TAKDIR CINTA SANG PEWARIS

TAKDIR CINTA SANG PEWARIS
BAB 22 - Bayang Bayang


Mendengar Cindy tidak bersedia tinggal lebih lama lagi, Rei merasa lega. Bisa saja wanita sakit hati ini datang untuk menghancurkan kebahagiaannya sendiri dengan Zenira, pikir Rei.


"Baiklah, hari sudah malam. Ini saatnya aku pulang, kapan-kapan aku mampir lagi ya!" pamit Cindy sambil berdiri.


Saat Cindy berdiri tiba-tiba seorang anak lelaki umur lima tahun menghampiri Rei.


"Papi" panggil anak itu sambil mengulurkan tangan.


"Hah, Papi!" Rei terlihat kaget, wajah anak lelaki itu benar-benar mirip seperti dirinya. Pikirannya kembali melayang, apa mungkin Cindy datang untuk menunjukkan anak ini padanya.


"Hei, sayang. Ayo kita pulang, sekarang. Papi Rei sudah bahagia dengan istri barunya." ucap Cindy yang membuat Rei jadi salah tingkah.


"Apa maksudmu sebenarnya?" tanya Rei menatap anak laki-laki itu.


Cindy tidak menjawab pertanyaan Rei, ia lebih memilih menggendong anak lelaki itu kemudian berjalan meninggalkan Rei.


Zenira yang memandang ke arah Rei hanya bisa terpaku sambil perlahan mencari tahu apa maksud Cindy sebenarnya.


"Cindy!" teriak Rei yang tidak mau rasa penasarannya menguap tanpa jawaban.


"Kenapa? Apa salah kalau, aku mempertahankan buah cinta kita?" ucap Cindy menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya menatap tajam ke arah Rei.


"Apa maksudmu?" tanya Rei semakin tidak mengerti maksud mantan kekasihnya itu.


Cindy kemudian bercerita saat ia masih bersama Rei, ia pernah menceritakan bahwa di dalam rahimnya kini tengah tertanam benih dari Rei. Namun, saat itu Rei malah meminta Cindy menggugurkan saja kandungannya karena ia memutuskan hubungan cintanya sepihak.


Tentu perkataan Rei itu sangatlah Menyakitkan bagi Cindy yang sangat berharap pria itu mau mengakui buah cintanya itu.


Cindy yang saat itu tidak mau menjadi penghalang akan hubungan cinta Rei dengan kekasih barunya, memilih untuk pergi dengan suaminya.


Awalnya Cindy tidak ingin Rei tahu tentang kisah ini, namun semakin hari rasa bersalahnya pada anak lelaki ini semakin besar dan rasanya sudah cukup ia merahasiakan siapa Ayah dari anaknya.


Lelaki kecil ini kemudian di beri nama Alceo, Cindy berharap dengan nama itu kelak anaknya akan menjadi pria yang berhati besar dan tetap mencintai Cindy meski Alceo lahir dengan kondisi yang tidak seharusnya.


"Jadi Alceo anakku?" tanya Rei tidak percaya.


"Iya, benar sekali Rei. Alceo putra kecil kita." ucap Cindy mengangguk, membenarkan semua yang dikatakannya.


Zenira terdiam tidak percaya, ia hanya bisa merasa iba pada Alceo yang jelas-jelas tidak berdosa dalam masalah Rei dan Cindy.


"Aku hanya ingin kamu bahagia, Rei! Maafkan aku baru memberitahumu ini semua sekarang. Aku janji tidak akan mengganggu kehidupanmu dengan Zenira." ucap Cindy sambil melangkah pergi.


Rei dan Zenira kemudian saling pandang, mereka tidak tahu harus bagaimana memulai pembicaraan mereka sekarang.


Zenira sebenarnya punya hak untuk marah tapi ia memilih untuk diam, karena tahu hati Rei pun kini sedang tidak menentu.


"Mas, Rei!" teriak Bi Emi keluar dari dalam rumah dengan raut wajah panik.


"Ada apa, Bi Emi?" tanya Rei yang melihat Bi Emi terlihat kebingungan.


"Tuan Ramon, masuk rumah sakit." ucap Bi Emi dengan napas terengah.


Zenira yang masih serba salah memilih tinggal di rumah dan tidak ikut menjenguk Papi mertuanya itu.


Sesampainya di rumah sakit, Rei bergegas menuju ruang tunggu dan menemui Maminya yang sejak tadi sudah menanti kedatangan Rei.


"Apa yang terjadi dengan Papi, Mi?" tanya Rei saat baru tiba menginjakkan kakinya di rumah sakit.


"Awalnya, Papimu menerima sebuah panggilan telpon dari seorang yang tidak dikenal. Saat itu Mami melihat Papi masih sehat, tidak lama kemudian Papi memegang dadanya dan tersungkur." ucap Adelia menjelaskan dengan terisak.


"Siapa yang menghubungi, Papi?" tanya Rei balik.


"Entahlah, Rei! Mami tidak sempat menanyakan pada, Papi." jawab Adelia terus menangis tersedu.


Rei kemudian bercerita pada Adelia tentang kedatangan Cindy ke rumahnya yang mengatakan bahwa Rei dan Cindy memiliki seorang anak lelaki, yang bernama Alceo yang selama ini di sembunyikan oleh Cindy.


"AAH!" teriak Rei kesal, entah mengapa ia selalu merasa dalam hidupnya tidak pernah jauh dari masalah.


"Sudahlah, Rei. Mami tidak mau kamu sampai sakit, karena masalah yang kamu hadapi." ucap Adelia mengusap bahu, Rei dengan lembut.


"Kenapa di saat aku akan bahagia dengan Zenira ada saja masalah yang datang, aku lelah!" ucap Rei mengeluh sambil memeluk Maminya.


Adelia tahu betul apa yang di rasakan oleh putranya, belum selesai masalah keguguran Zenira. Datang masalah dengan Tyra, kemudian Cindy datang dan sekarang Papinya sakit.


Pasti Rei sangat sedih akan semua ini, namun seperti itulah hidup. Tidak akan pernah lepas dari masalah demi masalah.


"Sabar, nak. Sudah sekarang kita fokus pada kesehatan, Papimu, ya!" ucap Adelia mencoba menenangkan putranya.


"Keluarga bapak Ramon!" panggil perawat saat memasuki ruang tunggu tempat Rei dan Adelia berbincang.


"Saya keluarga bapak Ramon, suster." jawab Rei menghampiri perawat itu.


"Pak Ramon mengalami serangan jantung ringan. Namun meski begitu, Pak Ramon harus istirahat total. dan usahakan tekanan darahnya di jaga ya, selama seminggu ke depan." ucap perawat dengan ramah sambil memberikan secarik kertas berisi resep obat.


"Baik, dok. Terima kasih! kami keluarganya akan menjaga dan memantau terus kesehatan Papi." jawab Rei menerima kertas resep sambil menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Rei bersyukur Papinya masih bisa di tolong dan berharap bisa menjaga kesehatan Papinya lebih baik dari hari-hari sebelumnya.


"Bagaimana, Rei?" tanya Adelia cemas saat melihat Rei keluar dari dalam ruang rawat.


"Papi mengalami serangan jantung ringan." jawab Rei sambil memeluk Maminya yang terlihat sangat sedih akan apa yang terjadi pada Papinya.


"Syukurlah, Papi. Tuhan masih baik pada kita!" ucap Adelia dengan mata berkaca-kaca.


"Mami maaf aku tidak dapat menjaga, Papi setiap hari. Mami jaga Papi ya, agar jangan kambuh dan semakin parah." ucap Rei meminta dengan wajah sedih.


"Iya, Rei. Mami janji akan menjaga Papimu. Karena serangan jantung seperti ini bisa saja terulang dan lebih parah." jawab Adelia mengangguk tanda mengerti.


Adelia meminta Rei bergegas menuju ruang rawat untuk melihat kondisi Papinya.


Saat memasuki ruang rawat, Ramon masih terlihat lemas dengan beberapa selang infus yang terpasang serta selang oksigen di hidungnya.