ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 159


Sebuah model gaun pengantin yang bernama White Rose masuk dalam penglihatannya, desain gaun pengantin sangat indah memiliki inovatif dan segar, seperti setangkai kelopak bunga mawar yang bermekaran.


Bella sangat menyukainya, dia terus tersenyum memandangi gambarnya, dia segera menelepon perusahaan WO.


Bella membuka ponselnya, dan menekan beberapa digit nomor. “ Halo, aku Bella. Aku ingin memberi kabar bahwa, aku ingin desain gaun pengantinku dari butik White Rose.”


“ Nama dari gaunnya adalah White Rose,” pintanya pada penyelenggara pernikahannya. Setelah menelepon Bella pun meletakkan ponsel beserta tabletnya. Karena sudah tidak ada alasan lagi untuk melihatnya.


Saat tengah malam Nelson baru pulang ke Mansion. Bella masih di ruang keluarga menemani Dean yang belum tidur.


Nelson masuk dengan langkah lunglai ke dalam ruang keluarga. Seketika dia kembali bersemangat. Ketika melihat putra sulungnya beserta istrinya menunggunya di sana.


Dean memperlihatkan senyuman yang begitu tulus padanya, begitu pula Bella. Mereka berdua benar-benar menghilangkan penat karena bekerja seharian.


“ Mengapa kalian belum tidur?” Nelson bertanya pada anak dan istrinya.


Dean menjawab. “ Kami menunggu Ayah pulang,” seraya memeluk pinggang Ayahnya.


Nelson mengulas senyum, dengan lembut dia mengusap puncak kepala Dean, seraya berkata. “ Baiklah, karena Ayah sudah pulang, jadi tidurlah.”


Mereka pun bersama-sama naik ke lantai dua, setelah mengantar Dean masuk ke kamarnya, Nelson dan Bella berjalan menuju kamarnya yang berada di dekat kamar Dean dan Dion.


Nelson yang baru selesai mandi, duduk di sisi ranjang, sedang memegang handuk menyeka rambutnya yang basah.


Bella naik ke tempat tidur, dia sangat lelah setelah seharian berjalan mencari gaun pengantin bersama suaminya sebelum Nelson kembali lagi ke kantornya. Dia sedikit meregangkan tubuhnya lalu masuk ke dalam selimut.


Nelson yang sudah mengeringkan rambut, berbaring di sampingnya, suhu tubuh yang hangat mendekat, baru saja mencium pipi, sejenak akan turun pada bibir tipisnya. Bella langsung mengulurkan tangan menutup mulutnya.


“ Apa malam ini juga tidak mau melakukannya?” Nelson menarik tangannya, bertanya sambil tersenyum tipis.


“ Belanja melelahkan sekali, aku mohon lepaskan aku,” sepasang tangan Bella memegangi selimut yang membungkus tubuhnya, berkata dengan wajah memelas untuk mengambil hatinya. Tapi Nelson terap mencium bibirnya.


Bella terlena oleh keterampilan mencium suaminya yang luar biasa, mereka berdua terjerat ciuman sejenak di atas tempat tidur, pakaian di tubuhnya mulai terlepas, mengendur, suaminya malah mendadak berhenti melakukan aktivitas yang selalu membangkitkan gairahnya.


“ Tidurlah, bukankah kau lelah?” Nelson mengulurkan tangan membenarkan pakaian depan dada istrinya.


Bella yang di cium hingga bibirnya merah dengan begitu lembut, nafasnya terengah-engah, sepasang mata yang sejernih air menatapnya tak percaya dan juga sedih.


“ Mengapa melakukan ini? Kenapa dia menghentikannya? Dia pasti sengaja membuatku menginginkannya, lalu dia menghentikan aktivitasnya,” Bella bertanya-tanya dengan menggerutu.


Setelah itu, pasangan suami istri itu pun tertidur.


❤️❤️❤️❤️❤️


Di siang hari mobil Bantley hitam milik Nelson berhenti di depan sebuah gang sempit. Bella keluar seraya memegang gambar desain gaunnya, melewati jalan yang di apit oleh gedung lain.


Gambar desain yang di tangan Bella, kertasnya menguning, membuktikan bahwa karya itu sudah lama, jejak pensil yang ada di atas bahkan sudah agak buram. Di sudut paling bawah tertulis “ Sepasang kekasih menuju padang bunga yang bermekaran, Robin-Gisel.”


Dalam hatinya dia memiliki keraguan, mencoba untuk kembali memikirkannya. Namun, semakin dia memikirkannya semakin besar keinginannya untuk mengenakan gaun tersebut. Dia pun memberanikan diri untuk datang ke tokonya secara langsung.


Bella berjalan cukup jauh, hingga di ujung jalan gang, terlihat sebuah rumah kaca, areanya tidak terlalu besar, dilihat dengan mata telanjang tidak lebih dari seratus meter, di jendela kaca tergantung berbagai macam gaya pakaian.


Di atas pintu masuk tertuliskan ‘ Studio padang bunga White Rose’. “ Nama yang sangat cantik,” batin Bella.


Bella mendorong pintu seraya berjalan masuk kedalam toko, lonceng angin berbentuk dream catcher yang berada di atas pintu pun bergerak, mengeluarkan suara yang merdu dan jelas.


“ Selamat datang, Anda bisa melihat-lihat, pakaian di toko bisa di pesan sesuai badan.” Terdengar suara seorang wanita dari dalam toko seraya menghampiri Bella.


Terlihat seorang gadis yang berusia sekitar dua puluh tiga tahunan, mengenakan gaun selutut berwarna peach, penampilannya sangat anggun, dan sopan.


Bella berkeliling sejenak di dalam toko, pakaian di dalam tolo semuanya sangat cantik, setiap model desainnya berbeda dari yang lain dan kreatif, memiliki keunikan, sama sekali tidak kalah dengan butik kelas atas yang ada di pusat kota.


Saat dia hendak berkeliling, pandangannya tertuju pada sebuah cheongsam China, dan melihat harganya sekilas, cukup relatif terjangkau untuk dirinya. Dibandingkan dengan butik yang sudah dikunjunginya bersama suaminya. Namun, tidak ada yang menarik minatnya satu pun.


“ Pakaian di toko kami semua didesain secara pribadi oleh bos kami. Asli buatan tangan diukur dan dibuat sesuai ukuran klien. Warna dan motif pakaian juga bisa diubah sesuai dengan keinginan pelanggan. Jadi saat dipakai keluar juga tidak mudah bertemu orang yang memakai pakaian yang sama,” Gadis penjaga toko pun menghampiri Bella, memberikan beberapa katalog tebal padanya.


Di dalam katalog ada contoh bahan, dan sampel motif. Hingga desain pakaian yang diinginkan. Seraya bertanya. “ Toko kalian ada di ujung gang, apa pelanggan cukup banyak?”


Penjaga toko pun mengulas senyum yang penuh arti, seraya berkata. “ Memang sangat jarang, pelanggan kami pada dasarnya pelanggan tetap. Pelanggan kami rata-rata yang dikenalkan oleh pelanggan tetap. Sudah sibuk sekali, apalagi. Bos saya sering bepergian.”


“ Dia juga sangat pintar melihat orang dan memberikan perlakuan berbeda. Terhadap Nyonya kaya dan Nona kaya yang sangat pemilih, mereka yang memiliki uang yang tidak tahu dihabiskan di mana? Akan dapat mengambil untung banyak dari mereka. Kalau para gadis muda yang bergaji kecil, maka hanya mengambil untung sedikit saja. Tapi bagi Bos kami uang bukanlah tolak ukur,” gadis penjaga toko itu bicara panjang lebar pada Bella.


Dia berpikir sejenak mencerna semua perkataan gadis yang ada di hadapannya ini, “ Apakah bisnis bisa di jalankan seperti itu?”


Bella menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Dia kembali melihat katalog seraya berkata. “ Model ini saja. Motif bambu hijau. Terlihat mewah. Namun tetap sederhana.”


“ Baik. Nona, pakai kartu apa tunai?” ucap gadis penjaga.


“ Pakai kartu,” Ketika Bella membuka dompetnya untuk mengambil kartunya, gambar desain gaun pengantin pun terjatuh ke bawah.


Mata sang gadis begitu tajam, dalam satu pandangan sudah mengenali gambar desain itu, dia terkejut lalu berkata. “ Apakah Nona dari Perusahaan WO? Maafkan aku karena salah kirim gambar desain. Maaf karena sudah merepotkanmu mengantarkannya sendiri ke sini,”gadis penjaga toko terlihat sangat menyesal.


*


*


*


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰🫶🌹🌹🌹🌹


Bersambung