
"Jangan sedih, kita pasti bisa melalui semua ini!" ucap Zenira menyemangati Rei.
Rei tersenyum dan berjanji pada Zenira dan calon anaknya untuk tidak kembali ke jalan itu, dan tentu Zenira sangat senang mendengar janji suaminya ini.
"Ayo kita mulai!" pekik Zenira senang, bangkit berdiri dari tempat duduknya.
Merekapun memulai mempersiapkan bisnis barunya, sebuah iklan di media sosial menginformasikan tempat yang dulu di sewa Rei. Kini memang di sewakan dengan harga yang murah.
"Zenira, coba kamu lihat tempat ini. Menurutku letaknya sangat strategis, cocok untuk memulai bisnis baru kita." ucap Rei menunjukkan sebuah iklan di media sosial dari ponsel genggamnya.
"Kenapa kita tidak coba bertanya ke nomor WA, yang tercantum di sana?" tanya Zenira melihat ke ponsel Rei.
"Baiklah, semoga masih belum ada yang menyewa." jawab Rei menjalankan saran dari istrinya.
Benar saja tempat itu baru saja kosong, dan karena Rei sudah mengenal pemilik ruko itu, mereka segera menyetujui dengan harga sewa perbulan dari ruko itu.
Rei berjanji akan segera membayar biaya sewanya, dengan syarat pemilik tidak mencari penyewa lainnya.
"Rei, bagaimana apa rukonya belum ada yang menyewa?" tanya Zenira antusias.
"Belum ada, baiknya kita ke sana sekarang." jawab Rei dengan penuh semangat.
"Baiklah, ayo kita lihat langsung ke sana." ucap Zenira mengajak.
"Akan aku kenalkan pemilik rukonya padamu, kita datangi saja rumahnya." ucap Rei bangkit berdiri dari duduknya, menggenggam erat tangan Zenira.
Zenira mengikuti langkah, Rei dan berharap bisnis ini bisa menjadi awal hubungan baiknya dengan Rei.
Tidak lama kemudian, tempat usaha ini sudah bisa langsung di gunakan.
"Kapan kita buka?" tanya Rei yang menjadi sangat penurut pada Zenira.
"Kita siapkan dulu barang yang mau kita jual. sabarlah sedikit, Rei." jawab Zenira dengan suara lembut.
Rei mengangguk, dulu di tempat ini Rei hanya menjual satu jenis barang saja yaitu kopi. Memang komoditas minuman kopi ini, sedang di cari banyak orang. karena Jakarta kini sudah menjadi surganya kafe.
Rei berpikir optimis, jika ia berhasil mencari biji kopi terbaik, dan menjualnya di sini. di pastikan masa kejayaannya dulu bisa terulang.
Zenira tersenyum dengan semua perkembangan perubahan sifat, Rei. Meskipun memang ia tetap khawatir. suatu hari teman, Rei akan datang menggodanya kembali ke game online.
"Apa kita akan memberitahu Papi dan Mamimu?" tanya Zenira menautkan alisnya.
"Nanti saja kalau kita sudah benar-benar siap." ucap Rei dengan optimis.
Zenira tersenyum dan Rei sibuk memberitahukan teman-temannya tentang bisnisnya yang akan segera di buka.
Tidak sedikit dari teman Rei memberi dukungan, ia memang cukup ahli di bidang ini. Jadi sayang sekali, jika ia tidak melanjutkan bisnis kedai kopi kekiniannya ini.
Lelah seharian, mempromosikan kedai kopinya pada teman-temannya. Rei bergegas merebahkan tubuhnya di kasur empuk king zisenya.
Tidak membutuhkan waktu lama, Rei terlelap. Saat Rei terlelap tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponselnya.
[Rei, ayo kita main game online lagi] ajak seseorang melalui pesan singkat.
Zenira yang kebetulan sedang berada tidak jauh dari ponsel, Rei. dengan kesal membuka pesan itu.
"Wah! masih ada saja teman, Rei. yang mengajaknya main game online." gumam Zenira saat membaca pesan itu.
Kebetulan ada beberapa nomor telpon yang mengajak, Rei bertanding game online lagi.
"Bagus aku blokir orang-orang ini!" gumam Zenira menggerutu kesal.
Zenira mengembalikan ponsel milik, Rei ke tempat semula. dan ia pun berpura-pura seolah tidak ada yang terjadi.
"Zenira, kemarilah!" teriak Rei dari dalam kamar.
"Aku datang." jawab Zenira, bergegas bangkit berdiri dari duduknya. tidak mau suaminya sampai curiga akan apa yang, ia lakukan.
Sikap Rei yang berubah, ternyata membuat Tyra merasa risih. Dulu kakaknya adalah orang yang sangat nakal, pemalas dan jahat. Tapi entahlah semenjak bertemu Zenira ia jadi berubah.
"Hei, Bi Emi! Kamu merasa tidak, Rei semakin baik saja." ucap Tyra yang tidak suka Rei berubah.
"Iya benar, Non Tyra." jawab Bi Emi yang juga melihat perubahan pada diri, Rei.
"Bagaimana bisa Zenira merubah, Rei secepat ini ya?" tanya Tyra tidak suka.
Saat Tyra dan Bi Emi asik membicarakan, Rei. tiba-tiba, Adelia datang menghampiri mereka.
"Kalian mau berbuat jahat apa pada, Rei?" tanya Adelia yang tiba-tiba muncul dari balik pintu dapur.
"Mami, aku hanya bertanya pada, Bi Emi soal kondisi Rei sekarang. Jangan salah sangka dulu." jawab Tyra membela diri dengan wajah cemberut.
Tyra, sudahlah. Jangan kamu ganggu Zenira dan juga kakakmu, Rei. Mereka berdua sedang sibuk dengan semua rencana masa depan rumah tangganya. Tidak mudah bagi Zenira merubah, Rei menjadi lebih baik seperti sekarang." ucap Adelia menasehati putrinya.
"Aku mendukung mereka, Mami. Kebahagiaan, Rei juga kebahagiaanku." ucap Tyra sambil menuangkan teh hangat ke dalam cangkir cantik yang ada di depannya.
Adelia yang senang putrinya sudah mengerti kemudian, memasukkan beberapa barang bawaannya. ia sengaja datang ke rumah, Rei untuk memberikan mereka kado pernikahan.
Satu set peralatan dapur mahal, dan mewah menjadi kado wajib bagi pasangan suami istri yang baru menikah.
Bi Emi yang melihat majikannya datang, dengan bawaan yang sangat banyak di tangannya. Ia pun menawarkan bantuannya, membawakan semua kado pernikahan, Rei. yang berjumlah lima dus besar yang harus di bawa.
"Banyak sekali, Bu kadonya. Ini pasti kado istimewa." ucap Bi Emi yang sibuk membawakan kado-kado tersebut, masuk ke dalam rumah.
"Nanti jika, Rei sudah bangun kasih tahu dia. ini semua dari aku ya." perintah Adelia menitipkan kado pernikahan, Rei.
Mendengar ada ribut-ribut di dapur, Zenira yang penasaran bergegas menuju dapur. Betapa senangnya hati Zenira saat melihat Adelia datang membawakan kado pernikahan untuk mereka, yang bahkan tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"Eh, Nyonya Zenira, sudah bangun!" sapa Adelia menggoda menantunya.
"Bi Emi, bisa tinggalkan kami berdua. Ada hal penting yang mau aku bicarakan pada, Mami." ucap Zenira meminta.
"Baik, kak! saya permisi." ucap Bi Emi mengangguk, meninggalkan Zenira dan Adelia di ruang dapur.
Bi Emi bergegas pergi meninggalkan dapur. ia menaruh curiga kenapa tiba-tiba, Zenira yang biasanya tidak pernah khawatir dengan kehadirannya. justru memintanya untuk pergi. Namun, ia tetap menurut agar tidak kena marah majikannya.
Setelah melihat Bi Emi pergi, Zenira berbisik pelan pada mertuanya. Ia menceritakan tentang teman-teman, Rei yang masih menghubunginya untuk mengajaknya taruhan game online.
"Mi, tadi aku membuka ponsel, Rei. mengecek dan membaca pesan itu.Ternyata masih ada beberapa dari teman, Rei. yang mengajaknya untuk bertanding game online lagi." ucap Zenira mengadu, menceritakan apa yang ia ketahui.
"Mereka itu tahu, putraku mudah di bodohi. Makanya mereka tidak pernah berhenti menghubungi, Rei!" ucap Adelia lirih menggerutu kesal.
"Iya, Mami! Aku paham karena itu, aku memblokir semua nomor-nomor itu dari ponsel, Rei." ucap Zenira geram.