ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 128


“ Apakah kau sudah menemukan Dion?” tanya Bella.


Evan menggelengkan kepalanya.


Evan mencoba mengatur napasnya. Dia kemudian mencoba untuk membuka kunci kamar Andre.


“ Apakah ini tidak apa-apa? Bagaimana jika Tuan Andre marah?” tanya Bella yang sedikit gugup.


Evan hanya menggelengkan kepalanya, menandakan tidak.


Cekrek… pintu kamar di buka.


“ Andre… Andre…” panggil Evan.


Tak ada jawaban sama sekali. Evan melihat ada dua gelas di meja ruang tamu. Dia bernapas lega, karena Dion ada di sini sesuai dugaannya.


Evan melangkahkan kakinya menuju kamar Andre. Di bukanya pintu kamar perlahan. Terlihatlah Andre yang tengah tertidur dengan memeluk Dion di tempat tidurnya.


Evan tersenyum lembut kala melihat keduanya yang terlelap dalam tidurnya. Bella yang melihat Evan tersenyum pun ikut melihat dari celah pintu kamar. Di tatapnya Andre yang seakan nyaman tidur bersama Dion. Bella juga menyunggingkan sedikit senyuman.


“ Nyonya. Tuan kecil sedang bersama Tuan Andre, Anda tidak perlu cemas lagi,” ucap Evan lega.


Bella menganggukkan kepalanya.


Evan ke ruang tamu, dia mencari air minum. Dia merasa tenggorokannya sangatlah kering. Dengan cepat Evan meminum sebotol air dingin.


“ Nyonya apakah Anda ingin minum?” tanya Evan


Bella menganggukkan kepalanya, seraya berkata. “ Tentu,” ucapnya.


Evan menuangkan segelas air dingin, seraya memberikannya pada Bella.


“ Terima kasih,” ucap Bella.


Bella bertanya. “ Mengapa kau bisa tahu kalau Dion berada di kamar ini?”


“ Hanya perasaan saja Nyonya, karena hari ini dia begitu murung. Mungkin Presdir yang meminta Dion untuk menemani Andre,” jawabnya.


Evan berjalan menuju ke jendela besar, dia berdiri di sana cukup lama.


Dengan sedikit memberanikan diri, Bella bertanya. “ Memangnya apa yang terjadi pada Andre?”


Evan menghirup napas beratnya. “ Tidak sepantasnya aku membuka luka lama Andre,” ucapnya,


“ Ah. Maafkan aku karena sudah lancang,” ucap Bella.


“ Aku tahu, Nyonya pasti penasaran dengan apa yang terjadi? Namun, saya tidak berhak mengatakannya. Membuka kembali lukanya sama saja saya menyakiti perasaannya,” ucap Evan.


Bella sedikit tertunduk. “ Ah. Ternyata setiap yang berhubungan dengan Nelson, memiliki lukanya sendiri.”


“ Mungkin tidak sepantasnya aku ikut campur, dan seakan mengerti tentang luka yang di deritanya selama ini,” batinnya.


Evan yang melihatnya tertunduk pun berkata. “ Mungkin Presdir bisa menceritakannya pada Nyonya,” ucap Evan.


Bella mengangkat kepalanya, dia tersenyum seraya berkata. “ Aku tidak apa-apa,” ungkapnya.


“ Jika aku yang memiliki lukanya, aku pun tidak ingin ada orang yang membuka kembali luka yang aku derita selama ini,” ungkapnya. Senyuman Bella perlahan menghilang.


” Sebaiknya aku kembali ke kamar, aku harus bersiap karena nanti akan kembali ke rumah sakit,” ucapnya.


Evan menganggukkan kepalanya. “ Biarkan saya yang tinggal di sini, sampai Tuan kecil bangun dari tidurnya.”


Bella meninggalkan Evan di kamar Andre. Sedangkan dia melangkahkan kakinya keluar kamar, kembali ke kamarnya.


Di rumah sakit Dean sedang memandang ke luar jendela. Jalanan terlihat sangat indah. Dean sedikit menyunggingkan senyuman.


Yohan menghampiri Dean seraya membawa sepiring apel yang telah di kupasnya.


Yohan bertanya. “ Apakah kau ingin apel?” Seraya memberikan sepotong apel pada Dean.


“ Sedang memandangi apa?” tanya Yohan.


Seraya tersenyum dia berkata. “ Aku hanya menikmati keindahan dunia yang di berikan oleh Tuhan,” ucapnya.


Yohan terdiam sejenak, dia kemudian bertanya. “ Bagaimana kondisimu? Apakah sudah lebih baik?”


Dean menganggukkan kepalanya. “ Emm… aku rasa sudah lebih baik, hanya saja tubuhku masih lemah untuk berjalan-jalan,” jelasnya.


“ Jangan khawatir. Kau akan baik-baik saja,” ucap Yohan memberi semangat.


“ Aku hanya ingin menghabiskan waktuku dengan hal-hal indah, sebelum memulai kembali perawatan yang melelahkan dan menyakitkan itu.”


“ Kini bagiku waktu sangatlah berharga, tidak ingin menyia-nyiakannya walau hanya sedetik saja,” ungkapnya, dengan penuh kebahagian.


“ Aku tidak tahu harus bicara apa lagi. Kau pasti sangat menghargai waktu. Hingga kau tidak ingin melewatkannya.”


“ Kau terlihat sangat dewasa saat ini. Aku sangat malu padamu,” ungkap Yohan. Seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Dean hanya tersenyum, karena jika sekilas melihat rupa dari para sahabat ayahnya, yang terlihat rupawan. Namun garang, terselip sebuah jiwa yang hangat, dan anggun.


❤️❤️❤️❤️❤️


Di penjara Yeni cukup tertekan. Teman satu selnya bahkan berani memukuli wajah cantiknya. Setiap malam dia kesakitan karena ditindas. Dia begitu tersiksa, bagaikan ingin mati hari itu juga.


“ Aaahhh,” teriak Yeni.


“ Hei Nona cantik, di sini penjara. Kau teriak sekeras apa pun tidak akan ada yang menolongmu,” ucap seorang tahanan.


“ Ku dengar kau menyinggung Tuan muda Nelson Hongli, hingga kau berakhir di sini. Sungguh kau sangat sial, jika berurusan dengannya. Kau tidak akan keluar dengan cepat dari sini. Kau pasti sangat menyesal, karena perbuatanmu.”


Yeni terkekeh, seraya berkata. “ Ini semua karena wanita itu. Jika saja dia tidak kembali, aku tidak akan mengalami hal seperti ini,” umpatnya.


“ Dan sekarang kau harus bertugas membersihkan ruangan, mencuci, dan juga membersihkan toilet,” ucap sang tahanan yang telah lama berada di penjara.


“ Apa! Yeni terperanjat kala harus melakukan semua tugasnya.


” Aku tidak mau, aku tidak bisa mengerjakan semuanya.”


“ Aku mohon padamu, aku mohon,” ucap Yeni seraya memohon.


Bug… bug… Yeni di pukul hingga tersungkur.


“ Ah. Wanita ini membuatku kesal. Jika sudah ku bilang kerjakan. Ya kerjakan!” Perintahnya.


Yeni yang tersungkur sudah kembali berlutut. Di tariknya rambut Yeni, hingga dia menengadahkan kepalanya.


“ Kerjakan sekarang,” perintahnya


“ Jika tidak aku akan membunuhmu, bahkan jika aku membunuhmu tidak akan ada yang tahu,” ancamnya.


Yeni segera mengambil pakaian kotor, dia segera mencuci pakaian, membereskan sel. tubuhnya bergetar hebat. Dengan mata berkaca-kaca Yeni menahan tangisnya. Dia takut jika dia menangis, yang lainnya akan memukuli dirinya.


“ Nomor 8752,” ucap sipir penjara


Yeni yang menyadari dirinya di panggil pun segera menghampiri sipir penjara, seraya berkata. “ Iya ada apa?” ucapnya.


*


*


*


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih. 🙏🥰🫶🌹🌹🌹


Bersambung