
Saat Nelson hendak memeluk kedua putranya dia di hentikan oleh suara yang begitu lembut kala terdengar di telinganya.
“ Jangan sentuh mereka, cucilah tanganmu dulu suamiku, baru kamu memeluk mereka.” Bella mendekati Nelson, membantunya untuk melepaskan mantel serta jas yang di kenakan olehnya. Anak-anak yang tadinya antusias ingin memeluknya seketika tidak bersemangat, di raut wajah keduanya terlukis sedikit kekecewaan.
Nelson kembali ke ruang keluarga, dia menghampiri anak-anaknya setelah selesai mencuci tangannya dengan bersih. Dia duduk di antara keduanya. Dean mengulas senyum saat Nelson merangkul pundaknya.
“ Ayah, apa kau membelikan apa yang kami inginkan?” Dion bertanya pada Nelson seraya menatapnya lekat.
“ Tentu saja, ibumu sedang menyiapkannya.” Nelson mengacak-acak rambut Dion.
“ Ayah hentikan! Aku bukan anak kecil lagi!” Dion sedikit berontak saat Nelson mengacak-acak rambutnya. Dean hanya mengulas senyum tipis di wajahnya.
“ Ayah, aku mendapat laporan bahwa ayah menyewa pekerja profesional untuk meneruskan usaha kami? tanya Dean seraya menatap mata Nelson.
“ Tentu saja, usaha pakaian kalian orang kepercayaan Ayah yang menanganinya, jadi jangan khawatirkan masalah itu. Fokuslah untuk sembuh.” Nelson mengusap lembut puncak kepala Dean berbeda dengan perlakuannya pada Dion.
“ Kue sudah siap.” Bella berjalan sembari membawa nampan makanan serta teh untuk suaminya.
“ Yeay, kuenya sudah datang.” Dion berteriak dengan girang. Dia segera menyambar kue yang baru di letakkan oleh ibunya.
“ Dion! Bersikap baiklah di depan Ayah.” Dean memperingatkan Adiknya.
“ Baiklah,” dengan sedikit rasa bersalah dia menundukkan kepalanya.
“ Tidak apa-apa Dion, Ayah tidak marah padamu. Jadi segera makan bagianmu.” Nelson mengangkat dagu Dion sehingga wajah kecilnya terlihat.
“ Ayah, jangan biarkan Dion semaunya. Dia harus dididik sekarang sebelum terlambat.” Dean bersikap seperti seorang Ayah yang menegur putranya sendiri.
“ Kau ini sudah seperti orang tua saja.” Bella mencubit gemas pipi Dean. Nelson hanya mengulas senyum pada keduanya.
“ Sudah, sudah. Anak-anak segera makan kue kalian.” Nelson meminta kedua putranya untuk duduk tenang dan memakan kue mereka berdua. Mendengar perkataan Nelson membuat Bella ikut terdiam, mengikuti kedua putranya. Dean dan Dion memakan kuenya dengan tenang namun tiba-tiba Dean terbatuk-batuk, Nelson mengusap punggungnya sedangkan Bella membantunya untuk minum. Senyum hangat Dean terpancar saat meminum air yang di berikan oleh ibunya.
“ Apa sudah lebih baik?”’tanya Nelson pada Dean.
Dean menganggukkan kepalanya pelan. “ Ayah, aku ingin kembali ke kamarku. Aku ingin beristirahat, bolehkah Ayah menggendongku?” Nelson menganggukkan kepalanya lalu dengan hati-hati dia mengangkat tubuh Dean. Dean membenamkan wajahnya ke dalam dada bidang Ayahnya, Dean menghirup aroma tubuh ayahnya yang selalu membuatnya nyaman dan damai.
“ Dion, tunggu bersama ibu. Ayah akan segera kembali untukmu.” Dion hanya menganggukkan kepalanya.
“ Tolong kau ikut denganku.” Nelson meminta seorang pelayan untuk ikut bersamanya, karena dia akan kesulitan ketika membuka pintu kamar. Sang pelayan yang di tunjuk pun menganggukkan kepalanya. Nelson melangkahkan kakinya menuju lantai dua di mana kamar Dean berada, di Ikuti oleh pelayan yang mengekor di belakangnya. Nelson menaiki tangga dengan hati-hati. Pikirannya sedikit melayang ke mana-mana.
“ Apakah aku berat?” Suara Dean membuyarkan lamunannya. Nelson yang sedikit terkejut menghentikan langkahnya begitu pula dengan pelayan yang ada di belakangnya.
“ Ehm, kau sangat berat.” Jawabnya getir.
“ Jangan berbohong Ayah, dan jangan sedih. Aku pasti bisa mengembalikan berat badanku.” Dean memberikan senyum hangat pada Nelson yang sedang menatapnya lekat. Nelson membalas senyumannya.
Sesampainya di depan pintu kamar Dean, sang pelayan membukakan pintu kamar. Lalu dia membereskan tempat tidur agar Tuan mudanya bisa tidur dengan nyaman sebelum meninggalkannya. Nelson mengangguk lalu masuk ke dalamnya. Dia membaringkan tubuh Dean di atas tempat tidur, saat Nelson menyelimutinya dan ingin pergi perlahan Dean terjaga, sorot matanya seakan meminta agar ayahnya tidak pergi.
“ Ayah, bisakah Ayah tinggal sedikit lebih lama di sini?” Dean menggenggam erat tangannya, membuat Nelson tidak bisa meninggalkannya.
“ Ada apa?” Nelson berbalik dan menangkap sorot matanya, perasaannya sedih melihat putra sulungnya seperti itu. Dia duduk di tepi ranjang menatap balik pada Dean. Tangannya masih di genggam erat olehnya.
“ Tidak ada, aku hanya ingin Ayah lebih lama di sini?” Jawab Dean.
“ Ayah, aku mohon ketika aku menjalani perawatan. Jangan biarkan Dion sendirian. Aku ingin Ayah lebih memperhatikannya.” Sejenak Nelson terdiam mendengar perkataan Dean. Dia menatap lurus ke arahnya.
“ Kenapa kau berkata seperti itu?” Nelson balik bertanya.
“Karena saat aku sakit Ayah dan Ibu hanya fokus terhadapku. Dan melupakan Dion yang sehat.” Selesai berkata Dean menatap ke arah lain. Sesekali bulu mata yang lebat itu bergetar setiap kali ia mengedipkan matanya yang indah.
Deg, Nelson seraya tertampar oleh perkataan putra sulungnya, selama ini ia merasa jika dirinya dan Bella lebih fokus terhadap Dean karena dia sering kesakitan yang di sebabkan oleh penyakitnya sehingga perhatiannya pada Dion berkurang.
“ Ya Tuhan, mengapa aku baru menyadarinya.” batinnya. Nelson memejamkan kedua matanya. Kedua manik indah itu berkaca-kaca. Ia menghirup napas panjangnya tanpa bisa berkata-kata.
“ Bisakah Ayah melakukannya? Berikanlah perhatian lebih pada Dion, karena sejak dulu dia sangat mendambakan adanya sosok Ayah dalam hidupnya.” Nelson hanya mampu menganggukkan kepalanya.
“ Aku akan tidur, Ayah bisa pergi.” Dean memejamkan matanya kemudian terlelap. Melihat putranya sudah tidak bersuara lagi, Nelson mencium keningnya lalu keluar kamar dengan langkah gontai. Perkataan Dean masih terngiang-ngiang di kepalanya. Nelson merasa buruk sebagai orang tua.
“ Oliver, datanglah ke ruang kerjaku!” Nelson kembali naik ke arah ruang kerjanya. Oliver yang baru saja masuk itu sedikit bingung, suasananya begitu canggung. Oliver mengikuti Nelson dari belakang.
“ Duduklah,” Nelson mempersilahkannya untuk duduk di sofa yang ada di dalam ruang kerja. Oliver duduk diam dengan sopan menunggu Nelson bicara.
“ Kapan jadwal kemoterapinya?” tanya Nelson dengan suara sedikit bergetar.
“ Besok Tuan kecil akan menjalani pemeriksaan di rumah sakit, Tuan. Jika hasilnya baik, Tuan kecil bisa melakukan kemoterapi selama enam siklus.” Oliver mengatupkan rahangnya. Dia juga merasa berat saat anak-anak harus merasakan berbagai upaya untuk mempertahankan hidup mereka. Walau semua itu sangat menyakitkan. Namun, mereka menjalaninya tanpa beban sama sekali. Senyum ceria selalu terlukis indah di wajahnya.
“ Aku khawatir dengan kondisinya. Apa kita merawatnya di rumah sakit saja?” Nelson bingung dia tidak tahu harus melakukan apa? Dia ingin Putranya mendapatkan perawatan terbaik.
“ Sebaiknya jangan Tuan, lebih baik di rawat di rumah. Tuan kecil ke rumah sakit hanya melakukan pemeriksaan dan juga melakukan kemoterapi. Tuan kecil sudah pernah mengatakannya, selagi ia bisa di rawat di rumah dia ingin melakukannya. Karena Tuan kecil tidak pernah tahu apa yang akan terjadi padanya setelah kemoterapi di lakukan. Jika semuanya baik. Tuan kecil akan melakukan kemoterapi pertamanya pada minggu ini.” Nelson yang mendengar perkataan Oliver sedikit termenung. Kini dia tahu apa yang diinginkan oleh putranya Dean.
“ Kau bisa pergi sekarang.” Oliver pun pamit meninggalkan Nelson sendirian di ruang kerja.
Tok… tok.. terdengar suara pintu di ketuk.
“ Ayah, apa aku boleh masuk?” Suara khas anak-anak itu terdengar dari balik pintu.
“ Masuklah,” Nelson mempersilahkannya untuk masuk ke dalam. Sesaat kemudian Dion masuk. Ia melihat Nelson tengah bergelut dengan pekerjaannya.
“ Ayah,” suaranya kembali menggema di seisi ruangan.
“ Ada apa?” Nelson menghentikan aktivitasnya, lalu menatap ke arah Dion yang berjalan menghampirinya. Dion berdiri di hadapan Nelson mereka terpisah oleh meja yang menghalangi keduanya.
“ Ayah, bolehkah aku bersamamu?” Dion meminta waktu untuk berdua.
Nelson menatapnya lekat. “ Mendekatlah.” Nelson melebarkan kedua tangannya untuk menyambut kedatangan Putra keduanya. Dion dengan senang hati segera berhambur ke dalam pelukan Ayahnya.
“ Tidak biasanya kau manja seperti ini?” Nelson mengusap lembut punggung kecilnya.
“ Aku? Hanya saja aku ingin lebih lama menghabiskan waktuku dengan Ayah. Karena sejak dulu aku sangat mendambakannya.” Dion membenamkan seluruh wajahnya ke dalam dekapan Nelson.
“ Ayah, terima kasih karena sudah menjadi Ayah untukku dan juga saudaraku. Aku sangat beruntung memiliki Ayah sepertimu.” Wajahnya berbinar kala ia mengatakan bahwa dia sangat beruntung memiliki Nelson di sisinya.
“ Ayah tahu, jika aku selalu membayangkan bagaimana rupa Ayahku. Di setiap malam aku selalu berharap jika aku bertemu dengannya di suatu tempat. Dan betapa bahagianya aku mendapati orang yang selalu bersikap baik itu adalah Ayah kandung kami. Aku sangat, sangat bahagia.” Dion begitu ceria menceritakan keinginannya untuk bertemu dengan Ayah kandungnya. Nelson hanya terdiam, dia merenungi apa yang dikatakan Dean. Dia merasa bersalah karena tidak mencari keberadaan mereka dengan usaha yang lebih keras. Mungkin ia akan menemukannya lebih awal dan Dean mungkin saja bisa di tangani lebih dini.
“ Aku tidak menyangka Ayahku adalah seorang Presdir,” senyum hangatnya menghiasi wajah kecilnya. Dion memeluk erat tubuh Ayahnya.
“ Dan Ayah sangat beruntung memiliki kalian berdua. Terima kasih karena sudah datang ke dunia Ayah.” Nelson mengecup puncak kepala Dion.
“ Pergilah tidur, ini sudah terlalu larut untukmu. Ayah juga akan kembali ke kamar setelah menyelesaikan pekerjaan Ayah.” Nelson menurunkan tubuh Dion sebelum menyuruhnya kembali ia mengecup keningnya. Dion tersenyum bahagia meninggalkan Nelson sendirian di ruang kerja. Nelson hanya tersenyum kala melihat Dion berjingkrak-jingkrak hingga bayangannya keluar.
Selepas kepergian Dion, Nelson menyelesaikan sedikit pekerjaannya yang tertunda. Di lihat jam di tangannya menunjukkan pukul 23: 30 malam. Dia memeriksa ponselnya tidak ada kabar terbaru dari orangnya, yang berarti Robin dalam keadaan stabil. Nelson menutup ponselnya dan bersiap untuk kembali ke kamarnya.
Saat Nelson hendak berjalan ke kamarnya, tidak sengaja dia melirik ke arah kamar Dean. Di sana ada istrinya yang sedang menatap Dean dari ambang pintu. Tatapannya begitu teduh kala menatap Dean yang sudah terlelap dalam mimpi.
“ Belum tidur?” Suara rendah namun terkesan tegas itu mengejutkan Bella yang melamun.
“ Astaga! Mengagetkan saja.” Bella mengusap dadanya. Nelson hanya tersenyum. Entah kenapa dia suka dengan ekspresi yang di tunjukkan oleh istrinya.
“ Apa terjadi sesuatu?” Nelson bertanya seraya mengedarkan pandangannya ke dalam kamar. Di sana Dean tidur dengan nyenyak di tempat tidurnya, di temani Oliver yang tidur di tempat tidur lain tidak jauh dari Dean.
“ Aku hanya ingin melihatnya sebentar.” ucap Bella pada suaminya.
“ Ayo, ini sudah sangat larut sebaiknya kita kembali ke kamar.” Nelson merangkul bahu istrinya, mengajaknya ke kamar. Bella menerima perlakuannya dengan senang hati. Mereka pun memasuki kamarnya untuk beristirahat.
*
*
Terima kasih untuk dukungannya. Salam sayang dan sehat sll.🙏😇🥰❤️🫶🌹🌹🌹🌹
Bersambung