” ungkap Anita.
“ APA! Di jual? Siapa yang menjualnya?” Ucap Bella kaget.
“ Yang aku dengar adalah ayahmu sendiri yang menjualnya pada seseorang, apakah kau tidak tahu? Bukankah kau bilang, bahwa Vila itu adalah milikmu?” ungkap Anita.
Bella terdiam sejenak, dia tidak percaya apa yang di dengarnya saat ini. Dalam hatinya dia berkata. “ Bagaimana bisa Ayahku menjual rumah milikku, bahkan Ayah tidak mengabariku sama sekali.”
“ Bella apa kau masih di sana?”
“ Bella. Halo.” Anita berusaha memanggil Bella lagi. Namun tetap tidak ada jawaban.
“ Bella,” suara Anita yang keras menyadarkannya dari lamunan.
“ Ah. Iya. Anita sudah dulu ya, nanti akan aku kabari lagi selanjutnya,” ungkap Bella yang agak bingung.
Bella menutup teleponnya, dia sedikit merenung sejenak, bayangan Vila tua itu terus terlintas dalam pikiran Bella. Baginya hanya Vila itu peninggalan satu-satunya dari ibu dan juga kakeknya.
Vila itu sangat berharga baginya, Bella yang masuk kembali ke kamar Nelson pun, menampilkan wajah yang kurang enak, wajahnya begitu murung.
Dion dan Nelson sedang memakan makanannya di meja. Dion menyadari gelagat aneh ibunya pun berkata. “ Ada apa? Apakah terjadi sesuatu?”
Bella yang mendengar perkataan Dion pun menjawab. “ Ah. Tidak ada, tidak ada yang terjadi.”
Nelson pun semakin penasaran, dia pun mulai bertanya. “ Apa yang sebenarnya terjadi? Tidak biasanya kau istriku bersikap seperti itu?”
“ Benar, tidak ada yang terjadi. Aku hanya lelah saja,” ungkap Bella.
“ Benarkah? Sebaiknya kau istirahat istriku,” ungkap Nelson khawatir.
Sandra dan Leo memperhatikan wajah Bella yang seperti ada masalah.
“ Bella. Ada apa? Ada yang bisa Momy bantu?” ucap Sandra.
Leo pun berkata. “ Iya Bella. Jika kau ada masalah kami akan membantumu, kau jangan sungkan dengan kami.”
“ Kita ini sudah keluarga, jadi setiap kau ada masalah berceritalah pada kami, siapa tahu kami bisa membantumu,” ucapnya.
Bella merasa tersentuh dengan perlakuan baik dari kedua mertuanya.
Dengan lembut dia berkata. “ Aku tidak apa-apa. Aku sudah terlalu banyak merepotkan kalian. Aku tidak ingin menambah masalah lagi untuk kalian.”
Nelson dan Dion saling memandang kala mendengar perkataan Bella.
“ Lalu masalah apa yang membuatmu begitu terganggu?” Tanya Nelson.
“ Tidak. Tidak ada,” ucap Bella.
“ Aku akan pergi sebentar, aku akan segera kembali ke sini,” Bella meminta izin pada Nelson, dan juga kedua orang tua Nelson.
“ Pergilah, dan selesaikan masalhmu. Jika kau tidak bisa menyelesaikannya. Aku akan dengan senang hati akan membantumu,” seru Nelson.
“ Kemarilah, berikan aku kecupan hangat dan lembut darimu. Sebelum kau pergi,” pinta Nelson.
Bella merasa terharu atas perlakuan hangat dari Nelson. Dirinya merasa beruntung ada Nelson yang selalu berada di sisinya, dan selalu membelanya.
“ Tunggulah sebentar. Akan aku suruh Roy untuk mengantarmu,” ucap Nelson.
Bella segera menyela perkataan Nelson, dengan mantap dia berkata. “ Tidak. Tidak perlu. Aku bisa pergi sendiri menggunakan taksi, tidak perlu diantar.”
“ Apakah kau yakin?” Tanya Nelson.
“ Emmm. Aku yakin,” jawab Bella.
“ Pergilah. Hati-hati di jalan.” ucap Nelson, seraya mengecup lembut kening istrinya.
“ Aku pergi.” Bella pun pergi meninggalkan rumah sakit. Wajah yang tadinya sedikit ceria kini muram.
“ Roy, istriku sedang berjalan keluar. Ikutilah dia, jangan biarkan dia tahu bahwa kau mengikutinya.”
“ Aku ingin kau menjaganya, dari hal buruk. Apakah kau mengerti?” Nelson memberi perintah.
“ Baik, Tuan muda,” ucap Roy.
Di lantai bawah Bella telah berjalan keluar untuk mendapatkan taksi. Setelah menunggu sebentar akhirnya Bella mendapatkan taksi untuk mengantarkannya ke alamat Vila keluarga Xia.
Roy yang sedari tadi mengintai Bella pun dengan sigap mengikuti taksi yang di tumpangi Bella.
Di dalam taksi tiba-tiba air mata Bella menetes secara perlahan, Bella mencoba menyeka air matanya. Namun tetap saja terus mengalir.
Sang sopir taksi pun sedikit heran, dan bertanya. “ Nona, apakah terjadi sesuatau?”
“ Ah. Tidak. Kenapa aku malah menangis,” ucap Bella.
“ Sepertinya Nona memiliki hari yang buruk, dari raut wajah Nona terlihat begitu banyak beban masalah yang sedang di hadapi oelh Nona.” ungkap sang sopir.
Bella semakin menangis kala mendengar perkataan sopir.
Sang sopir yang melihat Bella kembali menangis pun berkata. “ Nona. Jika Anda ingin menangis, maka menangislah. Lebih baik meluapkan emosi dari pada harus memendamnya sendiri.”
Bella yang mendengar perkataan sopir pun, termenung sejenak. Hingga akhirnya Bella menangis sesegukan di dalam taksi.
Sang sopir merasa kasihan pada pelanggannya, entah apa yang di alami oleh pelanggannya ini hingga menangis dengan begitu pedihnya.
Bersambung