
Bella kembali tak bisa bicara. Dia begitu terlena akan perkataan yang di lontarkan oleh Nelson.
“ Jadi apakah kau ingin menikah kembali denganku? tanyanya.
Dengan mata yang berkaca-kaca, Bella menganggukkan kepalanya. Nelson tersenyum dengan senang hati dia mengeluarkan cincin di dalam kotak, untuk memasangkannya di jari manis Bella. Cincin itu terlihat berkilau di jemarinya.
“ Aku harap kau akan selalu mengenakannya.”
“ Dan aku akan sesegera mungkin mengenalkanmu, dan putra kita.” ucapnya.
Nelson yang bangkit pun segera memeluknya begitu erat, mencium bibirnya dengan begitu lembut. Saat bibir Nelson menyentuh bibir Bella. Darahnya berdesir, jantungnya berdegup kencang, dia begitu berdebar- debar kala Nelson melakukannya. Padahal mereka sudah sering melakukannya.
Namun, sensasi terbakar gairah, dan darah seakan-akan mengalir deras ke ubun-ubun pun tidak pernah hilang dalam perasaannya. Seakan dia tidak ingin menghentikan aktivitas yang selalu di nantinya itu.
Perlahan Nelson melepaskan bibirnya, dengan lembut dia mengecup kening Bella. Di genggamnya erat tangan halus Bella. Sentuhannya membuat darahnya berdesir. Mereka menikmati pesona hamparan daun maple yang berserakan di tempat mereka berdiri.
Bella dan Nelson menghabiskan waktu mereka hingga tengah malam, sebelum pulang mereka datang kesebuah restoran. Dia membawanya ke tempat romantis, menikmati alunan musik klasik, yang begitu menenangkan hati.
Bella bahkan menikmati setiap makna yang terkandung dalam musiknya, dia memejamkan kedua matanya, merasakan aliran darahnya yang mengalir begitu lembutnya di bawah kulit tubuhnya. Dalam benaknya dia berpikir.
“ Ah lagu ini, aku tahu. Nada ini seperti mengalir saja saatku mendengarnya, batinnya. Seraya tersenyum lembut.
Nelson yang duduk di hadapannya seakan merasakan apa yang Bella rasakan. Nelson seakan merasakan ketenangan yang sangat luar biasa, wajahnya begitu damai kala memandangi Bella yang ada di hadapannya.
Setiap detiknya begitu terasa seakan semua yang berada di hadapannya terhenti seketika.
Hingga sebuah suara membuyarkan lamunannya. “ Nelson,” panggilnya.
Nelson terperanjat kala Bella menepuk punggung tangan Nelson.
“ Ah ya. Ada apa?” ucap Nelson lembut.
“ Apakah kita tidak akan pergi dari sini?” ucap Bella.
“ Ah. Apa kau sudah selesai? tanya Nelson.
“ Ya. Aku sudah selesai.” jawab Bella.
“ Mengapa memandangiku seperti itu?” tanya Bella.
“ Karena kau sangat cantik,” ucap Nelson. Seraya melemparkan senyuman yang begitu lembut.
Bella yang melihatnya seakan tenggelam dalam pesonanya, Nelson terus-menerus mengatakan pujian yang membuatnya seakan tidak ingin berhenti mendengarkannya.
Nelson memegang tangannya seraya berkata. “ Sungguh bagiku kau sangatlah cantik. Yang Tuhan ciptakan di dunia ini,” ungkap Nelson.
Bella hanya bisa menundukkan kepalanya. Pipinya merona, tersipu malu karena pujian yang di lontarkan oleh suaminya.
Bella hanya tersenyum pada Nelson. “ Kurasa kita harus segera kembali, anak-anak pasti sudah menunggu kita,” ajaknya.
“ Emm. Tentu,” jawab Nelson.
Nelson dan Bella pun pergi meninggalkan restoran, mereka berdua bergandengan tangan hingga pintu keluar restoran.
Semua mata tertuju pada keduanya. Yang satunya tampan, dan satunya sangat cantik.
“ Lihatlah pria itu!” seraya menunjuk pada Nelaon yang berjalan melewati mereka.
“ Ya. Aku melihatnya, dia begitu tampan. Bahkan dia tidak malu untuk menggandeng kekasihnya,” ungkapnya.
“ Tidak seperti kekasihku, dia bahkan tidak ingin berjalan bergandengan tangan denganku.”
“ Kau benar, bahkan suamiku saja tidak ingin pergi bersama denganku,” ungkapnya.
“ Ah beruntung sekali wanita itu, mendapatkan pria yang sangat perhatian, dan peduli seperti itu!” ucapnya.
Walaupun Nelson keturunan Cina. Namun, dia memiliki darah keturunan Inggris dari kakek moyangnya. Sehingga banyak orang berkata, bahwa Nelson jelmaan kakek moyangnya.
Saat Bella akan masuk ke dalam mobil, Nelson dengan perhatiannya menghalangi kepala Bella dengan tangannya agar kepala Bella tidak terbentur.
Bella berkata. “ Terima kasih,” ucapnya.
Nelson hanya membalas dengan senyuman, dia pun masuk ke dalam mobil, melajukan mobilnya membelah jalanan kota Quebec, Kanada.
Di sepanjang jalan Nelson menggandeng tangan Bella. Dia bertanya. “ Apa yang kau inginkan sekarang?”
“ Aku?” Bella terdiam sejenak, lalu berkata. Entahlah, lebih baik kita kembali saja,” ucapnya.
“ Baiklah, istriku.” ucap Nelson, kemudian melajukan mobilnya menuju hotelnya.
Di sisi lain Dion baru saja kembali bersama Andre. Dion terlihat begitu bahagia.
“ Kau sudah kembali?” tanya Ronald.
“ Tentu saja, paman Andre membawaku pergi jalan-jalan. membawaku bermain, makan, dan berbelanja.” ucap Dion dengan tersenyum bahagia.
“ Apakah kakakku sudah bangun?” tanya Dion.
“ Tadi dia sudah bangun, dan makan sedikit. Sekarang dia tertidur kembali,” jawab Evan.
“ Di mana ibu?” tanya Dion lagi.
“ Ibumu sedang berkencan dengan ayahmu,” jawab Ronald.
Dion tersenyum seraya berkata. “ Baguslah, seharusnya mereka berkencan lebih awal.” ucapnya.
Semua orang yang mendengarnya, sedikit ternganga kala Dion berkata seperti itu.
“ Baiklah aku membelikan kudapan yang enak, ayo kita makan,” ajak Dion. Seraya menyerahkan beberapa kotak kudapan yang telah di belinya.
“ Wow…” Robin sedikit kaget kala membuka isi kotaknya. Dia mencobanya satu, saat kudapan itu masuk ke dalam mulutnya. Kuenya meleleh di dalam.
“ Emm..” Robin menganggukkan kepalanya. Seraya mengangkat kedua jempol tangannya. Membuktikan bahwa kuenya enak.
“ Ini sangat lezat.” ucap Evan.
“ Kau benar,” ungkap Ronald.
“ Nikmati makanannya ya paman, aku akan pergi mandi,” pamit Dion.
“ Aku juga pamit,” ucap Andre.
“ Oliver, kemarilah. Kau harus mencobanya,” panggil Evan.
Oliver yang sedari tadi menunggui Dean tidur pun, segera beranjak menghampiri yang lainnya di ruang tamu.
“ Ada apa?” tanya Oliver.
“ Kemari, makanlah. Kau harus mencobanya,” seraya menyerahkan sekotak kue pada Oliver.
Oliver masih saja terkejut, kala yang lainnya membagi makanan yang di makan oleh mereka.
“ Terima kasih, Tuan,” ucapnya. Seraya meraih kotak kuenya.
“ Duduklah bersama kami, jangan sungkan,” pinta Yohan.
Oliver sangat gembira kala mereka begitu baik padanya. Oliver hanya menganggukkan kepalanya, seraya duduk bersama.
Dion yang sudah selesai mandi pun segera menghampiri Dean yang tertidur, di tatapnya dengan sendu.
“ Apakah kakak akan terus tidur?” ucap Dion.
“ Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Dean.
“ Ah. Aku kira kakak masih tidur,” ungkap Dion.
“ Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Dean.
“ Tidak ada. Aku hanya ingin melihatmu lebih lama,” ucap Dion.
Dean tersenyum. Seraya berkata. “ Kemarilah, dan duduk di sini bersamaku,” seraya menepuk-nepuk samping tempat tidurnya.
Dion segera mendekat ke samping tempat tidur kakaknya. Dia memeluk Dean, dan sedikit bersandar pada bahu kecilnya.
“ Aku harap kakak segera sembuh, aku harap kau tidak sakit lagi,” harap Dion untuk kakaknya.
“ Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja,” ucap Dean.
“ Ya. Aku harap kau tidak sakit lagi, jika kita pulang. Di sana banyak orang yang akan menjagamu. Lagi pula ibu telah berhenti bekerja, dan ayah juga menyetujuinya. Sehingga ibu memiliki lebih banyak waktu untuk kita.”
“ Di satu sisi aku bahagia. Namun, di satu sisi aku sangat sedih. Sangat sedih karena tidak bisa mendampingimu saat kesakitan. Aku tahu aku tidak seharusnya menangis di hadapanmu, tapi aku sulit menahan perasaan ini,” ungkap Dion.
“ Aku tahu, aku tahu itu. Maafkan aku karena sudah membuatmu cemas adikku. Maafkan aku karena membuatmu sedih. Dan maafkan aku karena aku sakit. Aku harap kau mau memaafkan aku saat ini,” wajah Dean kini tertunduk, matanya mencoba menahan air matanya agar tidak terjatuh.
*
*
*
Maafkan author kalau masih banyak salah dan kurangnya.🙏❤️
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih. 🙏🥰🫶🌹🌹
Bersambung