
Empat jam telah berlalu, tak ada seorang pun yang beranjak pergi meninggalkan kursi tunggu, mereka sangat cemas, sesekali mereka memandangi lampu berwarna merah di atas pintu masuk ruang operasi. Melihat suster keluar masuk membawa kantong darah semakin menambah kekhawatiran bagi mereka semua. Kabar tentang kecelakaan yang menimpa Robin sudah tersebar di mana-mana. Setiap televisi dan jaringan internet lainnya mengabarkan kronologi kecelakaan yang menimpa Robin.
Gisel yang belum tahu tentang kabar Robin, berjalan keluar kamar, di ruang tamu sudah ada Kakaknya yang sedang menonton televisi. Gisel meraih gelas dan menuangkan air ke dalamnya. Namun, saat dia mendengar tentang kecelakaan yang menimpa Robin seketika dia melepaskan gelas yang ada di tangannya, gelas itu meluncur ke bawah menghasilkan suara yang nyaring membuat Revan mengalihkan pandangannya pada Gisel yang berada di dapur. Gisel mematung, dia tidak bisa bergerak air dan pecahan gelas berserakan di lantai membuat Revan cemas.
“ Gisel, apa kau tidak apa-apa?” Revan segera membawanya untuk duduk di sofa, Gisel menatap Kakaknya lalu berkata dengan gemetar.
“ Kakak, bagaimana dengan Robin?” Nada suaranya begitu berat, di kedua matanya telah mengalir deras air mata yang membasahi wajahnya. Dia tak kuasa menahan tangisnya.
Gisel memegang kedua tangan Kakaknya. Dia memohon dengan sangat padanya. “ Kak, ayo pergi ke rumah sakit. Aku ingin melihat Robin!” Gisel setengah berteriak pada Revan. Dia bahkan bangkit dan bergegas pergi. Namun, Revan menahannya sembari mengguncang tubuhnya.
“ Gisel, sadarkan dirimu!” Revan setengah berteriak pada adiknya. Seketika Gisel terduduk kembali di sofa. Berusaha menenangkan dirinya.
“ Aku akan mencari tahu keadaannya. Jadi aku mohon tenanglah.” Revan meraih ponselnya, menekan beberapa digit nomor lalu menekan tombol panggil. Setelah terhubung Revan memerintahkan sesuatu.
“ Tolong kau cari tahu tentang keadaan Robin, lalu laporkan padaku secepatnya.” Revan pun menutup ponselnya. Dia kembali menatap Adiknya yang sedang menangis di sofa. Revan berjalan perlahan menghampiri adiknya. Dia mendekapnya dengan erat, ingin sekali menghiburnya, akan tetapi dia tidak tahu harus melakukan apa? Tanpa di sadarinya kilauan crystal bening ikut terjatuh melewati wajah tampannya.
Gisel berdiri di sudut ruangan dekat jendela, dia menatap rintik hujan yang mulai deras dengan tatapan kosongnya. Entah apa yang coba dia kisahkan pada ribuan rintik itu. Yang pasti, dia tidak dalam kondisi hati yang baik.
“ Gisel,” seketika wanita yang berdiri di sudut dekat jendela itu berbalik menatap pada seorang pria yang memanggilnya dari arah belakang. Gisel tampak sangat rapuh, tatapannya begitu pilu, manik yang indah itu tenggelam dalam air mata tanpa bisa mengeluarkannya.
“ Ada apa?” Gisel menjawabnya dengan nada suara yang terdengar dingin. Revan menghela napasnya, dengan berat dia berkata. “ Gisel, apa kau ingin pergi ke rumah sakit?” Gisel menatap kakaknya. Dia segera beranjak dari tempatnya, dia memegang tangan Revan dengan penuh harap mendapat kabar baik tentang Robin. Namun Revan menggelengkan kepalanya. Seketika membuat Gisel runtuh. Kedua kakinya tidak bisa lagi menahan berat beban tubuhnya, Revan berusaha membawa Gisel ke tempat duduk. Gisel yang mengikuti langkah kaki Kakaknya, pikirannya masih melayang dia tidak tahu harus bagaimana? Mengingat hari itu dirinya mengatakan hal yang buruk padanya. Kini Gisel merasa sangat bersalah dia ingin menemui Revan akan tetapi dirinya sendiri yang memutuskan hubungan di antara mereka berdua.
“ Aku ingin pergi tapi…. Aku takut. Sangat takut saat ini. Aku tidak bisa menemuinya, walaupun aku sangat ingin. Bisakah aku mengingkari janji yang telah aku buat pada keluarganya? Jika saja waktu bisa di putar kembali, aku tidak ingin pergi melakukan misi yang menyebabkan aku kehilangan anak dan sebagian rahimku karena penyamaranku terungkap. Aku tidak ingin meninggalkan Robin.” Gisel meraung di dalam dekapan Kakaknya. Dia menangis sejadi-jadinya. Suaranya yang lirih menggema di seluruh ruangan, membuat Revan merintih di dalam lubuk hatinya.
“ Maafkan aku yang tidak bisa melindungimu, maafkan aku karena menyeretmu ke dalam dunia yang diinginkan oleh Ayah. Aku sangat menyesal, jika saja aku yang pergi melakukan tugas itu kau tidak akan pernah menderita seperti ini.” Revan memeluk erat tubuh Gisel. Dia membayangkan kembali saat di mana adiknya sedang berbahagia bersama pria yang di cintainya.
Flashback
Sehari setelah insiden kecelakaan dalam misi, Gisel terbaring lemah di rumah sakit, yang dia pikirkan pertama kali adalah janin yang ada dalam rahimnya. Revan masih ingat dengan jelas betapa hancurnya dia. Saat pertama kali siuman Gisel meraung karena kehilangan calon anaknya yang masih janin. Dia juga harus menerima jika rahimnya harus diangkat sebagian sehingga kecil kemungkinannya jika dirinya bisa hamil kembali. Hidupnya runtuh dalam sekejab mata, orang yang di cintainya pun meninggalkannya tanpa mendengar penjelasan darinya tentang kesalahpahaman yang terjadi padanya, bahkan keluarga sang pria memintanya untuk meninggalkan putra mereka setelah mengetahui apa yang terjadi pada Gisel. Dirinya dipaksa kuat oleh keadaan dan di hancurkan oleh tragedi. Sungguh malang nasibnya melewati kesakitan sendirian.
Flashback Off
Kini Revan kembali melihat betapa rapuhnya Gisel, dia seakan terseret ke dalam pusaran keputusasaan. Revan mendekapnya dengan erat, mengusap puncak kepalanya dan berkata. “ Tenanglah, bukankah priamu sangatlah tangguh? Dia pasti bertahan, karena dia belum bisa bersamamu. Walau kau tahu semua makhluk hidup akan merasakan yang namanya kematian. Namun, kau masih bisa berdoa pada Tuhan. Memohonlah padanya, agar memberikannya kesempatan untuk tinggal di dunia ini lebih lama. Jadi hentikan tangisanmu, mulailah berdoa.” Revan mengangkat dagu adiknya, sehingga wajahnya yang sayu itu menatap kedua mata Revan. Dia mencoba untuk menguatkannya berharap dia tidak memikirkan hal yang membuatnya ketakutan dan khawatir.
Di sisi lain.
Nelson dan kawan-kawan menunggu dengan cemas, enam jam telah berlalu namun lampu di atas pintu ruang operasi tak kunjung padam.
“ Berapa lama lagi?” Walau pelan namun semua orang yang berada di sana mendengar suara Ronald. Yohan menepuk punggungnya pelan saat yang lain menatap ke arahnya.
“ Jangan bicara lagi, semua orang begitu gelisah. Jadi sebaiknya jangan menambah kecemasan.” Ronald segera diam tak bersuara lagi setelah Yohan bicara.
Mereka kembali menunggu dengan sabar, berharap semuanya akan baik-baik saja. Setelah menunggu tujuh jam akhirnya lampu pun padam, semua orang segera berdiri saat seorang dokter keluar.
“ Bagaimana keadaannya?” Semua orang menaruh harapannya di balik pertanyaan yang di lontarkan oleh Yohan.
Dari arah dalam ruangan beberapa perawat tengah mendorong brankar, di sana Robin terbaring lemah wajahnya di penuhi oleh luka gores dari yang tipis hingga terberat menghiasi wajah tampannya. Deru napasnya tampak jelas begitu berat. Semua orang mengikuti ke mana brankar itubdi dorong.
Saat tengah berjalan Nelson merasakan ponsel yang ada di saku jasnya bergetar, dia meraih lalu menatap layar ponselnya sejenak. Terlihat dengan jelas siapa yang menghubunginya. Nelson tersenyum hangat lalu menjawabnya.
“ Halo.” Seketika suara ribut menggema dari seberang telepon.
“ Ayah kapan pulang?” tanya Dean.
“ Dean, biarkan aku bicara dengan Ayah!” Nada suara Dion terdengar kesal. Namun, segera Bella merebut ponsel yang ada di tangan Dean.
“ Suamiku bagaimana keadaan Robin?” Suara itu terdengar lembut. Namun terdengar dengan jelas kekhawatiran dari nada bicaranya.
“ Operasinya berjalan lancar, semoga saja dia bisa melewati masa kritisnya malam ini.” Nelson menjawab dengan tidak berdaya.
“ Aku yakin yakin Robin pasti bisa melewatinya. Bukankah dia sangat tangguh. Semua orang pasti mendoakannya tanpa henti, karena dia sekarang terkenal dengan aksi heroiknya.” Suara Bella terdengar kuat dan bersemangat, dia berusaha menguatkan suaminya. Para sahabatnya bukan sekedar teman atau sahabat belaka. Mereka semua adalah keluarga bagi Nelson maupun Bella beserta anak-anak.
“ Aku akan pulang sebentar lagi, tunggulah di rumah bersama anak-anak.” Nelson menutup teleponnya. Lalu dia menatap ke arah bangsal di mana Yohan tengah terbaring lemah, alat-alat rumah sakit yang dingin itu menyentuh kulitnya.
“ Aku akan pulang lebih dulu, jika terjadi sesuatu aku harap kalian segera menghubungiku.” Setelah berpamitan Nelson beranjak pergi dari rumah sakit.
Hari yang cerah telah berganti dengan gelapnya malam. Nelson yang berada di dalam mobil berpapasan dengan mobil yang di kendarai Revan dan juga Gisel, mobil yang di kendarai mereka menuju ke rumah sakit. Sedangkan Nelson menuju ke mansionnya. Saat melewati sebuah toko kue tiba-tiba Nelson meminta Evan untuk menghentikan mobilnya.
“ Evan,” walau suaranya pelan, Evan dapat mendengar dan mengerti tentang isyarat darinya. Dia pun menepikan mobilnya di area parkir sebuah toko kue. Evan menatap etalase kue, di sana terpajang kue kesukaan anak-anak.
“ Evan, tolong kau belikan kue kesukaan anak-anak. Aku akan menunggu di sini.” Nelson menyerahkan kartu hitamnya pada Evan untuk membayar kue yang akan dibelinya.
Evan meraih kartunya lalu beranjak keluar dari dalam mobil. Nelson menatapnya dari dalam mobil saat Evan hendak masuk ke dalam toko. Dia melihat ponselnya ada pesan masuk berbunyi. “ Ayah, aku ingin Cheesecake dan Dion ingin kue Coklat. Tolong mampir ke toko kue.” Pesan itu di akhiri dengan emoticon yang cukup menggemaskan. Nelson tersenyum kala membaca pesan dari putra sulungnya.
“ Sungguh kalian putraku, di saat aku sudah membelinya kalian juga menginginkannya.” Nelson tersenyum sendiri saat Evan kembali dari toko. Evan tahu perasaan bahagia itu datang dari kedua putranya.
Evan mengembalikan katu hitam milik Nelson, lalu dia mengemudikan mobilnya membelah jalanan yang sepi pengendara. Di sepanjang perjalanan terkadang Nelson mengulas senyuman yang sangat hangat. Namun sedetik kemudian kembali dingin.
Sesampainya di mansion Evan keluar lebih dulu untuk membukakan pintu untuk Nelson. Lalu melangkah pergi menuju mobilnya yang terparkir di halaman mansion. Setelah berpamitan dia pun melajukan mobilnya dengan cepat hingga bayangannya hilang di telan gelapnya malam.
“ Ayah, selamat datang.” Dean dan Dion berhambur menuju Nelson yang baru saja masuk ke dalam mansion. Yang di ikuti oleh kepala pelayan yang membawakan dua kotak kue di belakangnya.
*
*
Terima kasih atas dukungannya. Salam sayang dan sehat selalu.🙏😇💪🥰❤️🫶🌹🌹🌹🌹
Bersambung