
Beberapa saat kemudian, Dokter mendatangi ruangan Nelson, Sandra yang menunggu di ruang tunggu pasien pun tampak bahagia mendengar kabar baik dari Dokter bahwa Nelson telah siuman, dan semuanya juga tampak baik-baik saja untuknya. Sandra memeluk suaminya Leo Hongli, tampak air mata menetes di pelupuk matanya.
Nelson telah di pindahkan ke bangsal VVIP di mana Dion di rawat, Bella yang berada di Mansion mengambil keperluan Dion tak kala bahagianya saat mengetahui kabar baiknya. Setelah menyiapkan keperluan Dion untuk di rumah sakit, dia juga menyiapkan beberapa kebutuhan untuk Nelson suaminya yang baru saja siuman. Setelah semuanya beres, Bella pun bergegas kembali ke rumah sakit.
Nelson yang baru siuman itu memandang kedua orang tuanya dengan lemah, di dalam kamar ada seorang anak yang tengah tertidur, dia pikir itu Dean. Namun saat dia melirik ke arah papan nama di tempat tidur itu adalah Dion bukanlah Dean.
Nelson menghirup napasnya yang berat, dia melirik ke arah di mana ranjang Dion berada, dia memejamkan kedua matanya, lagi pula dirinya masih mengantuk dia ingin kembali tidur.
“ Ibu, Ayah aku masih mengantuk, aku ingin kembali tidur.” Nelson pun memejamkan kembali kedua matanya. Sandra dan Leo pun mengiyakan dengan begitu haru.
Di dalam mimpinya Nelson kembali melihat Dean, dia berdiri dengan begitu anggunnya di sana, tak ada pembicaraan di sana, yang Nelson lihat adalah Dean tengah tersenyum lebar di hadapannya. Akan tetapi setiap kali dia mendekat tubuh Dean seakan menghilang bagaikan asap yang tertiup oleh angin. Napasnya terengah, keringat dingin memenuhi dahinya, tampak dirinya mengalami mimpi buruk.
Bella yang udah tiba di rumah sakit dan menjaga suaminya pun merasakan kejanggalan, dia menatap Nelson sedang gelisah, dirinya mencoba untuk membangunkannya dari alam bawah sadarnya, akan tetapi semakin dia mencoba Nelson tak kunjung bangun.
Seketika Nelson membuka matanya, seraya berteriak. “ Dean!” tatapannya begitu kosong, raut wajahnya tersirat ketakutan yang begitu besar. Di saat dia terbangun dia menatap wajah istrinya yang sudah berderai air mata, wajahnya yang cantik tampak begitu kuyu.
“ Aku pikir kau tidak akan kembali, aku begitu takut akan hal itu.” Bella memeluk Nelson tanpa hati-hati hingga mengenai luka yang belum kering.
Nelson mengernyit, dia memekik hingga Bella melepaskan pelukannya. “ Ah, maafkan aku. Aku lupa tentang lukamu.” Ujar Bella meminta maaf pada suaminya.
Nelson hanya tersenyum kala melihat tingkah gemas istrinya itu, akan tetapi pikirannya masih tertuju pada mimpinya. Dia takut sesuatu yang buruk akan menimpa putra sulungnya.
“ Bagaimana keadaan Dean? Apakah sudah siuman?” Nelson bertanya dengan cemas.
Bella menundukkan wajahnya, dia menggelengkan kepanya seraya tersenyum pahit. “ Dean masih belum siuman, akan tetapi kita harus yakin suatu saat nanti dia akan segera siuman, dan sehat seperti sedia kala.”
Melihat istrinya tersenyum pahit membuatnya sedikit tidak berdaya. Dengan lembut dia mengusap air mata yang jatuh di wajah istrinya. “ Dean adalah anak yang hebat, dia pasti bisa melewati ini semua. Kita harus mempercayainya.” Nelson memeluk Bella dengan begitu hangat. Bella yang mendapatkan perlakuan hangat dari suaminya itu pun tak kuasa menahan tangisnya. Dia terisak di dalam pelukan Nelson.
Di sisi lain.
Dari Shanghai hingga Shenyang, Yohan, Evan dan juga Robin tengah memburu Bos Zhang yang mempekerjakan Abe untuk menculik anak-anak Nelson. Mereka mendapatkan kabar jika Bos Zhang terlihat di Shenyang saat melakukan transaksi.
Ketiganya berkumpul. Evan, Yohan, dan Robin berpakaian serba hitam, mereka memutuskan untuk berpencar agar segera menemukan target, walau Robin menduga dalang dari semua insiden ini adalah Ibu tiri Bella sendiri. Akan tetapi mereka tidak bisa asal menangkap tanpa adanya bukti yang kuat. Maka dari itu mereka berusaha untuk membawa bos Zhang bersamanya ke hadapan Nelson.
Saat berpencar mereka di lengkapi dengan earphone HT FBI, dan juga senjata api jika di perlukan. Di suatu tempat di mana kawasan kumuh berada, Robin tengah menanyai seorang anak, saat dia berbalik dia menemukan Zhang sedang berjalan menuju kediamannya. Zhang yang sedang berjalan itu menyadari jika dirinya tengah di ikuti.
Dia berhenti sejenak namun sedetik kemudian dia berlari berusaha melarikam diri dari kejaran Robin. Robin memegangi earphone yang di telinganya. “ Aku sudah menemukannya, dia ada di kawasan kumuh. Aku sedang mengejarnya sekarang. “ Laporan dari Robin itu pun langsung sampai pada rejan Robin, yaitu Evan dan juga Yohan.
Yohan dan Evan yang berada di arah berlawanan itu segera berlari menuju Robin yang tengah mengejar Zhang, dan terjadilah insiden kejar-kejaran antara mereka bertiga dengan Zhang.
Zhang berlari dia menabrak apa pun yang ada didepannya, Robin yang berada di belakangnya pun sedikit kesusahan karena Zhang terus berlari di kerumunan banyak orang. Robin tersengal-sengal karena mengejarnya. Zhang yang mendapat jalan buntu pun harus memutar otaknya.
“ Kau bahkan sudah tidak bisa melarikan diri lagi, sebaiknya kau menyerah saja.” ujar Robin pada Zhang yang tengah berdiri di depannya.
Zhang melirik sekelilingnya, dia menggigit bibir bawahnya berusaha mencari jalan keluarnya.
“ Dia sedang terpojok, cepat kemari.” Robin berbicara pada yang lainnya dengan memggunakan HT FBI yang terpasang di telinganya.
Zhang menguatkan tekatnya, dia menaiki tangga dan masuk ke dalam salah satu rumah warga, dengan cepat dia kembali melarikan diri. Robin dengan senang hati mengejar di belakangnya. Sepasang orang tua yang tengah berbincang di ruang tamu itu tercengang kala mendapati rumah mereka di terobos orang asing hingga menghancurkan kaca jendela rumahnya.
“ Ya, berhenti!” Robin berteriak pada Zhang.
“ Ah sial!” Zhang menghentikan langkahnya, dia yang kini tengah berada di atap itu menatap ke bawah, tampak cukup tinggi dan cukup menyeramkan jika dia sampai jatuh.
“ Ya, ya jangan sampai kau lompat dari sana.” Robin setengah berteriak.
Zhang melirik ke arah Robin, tampak seorang pria datang menghampiri, seketika Zhang pun melompat mengitari atap-atap rumah. Robin pun dengan susah payah ikut mengejar melewati atap rumah. Drama kejar-kejaran pun kembali berlangsung.
Mereka lompat dan berguling dari satu atap ke atap yang lainnya, hingga akhirnya Robin berhasil menarik baju yang tengah di kenakan oleh Zhang. Zhang yang tertangkap itu berguling, dengan sigap segera bangkit. Pertarungan jarak dekat pun tidak bisa di hindari.
Zhang melayangkan tinjunya pada wajah Robin, akan tetapi dia mampu mengelak, dengan sekali pukulan Robin meninju perutnya. Zhang mundur beberapa langka, dahinya mengernyit dia cukup merasa kesakitan akibat di pukul oleh Robin. Zhang mengatur napasnya dan kembali menyerang Robin. Baku hantam pun tak terelakkan lagi.
“ Robin bagaimana situasinya?” Yohan mencoba menghubunginya. Terdengar suara di seberang HT.
“ Situasinya cukup rumit, dia pantang menyerah.” Suaranya terengah tampak jelas jika Robin tengah kewalahan menangani Zhang.
Yohan kembali menatap pada bangunan di mana Robin tengah bergelut dengan Zhang.
“ Sepertinya aku harus bergegas datang ke sana.”
Yohan kembali mengitari atap-atap rumah, dia berguling dan melompat dengan kedua kakinya, berpindah dengan begitu cepat. Kini tampak Robin tengah di kunci dan di pukuli habis-habisan oleh Zhang. Wajahnya yang tampan itu cukup berantakan, memar di mana-mana, sudut bibirnya sudah mengeluarkan darah.
“ Yang harus kau tangkap itu bukanlah aku!” Zhang berteriak lalu kembali meninju wajah Robin.
Robin menggigit bibir bawahnya, tatapannya begitu tajam, dia mengumpulkan tenaganya, kedua tangannya mencengkeram bahu Zhang dengan sekejap mata Robin membalikkan tubuhnya. Kini yang berada di bawahnya adalah Zhang, dia menyeringai jahat dengan membabi buta memukuli Zhang hingga tak berdaya.
“ Kau bahkan tidak merasa bersalah.” Robin kembali memukuli Zhang tanpa henti. Wajah Zhang sudah tidak berupa, darah mengalir di mana-mana, mata kirinya lebam, napasnya terengah-engah. Tatapannya masih memancarkan kebengisan dirinya.
Yohan yang baru saja sampai itu segera memisahkan Robin.“ Hentikan! Kau bisa membunuhnya.” teriaknya.
Robin menghentikan pukulannya, dia bangkit wajahnya begitu kesal, dia berjalan dengan gontai menatap langit seraya menggigit bibir bawahnya lalu berteriak. “ Aaarrrrggg.” Emosinya meluap begitu saja.
Di saat yang sama Evan yang baru saja naik pun sedikit kaget, dia melirik pada Robin yang tengah terduduk sembari menyandarkan tubuhnya pada sebuah dinding di belakangnya. Wajah tampannya bahkan sudah tidak terlihat lagi. Robin meraih macis di sakunya, terselip sebatang rolok di antara bibirnya yang tipis, berusaha sekuat tenaga untuk menyalakannya, akan tetapi dia sudah tidak punya tenaga lagi. Evan berjalan menghampirinya dengan cekatan dia menyalakan rokok Robin dengan macis miliknya.
“ Kau sudah bekerja keras.” Robin menengadahkan wajahnya, tampak Evan tengah berdiri di hadapannya, dia hanya tersenyum simpul.
“ Istirahatlah sebentar sebelum kita turun dan membawanya pergi.” Evan menepuk bahu Robin lalu menghampiri Yohan yang tengah mengurusi Zhang.
“ Bagaimana? Apa kau membawa orang?” Yohan melirik pada Evan.
“ Tentu saja, mereka ada di bawah.” Ujarnya.
Yohan menganggukkan kepalanya tanda puas, dengan apa yang telah di dengarnya.
“ Apa kau sudah mendapatkan pengakuannya?” Evan balik bertanya.
“ Ehm, aku sudah menyuruh orang untuk mencari dan menangkapnya.” Yohan memasangkan borgol di tangan Zhang.
Setelah bala bantuan datang mereka membawanya turun untuk di bawa ke Jincheng. Evan dan Yohan membopong Robin yang kelelahan.
Di pinggiran kota, Mira Yu tengah berkemas, dia juga telah menarik uang di Bank untuk biaya hidupnya selama menjalani pelarian. Mira menyamar dan tinggal di sebuah motel di daerah provinsi yang cukup terpencil, menunggu Bos Zhang untuk pergi bersama, akan tetapi sampai saat ini dia belum juga kelihatan batang hidungnya.
Mira mondar-mandir di dalam kamar, perasaannya begitu gelisah sangat tidak tenang sama sekali. Dia mencoba menghubungi Zhang. Namun tidak ada jawaban, dia terus mencobanya hingga akhirnya tersambung. Terdengar suara dari seberang telepon.
“ Tunggulah aku akan segera datang padamu, jangan bertindak gegabah.” Suaranya sedikit bergetar. Karena di dalam sebuah ruangan Bos Zhang tengah di todong pisau di lehernya. Evan juga memberi isyarat agar dirinya terus bicara.
“ Cepatlah, bukankah kita harus segera kabur?” Mira bertanya dengan gelisah.
“ Tunggulah, aku akan segera datang.” Panggilan pun berakhir di situ. Evan menutup teleponnya, lalu berkata. “ Apakah kau mendapatkan lokasinya?” Seseorang yang berada di luar ruangan itu mengisyaratkan tangannya “Ok” dan menunjukkannya pada Evan yang tengah berada di dalam.
Mira menutup ponselnya, perasaannya masih tetap gelisah, akan tetapi dia mencoba untuk bersikap tenang. Dia menghirup napas panjangnya, lalu menghembuskannya hingga berapa kali.
*
*
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰❤️🫶🌹🌹🌹🌹
Bersambung