ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 191


Revan mengusap kasar sudut bibirnya yang berdarah, tatapannya begitu tajam dia berlari menuju Robin yang berdiri di tengah jalan, dia menabrak tubuh Robin hingga keduanya terjatuh ke dalam kasarnya jalanan aspal. Robin tak ingin di pukuli tanpa sebab makan dari itu dia melawan Revan sama ganasnya, dengan sekuat tenaga dia membalikkan tubuh Revan dan kini Robin yang berada di posisi atas sedangkan Revan ada di bawah.


Wajah keduanya sudah cukup berantakan, memar dan darah menghiasi wajah tampan keduanya. Setelah mendapat pukulan yang cukup kuat dari Robin, Revan masih tetap bertahan. Dia bangkit dan menarik kerah kemeja Robin lalu membantingnya.


“ Apa yang kau lakukan pada Gisel? Mengapa kau selalu memberikan luka padanya?” Revan berteriak dengan gila seraya meninju wajah tampan Robin.


“ Aku bahkan tidak melakukan apa pun? Apa yang kau maksud?” Posisi Robin berada di bawah tekanan Revan, dia memukuli Robin membabi buta, akan tetapi Robin tidak membalasnya.


“ Jika kau tidak melakukan apa pun? Lalu mengapa Gisel menangis?” Seketika Robin terdiam. Sorot matanya berkata bahwa dia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Karena saat dia meninggalkannya Gisel masih baik-baik saja.


Melihat Robin tidak lagi melawan Revan memutuskan untuk berhenti memukulinya, dia menarik napas panjangnya mencoba untuk menahan amarah di hatinya tapi tidak bisa. Hujan sudah berangsur reda, tampang keduanya sangat berantakan, Revan duduk di samping Robin yang tengah terbaring lemah.


Di telinganya terngiang-ngiang perkataan Revan. “ Bahkan Gisel ingin mengakhiri hidupnya setelah kau meninggalkannya.” Robin menutup matanya dengan sebelah lengannya, dia terisak mengingat luka yang telah dia berikan pada Gisel.


Dua orang pria yang memakai jas warna hitam itu berjalan menghampiri keduanya, Revan yang sudah kehilangan tenaganya itu tak mampu lagi berdiri, ternyata dua orang yang sedari tadi menonton mereka berkelahi adalah anak buah Revan.


Sebelum pergi Revan berbalik, dia berkata. “ Jika kau hanya ingin menyakitinya, sebaiknya tidak perlu bertemu lagi!” Dia setengah berteriak pada Robin yang masih terkapar.


Revan di masukkan ke dalam mobil, dia di tempatkan di kursi belakang dengan tidak berdaya, lalu bersandar di jok mobil, menghela napasnya perlahan sesekali dahinya mengernyit kesakitan.


“ Ketua, apa Anda baik-baik saja?”


“ Bagaimana dengan Tuan Robin? Dia bahkan tidak bergerak di tempatnya.” Seorang pria yang berada di kursi kemudi itu sedikit mengkhawatirkan keadaan Robin.


“ Biarkan saja dia memgurus dirinya sendiri. Kembali kerumah saja.” Perintah Revan.


Mobil yang di kendarai oleh Revan pergi meninggalkan Robin yang masih terlapar sendirian di sana, dia tampak menderita, tak hanya fisiknya yang terluka akan tetapi batinnya juga mengalami tekanan, penyesalan yang kian hari terus bertambah menggerogotinya.


Selepas Revan pergi, Robin beranjak dari tempatnya, dengan langkah gontai dia berjalan menuju mobilnya. Namun, saat dia hendak membuka mobilnya dia di tahan oleh seseorang, saat dia menoleh ternyata orang itu Yohan.


“ Aku tidak ingin kau mati dengan begitu mudah.” Yohan menutup kembali pintu mobil dan menyeret Robin untuk duduk di kursi samping kemudi. Robin yang sudah berada di dalam mobil pun sedikit berbisik pada telinga Yohan. “ Kau tahu apa? Rasa sesal ini kian hari semakin besar.” Yohan yang sedang memasangkan seatbelt pun menghentikan kedua tangannya. Sejenak dia memandang wajahnya, di wajah tampan Robin banyak luka dan memar.


Yohan tidak banyak bicara, dia tahu bahwa rasa cinta di antara mereka berdua sangat besar, meski badai terus berdatangan akan tetapi cinta itu akan tetap bertahan di relung hari mereka. Yohan menatap sahabatnya itu dengan tatapan yang dalam, mengingat kembali awal pertemuan mereka di sebuah kafe yang berada di kawasan militer.


Flashback On


Saat itu hari tengah hujan, dirinya tidak membawa payung sehingga dia diam di dalam kafe, akan tetapi dia melihat Robin yang baru saja keluar mengenakan payung, Yohan tidak menyia-nyiakannya dia segera berlari menghampiri Robin seraya menepuk bahunya.


“ Aku adalah kapten tim baru.” ujar Yohan seraya tersenyum hangat, akan tetapi saat Robin berbalik dia segera berkata.


“ Aku dan Letnan Gisel sedang berkencan.” Yohan tertegun, dia sedikit heran kenapa pria yang ada di sampingnya itu berkata demikian.


“ Ah, apa yang kau maksud dengan berkencan dengan Letnan Gisel?” Yohan sedikit kebingungan dengan apa yang di katakan oleh Robin.


“ Sudah aku katakan, aku berkencan dengan Letnan Gisel.” Ujarnya lantang dan tegas. Yohan hanya mengulas senyum saat itu, menanggapi hal yang terjadi di hadapannya ini.


Mereka berdua pun kembali masuk ke dalam kafe untuk berbincang. Keduanya duduk di meja yang sama, suasana juga cukup canggung bagi keduanya.


“ Siapa namamu?” Yohan ingin tahu siapa pria yang ada di sampingnya ini.


“ Siap, Sersan Robin.” Jawabnya lantang dan tegas.


“ Sejak kapan kalian berkencan?” Yohan bertanya sembari menatapnya dalam.


“ Siap, setahun yang lalu.” Robin menjawab dengan kaku. Yohan mengangguk pelan.


“ Lalu kapan pertama kali kalian bertemu? Yohan kembali bertanya.


“ Ya, bulan lalu.” Robin sedikit bimbang dengan jawabannya.


Yohan merasa sedikit heran dengan jawaban dari Robin, dia hanya tersenyum simpul mendengar ucapan bawahannya itu. Lalu dengan sedikit menggoda dia kembali bertanya. “ Bukankah kau bilang jika sudah berkencan dengannya sejak tahun lalu? Tapi mengapa kau baru bertemu dengannya bulan lalu?”


“ Baiklah, aku tidak akan mencampuri urusan kencan kalian berdua. Semoga saja aku juga mendapatkan wanita cantik seperti Letnan Gisel. Tenang saja aku tidak tertarik dengannya.” Saat itu Yohan tersenyum bahagia saat duduk bersama Robin.


Robin hanya duduk dengan canggung, karena selain Yohan adalah calon tunangan dari Letnan Gisel, dia juga seorang kapten di timnya.


Flashback Off


Sesampainya di rumah Robin. Yohan dengan susah payah membopong Robin untuk masuk ke dalam apartemennya yang berada di kawasan elit. Yohan sudah terbiasa keluar masuk apartemen ini, karena saat Robin sedang cuti dari dinasnya dia akan menghabiskan waktu bersama di tempat itu.


Keringat membasahi wajah dan juga pakaian Yohan, kemeja putih yang di kenakan olehnya sudah banyak darah Robin yang menempel padanya, dengan terpaksa dia harus menggantinya. Yohan menghubungi Dokter pribadi untuk mengobati lukanya, berharap tidak ada yang serius kecuali hati dan jiwanya.


Setelah menunggu beberapa saat. Seorang dokter paruh baya dan seorang asisten wanita datang ke apartemen Robin. Setelah memberikan infus dan mengobati luka Robin mereka pun pamit. Tentu saja Yohan mengantar mereka sampai ke pintu keluar dan tak lupa dia mengucapkan terima kasihnya.


Yohan berharap agar kesalahpahaman ini segera selesai, rasanya dirinya juga ikut terluka saat keduanya sama-sama merasakan penderitaan yang tiada akhir. Yohan masuk ke ruangan yang berada di samping kamar Robin, di sana ternyata sebuah kamar dan furnitur serta barang lainnya adalah milik Yohan.


Yohan tengah berganti pakaian, tubuh atletis, kekar dan berotot itu terlihat jelas saat mengenakan sebuah kemeja hitam, di sekitar bagian tubuhnya terlihat banyak bekas luka dari luka tembakan hingga sayatan pisau dari yang tipis hingga yang terdalam ada di sana.


Yohan berjalan keluar kamar menuju lemari es dan mengambil sekaleng bir. Dia duduk seraya memandang keluar jendela, pemandangan dari apartemen Robin memang sangatlah menakjubkan saat malam hari, kilauan lampu mengisi gelapnya malam.


Dia memejamkan kedua matanya berharap tidak ada rasa sakit lagi yang menghampiri, satu persatu masalah telah teratasi akan tetapi masih menyisakan kisah cinta Robin yang masih belum usai.


Di sisi lain.


Revan yang babak belur itu tidak pulang ke rumah, dia memilih untuk menginap di hotel untuk mengobati lukanya. Jika dia pulang ke rumah akan terjadi masalah besar ketika Ayahnya yang Jenderal dengan bintang tiga itu melihat putra sulungnya babak belur seperti ini. Yang ada masalah semakin rumit.


Setelah mendapat perawatan dari dokter dengan bantuan anak buahnya, Revan meminum obat yang sudah di resepkan oleh Dokter.


“ Apa Anda membutuhkan sesuatu lagi?” Revan menggelengkan kepalanya pelan.


Kau istirahatlah juga, kau pasti lelah.” ujar Revan pelan. Sang pria pun meninggalkannya sendirian di kamarnya.


Revan bersandar pada bantal, pandangannya tertuju pada langit-langit kamar, sejenak terlintas kembali saat adiknya yang tengah berbahagia saat mengetahui jika dirinya sedang mengandung anak dari Robin, pria yang sangat di cintainya itu, wajah cantiknya yang berseri masih teringat jelas dalam benaknya hingga suatu ketika dia mengalami hal yang mengerikan, tak hanya kehilangan bayinya dia juga kehilangan kekasih hati yang sangat dicintainya melebihi nyawanya sendiri.


Hari-hari kelam itu terus membayanginya. Dia ingat betul jika adiknya Gise mengalami psikis yang berat, dia harus menemui Psikiater untuk membantunya pulih, selama bertahun-tahun Gisel menderita dia bahkan mengalami insomnia yang cukup parah, dia tidak bisa tidur setiap malam hingga sang Dokter meresepkan obat tidur untuknya. Namun hal mengerikan itu baru di mulai. Dia sudah tidak ingat lagi berapa kali Gisel mencoba untuk bunuh diri. Revan memegangi kepalanya, dia merasa sangat sakit perlahan dia menutup kedua matanya mencoba untuk beristirahat.


Di sisi lain.


Keesokan harinya Yohan telah bangun lebih dulu, dia membuat bubur untuk Robin, mengingat perkataan Dokter semalam bahwa Robin harus makan makanan yang lembut.


“ Kau sudah bangun? Bagaimana dengan tidurmu?” Yohan bertanya saat melihat Robin keluar dari kamarnya, dia berjalan tertatih-tatih. Robin hanya mengulas senyum pahitnya.


“ Makanlah.” Yohan menyerahkan semangkuk bubur dan juga air hangat. Robin duduk di kursinya dengan tenang memakan buburnya. Selepas makan Robin beranjak menuju ruang tamu, di sana dia berdiri cukup lama memandang ke arah luar, pemandangan masih tetap indah walau pagi hari, Robin tertangkap menyunggingkan senyuman tipisnya.


“ Lihatlah setelah kau babak belur, kau masih bisa tersenyum?” Yohan heran dengan perilaku Robin.


“ Aku hanya berpikir, dia pasti menyukainya jika dia bisa tinggal di sini.” Robin kembali memyesap teh yang ada di tangannya.


“ Jika kau mau bukankah kau bisa mengajaknya untuk tinggal bersama? Jangan pedulikan aku, dengan senang hati aku akan pindah dari sini.” ujar Yohan pada Robin. Seketika Robin melirik ke arah Yohan, dia mengeluarkan tatapan yang sangat tajam membuat Yohan tak berdaya. Sorot matanya terpancar permohonan agar tidak meninggalkannya. Yohan hanya bisa menghela napasnya lalu berkata


“ Aku tahu, aku hanya bercanda.” Seketika raut wajah Robin terlihat lebih baik.


” Aku sangat ingin hidup dan tinggal bersamanya, tapi aku sudah di tolak olehnya lebih dulu, tapi aku tidak ingin kehilangan dia, juga tidak ingin melukainya lebih dalam lagi.” Robin masih berdiri di depan jendela kaca yang besar itu. Pikirannya masih melayang memikirkan perkataan yang di lontarkan oleh Revan.


*


*


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih. 🙏🥰❤️🫶🌹🌹🌹🌹


Bersambung