TAKDIR CINTA SANG PEWARIS

TAKDIR CINTA SANG PEWARIS
BAB 31 - Benar Dia


Tora mengangguk, benar juga apa yang dikatakan oleh Rei. Memang beberapa hari yang lalu seorang teman Tora datang ke kamarnya untuk sekedar ngobrol dan merokok dengannya. Tapi saat kejadian temannya itu memang di beritahu oleh Tora jika dia memiliki tabungan untuk keluarganya di kampung.


Pelayan Ramon itu memang sangat polos sehingga menceritakan letak detail dari tabungannya itu.


"Oh, bisa saja temanmu itu yang mencuri tabunganmu, Tora!" ucap Pak Ridho, petugas keamanan di rumah Ramon.


"Ah, kalau begitu ayo kita laporkan saja ke polisi!" Saran Rei pada Tora yang terlihat masih sangat kebingungan.


Tak mau menunggu terlalu lama, Rei bergegas menghubungi Pak Suryo. polisi yang di kenalnya untuk mencoba mencari pelaku pencurian uang tabungan Tora.


Setengah jam kemudian Pak Suryo tiba di rumah Ramon dan bergegas melakukan pemeriksaan atas semua bukti yang dia temukan.


Dari bukti yang dikumpulkan mereka menemukan bahwa pelakunya sepertinya sudah tahu semua letak barang yang ada di kamar Tora.


Pemuda malang itu di minta memberi penjelasan tentang ciri-ciri temannya yang mungkin dapat membantu Pak Suryo mengusut pelaku pencurian ini.


"Hidungnya pesek, rambutnya ikal dan kebetulan dia tinggal tidak jauh dari rumah, Pak Ramon." ucap Tora memberi keterangan.


Pak Suryo kemudian bergegas pergi menuju rumah teman Tora yang diperkirakan pelaku dari pencurian ini.


Benar saja saat Pak Suryo menuju rumah teman Tora itu, terduga pencurian sudah tidak ada di tempat.


Sepertinya dia sudah cukup ahli dalam pencurian sehingga bergegas pergi untuk menghilangkan jejak.


Tora tampak sedih karena uang yang selama ini dia kumpulkan itu akhirnya raib dan tak berbekas.


"Sudah jangan sedih, biar uangnya aku ganti saja." ucap Rei menghibur Tora.


Tora menceritakan sebenarnya uang yang hilang jumlahnya tak seberapa di bandingkan dengan kecewanya Tora kepada temannya itu, temannya memang mantan narapidana yang baru dia kenal.


Selama ini temannya itu terlihat baik-baik saja dan tak pernah sekalipun Tora curiga, tapi nyatanya temannya malah melakukan kejahatan yang katanya sudah lama dia tinggalkan.


"Siapa nama temanmu itu, Tora?" Tanya Rei penasaran.


"Tatang, mas Rei!


"Tatang? Mana sketsa wajahnya?" Tanya Rei seperti mengingat nama yang dia kenal.


Pak Suryo kemudian menunjukkan gambar sketsa wajah teman Tora itu dan betapa kagetnya Rei ketika gambar wajah yang dia lihat itu sama persis dengan Tatang anak buah Albert yang pernah dia temui di rumah Albert.


"Ah, iya aku ingat dia siapa!" ucap Rei yang sekali lagi mengetahui dalang dari rusuhnya rumahnya belakangan ini tetaplah Albert dan Albert lagi.


"Pak Rei, kenal?" Tanya Pak Suryo memastikan.


"Fix, ini orang suruhan Albert!" Ucap Rei sambil mengingatkan Pak Suryo yang memang sudah pernah datang ke rumah Albert untuk mengambil Tyra, adiknya saat dulu pernah di sekap oleh temannya itu.


Adelia yang mendengar percakapan Rei di pos depan rumahnya kemudian menghampiri Rei dan menanyakan perkembangan kasus Tora.


Karena masih sangat kesal, Rei mengatakan bahwa dalang dari kasus ini adalah Albert, Adelia mengatakan dugaannya ternyata benar.


Sejak tadi Mami sudah yakin jika Albert tak akan mungkin melepaskan mereka semudah yang mereka kira.


"Lalu kita harus bagaimana sekarang, Pak! Apa mau di laporkan saja?" Tanya Pak Suryo meminta keputusan Rei.


Adelia kemudian meminta Rei tak memperpanjang kasus ini karena Adelia yakin Albert akan membalas mereka lebih sadis.


"Tapi ini tak bisa di biarin, Mami! Ucap Rei tak terima.


"Sudah, kita nggak usah nyari masalah dengan orang itu lagi, uang Tora biar Mami yang ganti. Kita anggap saja masalah ini selesai." Ucap Adelia meminta sambil berjalan masuk ke rumah.


"Mami, jangan bikin Albert merasa menang!" Teriak Rei masih tak terima dengan keputusan Maminya, namun Mami yang sudah terlanjur membuat keputusan itu memilih untuk pergi saja.


Pak Suryo mengangguk kemudian menganggap kasus ini sudah selesai tanpa mengetahui siapa pelaku sebenarnya.


Rei berjalan kembali masuk ke rumah dan menceritakan semua kejadian itu kepada Zenira, istrinya.


Zenira sebenarnya tak setuju dengan keputusan Mami mertuanya itu tapi ya karena itu keputusan Mami sehingga dia tak berani banyak komentar.


"Kita sekarang hati-hati saja, mungkin hari ini Tora, yang kena sial. Bisa jadi besok giliran kita yang kena sial!" Saran Zenira mencoba mencari penengah akan masalah mereka.


"Iya, aku juga tadi berpikir begitu. Andai aku tak pernah mengenal Tatang, mungkin aku tak akan sekesal ini."


"Apa ya, maksud Albert ini. Tak cukup Tyra yang dia korbankan untuk masalah di rumah ini!" ucap Zenira heran.


Rei menduga memang temannya itu sudah lama sakit hati kepadanya, waktu Cindy datang kemarin itu pasti ide dari Albert juga.


"Cindy punya suami bule, kan?" Tanya Zenira memastikan.


Rei mengangguk, suami Cindy memang seorang Amerika yang kabarnya bertemu dengan Cindy sewaktu mantan kekasihnya itu berlibur ke Bali.


Bahkan banyak yang mengatakan suami Cindy sekarang ini adalah orang kaya di Amerika, jika begitu adanya untuk apa coba dia datang kembali ke kehidupan Rei untuk mengacak-acak masa lalu mereka! Pikir Rei.


"Hah, intinya orang jahat tetap saja jahat bagaimanapun kita membalas mereka!" Ucap Zenira bijaksana.


Rei, menghela napas panjang, sungguh apa yang dilakukan oleh Albert ini benar-benar membuatnya sangat kesal.


"Aku hanya ingin tahu apa yang akan mengakhiri kejahatan, Albert ini kelak!" Ucap Rei dengan wajah penuh penasaran.


Dret..drett..drettt..


Ponsel Rei berbunyi, dia segera mengangkat panggilan telpon itu tapi tak ada suara yang keluar dari panggilan itu.


Zenira yang penasaran menanyakan kepada Rei siapa lagi yang kira-kira menerornya sekarang.


Rei menggelengkan kepalanya dan tak ingin tahu siapa yang baru saja menelponnya tanpa suara itu.


"Bagusnya kita tutup saja telepon ini!" Ucap Rei sambil mematikan ponselnya.


Zenira tersenyum dan mencoba suaminya bersantai dengan mandi air hangat atau sekedar jalan-jalan keluar untuk beberapa saat.


Saat Zenira berbicara dengan jalan-jalan, Rei teringat kembali akan rencananya untuk liburan ke Lembang.


"Oh iya, jadi kapan kita pergi. Rasanya aku sudah lelah dengan semua masalah di rumah ini!" Ucap Zenira sambil mencari posisi bersandar yang enak di bahu suaminya.


"Ah, aku juga maunya besok saja kita pergi. Aku bisa gila jika Albert kembali membuat masalah seperti tadi!" Ucap Rei sambil mengelus rambut Zenira yang hitam dan lebat.


Hari libur yang ditentukan Rei tiba.


"Mami, Papi dan Zenira terlihat sudah siap di ruang tamu rumah Ramon. Menunggu Rei yang tak kunjung turun dari kamarnya.


Zenira yang cemas menyusul Rei ke kamar untuk melihat apa yang sebenarnya yang sedang di kerjakan Rei.


"Sebentar, sabar sedikit kenapa sih!" Ucap Rei bergegas berjalan keluar kamar.


Tiba di ruang tamu Rei kemudian mendorong kursi roda Papinya menuju mobil yang akan mereka gunakan menuju hotel yang sudah mereka pilih.


Ramon terlihat sangat senang bisa berjalan-jalan dengan Rei yang rasanya entah kapan terakhir kalinya mereka pergi bersama seperti ini.


Zenira yang melihat mertuanya sangat senang ikut bahagia karenanya.


"Kita tak ajak, Tora!" Tanya Adelia yang melihat pelayan setianya itu hanya melambaikan tangannya dari kebun belakang rumah.