
“ Apakah Ayah mencari kita?” Dion bertanya sambil terus berlari.
“ Tentu saja, kita harus selamat. Ibu pasti menunggu kita dengan cemas.” Ujar Dean.
Di seberang telepon terdengar seseorang telah mengumpat. “ Apa? Anak-anak itu lolos? Bagaimana bisa kau membiarkan anak-anak itu lolos, aku tidak ingin tahu kau harus mendapatkan mereka kembali.”
“ Anak buahku sedang mencari mereka, anak-anak itu pasti tidak akan bisa berjalan jauh dari sini!” Sang tampak yakin dengan perkataannya.
“ Ingatlah, aku membayarmu begitu mahal,” teriaknya seraya menutup teleponnya. Tangannya mengepal begitu erat, dia tidak habis pikir jika anak-anak itu bisa lolos dengan mudah.
Di pelabuhan.
Drama pengejaran pun berlanjut, setelah melalui medan yang cukup sulit akhirnya, sang pembawa tas pun berhasil terpojok, personil yang di turunkan berhasil mengepung pria tersebut.
“ Kami sudah mengepung area ini, jadi Anda di pastikan tidak bisa kabur, mohon kerja samanya. Angkat tanganmu di atas kepala, kami ulangi angkat tanganmu di atas kepala.” Dia berkata dengan nada yang cukup dingin, Robin melirik tersangka, dia tampak tidak mengikuti arahan yang di berikan olehnya.
Robin memejamkan kedua matanya, lalu dia berkata lagi. “ Jika Anda tidak kooperatif, kami bisa kapan pun menembak mati Anda.” Suara Robin terdengar dengan begitu jelas, dan tegas. Dia bicara dengan menggunakan pengeras suara.
Sang pria sadar bahwa dirinya tidak akan bisa lolos kali ini, dengan pasrah dia meletakkan tas uangnya, dan dirinya pun mengangkat tangannya di atas kepalanya. Dia menggigit bibir bawahnya, karena dalam skenario yang telah dibuatnya, dia tidak akan tertangkap seperti ini.
Sang pria hendak berlutut, saat beberapa personil hendak menangkap tersangka, tiba-tiba dia menyerang petugas, dan terjadilah baku hantam antara petugas dan tersangka. Hingga akhirnya salah satu petugas menjadi sandera.
Tersangka membawa sandera seraya menghunuskan pisau di leher petugas, tampak darah segar mengalir tipis, menandakan ancamannya bukan main-main.
“ Jangan bergerak, jika tidak ingin orang ini mati!” Ancamannya pada seluruh personil yang ada. Dia berjalan dengan begitu waspada, setidaknya jika membawa seorang sandera dirinya akan lolos.
Robin yang sedari tadi mengamati situasi pun bergerak cepat, dia melirik di sebuah kontainer ada seorang penembak jitu, dia pun menuju ke atas sana.
“ Tuan,” dua orang yang bertugas di sana menyapa dengan sopan dan hormat.
Robin menganggukkan kepalanya, lalu berkata. “ Aku yang akan menembak.”
Penembak jitu pun bergeser posisi, membiarkan Robin untuk mengambil alih. Robin bersiap, dia mulai membidik target dengan senapan Cheytac M200 Intervention LRSR yang bisa dikatakan senapan yang cukup akurat untuk menembak target.
Setelah target terkunci, Robin pun dengan mantap menarik pelatuknya. “ Wussss… peluru itu meluncur dengan cepat dan tepat sasaran, tersangka yang tidak menyadari datangnya peluru pun tak sanggup mengelak, dia kehilangan lengannya, darah segar mengalir begitu deras tanpa henti.
“ Aaahhhh. Terdengar teriakan yang begitu pilu dari tersangka, dia melepaskan sandera setelah kehilangan satu tangannya.
Personil yang menjadi sandera hanya mengalami luka gores di lehernya, akan tetapi dia terlihat begitu syok, dia mematung tak bergerak. Personil yang melihat tersangka kesakitan pun segera mengamankan tersangka, yang telah berlumuran darah. Satu orang memasang borgol dengannya, sedangkan beberapa petugas menghentikan pendarahan yang di alaminya.
Di sisi lain.
Nelson dan Andre memasuki area yang cukup terpencil, tampak sekitar cukup gelap. Bagaikan tak ada kehidupan.
“ Bagaimana? Apa kita sudah dekat?” Nelson bertanya seraya memandang sekeliling mereka. Tampak padang rumput yang luas di kelilingi oleh hutan.
“ Lihatlah tandanya berhenti di area ini,” ucap Andre, seraya menunjuk ke layar laptop.
Nelson melirik, dia mengamatinya dengan seksama, tampak dari sinyal yang di berikan itu berada tidak jauh dari tempatnya berada.
Drrrttt… Drrrttt… ponsel Nelson bergetar, tampak dari layar depan itu panggilan dari Robin, Nelson segera menjawabnya.
“ Bagaimana?” Tanya Nelson.
“ Target sudah berhasil di lumpuhkan, misi clear.” Robin memberi laporan bahwa target telah di amankan.
“ Bawa dia bersamamu, dan gali informasi tentang siapa yang memerintahkannya, dan cari tahu dalang dari kejadian ini. Kau mengerti?” Nelson berkata dengan suara yang begitu tegas dan dingin.
“ Siap, laksanakan.” Robin pun menutup teleponnya. Dia kembali beralih pada target yang telah di beri pertolongan pertama.
“ Bawa dia,” Robin memberi perintah pada bawahannya untuk membawa target pergi meninggalkan TKP.
Di sisi lain.
Bos dari pada target yang tertangkap pun mendengar kabar bahwa anak buahnya yang lain tertangkap.
“ Apa?” Sang Bos berteriak, dia harus segera menemukan anak-anak itu jika tidak, bisa tamat riwayatnya.
“ Apa?” Matanya terbelalak, mulutnya ternganga lebar, dia tidak percaya bahwa anak buahnya bahkan di tembak hingga kehilangan tangannya.
Setelah informan menjelaskan situasinya, dia benar-benar di ambang kematian.
“ Aish, wanita sialan! Mengapa jadi seperti ini,” Bos merasa putus asa, dia menekan beberapa digit nomor di ponselnya, setelah terhubung dia bertanya.
“ Apa kalian menemukan anak-anak itu?” Dia setengah berteriak di seberang teleponnya.
“ Kami belum menemukannya Bos, kami masih mencarinya.” Jawabnya pada seseorang yang berada di seberang telepon.
“ Kita harus bergegas, teman kita tertangkap, dia juga kehilangan sebagian tangannya karena di tembak. Jadi kau harus menemukannya, kau mengerti?” Teriaknya lagi. Seraya menutup teleponnya.
“ Hei,” teriak seorang rekannya.
“ Lihatlah,” seraya menunjuk pada rumput yang memiliki tetesan darah. Dia mengamatinya dengan seksama, kemudian dia berpikir. “ Jangan-jangan ini darah dari salah satu anak itu.” Ujarnya.
“ Sebaiknya kita mengikutinya, mungkin ini akan membantu kita menemukan anak-anak sialan itu.” Seraya melangkah pergi meninggalkan tempatnya.
Di sungai kecil anak kembar itu tengah beristirahat, wajah Dean sudah sangat pucat, Dion memberikan sedikit air padanya. Dia begitu lelah, tubuhnya begitu lemah.
“ Kakak, apakah kau baik-baik saja? Kau terlihat sangat kesakitan.” Di raut wajah Dion terlukis kekhawatiran yang besar.
Napas Dean begitu tersengal-sengal, bahkan detak jantungnya berdetak begitu cepat. Dia memejamkan kedua matanya, dahinya di penuhi oleh keringat dingin, sesekali dia mengernyit, tampak jelas rasa sakit yang di rasa begitu menyakitkan.
“ Dean,” deraian air mata memgalir deras di wajah tampan Dion.
Dengan napas yang berat Dean berkata. “ Berhentilah berteriak, orang-orang itu bisa mendengar suaramu.”
Dion segera menutup mulutnya, dia melirik ke kiri dan ke kanan, dia memastikan bahwa tempatnya beristirahat cukup aman.
“ Dion jika nanti aku tidak kuat berlari lagi, tinggalkan saja aku.” Dean menghela napasnya. Lalu melanjutkan perkataannya. “ Kau harus berlari sejauh mungkin, sampai ada seseorang yang bisa menolongmu. Aku mohon hiduplah,” pinta Dean, dia bicara dengan mata berkaca-kaca.
“ Tidak, tidak mungkin aku meninggalkanmu! Tidak Dean. Bagaimana bisa aku melakukannya? Aku tidak sanggup melakukan itu.” Dion terisak, mata indah itu kini tenggelam dalam lautan air mata.
“ Ya ampun, mengapa aku memiliki adik yang begitu keras kepala,” Dean mengulas senyum di wajahnya yang pucat.
“ Kita harus segera bergerak lagi, jika tidak kita tidak akan bisa lolos dari sini.” ujarnya.
Mereka berdua pun kembali berlari sekuat tenaga, setelah keluar dari hutan mereka melihat padang rumput lagi, dari jauh mereka melihat ada sebuah mobil yang tengah terparkir, dengan kondisi lampu menyala, memberikan mereka sedikit harapan.
Tak jauh dari mereka berdiri, tiba-tiba ada sebuah Drone terbang di atas mereka. Dan Drone itu milik Andre.
“ Bos, bukankah itu anak-anak?” ujar Andre, seraya menunjuk pada monitor yang tersambung langsung pada kamera Drone yang sedang di terbangkan.
Mata Nelson membelalak, di layar tampak jelas itu adalah putra kembarnya. Namun di belakangnya tampak tiga orang tengah mengejar mereka.
“ Gawat, mereka di kejar.” Nelson segera mengendarai mobilnya menerjang padang rumput yang terhampar luas.
“ Ayah, tolong kami!” Dion menyadari Drone yang ada di atasnya itu adalah milik Andre.
Dean memicingkan matanya, tampak dari jauh tiga orang tengah berlari ke arahnya.
“ Dion, lebih cepat, kau harus lari lebih cepat!” Dean berteriak mengingatkan adiknya.
Saat Dion berbalik, tampak tiga orang dewasa tengah berlari ke arah mereka berdua, dia pun mempercepat larinya, dengan sekuat tenaga dia berlari. Hingga meninggalkan Dean di belakang.
Dean mencoba memacu kedua kakinya agar dapat berlari lebih kencang. Namun dia tidak beruntung, rasa sakit menjalar di kepalanya. Tubuhnya seketika ambruk ke tanah, tampak begitu kesakitan, Dean mencoba mengatur napasnya.
Dion menyadari bahwa Dean tidak berada di belakangnya. Dia berteriak putus asa. “ Dean.”
Saat dia ingin berbalik Dean perlahan bangkit, di tatapnya Dion dengan mengulas senyumannya, dia berteriak seraya menahan sakit di kepalanya.
“ Dion pergi, larilah!”
Dion berderai air mata menatap saudaranya. Dia berniat berbalik, namun Dean kembali berteriak. “ Pergi, aku bilang pergi!” Dean menahan sakit yang menderanya, dia bahkan kembali berlutut. Kedua tangannya memegangi kepalanya.
Dion tidak tahan melihatnya, kilauan crystal bening itu mengalir. Orang-orang yang mengejarnya semakin dekat dengan Dean. Dengan putus asanya Dion berlari sekuat tenaga, sesekali dia melihat Dean yang kini telah tertangkap kembali.
“ Kejar anak yang satunya.” Seseorang memberikan perintah pada dua orang rekannya yang lain.
Penjahat yang berhasil menangkap Dean, dengan bengisnya menampar wajah pucat Dean tanpa rasa iba sedikit pun.
Dean menatap siluet adiknya yang perlahan menghilang. “ Setidaknya kau harus selamat adikku.” Dia pun kehilangan kesadarannya.
Satu orang yang mengejar Dion pun berbalik, saat dia melihat ada sebuah mobil jip militer yang datang ke arah bocah itu. Sedangkan yang satunya sudah tertembak di tempat.
“ Cepat lari.” Teriaknya, sedetik kemudian dia jatuh tertembak. Suara tembakan begitu menggema di telinga.
“ Ah, itu pasti Ayahku, apa kau tidak takut padanya?” ucap Dean dengan suara pelan. Namun terkesan mengejek, dia menyeringai di sudut bibirnya.
“ Diam kau bocah sialan!” teriak sang pria pada Dean.
Dion mematung, tubuhnya gemetar karena mendengar suara tembakan. Sebuah mobil pun datang menghampirinya. Ya itu adalah mobil yang di kendarai oleh Nelson dan Andre.
*
*
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih. 🙏🥰❤️🫶🌹🌹🌹🌹
Bersambung