
Dengan terisak Mira Yu mengikuti langkah seorang petugas. “ Silahkan Nyonya,” ucapnya seraya mendorong pintu ruangan.
Mira Yu menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, tubuhnya sejenak goyah, dia termangu kala melirik pada sebuah kain putih yang di pakai sebagai penutup di sebuah meja, di wajahnya terlukis kesedihan yang amat dalam. Dengan langkah yang pelan Mira menghampiri sebuah jasad yang tengah berbaring di atas meja keramik yang dingin.
Para petugas yang menemani pun sedikit banyak merasakan kesedihannya, di saat seorang ibu kehilangan putrinya itu adalah momen yang sangat menyedihkan bagi yang mengalaminya.
Mereka menundukkan kepalanya, tak kuasa melihat jeritan tak berdaya Mira, yang tengah menatap jasad putrinya. Pelan-pelan dia menurunkan kain penutupnya, terlihat wajah pucat Yeni, suhu tubuhnya sudah sepenuhnya dingin bagaikan es, benar sudah tidak ada lagi kehidupan yang tersisa.
Dia hanya memejamkan kedua matanya, kekecewaan dan sakit hati telah menyelimutinya. Wajahnya menjadi kosong, hanya air mata yang dapat mengatakan bagaimana hancurnya dia saat ini. Melihat jasad putrinya yang putih pucat ini memiliki bekas luka di lehernya yang merah padam.
“ Nyonya Xia, karena Anda sudah melihat putri Anda. Apa Anda ingin melakukan autopsi pada tubuhnya?” Seorang petugas forensik menghampirinya.
Mira Yu menelan salivanya dengan kasar, pelan-pelan dia menghirup napasnya yang berat, lalu berkata. “ Tidak,” seraya menggelengkan kepalanya.
“ Aku sama sekali tidak ingin melakukan itu, itu sama saja membunuhnya untuk kedua kalinya,” Mira Yu berkata sembari membelai lembut puncak kepala Yeni.
Setelah mendengar apa yang di katakan olehnya petugas pun berjalan mundur, karena dirinya juga mengerti tentang kondisinya.
Sesaat kemudian Mira keluar dari ruangan tersebut, sembari menunggu tubuh Yeni di bersihkan sebelum di kremasi. Seorang petugas memberikan sesuatu padanya. Yang mana adalah sebuah surat untuk dirinya dan juga surat untuk Mario.
Mira memegangnya dengan penuh duka, sorot matanya memancarkan kebencian yang sangat besar, dia menggigit bibir bawahnya, napasnya begitu tersengal kala mengingat dia memohon dengan sangat pada Mario. Namun, Mario sendiri tidak pernah datang menemui Yeni sekali pun, dia menyeringai seraya menatap langit.
Setelah melakukan proses pembersihan jenazah, Yeni di semayamkan di rumah duka selama dua hari, sebelum di lakukannya kremasi.
Di rumah sakit tempat Dean di rawat.
Tok… Tok… suara pintu di ketuk.
“ Masuk,” Nelson setengah berteriak.
“ Permisi, Presdir.” Evan menghampiri Nelson lalu berbisik pada salah satu telinganya.
Seketika raut wajah Nelson berubah sesaat mendengar kabar yang di sampaikan oleh sekertarisnya Evan.
Setengah mulutnya terbuka, kedua matanya yang indah itu memancarkan ke tidak percayaan. Perlahan Nelson memejamkan kedua matanya.
“ Apakah Nyonya akan di beri tahu?” Evan bertanya dengan hati-hati pada Nelson.
“ Entahlah, aku juga sedikit bingung saat ini.” Nelson memijat dahinya yang tiba-tiba pening.
“ Beritahu apa?” Tiba-tiba terdengar suara Bella dari balik tirai.
Nelson mengalihkan pandangannya pada suara itu. Dia menghirup napasnya dalam-dalam sebelum memulai pembicaraannya.
“ Ada apa? Apa yang kalian berdua sembunyikan?” Bella bertanya karena penasaran dengan topik yang sedang mereka bicarakan di belakangnya.
“ Duduklah,” pinta Nelson seraya mengulurkan tangannya pada Bella.
Bella pun duduk di sampingnya. Dia menatap Nelson dengan keheranan. “ Apa kamu tidak ingin mengatakan sesuatu?” Tanyanya dengan nada sedikit kesal.
“ Istriku, aku baru saja mendengar kabar bahwa Yeni, telah meninggal dunia pagi ini, karena bunuh diri.” ujar Nelson pada istrinya.
Bella menutup mulutnya, setengah tidak percaya kala mendengar perkataan yang di lontarkan oleh Nelson.
“ Ini tidak mungkin, tidak mungkin,” tatapannya begitu kosong kala memandang pada suaminya.
“ Sayangnya kamu harus menerima kenyataannya, walau aku sudah berusaha mencegah hal ini tidak terjadi. Namun Tuhan berkehendak lain, Yeni lebih memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Obsesinya pada Mario Fan sangatlah besar, ku dengar dia meminta untuk bertemu Mario. Namun, Mario menolak menemuinya, sehingga Yeni berpikir, walaupun dia hidup juga sudah tidak ada artinya lagi.”
Bella masih termangu, mencoba mencerna situasi apa yang sedang terjadi saat ini, tatapan matanya masih kosong. Sedetik kemudian dia mengerjapkan matanya. Menyadari apa yang terjadi.
“ Apa kamu ingin pergi?” tanya Nelson, sembari menatap wajah Bella yang masih linglung.
“ Apa tidak apa-apa? Jika aku ke sana? Mira Yu sangat membenciku, aku tidak ingin ada keributan di sana.” ucap Bella. Mata cokelatnya itu kini mengeluarkan air mata.
“ Tidak apa-apa, ini semua bukan kesalahanmu, kematiannya di sebabkan oleh mantan suaminya sendiri,” ujar Nelson pada Bella.
Bella kembali melongo, wajahnya mengatakan bahwa dia tidak percaya penyebabnya adalah Mario sendiri.
“ Sebaiknya kita datang ke sana, seburuk apa pun dia, dia masih memiliki ikatan darah denganmu,” ucap Nelson pada istrinya.
“ Tapi…” Bella tidak meneruskan perkataannya. Wajahnya tampak murung.
Nelson yang menyadari kecemasan istrinya pun segera menariknya ke dalam pelukan, lalu berkata. “ Tidak apa-apa, bahkan jika kamu pergi ke sana. Tidak akan ada yang berani mengkritikmu. Karena aku akan berdiri di depanmu, melindungimu, dan membelamu,” Nelson berkata seraya tersenyum pada istrinya.
Bella dan Nelson pun pergi menuju ke rumah duka di mana Yeni di semayamkan.
Sedang Andre beserta Anita menemani dan menjaga Dean yang tengah tertidur.
Di sisi lain Mario tengah berdiri di luar pintu rumah duka. Wajahnya melukiskan penyesalan, matanya yang hitam memancarkan kesedihan, dia merasa jika kematian mantan istrinya itu di sebabkan olehnya. Dia tersenyum pahit menatap pada papan nama Yeni yang terpasang di layar.
Mario sedikit memicingkan matanya, melirik ke sana dan ke mari, tak terlihat banyak orang yang datang, hanya terlihat beberapa orang yang menikmati perjamuan.
Dengan menguatkan hatinya Mario melangkah maju, memasuki altar di mana foto Yeni yang tengah tersenyum berada, bunga krisan putih memenuhi altarnya. Sedetik kemudian Mira yang menyadari kehadiran Mario pun beranjak dari duduknya. Dia yang mengenakan pakaian berkabung serba hitam pun langsung menghampirinya dan memakinya habis-habisan.
“ Kau, berani-beraninya kau datang kemari!” Teriak Mira pada Mario yang tengah berdiri di Altar.
Mira bahkan menarik kerah kemeja Mario yang notabenenya adalah mantan menantunya sendiri.
“ Kau, untuk apa kau datang? Bahkan putriku sudah tidak ingin melihatmu, hingga akhirnya dia bunuh diri. Kenapa kau tega melakukan semua itu pada putriku yang malang?”
“ Ouh, putriku yang malang, sangat kasihan, ucap Mira sembari menarik kerah Mario.
Mario hanya terdiam, dengan pasrah dia menerima perlakuan mantan ibu mertuanya.
Di raut wajah Mira terlihat jelas kebencian yang amat besar pada Mario, sorot matanya begitu tajam kala melirik padanya yang tengah bercucuran air mata.
“ Maafkan aku ibu,” ucapnya pelan pada Mira yang tengah memakinya di depan semua orang.
“ Apa kau bilang? Minta maaf! Sampai mati pun, aku tidak akan memaafkanmu,” teriaknya dengan begitu histeris. Orang-orang yang di perintahkan untuk menjaganya, segera melerai mereka berdua.
“ Aku tahu kesalahanku, maafkan aku!” Dengan putus asa Mario meminta pengampunan, dia berlutut di depan Mira. Keadaan Mira maupun Mario sama kacaunya. Yang satu di ambang keputusasaan dan satunya lagi tenggelam dalam kebencian yang amat besar.
Bella yang datang bersama Nelson pun hanya terdiam kala melihat Mario yang tak berdaya. Walaupun keduanya mengenakan pakaian berkabung. Namun tetap saja mereka kelihatan berbeda dengan yang lain.
*
*
*
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰🫶🌹🌹🌹🌹
Bersambung