ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 192


“ Aku sudah terlalu sering melukainya, bahkan meninggalkan dirinya seperti seorang pecundang. Membiarkannya melewati masa sulitnya sendirian.” Robin duduk di sofa akan tetapi pandangannya masih tertuju keluar, dia memyesap kembali tehnya.


“ Cobalah untuk menemui Revan, bertanyalah padanya tentang Gisel, cari tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya di masa lalu.” Yohan mencoba memberi solusi pada Robin berharap agar dia bisa mendapat jawaban tentang permasalahannya.


Robin tertegun sejenak, dia memikirkan kembali saran yang di berikan oleh Yohan, akan tetapi mengingat kembali perkelahian semalam membuatnya ragu untuk menemui Revan, akan tetapi jika dia ingin tahu kenyataan sebenarnya di masa lalu, mau tidak mau dia harus menemuinya.


“ Pergilah jangan pedulikan wajahmu itu, toh Revan juga sama berantakannya sepertimu.”ungkap Yohan.


Robin menyeringai, dia bangkit dari duduknya meninggalkan Yohan yang masih berada di ruang tamu.


Di sebuah kafe tempat di mana Robin maupun Revan membuat janji, mereka berdua jadi pusat perhatian, bagaimana tidak? Wajah keduanya tak kalah berantakan satu sama lain. Wajah tampan mereka bahkan sudah tidak terbentuk lagi. Revan menutupi setengah wajahnya dengan telapak tangannya yang besar, sedangkan Robin menutupinya dengan topi hitam miliknya.


“ Apa yang kau inginkan? Jika kau hanya ingin memulai pertengkaran aku tidak ingin mendengarnya.” Nada suara Revan terkesan dingin.


“ Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi hari itu? Hari di mana aku tidak bisa memeluknya lagi!” Sorot mata Robin begitu dalam saat dia berbicara padanya.


“ Robin, tidak ada yang perlu kau perbaiki lagi. Sekarang biarkan adikku berbahagia, setelah melewati kejamnya dunia yang menyerangnya tanpa henti.” Robin kembali tertegun, dia sadar akan luka apa yang telah dia torehkan pada Gisel, tak bisa dipungkiri jika sebagian besar rasa sakit yang di alami Gisel berasal darinya. Robin bergeming, sorot matanya penuh dengan penyesalan.


Revan yang merasa tidak nyaman karena Robin mengajaknya bicara di tempat terbuka, sehingga dia berinisiatif untuk memesan ruangan VVIP untuk keduanya bicara empat mata. Sesudah berpindah ruangan akhirnya Revan menceritakan bagaimana adiknya menjalani hari-harinya setelah kehilangan Robin. Gisel mengalami depresi berat, dia bahkan kehilangan gelarnya sebagai Dokter dan beralih menjadi seorang desainer pakaian wanita.


“ Saat itu terjadi semua orang mengira bahwa Gisel kecanduan narkoba, dan juga menjadi wanita pemuas bagi kartel narkoba yang sedang disusupi olehnya, akan tetapi tragedi itu sudah terlanjur terjadi.” Revan menundukkan kepalanya lalu mulai bercerita lagi.


“ Sejak kecelakaan itu, adikku mengalami luka yang cukup serius dan harus melakukan operasi besar…” Revan menghentikan perkataannya, kedua matanya telah berkaca-kaca dia tak mampu melanjutkannya. Setelah terdiam sejenak dia melanjutkan kembali perkataannya.


“ Dua hari sebelum insiden itu terjadi Gisel datang padaku, aku masih ingat dengan jelas bagaimana raut wajahnya yang bahagia saat dia kembali dari rumah sakit, senyumnya begitu tenang dan hangat. Kau tahu dia datang padaku seraya membawa foto USG , di sana dia berkata dengan malu-malu bahwa dirinya hamil, dan itu adalah calon anakmu, usia kandungannya saat itu baru menginjak tiga bulan, masih sangat kecil dan rapuh. Akan tetapi kebahagiaan itu tidak bertahan lama, dia yang terluka parah harus kehilangan kemampuannya menjadi dokter dan juga janin yang sedang di kandungnya. Bisa dibayangkan bukan? Bagaimana hancurnya dia.” Revan mulai sedikit terisak akan tetapi dia mencoba untuk meneruskan ceritanya.


Sedangkan Robin hanya tertegun, dia tidak bisa berkata-kata hingga dia mendengar bahwa saat kecelakaan itu terjadi Gisel tengah mengandung benih darinya.


“ A-apa kau bilang? Gisel hamil?” Robin terperangah tak percaya.


“ Ya, dia hamil dan itu adalah anakmu. Dia sangat bahagia namun jiwanya hancur seketika. Tubuhnya tidak sama lagi, tangannya tidak bisa lagi memegang pisau bedah, dan dia juga harus merelakan rahimnya untuk di potong agar bisa menyelamatkan hidupnya.” Mata Robin membelalak tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Revan. Dia tidak mau menerima kenyataan pahit itu.


Revan terus bercerita tentang pahitnya kehidupan Gisel semasa berpisah dengan Robin. Kedua orangtua Robin bahkan mendatangi Gisel yang masih terbaring lemah memintanya agar Gisel mau meninggalkan Robin, karena mereka tahu bahwa wanita yang dicintai putranya tidak akan pernah bisa memiliki anak lagi, mengingat separuh rahimnya di angkat.


Suatu kejadian yang membuat Revan takut adalah saat Gisel depresi, dia meminta Psikiaternya untuk memberikannya obat tidur karena dia sulit untuk tidur, sang Psikiater pun memberikan resepnya pada Revan.


“ Aku dan ibuku bergantian memberikannya satu pil setiap malam, akan tetapi yang aku tidak tahu adalah Gisel tidak meminumnya akan tetapi dia memyimpannya di bawah tempat tidur. Dan suatu hari saat aku tengah bekerja aku lupa ada berkas yang tertinggal di rumah, aku kembali mengambilnya. Sebelum aku pergi aku melihat ke arah kamar Gisel, di sana dia tengah berbaring dengan mengenakan gaun putih yang sangat cantik, aku melihatnya sangat anggun, wajah di rias tipis. Namun aku merasa ada yang aneh, wajahnya pucat, bagian dadanya bernapas dengan susah payah. Aku langsung teringat kejadian beberapa waktu yang lalu yang hampir merenggut nyawanya juga. Di sana aku mencoba membangunkannya akan tetapi dia tidak bangun. Dengan panik aku membawanya menuju ke rumah sakit, di sana Gise dinyatakan keracunan obat tidur, dan apa kau tahu hal apa yang dia katakan saat dia baru saja siuman?” Robin menggelengkan kepalanya tidak tahu.


“ Hal yang dia katakan pertama kali adalah. ‘ Mengapa kau tidak membiarkan aku mati saja?’ Hati siapa yang tidak terluka mendengar adiknya hancur tak tersisa seperti itu? Dan setelah beberapa tahun ini kondisinya stabil, jadi aku mohon padamu jangan memyakitinya lagi. Aku tidak ingi dia kembali terpuruk lagi.” Robin masih tertegun mencoba mencerna semua perkataan Revan.


Setelah Revan mengatakan semuanya, dia pun pergi meninggalkan Robin yang masih berada di dalam ruangan, tak terasa buliran air matanya menetes perlahan, dia tidak tahu apa yang di rasakan oleh Gisel saat dia memilih pergi menuruti perkataan orangtuanya, dan bagaimana wanitanya melewati kehidupan sulit yang di jalaninya selama ini. Robin benar-benar seperti pecundang. Robin kembali ke apartemennya dia menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur, kembali dia merenungkan apa yang di katakan oleh Revan, hatinya terluka lebih dari luka fisik yang pernah di rasakan olehnya.


Kebahagiaan mulai berpihak kepada keluar Nelson Hongli, Bella begitu bahagia karena Dean siuman dan kondisinya pasca operasi sangat baik. Akan tetapi trauma Dion masih menghantui di setiap malam saat dia tidur. Dean yang tahu akan hal itu selalu membantu Adiknya untuk melupakan hal mengerikan yang beberapa waktu lalu mereka alami. Dean selalu menyemangati Dion untuk kuat dan tidak menyalahkan dirinya sendiri atas insiden yang dialaminya.


Satu minggu kemudian, Dean telah kembali ke Mansion di mana keluarga besarnya telah menyambut kedatangan mereka berdua, suasananya begitu meriah, sanak saudara juga berada di sana. Dean dan Dion hanya tersenyum tipis. Namun tidak berani berkata, dia hanya memendam keinginannya. Nelson tahu apa yabg dirasa dan dipikirkan oleh kedua putranya sehingga dengan cekatan dia membawa Dean maupun Dion untuk masuk ke dalam kamar.


Semenjak Dean siuman Dion tidak mau berada jauh darinya, bahkan sekarang mereka berdua ingin tidur satu kamar. Dean menatap Ayahnya dengan tatapan yang dalam.


“ Ayah minggu depan, bukankah aku akan melakukan beberapa tes dan memulai perawatan kemoterapi?” Dion mendengarkan percakapan keduanya dengan seksama.


Nelson tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, dia mencoba untuk tetap tegar. “ Tentu sayang, kau pasti kuat. Ibu, Ayah, dan juga Adikmu akan selalu menemanimu.” Nelson memeluk Dean, lalu dia meraih tubuh Dion dan memeluknya bersamaan.


“ Tidurlah, Ayah akan menemui para tamu dan menyapanya.” Nelson pun pergi meninggalkan keduanya.


Dean dan Dion saing memandang satu sama lain, kini tubuh keduanya sama-sama kurus tidak hanya Dean saja, akan tetapi Dion juga kehilangan cukup banyak berat badan sejak sakit.


“ Kakak, aku sangat bahagia saat kau kembali.” Dion memegang erat tangan Dean.


Tangan Dean membelai lembut rambut adiknya seraya berkata. “ Terima kasih karena kau mengkhawatirkanku, dan terima kasih karena sudah menjaga ibu, kau adikku yang sangat hebat. Apa yang terjadi padaku itu bukanlah kesalahanmu, itu semua terjadi karena keserakahan orang dewasa, yang melampiaskannya pada kita berdua. Ingatlah di saat kritis pun aku akan sangat mementingkan keselamatanmu, karena aku adalah kakakmu, saudara laki-laki yang akan melindungimu hingga akhir hayatku.” Dean terus memuji adiknya, membangun kembali kepercayaan dirinya yang sempat hancur. Berusaha mengembalikan sifat cerianya yang murah senyum seperti sedia kala.


Dion tidak banyak bicara, dia sesekali menganggukkan kepalanya, di raut wajahnya terlukis kebahagiaan, walau tidak bersuara akan tetapi Dean tahu dari sorot mata Dion yang berbinar.


Nelson turun dari anak tangga, pandangan semua orang tertuju padanya, dengan hormat dia menyapa para tetua keluarga Hongli. Kedua orangtuanya sudah lebih dulu bergabung.


“ Di mana kedua cucuku?” Tanya Sandra.


“ Mereka ada di kamar,” jawabnya. Sandra pikir kedua cucunya belum pulih sepenuhnya.


Setelah pesta berakhir tamu pun beranjak pulang satu persatu meninggalkan kediaman Nelson, hingga yang terakhir pulang adalah kakek Nelson yang pulang bersama kedua orangtuanya. Nelson dan Bella mengantarkan kepergian mereka hingga mobil yang di kendarai oleh mereka hilang di telan kegelapan malam.


Di ruang tamu terdapat banyak hadiah yang di bawa untuk kedua putranya. Seorang pelayan menghampiri keduanya dan bertanya. “ Tuan, semua hadiah ini apakah ingin di pindahkan?”


“ Biarkan saja di sini, besok pagi biar Dean dan Dion yang membukanya.” Nelson dan Bella berlalu menuju kamar mereka.


*


*


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰❤️🫶🌹🌹🌹🌹


Bersambung