TAKDIR CINTA SANG PEWARIS

TAKDIR CINTA SANG PEWARIS
BAB 51 - Familiar


"Hei, jambret!" Teriak Cleo yang membuat Bram berlari mengejar pria itu.


Ternyata pria yang merampas tas Cleo adalah pria yang sama yang dilihat Bram tadi malam.


"Hei kamu yang semalam masuk cafe!" Teriak Bram yang membuat semua orang disekitarnya menatap Bram.


"Ada apa?" Tanya Koko yang kebetulan sedang lewat.


"Tangkap dia jambret!" Teriak Bram.


Koko ikut meneriaki pria itu dengan teriakan yang sama, akhirnya pria itu tertangkap dan di laporkan ke pihak polisi.


Bram kemudian ke cafe dan meminta Cleo untuk menghubungi Rei dan melaporkan semua kejadian malam itu.


"Apa ada yang berusaha masuk cafe!" Teriak Rei yang baru saja tiba.


"Benar, Pak!" Jawab Cleo dengan wajah yang masih sangat ketakutan.


"Tapi aku yakin pria itu adalah pria yang kemarin aku pergoki masuk cafemu malam hari!" Ucap Bram dengan sangat yakin.


"Berarti dia orang yang biasa berkeliaran di sekitar sini!" Rei mencoba menyimpulkan.


Bram merasa yakin akan apa yang dikatakan Rei.


"Selamat malam, Pak!" Sapa Pak Suryo teman polisi Rei.


"Malam, silahkan masuk!" Ucap Rei sambil mempersilahkan Pak Suryo masuk.


Pak Suryo menceritakan semua kejadian yang terjadi di cafe milik Rei dan menyakinkan Rei jika ini kejahatan murni.


"Ya sudah Pak Suryo urus saja. Saya serahkan kepada, pak Suryo." Ucap Rei yang nampak tak tau lagi harus berbuat apa.


"Baiklah!" Jawab pak Suryo kemudian pamit meninggalkan cafe milik Rei itu.


"Ya sudah saya juga pamit ya, Bram!" Ujar Rei menepuk bahu Bram dan bergegas melangkah meninggalkan cafenya.


Rei pun pergi meninggalkan Bram dan memilih pulang ke rumah. Rasanya tubuhnya sangat lelah dengan semua masalah yang hadir di hidupnya setiap saat.


Sesampai di rumah, Zenira nampak menyambut Rei dan menawarkan untuk memijat kaki suaminya yang pastinya sangat pegal setelah seharian bolak-balik ke cafe miliknya itu.


"Terima kasih, padahal kamu masih sakit tapi mau berniat baik kepadaku!" Ucap Rei sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Zenira mulai memijat kaki hingga punggung Rei tak lama setelahnya suami Zenira itu tertidur dengan pulas.


Zenira kemudian memilih turun ke dapur dan membuat cemilan, entah mengapa malam ini dia sangat lapar dan tak bisa lagi menahannya.


Saat sedang memasak di dapur, Sopiah menghampiri Zenira.


Asisten baru di rumah ini tiba-tiba meminta maaf kepada Zenira atas apa yang kemarin dia perbuat dan itu sangat membuat Zenira kebingungan.


"Jangan marah ya, nyonya. Sungguh saya tidak ada niat merusak rumah tangga Tuan dan Nyonya, saya hanya memberitahu Rika jika saya bekerja di rumah orang yang dia ceritakan!" Tutur Sopiah dengan ketakutan.


"Sudah jangan kamu bahas lagi. Aku mengerti kok!" Ucap Zenira mencoba menenangkan Sopiah yang terus saja merasa bersalah.


Mendengar perkataan Zenira itu, Sopiah menjadi lebih tenang dan kembali ke kamarnya dengan lega.


Zenira menjatuhkan bokongnya duduk di kursi dapur mengingat masa-masa dia menikah dengan Rei, semua masalah sudah pernah dia nikmati mulai masalah Tyra hingga masalah kegugurannya dulu.


Pelan dan pasti akhirnya dia dan Rei kini bisa menjadi pasangan yang saling mendukung dan saling menyayangi meskipun terkadang pertengkaran tak bisa dia elakkan.


"Sedang apa diam sendirian di sini?" Sapa Rei yang terbangun karena kelaparan.


Zenira tertawa saat melihat suaminya itu nampak pucat seperti kulkas.


"Kenapa kamu tertawa begitu!" Tegur Rei dengan kesal.


"Aku kaget, masa aku tak boleh tertawa. Kamu ini!" Ucap Zenira sambil melanjutkan acara ngemilnya.


"Aku lapar, sayang!" Keluh Rei sambil mengelus perutnya yang sedikit mulai gemuk.


"Mau aku buatkan apa?" Tanya Zenira bangkit berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kulkas.


"Mie kuah telur, telurnya dua!" Pinta Rei tetap berusaha membuka matanya yang mengantuk namun perutnya sangat lapar.


Tanpa banyak bicara Zenira bergegas berjalan menuju lemari penyimpanan bahan makanan kering dan merebus air untuk mulai memasak.


Tak ada lima menit akhirnya pesanan Rei itu selesai dan siap untuk di nikmati oleh Rei.


"Mmmm! Enak!" Puji Rei dengan setengah terpejam.


Rei yang lapar berat tidak mempedulikan apa yang di katakan oleh Zenira, dengan wajah yang serius dia nampak terus saja makan.


"Sudah kenyang?" Tanya Zenira kepada Rei yang masih saja terus mengelus perutnya.


"Tambahkan nasi!" Perintah Rei sambil menunjuk ke arah rice cooker yang terletak tak jauh dari Zenira duduk.


Zenira sangat kaget melihat nafsu makan suaminya ini, tapi dia maklum karena memang belakangan ini Rei sangat lelah bekerja dan baru saja sembuh dari sakitnya.


"Segini?" Tanya Zenira menunjukkan nasi yang di letakkan di piring makan Rei.


Rei mengangguk dan menyantap nasi beserta sisa telur yang masih ada di piringnya.


"Ah, kenyang!" Seru Rei.


"Ya sudah ayo kita tidur, ini sudah malam!" Pinta Zenira yang sudah sangat mengantuk.


Rei mengangguk dengan tangan kanannya merangkul Zenira dan berjalan menuju kamar.


Tak membutuhkan waktu lama mereka pun tidur dengan lelap.


\*\*\*\*\*



Keesokan harinya.



Rei bangun lebih pagi dari biasanya dia bergegas menuju kamar mandi dan selesainya Rei turun untuk sarapan paginya.


"Mana, Zenira?" Tanya Rei yang sejak tadi tak melihat sosok istrinya.


Sopiah berkata jika Zenira memilih jalan-jalan pagi di sekitar komplek perumahannya untuk menghilangkan penat yang di rasakannya beberapa hari ini.


"Ya sudah, biarkan saja. Buatkan aku sarapan sekarang!" Perintah Rei kepada Sopiah dengan dingin.


Rei masih kesal karena asistennya ini ternyata masih ada hubungan dengan wanita dari masa lalunya, tapi tentu ini bukan salah Sopiah.


"Cepat aku harus segera pergi bekerja!" Ujar Rei dengan ketus kepada Sopiah saat sarapan paginya belum siap tersaji di atas meja makan.


"Ada apa ini?" Tanya Zenira yang baru masuk ke ruang makan.


"Dia aku suruh buat sarapan saja lama!" Keluh Rei kepada Zenira.


"Sudah, biar aku saja yang membuatkan sarapan untuk suamiku. Kamu kembali saja mengerjakan tugasmu yang lain." Perintah Zenira kepada Sopiah yang segera beranjak pergi meninggalkan dapur.


Pagi ini Zenira membuatkan nasi goreng spesial untuk suaminya, dengan sigap dia menyajikan sepiring nasi goreng dan telur dadar lengkap dengan kerupuk untuk Rei.



Happy Reading😘



Tbc



Nih, author kasih 1 bab di pagi hari biar makin penasaran💃



Jangan lupa dukungannya guys❤️🖤



Like dan Komen sebanyak mungkin🫰



Yang mau sumbangkan kembang dan Votenya juga boleh Author ucapkan terima dengan ikhlas🌟🌹🤗



Jangan salah baca ya guys 'IZINKAN AKU MENCINTAIMU' sekarang sudah ganti judul dan sampul baju baru "TAKDIR CINTA SANG PEWARIS" biar reader semakin semangat membaca😊😍