
Zenira kini paham alasan suaminya itu tidak mau bertemu Albert, mereka menceritakan perangkap Albert ini pada Ramon. Rei segera mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas nakas, dan mengirimkan pesan singkat WA.
\[Papi Tyra dalam bahaya, sekarang ia ada di rumah Albert\] Rei.
\[Bagaimana bisa, Rei. Tyra ada di rumah Albert tanpa seijin Papi\] Ramon.
\[Albert sudah menghasut Tyra untuk pergi meninggalkan rumah\] Rei.
\[Baiklah, Rei. Papi akan laporkan Albert ke polisi. Lihat saja kalau sampai Tyra kenapa-kenapa, ia akan mendapatkan hukuman yang lebih berat\] Ramon.
Laporan Ramon langsung di tindak oleh pihak polisi yang bergegas menuju rumah Albert.
Tiba di rumah Albert, polisi langsung mengeledah rumah itu dan menyelamatkan Tyra dari cengkraman Albert.
Saat di bawa,Tyra masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Bagaimana keadaan anak saya, Pak?" tanya Ramon saat tiba di kantor polisi.
"Seperti yang sudah kita duga,Tyra dalam keadaan tidak sadarkan diri tapi ia tidak mengalami penyiksaan." ucap pak polisi yang menangani kasus Tyra ini.
Ramon sangat bersyukur Tyra masih dalam keadaan selamat sampai hari ini, sedang Albert yang di ciduk ternyata memiliki pasukan pengawal yang bergegas membebaskannya dengan jaminan.
Kebebasan Albert yang cepat, sampai juga di telinga Ramon. ia segera memberitahu kabar ini pada Rei.
"Rei! kamu harus hati-hati. Papi dengar Albert sudah di bebaskan dengan jaminan. Jaga keluargamu, karena bisa saja Albert akan beraksi sangat besar dari sekarang." ucap Ramon prihatin.
"Terima kasih, Papi. Kami akan berhati-hati!" jawab Rei saat Ramon memberi kabar atas bebasnya Albert.
"Ada apa?" tanya Zenira yang duduk di sebelah Rei.
"Albert sudah bebas lagi, ia benar-benar licik." jawab Rei kesal.
"Sudahlah, tidak perlu terlalu di ambil pusing dengan bebasnya Albert. karena memang saat kita melaporkan Albert ke polisi, kita sebenarnya tidak memiliki bukti yang kuat atas semua tuduhan yang sudah kita layangkan." ucap Zenira membesarkan hati Rei.
"Benar, kita tidak perlu mengkhawatirkan Albert. Yang terpenting sekarang Tyra sudah pulang!" ucap Rei lagi pada Zenira.
Hari sudah mulai malam saat Rei beranjak menuju pintu garasi rumahnya untuk memasukkan mobilnya.
Pada saat ingin menghidupkan mesin mobilnya tiba-tiba seseorang terlihat masuk ke dalam rumahnya tanpa permisi.
"Hei, siapa kamu?" teriak Rei bergegas berlari menghampiri sosok itu.
"Hai, Rei. Kamu lupa padaku?" tanya wanita berambut coklat panjang yang ternyata salah satu mantan Rei selain Emilie.
"A-apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Rei balik pada wanita yang bernama Cindy itu.
Cindy dan Rei memang punya masa lalu yang indah, mereka pernah hidup bersama beberapa tahun sebelum Rei akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Emilie.
Setelah putus cinta dengan Rei, banyak kabar yang beredar jika Cindy menikah dengan seorang pria berkewarganegaraan Amerika dan menetap di sana.
"Aku dengar kamu sudah menikah?" tanya Cindy sambil melangkahkan kakinya menuju ke ruang tamu.
"Ja-jangan kamu di sini saja." cegah Rei sambil menghalangi langkah kaki Cindy yang jenjang.
"Kenapa, kamu takut istrimu tahu aku siapa?" tanya Cindy mengedipkan matanya genit.
Rei terlihat salah tingkah, memang di dalam hatinya yang paling dalam ia masih saja menyimpan cinta untuk Cindy.
"Rei!" panggil Zenira saat mendengar pembicaraan Rei di ruang tamu.
"Cepat pergi!" bisik Rei menarik tangan Cindy keluar dari ruang tamunya.
Cindy tidak bergeming, ia sangat penasaran seperti apa wajah istri Rei. yang bisa membuat hati pria tampan dan kaya raya ini begitu takluk dan tidak berkutik.
"Biarkan aku di sini." ucap Cindy membulatkan matanya lebar.
"Siapa ya?" sapa Zenira sambil menghampiri Cindy.
"AAH, kamu ini!" pekik Rei kesal.
Cindy kemudian memperkenalkan diri pada Zenira, tidak lupa ia juga memberitahu Zenira jika, ia adalah mantan pacar suaminya.
Mendengar perkataan Cindy yang seperti mengejek, Zenira tersenyum simpul dan mengajak tamu tidak diundang itu masuk ke dalam rumahnya.
"Bi Emi!" panggil Zenira dengan lembut.
"Iya, kak Zenira." jawab Bi Emi berjalan cepat menghampiri Zenira.
"Bi Emi, bawakan minuman dan camilan, sekarang nggak pakai lama." perintah Zenira dengan ramah.
"Baik, kak Zenira." jawab Bi Emi mengangguk tanda mengerti. Ia pergi menuju dapur untuk mempersiapkan minuman dan camilan yang telah di pesan Zenira untuk tamunya.
"Rei, ngapain kamu berdiri saja di depan pintu?" tanya Zenira pada Rei yang masih berdiri mematung.
"Eh, iya Zen!" jawab Rei gugup segera ia melangkah menghampiri istrinya, dan menjatuhkan bokongnya duduk di samping Zenira.
Cindy yang melihat akan sikap Rei yang penurut pada Zenira, dibuatnya terheran-heran sambil tersenyum kagum pada Zenira.
"Boleh tahu, apa yang sekiranya kamu lakukan hingga pria seperti Rei, bisa setunduk ini padamu?" tanya Cindy mengejek.
"Aku memang tidak pernah melakukan apapun pada suamiku. Rei lah yang berubah tunduk padaku." jawab Zenira tersenyum santai menanggapi pertanyaan Cindy.
"Aku tidak yakin jika kamu tidak melakukan apapun, Rei itu hidung belang. Terlalu banyak wanita yang berhasil di kelabuinya dulu. Atau mungkin karena ilmunya sudah habis sampai ia mau tunduk padamu." bisik Cindy mencoba memberitahu pada istri Rei tentang masa lalunya.
Rei yang terlihat tidak senang dengan apa yang dikatakan Cindy, hanya bisa menatap tajam pada mantan kekasihnya itu. Semua apa yang dikatakan Cindy itu memang benar tapi tidak pantas jika Cindy harus memberitahu semuanya pada Zenira.
"Sudahlah, aku sudah tahu semuanya. Tidak perlu malu begitu!" ucap Zenira meminta Rei yang masih saja menatap tajam pada Cindy.
"Untung aku datang sekarang, saat istrimu menerima semua masa lalumu. Coba aku datang beberapa bulan yang lalu pasti kalian akan perang dingin." ucap Cindy meledek sambil meminum teh yang di sajikan oleh Bi Emi.
"Sudah, jangan kamu lanjutkan. Aku sudah muak dengan cerita masa laluku!" ucap Rei sambil menarik tangan Cindy dan memintanya pulang.
Cindy menolak perintah Rei, ia datang dari jauh dan bahkan tehnya saja belum habis. Masa ia harus buru-buru pulang, pikir Cindy.
"Kenapa kamu tidak menginap saja di sini, Cindy." ucap Zenira meminta membuat Rei sampai tidak berhenti berkedip.
"Zenira, apa maksudmu. Jangan!" cegah Rei pada rencana konyol Zenira ini.
"Cindy sudah menikah bukan? Jadi tidak ada salahnya jika, ia tinggal di rumah ini untuk beberapa hari." ucap Zenira mencoba melihat kesungguhan suaminya ini.
"Ah, tidak usah. Suamimu ini paling anti denganku. Aku pasti akan membuatnya tidak nyaman. Sudahlah, besok atau lusa aku akan kembali berbincang denganmu. Itupun jika kamu tidak keberatan, Nyonya." jawab Cindy menggoda yang mulai akrab dengan Zenira.