TAKDIR CINTA SANG PEWARIS

TAKDIR CINTA SANG PEWARIS
BAB 73 - Pelanggan Tetap


"Kalau boleh tau kemana putramu menjual kopi sebanyak itu?" Tanya Rei penasaran.


"Ada pembeli dari luar negeri yang siap untuk membeli kopi dalam jumlah berapapun. Tenang aku pasti bagi, kita susah bareng-bareng, senang juga bareng-bareng!" Ujar Bram lagi.


Rei kemudian melempar pandangannya ke luar jendela cafenya, dia kini mengerti arti sukses dalam hidup.


******


Siang menjelang Rei nampak tak enak jika tak menyajikan makan siang untuk Bram yang kini berbalik membuatnya sukses besar.


Dia meminta Zenira menyiapkan makanan khusus untuk Bram, awalnya Rei bingung akan menyajikan makanan apa kepada Bram tapi akhirnya dia ingat jika Bram sangat menyukai bakso dan mie ayam yang di jual tak jauh dari cafenya.


"Mau makan mie ayam atau bakso?" Tanya Rei kepada Bram.


Bram memilih mie ayam untuk makan siangnya.


"Belikan mie ayam itu saja!" Perintah Rei kepada Zenira.


Zenira menurut dan segera membelikan mie ayam seperti yang di perintahkan oleh Rei.


Tak lama kemudian Zenira kembali dengan mie ayam yang ternyata benar-benar membuat Bram sangat berterima kasih kepadanya.


"Kamu benar-benar teman pengertian, kamu tepat sekali memilih makan siang kita hari ini!" Ujar Bram sambil menerima mie ayam pemberian Rei ini dan memakannya dengan lahap.


"Aku harap kamu suka!" Ujar Rei memulai makan siangnya bersama Bram.


Bram cerita pemilik mie ayam ini pernah memberinya gratis saat dia sedang susah, dari situlah dia belajar bahwa semua yang nikmat itu tak harus mahal, asal ada ketulusan di dalamnya. Mie ayam yang murah sekalipun akan terasa nikmat.


Rei belajar dari Bram tentang arti bersyukur, memang dulu dia paling suka membanding-bandingkan hidupnya dengan orang lain dan jadi kecewa ketika apa yang dia inginkan tak bisa tercapai dengan baik.


"Ya itu kita dulu, lupa bersyukur dan banyak mengeluh. Mie seperti ini dulu mana mungkin mau kita memakannya!" Ujar Rei mengenang masa-masa suramnya bersama Bram.


Bram tertawa kecil, dia memang pernah salah dan tak mau mengulangi kesalahan itu lagi, tentu kini semua itu tinggal cerita untuk anak cucunya.


Setelah selesai makan siangnya yang sederhana itu, Bram bangkit berdiri dari duduknya untuk berpamitan kepada Rei karena dia harus kembali ke coffee shopnya.


"Baiklah, hati-hati di jalan, ya!" Ujar Rei saat Bram beranjak pergi.


"Wah, orang kaya itu ternyata tak harus makan makanan mahal, ya!" Ujar Zenira yang baru paham kenapa Bram sangat senang dengan pilihan menu yang dipilihkan Rei.


"Sama seperti aku kan, makanan itu nggak harus mahal yang penting makannya sama kamu!" Ujar Rei menggoda Zenira.


Zenira tertawa kecil kemudian membereskan bungkus mie ayam yang habis di santap oleh Bram tadi.


"Kamu sudah makan?" Tanya Rei kepada Zenira yang nampak masih belum mau makan siang sejak tadi.


"Nanti saja!" Ujar Zenira yang masih menunggu warung makan Bu Marni buka.


Rei tersenyum, dia tau betul Zenira suka sekali makanan di warung itu, tapi dia tak menyangka jika istrinya rela menunggu selama ini untuk dapat menikmati makanan kesukaannya yaitu usus dan ayam goreng.


Tak lama kemudian warung makan ini buka dan Zenira meminta seorang karyawan Rei memesankan makanan kesukaannya yaitu usus dan ayam goreng beserta babat.


Karyawan Rei bergegas pergi dan tak lama kemudian karyawan yang ditugaskan Rei tiba membawa pesanan Zenira.


Zenira segera menyantap makanan kesukaannya itu sampai lupa jika Rei ada di sampingnya.


Zenira tertawa geli melihat wajah suaminya itu.


"Kenapa kamu tadi tak memesan makan juga?" Tanya Zenira menyalahkan Rei.


"Aku sudah makan, kamu saja yang makan!" Jawab Rei.


"Ya, udah jangan kepingin!" Balas Zenira.


Rei yang tertawa terbahak melihat Zenira yang selalu menggodanya kemudian menggigit mesra tangan Zenira, tentu akhirnya Zenira berteriak dan semua karyawan di cafe tertawa karenanya.


"Kamu ini!" Ujar Zenira sambil memukul Rei pelan.


Hari ini cafe sepertinya tak ada penjualan, Rei hanya murung beberapa menit sebelum dia bergegas pulang meninggalkan cafenya. Tapi apa yang mereka bayangkan ternyata salah.


Beberapa menit sebelum dia pergi dari cafenya seorang pelanggan datang dan membeli kopi dengan jumlah yang lumayan.


Zenira nampak tersenyum saat Rei akhirnya membuat nota penjualan hari itu, dan setelah Rei selesai dia kembali ke kantornya tempat Zenira menunggu sejak tadi.


"Yey, selamat akhirnya ada penjualan!" Seru Zenira sambil bertepuk tangan.


Rei tertawa dan mulai membereskan alat kerjanya sebelum pulang.


"Kamu mau pulang sekarang?" Tanya Zenira yang masih berharap ada pembeli datang di cafenya.


"Iya, udah sore. Sudah ada penjualan juga!" Ujar Rei.


Zenira meminta Rei menunggunya sebentar lagi dan masih berharap ada pembeli yang datang sebelum mereka pulang.


"Sudah sore, sudah ayo pulang!" Ajak Rei yang sejak tadi sudah lelah menunggu.


Benar saja apa yang di perkirakan oleh Zenira, baru beberapa langkah mereka berjalan menuju pintu keluar, seorang pelanggan datang untuk membeli lagi kopi terbaik di cafe ini.


"Tuh kan!" Ujar Zenira membenarkan apa yang tadi dia katakan kepada Rei di kantornya.


Rei tersenyum senang dan melayani terlebih dahulu pembelinya ini sebelum pulang.


Zenira dengan setia menunggu Rei hingga selesai melayani pelanggannya ini dan setelah selesai akhirnya mereka beranjak pulang.


"Hari ini jualan laris!" Seru Zenira ketika masuk ke dalam mobil suaminya.


"Haah, hampir saja aku menyerah. Ternyata kamu benar!" Ujar Rei yang semakin sayang saja kepada Zenira.


"Makanya kamu harus sabar, jangan buru-buru pulang memangnya kamu mau kemana sih?" Goda Zenira kepada Rei.


Rei tertawa ringan, sejak dulu dia terkenal tak sabaran, apalagi kalau apa yang dia inginkan tak terkabul dengan cepat. Dia akan marah dan semakin marah jika di beritahu.


Mungkin itulah tugas Zenira dalam hidup Rei saat ini, mengingatkan Rei untuk lebih sabar dan tak cepat menyerah dalam hidupnya yang mulai semakin membaik dan membanggakan kedua orang tuanya.


Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜


TBC πŸ“™πŸ“˜


DON'T FORGET FOR LIKE, VOTE, COMMENT AND SUBSCRIBE 🌟🌟🌟 THANK YOU β€οΈπŸ–€