TAKDIR CINTA SANG PEWARIS

TAKDIR CINTA SANG PEWARIS
BAB 24 - Senekat itu


Rei dan Zenira mulai menyantap bubur ayam yang sudah di siapkan Bi Emi, sesekali mereka saling bertatapan dengan penuh makna.


Kenyang dengan sarapan pagi di kamarnya, Rei lalu membereskan piring bekas makan bubur ayamnya dan beranjak menuju dapur. Setiba di dapur Bi Emi terlihat menerima sambungan telpon dari seseorang.


"Siapa?" tanya Rei sambil mengangkat dagunya.


"Telpon dari Tora, mas Rei. ada kabel mobil yang terpotong saat, ia mau mengantarkan nyonya ke rumah sakit." jawab Bi Emi menutup sambungan telponnya.


"Apa? jadi Tora menemukan potongan kabel di mobil Mami?" tanya Rei terkejut.


"Betul, mas Rei." jawab Bi Emi lagi menundukkan wajahnya.


"Aku curiga Albert yang melakukan ini. bisa saja ia menyuruh orang masuk ke dalam rumah, dan memotong kabel mobil yang akan digunakan, Mami." ucap Rei menduga pelakunya.


"Betul sekali, mas Rei! Kalau bukan perbuatan orang dalam, mana mungkin rumah sebesar itu bisa kemasukan orang tidak di kenal." ucap Bi Emi sepemikiran dengan Rei.


Memang rumah kediaman kedua orang tuanya sangat tertutup. Semua orang yang masuk harus melalui pemeriksaan dari satuan pengamanan yang berjaga 24 jam. Jangankan orang tidak di kenal, kucing masuk saja pasti segera ketahuan.


"Jika bukan orang yang dikenal yang melakukan semua itu, lalu siapa?" ucap Rei menautkan alisnya.


"Tenang, mas Rei. Petugas keamanan di sana sedang mengecek CCTV dekat mobil itu tadi malam di parkir. Setelah tahu mereka akan segera memberi informasi terbaru pada kita." ucap Bi Emi menenangkan majikannya.


"Baguslah, kalau sampai orang yang melakukannya adalah orang yang aku kenal lihat saja, aku akan usir orang itu. Berani sekali ia mencelakai Mamiku!" ucap Rei bersumpah kesal.


Tidak lama kemudian Bi Emi kembali menerima panggilan telpon dari Tora, pelayan itu kemudian memasang loudspeaker agar Rei juga mendengar berita penting itu.


"Bi Emi, pelakunya adalah Tyra." kata Tora dari balik sambungan telponnya.


"Siapa? Tyra!" ucap Rei kaget mengusap wajahnya dengan kasar.


Bi Emi menutup sambungan telpon itu dan memandang tajam wajah Rei yang masih kaget.


"Apa mungkin, non Tyra yang melakukannya semua ini?" tanya Bi Emi tidak percaya.


Rei menjatuhkan bokongnya duduk di kursi makan yang tidak jauh dari tempatnya berdiri tadi, ia masih tidak percaya adiknya sampai hati melakukan semua ini pada Maminya sendiri.


"Tyra benar-benar bikin aku kesal!" ucap Rei dengan tangan mengepal hingga kubu-kubu jarinya memutih.


"Ada apa ini?" tanya Zenira yang baru saja sampai di dapur.


"Tyra sudah gila! ia mencoba mencelakai, Mami!" teriak Rei dengan lantang.


Zenira meminta suaminya itu tenang, ia paham betul jika Rei sedang marah ia akan berkata di luar akalnya. Zenira kemudian menyajikan secangkir teh hangat untuk Rei agar pria tampan dan tinggi itu bisa lebih tenang.


"Baiklah, jika memang bukti sudah kuat kita harus meminta Tyra mempertanggung jawabkan, apa yang sudah ia perbuat." ucap Zenira memberikan saran, mencoba memegang kendali atas masalah ini.


"Percuma, lihat saja Tyra pasti mengelak." ucap Rei yang mulai tenang sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi.


"Ya aku tahu, mana ada maling ngaku maling. Yang ada maling itu malah ngaku korban." ucap Zenira sambil menyeruput teh hangat yang baru saja ia buat.


"Aku tidak percaya, Tyra sampai tega melakukan ini. Entah setan mana yang menghasutnya, hingga ia sampai menemukan ide ini untuk mencelakai Maminya." ucap Rei terus menggelengkan kepala tidak percaya.


"Sudah, ini sudah terjadi. Kita tidak bisa diam saja." ucap Zenira yang lelah melihat Rei terus mencari alasan adiknya itu memotong kabel mobil, Maminya.


"Terus kita harus bagaimana?" tanya Rei bingung dengan apa yang di rencanakan Zenira.


"Kita interogasi dia, Mami juga harus di beritahu atas semua kejadian ini." jawab Zenira mengusap bahu Rei pelan.


Setelah sepakat dengan apa yang mereka lakukan. Rei dan Zenira bergegas menuju rumah kediaman orang tuanya untuk mulai mengintrogasi Tyra.


Saat datang Tyra terlihat biasa saja.


"Tyra! apa saja yang kamu lakukan di rumah? sampai tidak tahu ada orang masuk tadi malam." tanya Rei tegas sambil menggenggam tangan Zenira masuk ke dalam rumah.


"Kalian ini ngomong apa sih, aku tidak mengerti." jawab Tyra pura-pura bingung.


"Semalam ada orang menyelinap masuk ke rumah, dan diam-diam memotong kabel mobil, Mami. Jika mobil itu tidak di cek oleh Tora pasti Mami sudah celaka." ucap Rei menjelaskan dengan tatapan tajam ke arah Tyra.


"Tadi malam aku tidak ada di rumah, aku sedang berada di luar rumah bersama teman-temanku." ucap Tyra mengelak tuduhan yang di layangkan kakaknya.


"Baiklah, kalau memang bukan kamu pelakunya. Aku akan membuka rekaman CCTV." ucap Rei kesal sambil berkacak pinggang.


Jelas Tyra sangat kaget, ia tidak menyangka di tempat ia memotong kabel itu ada CCTV yang di pasang oleh Papinya.


"Kamu masih mau mengelak?" tanya Rei dengan ketus.


Tyra terdiam, ia tidak tahu harus berkata apa.


"Kamu tahu ini bisa berbahaya Tyra! Apa maksudmu coba!" tanya Zenira dengan lembut.


Tyra hanya diam saja, ia terus mencoba mencari alasan untuk bisa lepas dari semua tuduhan yang datang padanya namun, ia tidak berhasil.


Merasa sangat terpojok, anak bungsu keluarga Ramon yang terkenal itu akhirnya menangis sejadinya.


"Tidak perlu menangis, kamu harus minta maaf pada Mami!" teriak Rei kesal melihat tingkah laku adiknya.


"Aku kesal karena sekarang kalian lebih percaya, Zenira ketimbang aku!" teriak Tyra sambil membanting gelas yang ada di depannya.


Zenira memandang adik iparnya itu, memang selama ini Tyra yang selalu mencari-cari masalah sehingga keluarganya enggan untuk percaya lagi padanya. Lalu mengapa sekarang ia yang di salahkan atas situasi yang terjadi padanya akhir-akhir ini, pikir Zenira.


"Sudah jangan salahkan Zenira. Ini semua salahmu!" teriak Rei membela Zenira.


Tyra kembali menjatuhkan bokongnya duduk, ia paham kali ini ia tidak akan lepas lagi dari amarah kakaknya yang sejak dulu pemarah itu.


"Ada apa ini?" tanya Adelia saat baru saja tiba di rumah.


Papi kemudian masuk ke dalam rumah dan di sambut Rei dan Tyra dengan suka cita.


"Kenapa, kalian berteriak-teriak bikin gaduh saja." ucap Adelia sambil membawa tas berisi barang-barang Ramon.


Zenira yang melihat Adelia kerepotan dengan barang bawaannya bergegas ia menghampiri untuk membantu.


"Ah, cuma menantuku yang mengerti aku. Lihat ia langsung menghampiri untuk membantuku." ucap Adelia menyindir saat Zenira mengambil beberapa tas yang masih ada di tangannya dengan lembut.


"Rei, kemari!" panggil Mami terlihat membiarkan Tyra membawa Ramon masuk ke kamar.


"Ada apa, Mami?" tanya Rei menjatuhkan bokongnya duduk di depan Adelia.


"Jangan teriak-teriak seperti tadi, kamu tahu bukan, kondisi Papimu sekarang." bisik Adelia mencoba mengingatkan pada Rei.


"Rei kesal dengan Tyra, Mi. yang selalu mengelak, jelas-jelas jika ia yang memotong kabel mobil itu." ucap Rei mengecilkan volume suaranya.


"Mami juga berpikir ada apa dengan Tyra hingga sering sekali membuat masalah di rumahnya sendiri." ucap Mami menggelengkan kepalanya.