ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 102


Di pagi hari. Nelson yang terbangun lebih dulu pun, memandang wajah cantik Bella yang masih terlelap dalam tidurnya, dia memandang wajah Bella begitu intensnya.


“ Kau memang cantik istriku, walaupun dalam keadaan tertidur pun kau tetap cantik,” batin Nelson.


Nelson semakin mendekat pada wajah Bella, dengan lembut dia mencium bibir Bella yang ranum itu.


Bella yang merasakan sentuhan lembut itu pun perlahan terbangun, dan di saat dirinya mulai membuka matanya, terlihat sepasang netra yang sangat indah sedang mematapnya.


Nelson pun tersenyum menciumnya kembali seraya berkata. “ Morning Kiss,” seraya bangkit meninggalkan Bella. Namun, saat Nelson akan berbalik meninggalkannya, dengan cepat tangan Bella menarik tangan Nelson, tanpa memedulikan luka Nelson yang belum kering.


Nelson yang kehilangan keseimbangannya pun harus rela terjatuh ke pelukan Bella, kini tubuhnya berada di atas tubuh Bella, wajah tampannya pun memandang wajah Bella yang mulai memerah.


Tanpa aba-aba Bella yang memulai lebih dulu, dengan berani dia mencium lembut bibir Nelson, memangutnya secara perlahan, hingga membangkitkan gairah keduanya.


Nelson kini di landa gairah yang menggebu-gebu, rasanya dia ingin melahap tubuh Bella, ingin memasuki inti tubuh Bella, karena sudah cukup lama dirinya tidak merasakan kehangatan dari tubuh Bella yang menjadi candu untuknya.


Tangan Nelson kini semakin liar, tangannya mulai meraba ke mana-mana, Bella yang merasakan desakan hasrat yang tak bisa lagi di bendung. Mereka berdua tidak memedulikan tempat mereka berdua berada.


Di saat mereka tenggelam dalam gairah tiba-tiba saja, perawat dan dokter masuk ke ruangan mereka, sang perawat bahkan menjatuhkan alat-alat medis di tangannya, hingga menimbulkan suara yang membuat telinga sakit.


Bella yang mendengar keributan itu, terperanjat tanpa pikir panjang mendorong tubuh Nelson hingga terjatuh di bawah.


“ Ah sial. Siapa yang berani menggangguku?” Nelson menggerutu.


Sedangkan Bella dengan cepat memperbaiki penampilannya yang sudah tidak karuan.


Bella yang menyadari Nelson terjatuh pun segera membantunya bangkit. Dirinya kini merasa dalam bahaya, tatapan suram yang di tunjukkan Nelson adalah pertandan akan ada sebuah keributan.


Nelson yang sudah bangkit pun menatap sang perawat dengan mulut yang terbuka menganga, sedangkan sang dokter menutup wajahnya dengan jari-jari tangannya. Namun, di sela jari-jari tersebut Nelson melihat mata sang dokter.


Nelson mengalihkan pandangannya pada sang perawat. Sang perawat yang menyadari akan tatapan membunuh Nelson pun dengan gugup berkata. “ Saya juga tidak melihat apa pun, saya minta maaf karena sudah mengganggu aktivitas Tuan muda,” seraya perawat itu membungkukkan tubuhnya.


Nelson membuka mulutnya, dengan dingin dia berkata. “ Seharusnya jika kalian melihatnya, jangan membuat keributan. Cukup kembali keluar tanpa suara sedikit pun, bukannya seperti ini!” Nelson merasa jengkel, bahkan dia sudah lupa bahwa dirinya adalah seorang pasien.


“ Maafkan kami Tuan muda,” mereka berdua serempak meminta maaf pada Nelson.


“ Pergilah, sebelum aku memgejar kalian berdua,” ucapan Nelson membuat tenaga medis itu lari pontang panting di buatnya.


Nelson kembali menatap Bella, wajahnya memerah karena tersipu malu. Namun, Nelson sudah kehilangan minatnya. Dengan lembut dia berkata. “ Maaf istriku sepertinya kita harus kembali ke mansion, agar aktivitas kita tidak terganggu seperti imi,”


Bella masih menanggung malu karena ulah Nelson. Namun dirinya juga sadar jika saja dia tidak menarik lengan Nelson tidak akan terjadi hal seperti ini.


Bella menghirup napas beratnya, seraya berkata. “ Aku sangat malu saat ini. Bagaimana bisa aku berjalan keluar kamar?” Bella merasa sedikit frustrasi.


Nelson hanya tersenyum melihat tingkahnya itu, dengan lembut dan menggoda, dia berbisik. “ Tidak ada seorang pun yang akan mempermalukanmu, kecuali aku.”


Bella semakin tersipu, wajahnya semakin merah. Saat Bella membuka mulutnya untuk bicara, tiba-tiba Nelson sudah mencium bibir Bella dengan semangat dan penuh gairah.


Bella mencoba mendorong Nelson. Namun, apalah daya perbedaan kekuatan mereka begiti signifikan. Bella tidak mungkin menang melawan Nelson.


Bella ingin perlakuan Nelson itu terus berlanjut. Namun, saat keduanya di ambang kegilaan. Mereka harus memendam gairahnya kembali. Karena Nelson lupa menutup kembali pintunya, sehingga saat orang lain masuk mereka berdua tidak mendengarnya.


Leo Hongli berkata. “ Benar-benar jiwa muda kalian ini.”


Sandra Hongli pun menimpalinya. “ Ini bahkan masih terlalu pagi untuk kalian melakukan itu!”


“ Lagi pula kalian berdua ini berada di rumah sakit,” ungkap Sandra.


Dengan refleks dia mendorong Nelson hingga terjatuh. Dirinya mencoba memperbaiki penampilannya yang sudah sembrawut karena ulah Nelson.


“ Ah, aduh-aduh perutku,” ucap Nelson yang mengaduh kesakitan.


“ Sungguh sial, mengapa kalian datang begitu pagi ke sini,” Nelson sedikit kesal pada orangtuanya.


Dion yang sudah melihat semuanya itu berkata. “ Ayah. Seharusnya ayah tidak berkata seperti itu pada kakek dan nenek.”


Nelson baru tersadar bahwa putranya melihat semua aktivitas yang orang dewasa lakukan, dia menepuk kepalanya, dalam batinnya dia berkata. “ Ayah macam apa aku ini? Bisa-bisanya aku memperlihatkan adegan dewasa pada putraku,”


Leo Hongli berkata. “ Seharusnya kau berpikir, tidak seharusnya kau melakukannya di kamar rumah sakit. Sekalipun ini milikmu.”


Bella yang mendengar perkataan Leo Hongli, semakin menundukkan kepalanya semakin bawah. Saat melihat ke lantai ada bercak darah di sana, Bella mencari sumbernya. Dan yang tertangkap oleh pandangannya adalah Nelson.


“ Darah, ada darah,” ungkap Bella.


Leo Hongli dan Sandra Hongli mengalihkan pandangannya pada bagian perut Nelson. Dan benar saja lukanya kembali terbuka.


“ Darah.” Ucap Sandra yang terkejut.


Mereka panik, sedangkan Nelson menatap perutnya yang kembali mengeluarkan darah itu, dengan santainya berkata. “ Aku tidak apa-apa, apa yang membuat kalian panik?”


Leo berkata. “ Panggil dokter, cepat panggil dokter!”


Sandra malah semakin panik kala melihat Nelson berjalan kembali ke ranjangnya.


“ Apa yang kau lakukan? Seharusnya kau jangan banyak bergerak,” seru Sandra yang semakin panik, karena luka Nelson semakin banyak mengeluarkan darah.


Dengan tenangnya Dion menekan bel di balik ranjang Nelson, agar dokter segera datang.


Setelah menunggu sebentar para dokter dan perawat pun datang ke kamar Nelson. Untuk memeriksa keadaannya.


“ Dokter, tolong periksa lukanya,” pinta Sandra.


Sedangkan Nelson sudah membaringkan tubuhnya sendiri di ranjangnya.


Bella khawatir dan merasa bersalah karena sudah mendorong Nelson hingga terjatuh sebanyak dua kali. Mengakibatkan lukanya yang belum kering itu kembali terbuka.


Dokter, dan perawat pun selesai menjahit dan membalut lukanya kembali. Dokter memperingati agar Nelson tidak banyak bergerak.


“ Lukanya sudah saya jahit kembali. Namun, ada baiknya untuk Tuan muda agar tidak banyak bergerak dulu. Mengingat luka jahitan belum kering,” dokter memperingati Nelson agar menahan dirinya.


Dokter dan perawat pun segera meninggalkan ruangan Nelson.


Nelson yang melihat wajah murung Bella pun, meminta Bella untuk mendekat. “ Bella kemarilah,” pinta Nelson.


Bella yang mendengarnya pun segera mendekat pada Nelson. Nelson menarik tubuh Bella agar semakin dekat dengannya, Nelson berbisik di sebelah telinga Bella.


“ Aah, aku harus menunggu lebih lama untuk bisa merasakan kehangatan tubuhmu itu, saat aku pulih aku akan menggarapmu habis-habisan. Bersiaplah,” bisik Nelson. Yang membuat Bella bergidik ngeri kala mendengarnya.


Author pisahkan baru tau rasa, makanya sabarrr😅


Bersambung