TAKDIR CINTA SANG PEWARIS

TAKDIR CINTA SANG PEWARIS
BAB 63 - Makanan Kesukaan


"Baiklah kalau begitu kami pulang dulu, besok atau lusa kami akan kembali lagi kemari!" Pamit Rei kepada kedua orang tuanya.


Mami mengantarkan Rei menuju mobilnya dan melambaikan tangan sebelum mereka melajukan mobilnya dan menghilang di gelapnya malam.


Mami kembali masuk dan berharap Rei besok mau main lagi ke rumahnya.


Sepulang dari rumah kedua orang tuanya, Rei bergegas mandi dan tidur, besok dia harus bertemu Rama, teman Papinya yang akan membantunya mencarikan gudang.


Pagi segera menjelang dan Rei bergegas mandi dan bersiap untuk pergi kerja.


"Aku tak sarapan ya, aku sarapan di cafe saja!" Ujar Rei yang nampak kesiangan, Zenira mengangguk dan berharap Rei bisa melalui harinya dengan baik meski tak sempat untuk sarapan.


Setiba di cafe, Rei segera meminta Cleo untuk memesankannya bubur ayam tak jauh dari cafenya, dia segera mendapatkan pesanannya itu dengan lengkap dan segera menyantapnya.


Baru saja selesai menyantap makan paginya, Rama sudah tiba di cafenya.


Pria paruh baya ini tetap terlihat modis dengan gaya rambut yang sedang in serta baju warna warni mirip baju pantai.


Rama langsung duduk di kursi depan cafe dan meminta karyawan Rei memberitahukan kedatangannya kepada bosnya.


Rei menyambut kedatangan Rama yang begitu cepat mengerti apa tujuan Rei mengundangnya datang ke cafenya.


"Boleh aku lihat ukuran gudangmu dulu!" Pinta Rama.


Rei nampak aneh, mengapa pria ini ingin melihat gudangnya sedang dia tau Rei sedang mencari gudang baru untuknya.


"Oh, ini. Baiklah!" Ujar Rama berjalan kembali menuju tempat duduknya tadi.


"Kamu punya gambaran di mana bagusnya gudangku berada?" Tanya Rei.


"Ada tak jauh dari sini. Apa kamu mau langsung ke lokasi?" Tanya Rama seperti yakin dengan pilihannya.


Rei mengangguk dan mengikuti langkah Rama.


"Apa cukup jalan kaki?" Tanya Rei sambil menyeberangi jalan.


Rama tersenyum, dia mulai bercerita jika tak jauh dari cafenya sebenarnya dia punya ruko kosong yang sayang jika di biarkan, Rama bahkan bersedia menyewakan dengan harga murah asal Rei mau menyewanya minimal tiga tahun.


"Wah kamu serius?" Tanya Rei yang tak percaya akan pernyataan Rama tadi.


"Kamu lihat saja dulu barangnya, kalau cocok ambil tapi kalau tak cocok tak apa!" Ujar Rama menunjukkan sebuah ruko tak jauh dari kantor pos pusat.


Rei segera bisa mengerti mengapa Rama melihat gudangnya dulu sebelum menawarkan barang, agar dia tau seperti apa kualitas kebutuhan Rei ini. Pantas saja dia di juluki raja makelar di Jakarta, pikir Rei.


Rama segera membukakan pintu rukonya untuk Rei, tempat yang di tawarkan ini cukup dekat dengan cafe Rei jadi pasti cocok untuk kebutuhannya.


Tapi meski begitu Rei tetap meminta waktu kepada Rama untuk berpikir beberapa waktu sebelum memutuskan pilihannya.


Rama mengangguk dan memberi waktu sampai dua hari ke depan.


"Baiklah, aku akan mengabarimu!" Ujar Rei sambil menjabat tangan Rama.


Rei berjalan kembali ke cafenya dan meninggalkan Rama di rukonya dia langsung bertanya kepada bagian keuangannya apakah dia punya cukup uang untuk menyewa tempat milik Rama mengingat gudang miliknya sudah tak cukup.


"Ada kok, Pak. Bisa langsung kita bayarkan!" Ujar karyawan bagian keuangan Rei.


Tak mau membuang waktu, Rei langsung menghubungi kembali Rama dan berjanji akan membayar langsung uang sewa yang di minta teman Papinya itu.


"Baiklah, aku akan kembali ke cafemu kalau begitu!" Ujar Rama berjalan menuju cafe Rei.


Hari sudah mulai sore saat Rama datang, Rei menawarkan Rama untuk mentransfer saja uang yang di mintanya dan Rama setuju.


"Kamu bisa pakai ruko itu kapan saja!" Ujar Rama sambil menyerahkan kunci rukonya.


Rei berterima kasih kepada Rama mungkin jika bukan karena teman Papinya ini dia akan butuh waktu yang panjang untuk bisa mendapatkan tempat yang bisa dia gunakan sebagai gudang kopinya.


"Senang bisa bekerja sama denganmu!" Ujar Rama saat transaksinya dengan Rei telah selesai.


"Baiklah terserah kamu saja yang penting semua beres!" Ucap Rei menutup transaksi hari ini tanpa masalah.


Rei pulang ke rumah dan tak sabar memberitahukan kepada istrinya tentang keberhasilannya menemukan tempat untuk gudang kopinya dalam waktu yang sangat singkat.


Zenira yang mengetahui cerita Rei itu sangat senang karena akhirnya Rei bisa dengan cepat menyelesaikan masalahnya itu.


"Oh ya, kamu masak apa hari ini?" Tanya Rei penasaran.


Zenira tersenyum berjalan menuju dapur dan mengambil sesuatu dari kukusan.


Rei nampak heran, istrinya memang jarang menggunakan kukusan itu karena dia tak mahir dengan masakan yang di kukus.


"Itu apa?" Tanya Rei khawatir.


"Tadaaa!" Ujar Zenira terlihat sangat senang.


"Siomay ayam!" Ujar Rei dengan wajah berbinar.


"Kamu pasti suka!" Ujar Zenira dan menyajikan sepiring siomay untuk Rei lengkap dengan bumbu kacang dan jeruk nipis.


"Wah kamu pasti bisa membuatku semakin gemuk!" Ujar Rei sambil mulai menikmati satu persatu siomay di piringnya.


Tak terasa sepiring siomay itu habis juga di lahap Rei, karena masih merasa kurang Rei meminta lagi siomay ayam buatan Zenira itu.


"Rasanya bagaimana?" Tanya Zenira dengan wajah khawatir.


"Sama seperti buatan Mamiku!" Puji Rei membuat Zenira sangat senang.


"Buatkan aku lagi besok!" Pinta Rei dengan penuh harap.


Zenira mengangguk dia juga memang suka dengan masakan ini jadi jika harus di minta sering-sering membuat Zenira tak akan menolak tentunya.


Tak terasa dari lima puluh buah siomay yang di buat oleh Zenira langsung habis mereka santap berdua.


"Wah kita menghabiskan semuanya!" Ujar Zenira saat mengetahui semua siomaynya sudah habis.


Rei tertawa geli, dia tak menyangka mereka berdua bisa memakan seheboh ini.


"Oh ya, Mami meminta kita besok ke rumahnya. Dia bilang dia ingin membuat acara di rumah sekedar syukuran atas semua yang sudah kita lewati belakangan ini."


"Baiklah aku ikut, sekarang kita tidur saja ya. Aku kekeyangan!" Ujar Zenira berjalan melangkah menuju kamarnya.


Rei mengikuti langkah Zenira dan berjalan dengan perut kenyang menuju kasur.


Tak lama kemudian mereka berdua tidur dengan nyenyak.


*****


Keesokan harinya.


Pagi menjelang dan Rei segera membangunkan Zenira, mereka sudah berjanji akan menuju rumah kediaman orang tua Rei untuk membicarakan rencana Adelia mengadakan syukuran.


Memang Rei merasa sudah lama sekali mereka tak mengadakan acara berbagi kepada orang-orang yang kurang beruntung.


Rei segera mengeluarkan mobil barunya yang merupakan hadiah pemberian Bram dan membukakan pintu untuk Zenira.


Sesampai di rumah orang tua Rei mereka segera masuk dan menyapa Adelia yang nampak sedang sibuk mempersiapkan sarapan untuk Rei dan Zenira.


Happy Reading πŸ“˜


TBC 🌿


DON'T FORGET FOR LIKE, VOTE AND COMMENT 🌟 THANK YOU β€οΈπŸ–€