
“ Tentu saja, aku sangat suka menginap di sini,” ucap Dion. Seraya menganggukkan kepalanya, Dion tersenyum bahagia karena Nelson mau menjadi ayah bagi mereka berdua.
Nelson dan Dion berbincang-bincang di ruang keluarga seraya menunggu sarapan siap. “ Buatkan bubur, dan juga sup sarang burung walet untuk Dean,” Nelson meminta kepala koki di dapur.
Dion sangat menyukai Nelson bahkan dia berandai-andai jika ibunya bisa menikah dengan Nelson pasti akan sangat membahagiakan.
Di satu sisi semua pelayan dan para pekerja ikut berbahagia bersama Nelson, karena kehadiran anak-anak mansion terasa lebih hangat. Bahkan tuan muda yang biasanya dingin dan tidak pernah tersenyum itu, berubah menjadi tuan muda yang hangat dan selalu tersenyum, ketika anak-anak menemaninya.
Semua orang benar-benar tidak menyangka jika tuan muda bisa dekat dan memanjakan anak-anak yang bahkan bukan anak kandungnya sendiri, orang-orang yang berada di mansion punya pikiran masing-masing.
Di atas tangga Dean telah bangun dan sudah berpakaian rapih, namun wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa sakitnya, dia melihat pemandangan yang jarang ditemukan pada adiknya. Dion tidak pernah sebahagia ini jika bersamanya.
Sejenak dia berpikir bahwa menerima Nelson untuk mendampinginya bukanlah suatu kesalahan, dia bersyukur Nelson dapat menyayangi mereka berdua. Nelson yang mendengar suara menuruni tangga pun mengalihkan pandangannya pada Dean yang sedang berjalan menuruni anak tangga.
Walaupun Dean sedang sakit namun pesona dan keanggunannya sungguh tidak menghilang bahkan karismanya tetap terlihat, di balik wajah itu tersimpan rasa sakit yang amat sakit. Namun dia tidak memperlihatkannya pada orang lain maupun kepada Dion dan ibunya.
Nelson segera bergegas membantu Dean menuruni anak tangga. Makanan di meja juga sudah siap, Nelson membawa Dean menuju meja makan dan membantunya duduk.
Dean merasa sangat di perhatikan oleh Nelson, dia membalas dengan senyuman seraya berkata. “ Terima kasih ayah..” Nelson tersenyum, dalam hatinya dia sangat bahagia ketika kedua anak ini menerimanya untuk memanggil dirinya Ayah. Walaupun dia bukan ayah kandung mereka.
Nelson memberikan bubur dan sup sarang burung walet untuk Dean, sedangkan Dion diberikan nasi serta lauk pauk yang lainnya juga, tak ketinggalan juga sup sarang burung walet untuknya, mereka bertiga sangat bahagia, terutama Nelson. Dia melirik Dean, Dean hanya makan sedikit bahkan buburnya masih banyak. Dean hanya memejamkan matanya.
Setelah selesai sarapan Dion pergi jalan-jalan keliling mansion di temani pelayan. Sedangkan Dean duduk bersama Nelson di sofa, menemani Nelson yang sedang bekerja, dia tidak banyak bicara, Nelson sesekali memperhatikan wajah Dean yang semakin pucat.
“ Apakah dia tidak terlambat bangun?” Dean menanyakan segalanya, berharap ibunya baik-baik saja. Di seberang telepon itu terdengar.
“ Ya. Ibu baik-baik saja!”
“ Kalian juga baik-baik di sana.”
“‘Aaaghhh…tunggu.. sayang jaga adikmu, ibu pergi dulu ya. Daah,” ucapnya. Panggilan pun akhirnya terputus.
Dean sedikit tersenyum dan berkata pelan. “ Pasti ibu terlambat bangun,” batinnya.
Dean tiba-tiba bangkit dari duduknya dan berlari ke kamar mandi, Nelson yang sedang bekerja pun terkejut, bergegas menghampiri Dean, terdengar suara orang sedang muntah. Nelson menunggunya di pintu kamar mandi. Namun suaranya perlahan sudah berhenti Nelson sedikit lega.
“ Dean. Apa kau baik-baik saja?” Tanya Nelson dengan sedikit berteriak.
Namun di dalam tidak ada jawaban dan hanya terdengar barang yang jatuh, Nelson semakin khawatir dia bahkan berlari mengambil kunci cadangan untuk membuka pintu, betapa terkejutnya Nelson kala melihat keadaan Dean yang meringkuk di lantai memegangi kepalanya. Dia sangat kesakitan. Nelson segera mengendong Dean dengan tergopoh-gopoh. Sopir yang melihat Nelson pun segera membukakan pintu mobil. Nelson berkata. “ Pergi ke rumah sakit,” pintanya.
Like, vote, dan komen ya guys. Terima kasih🙏🫶🌹
Bersambung