
Di penjara kini Yeni telah bisa di jenguk, satu minggu lagi dia akan menjalani sidang atas pembunuhan sesama tahanan.
Yeni duduk di balik kaca. Mira Yu menatap putrinya. Dia benar-benar terluka, rasanya dia ingin membuat orang yang memasukkan putrinya ke penjara itu juga merasakan kepahitan.
“ Aku baik-baik saja ibu,” Yeni menampakkan senyum palsu pada ibunya Mira.
Mira menundukkan kepalanya. Dia tak kuasa melihat putri yang begitu disayanginya kini terlihat rapuh, dan kurus.
“ Minggu depan adalah sidang pertamamu, ibu harap kau baik-baik saja. Ibu akan menghadiri persidanganmu nanti,” kedua mata Mira Yu berkaca-kaca, air matanya telah menumpuk dan bersiap untuk turun membasahi wajahnya.
“ Ibu aku sangat merindukan Mario, bisakah ibu memintanya untuk datang melihatku?” Pintanya dengan wajah datar. Namun terlihat sedikit harapan dalam tatapannya.
Mira menganggukkan kepalanya, seraya berkata. “ Ibu akan berusaha meminta Mario untuk datang ke sini. Jika perlu ibu akan memohon pada mereka untuk menemuimu.”
Yeni tersenyum tipis, dia menundukkan kepalanya. “ Jika tidak bisa pun tidak apa-apa, Ibu. Aku yang terlalu angkuh ini, merasa bisa menaklukkan dunia. Walau sebenarnya aku ini hanya seorang bebek buruk rupa yang mencoba merangkak menjadi angsa.”
“ Jika saja kita tidak menghancurkan kehidupan Bella mungkin aku juga tidak akan menderita seperti ini. Sungguh maafkan aku ibu, karena sudah menyeretmu dalam pusara ini. Tapi ibu, aku sama sekali tidak siap jika Mario meninggalkanku. Jika benar seperti itu, aku sudah tidak ada alasan untuk hidup lagi, dan aku…” Yeni tidak melanjutkan perkataannya lagi, karena waktu kunjungan sudah habis.
“ Waktu kunjungan telah habis.” Suara penjaga terdengar menandakan pertemuan keduanya harus berakhir di sini.
“ Yeni, apa yang ingin kau katakan? Mengapa kau berhenti bicara? Yeni Xia…” teriak Mira, saat melihat putrinya diseret oleh perugas.
Mira yang terisak pun hanya bisa melihat bayangan putrinya yang menghilang. Dia pun beranjak pergi meninggalkan penjara.
Nelson dan Bella telah sampai di kediaman Lian Xia.
Di depan rumah sederhana itu Nelson dan Bella berdiri di pintu, Bella menekan bel berulang kali. Namun tidak ada yang membukakan pintu. Hingga mereka melihat seorang pria yang sedang terburu-buru seakan di kejar oleh seseorang. Bella menatapnya begitu intens. Ya, itu adalah Lian Xia Ayah Bella sekaligus mertua Nelson.
“ Itu ayahku,” ucap Bella pelan pada telinga suaminya.
Nelson menatapnya, saat Lian Xia sudah mendekat, Bella dengan sopan menyapanya.
“ Ayah,” panggil Bella.
“ Kau, mengapa datang ke sini?” Lian bertanya seraya menatap sekelilingnya.
“ Masuklah,” seraya membukakan pintu untuk mereka berdua.
“ Di mana wanita itu?” Bella bertanya dengan nada suara yang begitu dingin.
“ Dia sedang pergi mengunjungi Yeni di penjara,” ucapnya dengan gelisah.
Bella tidak bertanya lagi, tetapi dia merasa bahwa Ayahnya ini sangatlah aneh. Dari mulai datang, hingga masuk ke dalam rumah seakan dia di kejar oleh seorang pembunuh.
Nelson sedikit heran mengapa sikap Ayah mertuanya begitu? Namun dia tidak berniat bertanya lebih jauh padanya.
“ Apa kau ingin minum? Minum apa?” Lian Xia bertanya seraya mengambil teh yang begitu harum saat di seduh.
“ Tidak, tidak perlu repot. Jadi langsung pada intinya saja. Kedatanganku ini ingin memberi kabar bahwa kami akan mengadakan pesta pernikahan kami dua minggu lagi. Kami datang ke sini bukan karena ingin meminta restu padamu. Lagi pula kami telah resmi menikah.” Nelson dengan sopan menekankan bahwa dia dan Bella bukan ingin meminta restu padanya.
Lian Xia mengerti walaupun dia memiliki menantu yang berkuasa, tetapi dia tidak akan mendapat keuntungan apa pun. Karena dirinya telah menghapus nama Bella dalam kartu keluarganya.
“ Aku tahu itu, apa kau sudah mengunjungi pamanmu?” Lian Xia bertanya pada Bella.
Kami akan mengunjunginya besok,” ucapnya.
“ Baguslah,” Lian Xia masih gelisah. Dia terus menerus memandang ke arah jendela.
“ Bukannya aku ingin mengusir kalian, tapi sebaiknya kalian cepat pergi dari sini,” pinta Lian. Dia bahkan tidak memedulikan Nelson.
Di saat Nelson dan Bella sudah pergi, Lian Xia segera mengemasi barang-barangnya bersiap untuk melarikan diri. Setelah menipu orang dia mencairkan semua uang di rekeningnya. Dia berencana untuk melarikan diri dari pengejaran.
Di kediaman Fan. Mira yu datang dengan penuh pengharapan. Dia bahkan memohon pada Mario.
“ Aku mohon, Mario, kunjungilah Yeni sekali saja. Aku tahu perbuatannya membuat keluargamu ikut terseret, tapi aku mohon berikan Yeni kesempatan untuk bertemu denganmu. Untuk kali ini saja, aku mohon padamu,” Mira Yu terus menerus memohon pada Mario. Akan tetapi Mario bahkan tidak bergeming sedikit pun.
“ Maafkan aku Ibu, aku tidak bisa memenuhi keinginannya. Aku tidak ingin terlibat lagi dalam urusannya. Aku menceraikan Yeni karena aku ingin terbebas darinya, lagi pula pada dasarnya yang aku cintai adalah Bella bukan Yeni. Aku sudah melewati hidupku bersamanya, namun apa yang aku dapat adalah…” Mario tidak meneruskan perkataannya.
“ Sebaiknya Ibu kembali saja, kami tidak ingin terlibat lagi dengan keluarga Xia. Kami sudah memutuskan hubungan keluarga, di saat aku menceraikan Yeni,” Mario berkata dengan begitu mantapnya.
Mira menghela napas beratnya, darahnya seakan mendidih, tatapan matanya menunjukkan amarah yang tak terbendung lagi. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh pria yang pernah jadi menantunya.
“ Tidak bisakah kau menemuinya sekali saja? Walaupun kau sangat membencinya, tapi ku mohon luangkan waktumu sebentar saja untuknya. Putriku begitu hancur kala kau menceraikannya. Aku sama sekali tidak ingin putriku terus hidup dalam bayanganmu, aku juga ingin dia hidup bahagia. Meski berada di balik jeruji besi sekalipun. Sekali lagi aku mohon untuk datang menemuinya walau hanya sebentar,” pinta Mira dengan begitu putus asa.
Mario tergugah saat mendengar perkataannya. Dia juga tidak ingin ada dendam di antara mereka berdua.
“ Akan aku pikirkan lagi nanti. Sebaiknya ibu pulang lebih dulu, Ibu bahkan terlihat makin tua. Kembalilah ke rumahmu, aku akan menghubungimu jika aku sudah memutuskannya.” Mario berkata dengan sedikit ragu padanya.
Namun bagi Mira itu sebuah harapan yang akan membangkitkan semangat hidup putrinya, yang telah redup itu. Setidaknya Mario akan memikirkan mengunjungi Yeni di penjara.
Di akhir pekan Nelso tidak bekerja, dia berada di rumah.
Bella masih tertidur di ranjangnya, sedangkan Nelson sedang memeriksa keadaan Dean bersama Oliver selagi Dion sedang mandi.
“ Ayah, hari ini kondisi cukup stabil. Tidak apa-apa jika aku ikut dengan kalian,” Dean berkata dengan mengulas senyuman yang sangat lembut.
“ Ayah tahu, Nak.”
“ Oliver tolong kau bantu Dean mengganti pakaiannya. Karena sebentar lagi kami akan pergi,” pinta Nelson pada Oliver.
“ Baik, Tuan,” jawab Oliver.
Nelson bergegas keluar, kembali ke kamarnya. Di sana Bella masih meringkuk. Perlahan Nelson menghampiri Bella, di usapnya pipi mulusnya, sesekali dia berbisik. “ Istriku, bangunlah. Bukankah kita akan menemui pamanmu?” Bisiknya.
Bella membuka matanya perlahan, sejenak dia mengulas senyumnya. Terlihat dengan jelas kontur wajah Nelson yang begitu tegas di depan matanya. “ Kau sangat tampan pagi ini suamiku,” ucapnya.
Nelson tersenyum tipis, dengan lembutnya dia mencium bibir tipis Bella, seraya berkata. “ Pergilah mandi, aku dan anak-anak menunggumu di bawah.”
Bella kemudian beranjak ke kamar mandi. Nelson hanya tersenyum kala melihat tingkah istrinya itu. Dia pun beranjak pergi menuju ke lantai bawah. Saat menuruni anak tangga kedua putranya telah duduk di sofa ruang keluarga di temani Oliver.
“ Tuan,” Oliver menyapa dengan begitu sopan dan hormat padanya.
Nelson hanya menganggukkan kepalanya, seraya menghampiri dan duduk di antara kedua putranya itu.
“ Kalian sedang apa?” Nelson bertanya pada keduanya yang sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya.
“ Aku hanya memeriksa pemasukan, serta pesanan yang masuk ke toko kami,” ujar Dean.
*
*
Terima kasih untuk dukungannya ya guys. Salam sayang dan sehat sll.🙏🥰🫶🌹🌹🌹🌹
Bersambung