ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 100


Oliver menunggu di meja makan berkata. “ Makanannya apakah harus di hangatkan kembali?”


Evan pun menjawab, seraya menurunkan Dean di kursinya. “ Tentu, Mr. Oliver tolong di hangatkan!”


Oliver berkata. “ Baik, Tuan Evan!”


Setelah menunggu sebentar, makanan pun telah kembali hangat. Sebelum makan Dean berkata pada Oliver. “ Mr. Olaf bisakah aku pergi jalan-jalan?”


Oliver menjawab dengan tegas. “ Tidak, Tuan kecil. Anda harus istirahat.”


Dean sedikit kecewa. Namun, dia tidak kehabisan akal, Dean mencoba berbicara pada Evan, dengan sedikit memohon padanya.


“ Apakah aku bisa pergi jalan-jalan?”


“ Aku ingin pergi, aku ingin menghabiskan waktuku untuk bermain, dan jalan. Karena setelah aku mulai pengobatan, aku tidak bisa menikmatinya lagi!”


“ Aku mohon izinkan aku pergi!” Dean sedikit memohon, dan menampilkan tampan yang cukup memprihatinkan.


Evan yang melihatnya pun merasa iba dan berkata. “ Baiklah hari ini kita akan jalan-jalan!


“ Lagi pula hari ini tidak ada pertemuan, hingga aku bisa menemanimu jalan!”


“ Bagaimana Mr. Oliver apakah Anda keberatan? Lagi pula ada dirimu yang menjaga Tuan kecil.” Evan bertanya padanya.


Oliver hanya menutup wajah dengan telapak tangannya, menggelengkan kepalanya seraya berkata. “ Tentu, tentu saja saya tidak keberatan!”


Namun, dalam hatinya dia berkata. “ Sungguh aku tidak percaya ini, bagaimana bisa Tuan Evan, membiarkan Tuan kecilnya pergi, begitu saja!”


Oliver tak mampu melarang Dean. Dean terlihat begitu puas atas keinginannya yang terkabul..


Di sisi lain.


Bella duduk di ranjang sebelah Nelson, dia sedang menunggu dokter dan perawat tiba, untuk mengobati kakinya yang terluka.


“ Ah,” Bella meringis kesakitan.


“ Apakah begitu sakit?” Dengan sedikit cemas Nelson bertanya.


Bella menganggukkan kepalanya.


“ Tunggulah sebentar lagi mereka akan tiba!” Ungkap Nelson.


Tak berselang lama, dokter beserta perawat pun tiba.


“ Baiklah Nona Bella, mohon di lepas sepatunya!” ujar sang Dokter.


Bella mulai melepas sepatunya seraya meringis. Setelah di buka, terlihatlah luka di punggung kaki, serta ujung kukunya mengeluarkan darah.


Pemandangan itu membuat mata sakit kala melihatnya.


“ Ah, ah, tak bisakah dokter sedikit lembut, saat membersihkannya?” Bella meringis kesakitan.


Nelson yang melihat dan mendengar perkataan Bella pun mengeluarkan suaranya. “ Lebih lembutlah pada istriku, dia sangat kesakitan!”


Dokter yang mendengar perkataan Nelson, menjadi gugup, dirinya takut membuat kesalahan.


Dengan serempak mereka berdua berkata, “ Baik, Tuan muda!”


Dokter kembali membersihkan, dan merawat luka di kaki Bella hingga selesai.


“ Nona, saya sudah selesai memberikan perawatan di kaki nona!”


“ Sebaiknya jangan terkena air dulu, karena lukanya akan kembali basah.”


“ Saya akan meresepkan obat pereda nyeri, dan juga saep untuk mengerigkan lukanya!”


“ Saya sudah selesai, saya pamit Nona Bella, Tuan muda.”


Saat Dokter hendak pergi Nelson menghentikannya, seraya berkata. “ Bukankah istriku perlu di infus?”


Dokter berkata. “ Tuan muda, Nona Bella tidak membutuhkan infusan!”


Namun raut wajah Nelson berubah suram, dengan dingin dia berkata. “ Jika aku bilang istriku membutuhkannya, berarti istriku harus mendapatkannya!”


“ Apakah kalian berdua mengerti?”


Dokter dan perawat pun kaget, tubuh mereka bergetar kala mendengar ucapan Nelson.


“ Baik, baik Tuan muda. Akan saya pasangkan!” ujar sang Dokter yang sedikit gugup karena takut.


Bella pun berkata. “ Aku tidak perlu sampai di infus. Tubuhku baik-baik saja!”


Namun, saat mata Bella bertemu pandang, dengan mata Nelson, dirinya menyusut kala melihat raut wajah Nelson yang begitu gelap, dan suram.


Dengan enggan dia berkata pada dokter. “ Baiklah, pasangkan saja. Walaupun sebenarnya aku tidak membutuhkannya!”


Dalam hatinya dia berkata. “‘Sungguh pria ini membuatku jengkel!”


“ Ah, mengapa begitu sakit?” Bella protes.


“ Maaf, Nona.” Ucap sang dokter yang terlihat tambah gugup.


“ Lakukan saja dengan tenang, jangan gugup. Jika dokter gugup malah tambah menyakitkanku!” Seru Bella yang sedikit berteriak, pada Nelson.


Nelson tidak menanggapinya, selagi Bella mendapatkan perawatan. Dia melihat pekerjaannya yang sudah menumpuk satu persatu.


“ Nona, sudah selesai.” Ucap sang Dokter.


Seraya tersenyum Bella berkata. “ Terima kasih, dok!”


Dokter, beserta perawat pun meninggalkan ruangan Nelson.


Setelah mereka pergi, Nelson berkata. “ Apakah masih sakit?”


Bella memandang Nelson dengan kesal, dia berkata. “ Urusan kita belum selesai! Kau ingat itu!”


Nelson sedikit terdiam, memikirkan cara bagaimana membuat Bella tidak marah lagi.


Nelson menundukkan kepalanya seraya berkata. “ Maafkan aku. Jika kejadian sepuluh tahun yang lalu itu membuat hidupmu hancur.”


“ Aku juga saat itu di jebak oleh sahabatku!”


“ Aku kira kau adalah wanita yang di sediakan olehnya. Namun, nyatanya itu adalah kau!”


“ Aku tidak bermaksud merampas milikmu, sejak saat itu aku tidak melupakan, aroma tubuhmu yang membekas dalam ingatanku.”


“ Aku mencoba mencari jejakmu. Namun, seluas apapun koneksiku, aku tidak bisa menemukanmu.”


“ Kini saat aku tahu, bahwa Dean dan Dion adalah putra kandungku, aku begitu bahagia.


“ Keluarga besarku bahkan sangat menantikan hari di mana aku memperkenalkan kedua putraku, dan istriku.


“ Aku harap kau tidak membenciku, aku tidak ingin kau meninggalkanku!”


“ Jika kau hidup bersamaku, aku berjanji akan membahagiakanmu dan juga anak-anak kita, dan tidak ada seorang pun yang bisa menyakitimu, ataupun putra kita!”


Bella termenung kala mendengarkan perkataan Nelson, dengan lembut dia berkata. “ Aku tidak membencimu, tidak sama sekali.”


“ Setelah aku berpikir lagi, kini aku sadar, malam yang panjang itu terjadi karena kesalahanku juga.”


“ Jika saja aku tidak terjebak oleh kakak perempuanku, dan juga ibu tiriku, aku tidak akan melalui malam yang panjang itu.”


“ Malam di mana kau merenggut kesucianku!”


“ Namun, aku bersyukur, berkat kejadian itu kini aku memiliki Dean, dan Dion dalam hidupku.”


“ Walaupun awalnya sangat sulit untuk bertahan. Namun, aku tidak menyerah.”


“ Dengan susah payah, aku membesarkan kedua putraku, bersama Anita sahabatku.”


“ Aku melewati berbagai kesulitan saat membesarkan mereka di negeri orang. Namun, aku menguatkan diriku, bahwa kedua putraku bukanlah sebuah kesalahan. Mereka adalah anugerah yang Tuhan berikan padaku saat itu, hingga saat ini.” Mata indah Bella mulai berkaca-kaca kala membicarakan masa lalu.


Nelson yang mendengarkan perkataan Bella mencoba bangkit dengan susah payah dari ranjangnya, Nelson menghampiri Bella yang hampir menangis, dia memeluknya dengan erat seraya berkata. “ Maafkan aku istriku, maafkan aku!”


“ Ayah macam apa aku ini yang tidak memenuhi kebutuhan anak-anaknya.”


“ Sungguh aku sangat menyesal, sangat menyesal karena tidak dari dulu bersamamu!”


“ Mengapa tidak mencarimu dengan teliti, jika aku tahu dari dulu, aku tidak akan membiarkan kalian menderita sedikitpun, aku bersumpah istriku!”


Nelson dan Bella sama-sama menangis, mereka berdua meluapkan isi hatinya. Setidaknya tindakan itu membuat hati keduanya sedikit lega.


Nelson mengusap air matanya, seraya berkata. “ Lalu apakah kau akan memaafkanku?”


Bella berdiam diri sejenak, lalu berkata dengan pelan. “ Ya, aku memaafkanmu demi anak-anakku!”


Nelson bertanya. “ Tapi bukankah kau juga mencintaiku?”


Wajah Bella memerah, Bella begitu tersipu malu dibuatnya, bahkan Nelson semakin menggodanya.


Bersambung