
Bahkan Dion langsung berhambur kepelukan mereka berdua, Sandra Hongli dengan lengan terbuka menyambut memeluk Dion. Nelson merasa heran bagaimana orangtunya bisa dengan mudah akrab dengan kedua anak ini?
“ Ini Dean dan ini adalah Dion.” Nelson memperkenalkan mereka. Tapi Nyonya Sandra menjawab.
“ Ya, kami sudah mengenal mereka sayang, anak-anak yang hebat. Bagaimana momy bisa melupakan mereka, walau hanya bertemu sekali, dan yang terpenting adalah mereka berdua mengingatkan Momy padamu saat seusia mereka ini.” ucapnya.
“ Nelson apakah anak-anak ini adalah putramu yang tidak kami ketahui?” Leo Hongli bertanya.
“ Ya, mereka adalah anakku mulai sekarang,” ucap Nelson seraya tersenyum bangga mengakuinya.
“ Apakah benar mereka adalah darah dagingmu Nelson?” tanya Leo kembali.
“ Mereka bukan anak kandungku tapi, aku menganggap mereka seperti anak kandungku sendiri!”jawab Nelson.
“ Aku sangat bahagia jika paman adalah ayah kami, mungkin ibuku akan sangat beruntung jika bersama paman.” Seraya Dion menggelayut manja di lengan Nelson.
Orangtua Nelson tersenyum melihat Nelson dan Dion yang sangat akur dan terlihat bahagia. Leo Hongli bertanya. “ Apakah pesta itu diadakan untuk mereka berdua?”
Nelson hanya menganggukkan kepalanya.
Nyonya besar kelimpungan mencari hadiah yang cocok untuk mereka. Hingga dia pun mendapatkan dua pasang baju yang sangat fashionable dan juga karya desainer terkenal.
Dia langsung menghubungi toko Brand yang menjualnya. Setelah menyelesaikan pembayarannya dia langsung meminta untuk membungkusnya, karena untuk hadiah ulang tahun, dan meminta untuk dikirim ke alamat yang sudah di cantumkannya.
Dia berpikir jika kedua anak itu memakainya akan membuat orang lain makin terpesona dan kagum ketika melihatnya.
“ Aku sudah tidak sabar untuk melihat mereka memakai pakaian dariku, batin Nyonya Sandra.
Nelson hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.
“ Aku akan membawa anak-anak masuk, kau pergilah dahulu,” pinta Nelson.
Nelson menghampiri kedua orangtuanya yang sedang menemani Dion bermain, dia mengisyaratkan dengan jari bahwa persiapannya sudah selesai.
Melihat Dean yang sedang berbicara melalui ponselnya, Nelson menghampirinya dan tidak sengaja mendengar percakapan yang membuat hatinya sedikit sakit. “ Ibu apakah hari ini pekerjaanmu sudah selesai? Entah mengapa aku dan Dion ingin melewatinya bersamamu ibu, ibu tidak lupa bukan bahwa hari ini hari apa?”
“ Sayang apakah hari ini adalah hari yang spesial?” terdengar suara dari seberang telepon.
“ Hari ini hari ulang tahun kami ibu,” ucap Dean.
“ Maafkan ibu sayang, ibu melupakannya. Tapi ibu akan pulang terlambat hari ini, pekerjaan ibu sangat banyak, ibu tak bisa meninggalkannya. Bisakah kau merayakannya bersama Dion dulu? Ibu akan transfer uang untuk membeli kuenya, katakan pada Dion ibu tidak bisa ikut merayakannya bersama. Sudah dulu ya, ibu sangat menyayangi kalian.”
“ Apa ibu tidak bisa datang kemari?” Tanya Dean.
“ Tidak bisa sayang, pekerjaan ibu tidak bisa di tinggalkan,” suara di seberang telpon itu terdengar sampai di telinga Nelson, Dean terlihat seperti akan menangis kedua matanya berkaca-kaca ketika Nelson memanggilnya.
“ Dean, apakah kau baik-baik saja Nak?” Tanya Nelson.
Nelson yang khawatir segera memeluk Dean dengan erat. Namun dia tidak tahu cara menenangkannya, hanya berkata. “ Tidak apa-apa jika kau ingin menangis Nak, tidak akan ada yang memarahimu, menangislah, aku akan ada untukmu, menghiburbu,” ungkapnya.
Dukung author dengan cara; like, vote, dan komen ya guys. Terima kasih🙏🥰🫶🌹
Bersambung