
“ Bukankah tinggal tiga hari lagi? Kau akan bertemu dengan mereka,” ucap Andre.
“ Tuan kecil. Waktunya minum obat,” panggil Oliver.
” Ah. Sudah harus minum obat lagi,” ucapnya enggan.
Andre berkata. “ Minumlah kau harus sembuh. Agar kita bisa bermain bersama.” ucapnya.
Oliver menyerahkan beberapa pil obat untuk di minum oleh Dean. Dengan enggan Dean mengambil dan meminumnya.
Dean bertanya. “ Mr. Olaf. Apakah aku bisa bermain sebentar?”
Oliver terdiam sejenak. Namun, dia mengingat kalau Tuan kecilnya kembali riang dia pun mengizinkannya. “ Baiklah. Hanya sebentar, oke,” ucapnya.
Dean tersenyum, dia memgajak Andre untuk bermain game bersama.
Di ruang tamu terdengar gelak tawa milik Andre dan Dean. Oliver hanya memperhatikan mereka di belakang. Sedangkan Evan memperhatikan kedekatan mereka dari meja makan.
Tidak biasanya Tuan kecilnya mendapatkan orang satu frekuensi dengannya. Dia terlihat begitu bahagia walau hanya bermain game saja.
Oliver memandangi interaksi keduanya. Sungguh membuat hati nyaman kala melihatnya.
“ Ah. Sepertinya Tuan kecil sudah mendapatkan kesenangannya kembali, aku harap dia akan terus seperti ini,” batin Oliver.
“ Mr. Olaf. Tolong ambilkan aku segelas air. Aku ingin minum,” pinta Dean.
“ Baik, Tuan Kecil,” ucapnya. Seraya beranjak menuju dapur.
Di sana terdengar begitu ramai. Padahal hanya mereka berdua yang bermain.
Oliver bertanya. “ Apakah Tuan kecil ingin yang lain?Dan Tuan Andre apakah ada yang Anda inginkan?”
Andre berkata. “ Apakah masih ada bir? Jika ada tolong berikan padaku,” ucapnya.
Oliver mengambil sekaleng bir, dan segelas air untuk Dean. “ Ini Tuan Andre,” ucap Oliver seraya menyerahkan sekaleng bir padanya.
“ Terima kasih,” ucap Andre.
“ Tuan muda ini airnya,” ucapnya seraya menyerahkan segelas air pada Dean.
“ Terima kasih Mr. Olaf,” ucap Dean.
Mereka berhenti bermain game, Andre membuka birnya dan meminumnya, dan saat Dean meraih gelas minumnya. Tiba-tiba saja gelasnya lepas dari tangannya.
Tangan yang satunya memegangi kepalanya. Dia tersungkur ke bawah. Andre, Oliver, dan Evan segera menghampirinya.
“ Tuan kecil.”
“ Dean. Dean.”
“ Tuan kecil, Tuan kecil,” Oliver meraih tubuh Dean seraya mencoba untuk menyadarkannya dan memanggilnya berulang-ulang kali.
Semua orang panik dibuatnya. Dan saat Oliver ingin menghubungi ambulans. Tiba-tiba Dean terbangun seraya berjingkrak. “ Kalian tertipu,” Dean tertawa.
Andre dan lainnya tidak bereaksi, sesaat kemudian Andre berkata. “ Dasar anak nakal,” seraya pura-pura mencubit pinggang Dean.
“ Akh, hentikan. Hentikan,” rengek Dean.
Oliver dan Evan merasa lega. Mereka kira penyakitnya kambuh lebih parah. Mereka pun akhirnya ikut tertawa kala melihat Dean merengek di bawah tekanan Andre.
Setelah kejahilannya. Dean mendapatkan cubitan di pinggangnya. Dean merasa sangat kesal karena Andre berani mencubit pinggangnya.
“ Mengapa kau terus mencubit pinggangku?” seru Dean kesal.
“ Itu karena ulahmu sendiri, mengapa kau berbuat seperti itu?” ungkap Andre.
“ Aku hanya bergurau. Mengapa reaksimu berlebihan?” ucap Dean.
“ Bagaimana tidak berlebihan? Kami sangat mengkhawatirkanmu! Bagaimana jika penyakitmu kambuh? Dan kami tidak memedulikanmu,” ucap Andre.
“ Eh. Jangan berlebihan seperti itu. Aku bahkan baik-baik saja,” ungkap Dean.
“ Aku tidak ingin kau mempermainkan kami,” Andre menggelengkan kepalanya karena tak habis pikir dengan tingkah Dean barusan.
Evan dan Oliver memandangi Dean. Yang sedang di marahi oleh Andre.
Oliver berkata. “ Ini seperti seorang Ayah yang sedang memarahi anaknya.”
“ Ehm..” Evan menganggukkan kepalanya seraya berkata. “ Kau benar. Mereka berdua seperti Ayah dan Anak.”
Dean terdiam. Dengan menyesal dia minta maaf. “ Maafkan aku, karena aku sudah mempermainkan kalian,” ucapnya. Seraya membungkukkan kepala dan tubuhnya.
“ Dari rupa kau memang menyerupai dengan Nelson. Namun, kau sebenarnya berbeda. Ayahmu sama sekali tidak pernah minta maaf, walaupun dia salah sekalipun.” ungkap Andre.
“ Ya kau benar. Walaupun dia salah. Tidak sekalipun dia meminta maaf,” balas Evan.
Dean berkata membela Ayahnya. “ Ayahku bukannya tidak ingin minta maaf. Tetapi Ayahku tidak pandai mengutarakan sesuatu.”
“ Walaupun dia kelihatan dingin. Namun, sebenarnya Ayahku memiliki jiwa yang hangat. Dia bahkan peduli padaku saat Ayahku belum tahu siapa aku sebenarnya,” dengan bangganya Dean membicarakan Ayahnya.
Andre tercengang. “ Bagaimana bisa anak ini bisa bicara seperti itu?”
Andre mengusap puncak kepala Dean dengan lembut, seraya berkata. “ Jangan kau ulangi lagi,” ucapnya.
“ Aku tahu,” jawab Dean.
Ting… tong… ting… tong.. Bel di pintu berbunyi.
“ Oliver. Tolong kau bukakan pintunya,” pinta Evan.
“ Baik, Tuan,” ucap Oliver.
Cekrek.. pintu pun di buka.
Terlihat di luar pintu Ronald, Robin, dan Yohan telah berdiri.
“ Halo. Kita bertemu lagi,” ucap Robin.
Dalam batinnya Oliver berkata. “ Baru beberapa jam saja kita berpisah.”
Yohan bertanya. “ Apakah Andre berada di sini?”
Oliver menganggukkan kepalanya.
“ Apakah kau tidak membiarkan kami masuk?” tanya Robin lagi.
Oliver terdiam.
“ Permisi…” ucap Ronald. Seraya menerobos masuk.
Saat masuk mereka melihat Dean sedang di nasehati oleh Andre. Mereka tertawa terbahak-bahak.
“ Lihatlah dia. Dia seperti Ayahnya,” ungkap Ronald.
“ Tidak biasanya kau banyak bicara seperti itu?” ucap Yohan pada Andre.
“ Ayolah apa yang dia perbuat hingga kau seperti ini?” ungkap Robin.
Dean hanya menundukkan kepalanya setelah di ceramahi oleh Andre.
Ronald menghampiri Dean. Seraya berkata. “ Sebaiknya kau kembali ke kamarmu. Istirahatlah,”pintanya.
Evan berkata. “ Oliver bawalah Tuan kecil bersamamu,” ucapnya
“ Baik, Tuan,” ucapnya. Seraya menggendong Dean ke kamarnya.
Saat Oliver mengangkat Dean, dia merasakan sesuatu yang berbeda.
“ Tuan kecil, apakah kau demam?” tanya Oliver.
“ Mungkin perasaanmu saja,” ucap Dean, seraya membenamkan wajahnya pada dada Oliver.
Oliver menidurkan Dean di kamarnya. Sedangkan dia kembali memeriksa obat.
“ Tidurlah lebih dulu. Aku akan memeriksa obat-obatmu, sebentar lagi aku akan kembali,” ucapnya.
Oliver meninggalkan Dean yang setengah tertidur. Dia pergi ke ruang tamu mengeluarkan isi tasnya. Memeriksa apa saja yang sudah berkurang.
“ Apa yang kau lakukan?” tanya Yohan.
“ Ah. Ini obat-obatan milik Tuan kecil,” jawabnya.
Yohan melihat cukup banyak obat yang berada di dalam tasnya.
“ Berapa lama kau menjaga Dean?” tanyanya.
“ Belum lama ini, jawab Oliver.
“ Apakah kau akan ikut pulang bersamanya?” tanya Yohan lagi.
“ Tentu saja. Tuan kecil ingin aku ikut bersamanya,” jawab Oliver.
“ Aku lihat kau tulus menjaganya,” ucap Yohan.
Oliver hanya tersenyum.
Di kamar Dean mencari kotak hadiah untuk ibunya. Di tatapnya sendu, dia memasukkannya kembali ke dalam kotak.
Rasanya dia sangat mengantuk. Hingga dia tertidur memegang kotak hadiahnya.
Saat Oliver memasuki kamar Dean telah tertidur. Dengan perlahan Oliver memperbaiki posisi tidur Dean dan menaruh kotak hadiahnya di meja. Kemudian menyelimutinya perlahan.
Oliver pun tertidur. Sedangkan yang lainnya sedang mengobrol di ruang tamu.
Readers ku sayang. Terima kasih banyak untuk dukungan kalian, sehat dan bahagia sll. Maaf jika masih banyak kurangnya dan tidak sesuai apa yang kalian inginkan. 🙏❤️
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys🙏🥰🫶🌹
Bersambung