
Bella yang telah sampai di depan pintu gerbang Vila keluarga Xia. Di sana dia terdiam cukup lama memandang rumah tua, yang menjadi saksi bisu kelahiran ibu Bella, maupun dirinya.
“ Ah, sudah lama sekali aku tidak menginjakkan kakiku ke sini,” batin Bella.
“ Apakah ayahku masih berada di dalam?” Bella mencoba menekan belnya.
Ting… tong… ting… tong, bel berbunyi.
Terlihat dari dalam Vila keluar seorang wanita tua. Ya, itu adalah bibi Amoy.
Bibi Amoy sudah bekerja di Villa keluarga Xia sejak Ibunya menikah dengan Ayahnya, hingga Bella lahir bibi Amoy lah yang merawat Bella. Bibi Amoy ini sudah seperti keluarga baginya.
“ Nona Bella?” ucap wanita tua yang menghampiri Bella.
“ Bibi. Bibi Amoy. Iya saya Bella, Bi,” ungkap Bella.
“ Nona ke mana saja? Bibi kira Nona tidak akan kembali kesini,” ucap Bibi Amoy, seraya membukakan pintu gerbang. Bibi Amoy memeluk erat bayi kecilnya Bella.
“ Nona, bagaimana kabar Nona?” ucap Bibi Amoy.
“ Saya baik-baik saja, Bi,” ucap Bella.
“ Mari Non masuk,” Bi Amoy membawa Bella masuk ke area Vila.
“ Bi. Taman ini tidak berubah sama sekali, sejak dulu.” ungkap Bella.
“ Iya Non, karena Tuan besar yang meminta untuk tidak merubah apa pun, sehingga tamannya masih sama seperti ketika Nona pergi sepuluh tahun yang lalu,” ucap Bi Amoy.
Bella bertanya. “ Bi aku dengar bahwa Vila ini sudah di jual oleh ayahku?”
“ Masalah itu memang benar Nona, bibi dengar terjadi sesuatu di perusahaan sehingga membuatnya jatuh bangkrut.”
“ Perusahaannya juga sudah di jual Nona,” ucap Bibi Amoy.
Dalam hati Bella berkata, “ Mungkin itu terjadi karena Yeni berani menyentuh Dean.”
“ Vila ini sudah terjual. Namun, Bibi tidak boleh pergi dari sini Nona,” ucap Bibi Amoy.
“ Kenapa Bi?” Bella sedikit heran.
“ Bibi juga tidak tahu Nona, Bibi kurang memgerti,” ucapnya.
Seraya tersenyum Bibi berkata. “ Bibi tahu, jika suatu saat Nona pasti kembali ke sini, walaupun Bibi tidak tahu tepatnya kapan? Namun, Bibi selalu menunggu Nona kembali.”
Bella merasa terharu kala mendengar perkataan Bi Amoy.
Bella bertanya. “ Bibi. Apakah Bibi bisa membawaku masuk ke dalam?”
Bi Amoy berkata. “ Tentu saja Nona bisa melihat ke dalam.”
Saat pintu masuk Vila di buka, terlintas sebuah kenangan manis di mana Ayah dan Ibunya menemani Bella kecil bermain di ruang tamu ini.
“ Iya Bi,” Bella menjawab.
Bella berjalan menyusuri Vilanya, barang-barang yang ada di dalam Vila tidak banyak yang berubah, dalamnya masih mempertahankan furniture tuanya.
Saat Bella menaiki tangga Bella terhenti pada sebuah pintu kamar. Ya, itu adalah kamar Bella dulu. Kamar di mana Ayah dan Ibunya selalu menemaninya tidur.
Saat hendak membuka pintunya, ternyata pintunya terkunci. Ketika hendak meninggalkan pintu kamar, Bella ingat bahwa dia memiliki kunci cadangannya. Setelah mencari akhirnya dia menemukannya.
Bella menghirup napas dengan dalam sebelum akhirnya dia membuka pintu kamarnya. Pemandangan itu membuat hatinya sakit.
Bella menangis seraya menutup mulutnya. Bella tidak percaya apa yang dilihatnya sekarang. Ternyata kamarnya masih sama seperti saat dia meninggalkan kamarnya sepuluh tahun yang lalu.
Bella menatap intens barang-barang di kamarnya, dia yakin bahwa kamarnya tidak berubah sama sekali. Bella duduk di ranjangnya, kemudian menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur seraya menutup matanya dan kembali menangis.
Ternyata, Ayahnya masih memiliki hati nurani. Dia membiarkan taman tanpa perubahan, dan juga kamarnya di jaga dengan baik. Walaupun ayahnya brengsek. Namun, dia masih memiliki hati yang cukup hangat.
Di bawah laci meja belajarnya terdapat album lama. Yang berisi foto masa kecil, dan foto kenangan lainnya.
Bella membuka album itu satu persatu. Terlihat dalam foto itu ibunya tengah tersenyum bahagia kala memegang selembar foto yang di perkirakan hasil USG dirinya, ayahnya juga begitu terlihat bahagia.
Bella tersenyum, dan menangis kembali kala melihat foto-foto itu. Rasanya Bella ingin kembali ke masa saat dirinya tidak tahu apa-apa. Yang dia tahu hanya keluarganya begitu bahagia.
Saat berada di lembar paling akhir album, dia melihat sesuatu. Saat Bella mencoba untuk melihat dan membukanya, terdapat sebuah surat yang sudah usang. Tertulis di surat bahwa untuk Bella.
Bella mencoba untuk membuka amplopnya, dan saat mengeluarkan isinya, sebuah kalung terjatuh ke bawah. Bella mencoba menelisik kalungnya, dan betapa kagetnya dia, di sana sudah tertulis namanya Bella Xia.
Bella memcoba membaca isi suratnya. Di sana tertulis. “ Putriku Bella Xia. Jika kau telah membaca surat ini. Mungkin ibu telah pergi jauh meninggalkanmu. Ibu harap kamu menjadi gadis yang kuat dan tangguh, maafkan ibu karena meninggalkanmu sendirian. Ibu tidak kuasa untuk membawamu pergi bersama ibu.
Putriku sayang, kau harus bertahan dari kejamnya dunia. Ibu harap kau menjadi wanita yang tangguh, tidak seperti ibumu ini yang lemah. Kau harus kuat dalam menghadapi segala sesuatu. Ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan hambanya.
Ibu sangat ingin kau tetap menjadi bayi mungil ibu, dan ayah. Kau adalah permata di hati ibu, tak ada yang bisa menggantikannya.
Kau harus kuat, dan bisa bertahan dalam hidup yang keras dan kejam ini. Ibu harap kamu mendapatkan seorang pria yang mampu menyayangimu, mencintaimu setulus hatinya. Mampu menjaga, dan membelamu kala orang-orang menjatuhkanmu, lagi, dan lagi.
Tak ada banyak waktu yang tersisa, ibu sangat berterima kasih padamu Nak. Karena kehadiranmu hidup ibu begitu berarti. Tidak ada kata-kata yang bisa mengungkapkan rasa bahagia, dan bersyukurnya ibu atas kelahiranmu di dunia.
Terima kasih karena sudah mengajari ibu arti dari kesabaran, dan arti dari sebuah ketulusan. Yang tak pernah ibu ucapkan selama ibu hidup adalah. Ibu sangat mencintaimu Nak. Sungguh jika ibu bisa memutar kembali waktu. Ibu sangat ingin menghabiskan waktu bersamamu.
Namun, kau sendiri juga pasti tahu, bahwa waktu yang terlewat, ataupun terbuang. Tidak akan pernah bisa kembali lagi.
Bella sayang pakailah kalung antik ini, ini adalah kalung dari nenek buyutmu, dan sudah turun temurun. Ini adalah hadiah kecil dari ibu. Ibu harap kau tidak membenci ibu.
Ibu sangat mencintaimu anakku, sangat mencintaimu.
Tertanda Belinda Xia
Tangis Bella kembali pecah kala membaca kalimat terakhir. “ Ibu sangat mencintaimu, sangat mencintaimu.”
Bersambung