
Nelson menganggukkan kepalanya pelan, tersungging senyuman sinis di ujung bibirnya, dia berpikir sejenak. “ Itu ulah dari ibu tiri Bella, terlebih Linny Su ikut andil di dalamnya.”
Sandra membelalakkan matanya, tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh putranya sendiri bahwa anggota keluarganya ikut melakukan hal mengerikan, bahkan hingga mengancam nyawa kedua cucunya. Mulutnya setengah terbuka, sedangkan Leo hanya memejamkan matanya mencoba menghirup udara lebih banyak.
“ Apa yang kau katakan sudah di dasari dengan bukti yang kuat?” Leo bertanya dengan serius.
“ Anak buahku sudah mendapatkan tersangkanya, mereka juga sudah mengaku, di tambah aku menemukan Linny mengirim uang dengan jumlah yang sangat besar pada Mira Yu.” Saat Nelson selesai bicara, Bella yang berdiri tidak jauh dari ruang tamu menjatuhkan kantong buah di tangannya, dia terdiam sejenak. Matanya berkaca-kaca berusaha untuk tidak membiarkan air matanya jatuh.
Lalu Bella berkata. “ Apa yang kamu katakan? Apa benar jika wanita tua itu terlibat?” Tubuhnya bergetar, dia ambruk seketika, Nelson yang melihatnya berusaha bangkit. Namun, rasa sakit menghalangi untuk bangkit. Leo dan Sandra segera membantu Bella untuk pindah ke sofa, Nelson memberikannya segelas air.
“ Minumlah.” ucap Nelson. Seraya kembali duduk di tempatnya.
Bella menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, dia begitu terisak dengan kenyataan yang baru di dengarnya. Sandra segera memeluknya untuk menenangkannya.
“ Tidak apa-apa, putriku. Semuanya sudah berakhir, jangan terlalu banyak berpikir.” Dengan lembut dan penuh kasih Sandra mengusap puncak kepala Bella.
Bella berusaha untuk tetap segar, walau begitu menyakitkan dia tetap harus melawan semuanya. Jika dia tidak kuat siapa yang akan menjaga kedua putranya? Dia mencoba menahan tangisnya. Namun, tetap tak kuasa, akhirnya tangisnya pun pecah. Sandra terus menenangkannya. Nelson yang melihat istrinya kembali menangis itu membuatnya sedih, amarahnya kian memuncak.
Dion yang sedari tadi terbangun mendengar percakapan di antara mereka, dengan sigap membaca situasinya. “ Ibu aku ingin pergi menemui kakakku.” tatapannya begitu dalam, kala menatap wajah ibunya yang sudah basah oleh air mata.
“ Ada apa? Mengapa ibu menangis?”tanya Dion, Bella segera menghapus air matanya dengan kasar, bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
“ Ayo.” Ajaknya seraya menggendong Dion. Sandra tidak ingin kalah, dia juga ikut dengan Bella menjenguk Dean walau hanya bisa bertemu sebatas kaca saja, akan tetapi sudah membuatnya tenang.
Nelson dan Ayahnya Leo Hongli meneruskan pembicaraan mereka, dia akan bergerak tanpa ada yang mengetahui situasinya, keduanya juga sepakat untuk mencari orang yang sudah membocorkan informasi tentang putranya yang pergi ke taman bermain waktu itu.
Saat Bella sampai di depan ruang perawatan intensif tampak seorang laki-laki tengah berdiri di depan kaca, kedua matanya tampak berkaca-kaca, dia yang tak kuasa menahan tangisnya, akhirnya crystal bening itu jatuh membasahi wajahnya.
“ Oliver! Apa yang kau lakukan di sini?” Bella menurunkan Dion dari gendongannya, segera berlari kecil menghampirinya.
Oliver mencoba menghentikan tangisnya lalu menyapa dengan sopan dan hormat. “ Nyonya.” Seraya membungkukkan setengah tubuhnya di hadapan Bella.
“ Kau masih dalam pemulihan, kenapa bisa ada di sini?” Tanya Bella seraya membantu Oliver untuk duduk. Sedangkan di belakangnya ada Dion dan Nyonya Besar. Oliver pun kembali menyapa keduanya.
Oliver tertunduk lesu, dia sadar akan kesalahan yang dia perbuat, jika saja saat itu dia bisa bertahan dan melawan balik mungkin hal mengerikan tidak akan mereka alami.
“ Maafkan saya Nyonya. Saya ingin melihat keadaan Dean setelah di operasi.” Oliver meminta maaf karena tidak bisa menjaga Dean dengan baik.
“ Kau tidak perlu merasa bersalah, ini sudah terjadi tidak ada yang harus di salahkan, Aku hanya berharap agar putraku segera siuman dan mengetahui efek dari pasca operasi yang telah di lakukan padanya.” Bella menatap Dion yang tengah berdiri di hadapan kaca pemisah, wajahnya begitu tenang, seakan dirinya tahu bahwa saudaranya baik-baik saja di dalam sana.
Di sisi lain.
Di sebuah bangsal VVIP Robin tengah terbaring, kondisinya sudah membaik, saat dia mencoba membuka matanya yang di lihatnya malah wajah Andre, yang tampan namun terkesan sangar.
“ Aish, kukira wanita cantik, ternyata kau.” umpatnya seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.
“ Kau ini, jika kau ingin wanita cantik cari di luaran sana!” Andre sedikit kesal. Dia bangkit dari duduknya berniat meninggalkan Robin sendirian.
“ Kau mau ke mana?” Robin mencoba memanggilnya.
“ Bukankah kau ingin wanita cantik? Aku akan membawanya sekarang untukmu, kau ingin seperti apa? Cepat katakan padaku.” ujar Andre.
Robin tersenyum tipis, lalu berkata. “ Aku menginginkan Gisel. Jika kau bisa membawanya aku akan sangat berterima kasih padamu.”
“ Hey. Kisah cintamu telah lama berakhir, mengapa kau masih saja menginginkannya?” Andre masih ingat betul bagaimana perpisahan mereka yang tragis.
“ Walau hubungan kami telah berakhir, akan tetapi aku masih saja mencintainya melebihi cintaku pada diriku sendiri. Walau orang tuaku sangat menentang hubungan kami, aku akan tetap mengejarnya sampai dia mau kembali padaku. Jadi bisakah kau membawanya ke hadapanku?” Robin bertanya dengan sedikit menggoda Andre.
Andre menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. “ Berhentilah berkhayal. Kau bahkan tidak tahu di mana dia?”
Robin mengembuskan napas panjangnya, dia kembali menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur, dia menatap langit-langit rumah sakit, tangannya yang terluka itu melambai seakan meminta Andre untuk pergi meninggalkannya. Andre hanya bisa pergi dengan pasrah, sesekali dia melirik Robin.
“ Aku pergi.” Teriaknya lagi. Robin hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh padanya.
Andre menuju Area bebas rokok, dia duduk di sana sendiri, kepalanya menengadah ke atas, melihat langit yang tampak mendung. Tiba-tiba pandangan Andre menjadi gelap, dia berusaha melepas sesuatu yang menutupi pandangannya. Saat terbuka yang di lihat adalah wajah cantik, Anita yang tengah tersenyum lebar. Andre tak bergeming hanya kedua matanya yang mengedip sesekali menikmati ke indahan yang ada di depannya.
Anita yang mendapati Andre terdiam itu menggerakkan tangannya di hadapannya. membuat Andre tersadar. “ Kau datang?” Senyuman hangat tampak di sudut bibirnya.
“ Emm, aku membawakanmu beberapa makanan. Kau pasti lapar dan lelah.” Seraya menyerahkan beberapa kotak makanan di depannya. Mereka berdua pun berpindah ketempat lain. Keduanya pergi ke bawah sebuah pohon besar dan rindang. Membuka kotak-kotak makanan yang di bawa oleh Anita. Mereka tampak bahagia saat makan bersama, canda tawa menghiasi wajah keduanya.
*
*
Bersambung