
Setelah siomay mendarat dengan mulus di perutnya, Rei menambah sarapannya hari ini dengan segelas kopi espresso kesukaannya dan sebatang rokok yang selalu saja dia letakkan di dalam saku bajunya.
Kopi espresso dan sebatang rokok habis dia nikmati dan ini saatnya Rei bergegas menuju kediaman rumah orang tuanya untuk menyusul Tora dan mengantarkannya ke pasar.
"Sopiah, saya berangkat dulu ya!" Pamit Rei kepada Sopiah asisten rumah tangganya yang sedang sibuk menjemur beberapa karpet yang nampaknya sudah lama sekali di simpan Rei di dalam gudang.
Tak membutuhkan waktu lama Rei sudah tiba di rumah kediaman kedua orang tuanya dan nampak Tora sudah menunggunya sejak tadi.
"Ayo kita berangkat!" Ajak Rei yang tak menyempatkan diri untuk mampir terlebih dahulu ke dalam rumah orang tuanya itu.
Tora yang melihat Rei terburu-buru segera bergegas masuk ke dalam mobil Rei dan mengantar terlebih dahulu asistennya ke pasar sebelum akhirnya dia bergegas menuju cafenya.
Tepat jam 10 pagi Rei membuka cafenya dan tak lama kemudian para karyawan mulai berdatangan dan akhirnya cafe mulai ramai di kunjungi oleh para pelanggan Rei yang datang dari penjuru Jakarta.
"Cleo, siapkan makan siang untukku!" Perintah Rei kepada Cleo yang sejak tadi sibuk mengecek jumlah kopi yang baru saja datang.
Hari ini Rei merasa sangat kelaparan dan ingin sekali makan nasi Padang yang biasa dia pesan tak jauh dari cafenya ini. Rumah makan Padang ini terasa istimewa karena menyajikan menu nasi Padang dalam ukuran besar dan sangat mengenyangkan.
Rei sengaja memesan seporsi nasi dan rendang daging dengan sayur daun papaya dan nangka muda kesukaannya.
Tak lama kemudian Cleo datang membawakan pesanan Rei. Rei nampak senang pesanan nasi padangnya sudah datang dan diapun bergegas menuju meja kerjanya untuk makan siang.
Sebelum menyantap makan siangnya itu, Rei menyempatkan diri untuk menghubungi Zenira untuk menanyakan kabar istrinya itu via video call.
"Hai, sayang. Jangan lupa makan ya. Aku tak mau kamu sampai sakit!" Ujar Rei dari sambungan teleponnya via video call dengan Zenira yang nampaknya sudah bangun dan mulai berkativitas di rumahnya.
Setelah memastikan Zenira sudah baik-baik saja, Rei memulai makan siang istimewanya itu.
Kenyang dengan makan siangnya itu, Rei kemudian mengambil sebatang rokok dari saku kemejanya yang dia sematkan di jemarinya sebagai penutup makan siangnya.
Pak, ada tamu!" Ujar Cleo sambil membukakan pintu kantor Rei yang nyaman itu.
Rei bergegas berdiri menghampiri tamunya yang tak lain adalah Bram yang sudah di tunggu-tunggu sejak tadi.
"Hai apa kabar!" Sapa Rei mempersilahkan rekan bisnisnya itu untuk duduk dan mulai menyalakan rokok yang sedang di pegang oleh Bram.
"Hai, kabarku baik. Sepertinya aku harus mengurangi pembelian kali ini!" Ujar Bram dengan sedikit menyesal.
"Ah, tak apa. Namanya bisnis pasti naik dan turun, kamu tak usah khawatir!" Ujar Rei mencoba mengurangi rasa tak enak kepada Bram pelanggannya kali ini.
"Terima kasih kamu mau mengerti keadaanku saat ini, tapi putraku kemarin kena tipu. Seseorang membeli kopi dalam jumlah besar kepada anakku tapi dia tak membayarnya!" Ujar Bram dengan kesal.
"Wah, sungguhkah. Ini benar-benar kabar buruk!" Ujar Rei yang ikut kesal akan kabar yang menimpa Bram ini.
"Iya, benar-benar kabar buruk. Padahal kami sudah berencana membeli lebih banyak lagi kopi kepadamu!" Tutur Bram sambil menghisap batang rokok yang di pegangnya.
"Mungkin lain kali, tak apa aku bisa mengerti!" Ujar Rei membuat Bram merasa sangat senang.
Dret drett drettt
"Halo, apa?" Tanya Bram saat menjawab panggilan telepon yang ternyata dari putranya yang berbisnis kopi bersamanya.
"Sungguh, ah. Syukurlah kalau begitu. Hoki kita menang!" Ujar Bram tertawa lepas.
"Ada apa?" Tanya Rei mencoba mencari tau apa sebenarnya yang sedang Bram bicarakan dengan putranya itu.
"Ah, kamu benar-benar bawa hoki Rei!" Seru Bram sambil menepuk bahu Rei beberapa kali.
Rei yang tak mengerti apa yang di maksud pria paruh baya itu kemudian tertawa lepas dan sesekali membalas tepukan di bahu Bram dengan tepukan yang sama di bahunya.
"Aku kan baru bilang teman putraku tak membayar kopi yang dia bawa, eh baru saja temannya itu menghubungi putraku untuk membayar kekurangan pembayarannya, dia bercerita kalau kemarin ATM nya tertelan mesin sehingga baru hari ini bisa membayar kepada putraku!" Ujar Bram merasa lega.
Rei yang awalnya sangat kesal akhirnya ikut merasa senang, dia tak menyangka jika apa yang tadinya membuatnya sempat kecewa ternyata tak berlangsung lama.
"Baiklah, kalau begitu aku akan membeli kopimu dalam jumlah yang sama dengan minggu lalu aku beli!" Ujar Bram sambil mengeluarkan catatan total pembelian kopinya minggu lalu di cafe milik Rei ini.
Rei segera mengantarkan Bram menuju gudangnya dan menunjukkan beberapa stok kopi barunya dan berharap Bram mau mencicipinya dan kalau cocok Rei berjanji akan menyediakan varian kopi ini dalam waktu dekat dengan jumlah yang banyak.
"Wah, kamu ini tau sekali keinginan aku. Aku memang mencari supplier untuk kopi varian ini dan ternyata sekarang sudah tersedia di cafemu!" Ujar Bram merasa salut pada Rei.
"Aku selalu tau apa yang pelangganku mau, tenang saja!" Gurau Rei yang membuat Bram merasa sangat bahagia berbisnis dengan pemuda tampan ini.
"Baiklah ayo kita hitung berapa jumlah pembelianku kali ini!" Ujar Bram sambil berjalan beriringan menuju cafe Rei untuk melakukan transaksinya kali ini.
Rei kemudian meminta kasir menghitung total pembelian Bram dan tak lupa dia memberikan bonus kepada Bram berupa gula palm yang sempat dia coba dengan Zenira sebagai topping minuman kopinya dan terbukti cocok dengan selera kebanyakan pelanggannya.
"Wah kamu juga menjual gula palm ini?" Tanya Bram.
"Ya, kebetulan banyak yang cocok dengan rasanya, cobalah dulu kalau kamu cocok kapan-kapan belilah dalam jumlah yang kamu butuhkan!" Ujar Rei membungkuskan dua kilo gula palm yang sepertinya baru kali ini dilihat oleh Bram.
"Baiklah, aku terima tapi aku coba dulu ya, aku belum pernah tau dengan gula ini!" Ujar Bram berpamitan kepada Rei dan bergegas masuk ke dalam mobilnya lagi.
Rei yang lelah kemudian memilih untuk beristirahat di kantornya, baru saja kabar buruk menimpanya tak lama kabar baik menghampirinya, dia memang sadar hidupnya memang beruntung seperti apa yang dikatakan oleh Bram tadi.
Happy Reading ππ₯°
TBC ππ
Don't forget for like, vote, comment and subscribe ππ Thank You β€οΈπ€