ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 70


Saat mereka harap-harap cemas, ponsel Nelson pun berdering yang terlihat di atas layar adalah nama Roy, dengan segera dia menjawab telponnya.


“ Tuan muda, sepertinya tuan kecil pingsan, aku sedang berkendara menuju rumah sakit terdekat. Apa yang harus aku lakukan? Suara di seberang telepon itu terdengar. Nelson menyadarinya dengan segera dia pindah tempat kala berbicara dengan Roy.


“ Baiklah, aku kesana sekarang.” Ucap Nelson seraya memgalihkan pandangannya pada orang-orang yang berada di ruang tamu.


“ Semuanya baik-baik saja, Dean tidak akan pulang, dia akan menginap bersama Anita, jadi kalian tidak perlu khawatir, sebaiknya kita makan malam lebih dulu.” Nelson dengan percaya diri mengatakannya, semua orang menuju meja makan begitu pun dengan Nelson. Dengan cepat Nelson menyelesaikan makan malamnya, Nelson beranjak menaiki anak tangga dengan cepat menuju kamarnya, setelah sepuluh menit Nelson kembali turun dengan bergegas dia menghampiri semua orang.


“ Aku akan pergi keluar untuk mengurus sedikit masalah, aku mungkin akan pulang larut malam, mungkin juga aku tidak akan pulang. Jadi jangan menungguku.” Nelson sedikit berbohong pada Bella, namun Dion dan orangtua Nelson menyadari jika terjadi sesuatu pada Dean. Nelson dengan lembut mengecup kening Bella dan Dion untuk berpamitan, saat Nelson memeluk orangtuanya, terdengar bisikan.


“ Jika keadaannya semakin memburuk, jangan segan untuk menghubungi kami nak.” Nelson yang mendengarnya, hanya menganggukkan kepalanya. Dia pun bergegas pergi menuju rumah sakit di mana Dean berada dan tidak lupa menghubungi Anita agar membantunya jika Bella menanyakan keberadaan Dean, Dean sedang bersamanya. Anita ingin bertanya namun dengan berat hati dia pun mengurungkannya, dan menerima permintaan Nelson untuk berbohong pada Bella.


Di ranjang rumah sakit, Dean masih terbaring tidak sadarkan diri, wajahnya terlihat pucat pasi tanpa darah memgalir, terlihat wajahnya memancarkan kesakitan. Dalam hati Roy berkata.


“ Sungguh malang tuan kecilnya, bahkan ketika dia sakit hanya tuan mudanya yang mengetahuinya,” Dean telah mendapatkan perawatan, untungnya Roy tidak terlambat membawa Dean ke rumah sakit jika tidak Dean tidak akan tertolong. Setidaknya Roy kini dapat bernapas dengan lega, karena tuan kecilnya sudah tidak berada dalam bahaya lagi, kini hanya tinggal menunggu Nelson datang. Karena belum mendaoatkan kamar, sehingga Dean pun masih di UGD. Nelson yang mendapat alamat rumah sakitnya, dengan cepat melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Setelah berkendara selama lima belas menit akhirnya Nelson sampai di depan rumah sakit, mobil Maserati Grandcabrio pun memasuki area rumah sakit.


Orang yang berada di sekitaran parkiran pun mengarahkan pandangannya pada mobil yang di kendarai Nelson, karena pada dasarnya mobil itu terbilang mahal, semua orang kagum kala melihat sosok Nelson keluar dari mobil. Dia segera bergegas menuju tempat Dean di rawat. Saat tiba di sana, Nelson melihat Dean yang terbaring lemah di ranjang.


“ Kenapa belum mendapatkan kamar? Tanya Nelson dengan nada sedikit keras pada Roy.


“ Mereka mengatakan jika ruang kamar kelas dua dan satu sangat penuh, jadi mereka membiarkan tuan kecil masih berada di sini.” Ucap Roy.


“ Lalu kau membiarkan putraku untuk menunggu di sini.” Suara Nelson meninggi terdengar jika sedang marah. Roy hanya bisa menundukkan kepalanya, dia merasa bersalah kenapa dia tidak mengambil inisiatif untuk meminta kamar VIP atau VVIP toh tuan muda Nelson mampu membayar tagihannya.


Nelson memerintahkan Roy untuk pergi ke bagian administrasi untuk meminta kamar VVIP untuk Dean, dan memberikan sebuah kartu hitam miliknya untuk membayar tagihannya. Sedangkan Nelson menghampiri Dean, melihat putra kecilnya itu terbaring di ranjang rumah sakit membuat hatinya terluka, bahkan pikiran-pikiran negatif pun terlintas dalam pikirannya, melihat Dean dia bertanya.


“ Kenapa dia tidak seberuntung saudaranya, Dean harus berjuang untuk hidupnya, namun ada kalanya dia lelah dan akan berhenti untuk berjuang, Nelson merasa jika gejala kanker otaknya makin parah, kini Dean sering tertangkap kala Nelson melihatnya kesakitan tanpa suara, karena penyakit yang di deritanya.” Gumam Nelson seraya menggenggam tangan mungil milik Dean. Seraya berkata.


“ Jika kau lelah, kau bisa berhenti sejenak dan kembali lagi. Tidak akan ada yang melarangmu nak, dan kau bisa kembali berjuang bersama-sama denganku. Aku ingin menghabiskan hariku bersamamu nak . Bukankah kau ingin melihat pesta pernikahan ibumu. Jadi bertahanlah sampai hari itu tiba. Aku mohon jangan menyerah.”


Setelah menunggu selama sepuluh menit akhirnya Dean di pindahkan ke kamar VVIP yang ada di rumah sakit tersebut. Saat Nelson ingin keluar untuk merokok, dia cukup kaget mendengar Dean berteriak cukup kencang, membuat Nelson terpaku kala melihat Dean yang langsung duduk di ranjangnya, Nelson dengan cepat menghampiri Dean.


“ Apa yang terjadi.” Tanya Nelson yang sedikit kaget dibuatnya.


“ Sepertinya aku bermimpi buruk.” Suara Dean sedikit bergetar.


“ Apakah ayah boleh tahu apa yang kau lihat di dalam mimpimu nak?” Tanya Nelson.


“ Aku bermimpi jika aku berjalan di tengah hutan belantara yang gelap. Aku bahkan mendengar ibu memanggil namaku.” Dean merasa jika dirinya akan cepat meninggalkan dunia ini.


Dean merasa sangat beruntung bertemu dan mendapatkan ayah seperti Nelson. Itu adalah suatu keajaiban baginya, sungguh Tuhan itu baik.


“ Sebaiknya malam ini kau di rawat di sini lebih dulu, ayah sudah memberitahu ibumu jika kau tidak akan pulang malam ini. Besok lusa kita akan berangkat ke luar negeri, sebaiknya kau ikut dengan ayah. Lagi pula ibumu sudah mengizinkanmu pergi,” ucapnya.


Di Mansion.


Bella khawatir dengan keadaan Dean, dianpun bergegas menghubungi Anita, untuk menanyakan keadaan dan keberadaan Dean.


Drrttt… drrtt.. drrrttt


Ponsel Anita bergetar. Dengan malas Anita melihat ponselnya. Tertulis di layar ponsel bahwa yang menghubunginya adalah Bella.


Anita yang sebelumnya tertidur terperanjat kaget. Setelah Nelson menghubunginya, dia tidak berpikir Bella akan menghubunginya larut malam seperti ini.


“ Halo.,, Anita apakah aku mengganggumu?” Tanya Bella.


“ Tentu saja, kau pikir ini jam berapa? Kau bahkan mengganggu tidurku,” Anita sedikit mengumpat.


“ Maafkan aku Anita, aku hanya khawatir saja, apakah Dean bersamamu?” bella bertanya.


“ Akh… soal itu, apakah Nelson tidak memberitahumu? Anita bertanya kembali pada Bella.


“ Nelson memberitahuku, hanya saja aku sedikit khawatir.” suara Bella berubah jadi sedikit pelan.


“ Tenanglah, Dean bersamaku, apakah aku tidak boleh membawa salah satu dari merek? Anita berlagak marah, karena dia tidak ingin Bella curiga.


“ Eh. Aku tidak bermaksud seperti itu, hanya belakangan ini Nelson dan Dean bertingkah aneh saja,” ucap Bella.


“ Aiish.. kau terlalu banyak berpikir. Karena kau sudah tahu jika Dean bersamaku, jadi kita akhiri percakapan ini. Sudah terlalu larut, aku membutuhkan waktubtidur yang cukup,” Anita pun mengakhiri panggilannya.


Dalam hatinya dia berkata. “ Akhirnya selesai, sungguh kesannya seperti penjahat bukan?


“ Benar-benar Nelson membuatnya seperti orang jahat. Padahal aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi?” Anita mencoba tidur kembali.


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys.🙏🥰🫶🌹


Bersambung