TAKDIR CINTA SANG PEWARIS

TAKDIR CINTA SANG PEWARIS
BAB 62 - Quality Time


Setelah bertemu dengan Tora yang masih kesakitan, Zenira menyuruh asisten mertuanya itu untuk beristirahat saja agar dia segera sembuh.


"Terima kasih, Nyonya memang sangat pengertian!" Ujar Tora dan kembali beristirahat.


Zenira meninggalkan Tora sendiri berjalan menuju tempat Rei dan Ramon sedang berbincang.


"Bagaimana, Tora. Dia sudah lebih baik?" Tanya Rei yang meminta Zenira duduk di sampingnya.


Zenira tersenyum dan menceritakan kondisi Tora yang nampak masih kesakitan.


"Dia nggak mau diam, kemarin Mami sudah menyuruhnya beristirahat tapi dia malah memilih untuk tetap bekerja!" Cerita Ramon kepada Rei.


"Sepertinya dia terlalu sungkan untuk di jam kerjanya!" Ujar Rei sambil mengambil sebatang rokok di saku bajunya dan mulai menyalakan rokoknya.


"Jangan banyak-banyak merokok, tadi sudah habis berapa?" Tegur Zenira saat suaminya itu asik menghisap rokok yang di selipkan di jemarinya.


"Iya, jangan banyak merokok, kamu sedang program untuk punya anakkan?" Ujar Ramon mencoba mengingatkan putranya.


Rei berjanji ini rokok terakhirnya hari ini, entah mengapa dia sedang senang sekali merokok sekedar menghilangkan keletihannya.


"Ini terakhir, ya!" Ujar Zenira mengingatkan Rei.


Rei mengangguk yakin, dia memang tak pernah merokok terlalu banyak hanya sesekali saja saat hatinya sedang tak menentu.


"Kalian sudah makan, bagaimana kalau Mami masakkan sesuatu untuk kalian!" Tanya Adelia kepada Rei dan Zenira.


Rei menggeleng, perutnya memang masih kenyang karena makan siangnya tadi. Jadi dari pada di paksakan nanti malah nggak enak.


"Buat makan malam saja, aku masih sangat kenyang!" Ujar Rei.


"Baiklah, tapi janji ya kalau makan malam kamu harus mau makan!" Ujar Adelia kemudian berjalan menuju dapur.


Zenira mengikuti langkah ibu mertuanya itu menuju dapur, sepertinya Adelia berencana memasak sesuatu yang istimewa buat mereka, tapi Adelia masih bingung untuk memasak apa.


"Rei bagaimana kabar di cafe?" Tanya Ramon memulai pembicaraan dengan putranya.


Rei kembali teringat rencana awalnya datang ke rumah ini dan mulai bercerita beberapa masalah di gudang termasuk kapasitasnya yang dia anggap sudah tak cukup untuk menyimpan barang.


"Kenapa tidak kamu perluas?" Tanya Ramon lagi.


"Sudah habis lahanku, Papi. Kadang barang datang baru diambil beberapa hari jadi mau tidak mau barang harus di tumpuk di dalam gudang!" Jelas Rei.


"Apa kamu tak ingin menyewa gudang saja, tentu itu bisa lebih murah ketimbang kamu membeli gedung baru untuk cafemu!" Ujar Ramon memberi saran.


Rei mengangguk tapi tentu untuk menemukan tempat yang tepat dia butuh waktu.


"Kemana ya kira-kira?" Tanya Rei lagi.


Ramon mengingatkan Rei kepada Rama, salah seorang teman Papinya yang memang berbisnis persewaan gudang di seluruh Jakarta. Ramon rasa jika Rei bertemu dengan temannya itu dia bisa menemukan tempat yang tepat dengan waktu yang lebih singkat.


"Baiklah aku akan menghubunginya besok!" Ujar Rei.


Akhirnya mereka memulai makan malam tepat jam 7 malam, Adelia nampak sudah menemukan menu kesukaan Rei yaitu masakan jenis cemilan tradisional aneka siomay.


Siomay buatan Adelia ini memiliki rasa yang sangat gurih dan nikmat, tak tanggung-tanggung dia memasak aneka ragam siomay mulai dari siomay ikan, ayam dan udang.


Rei yang melihat hidangan itu di sajikan langsung buru-buru mengambil beberapa siomay dan segera memberinya bumbu.


Jangan buru-buru, masih panas. Kamu tak mau kan mulutmu panas karena ini!" Ujar Mami yang khawatir Rei langsung memakan siomay panas itu.


Rei mengangguk tanda mengerti jika siomay itu masih sangat panas, dia menunggu beberapa saat sebelum akhirnya memakannya.


"Cobalah juga, Zenira!" Ujar Adelia menyodorkan sepiring siomay lengkap dengan bumbu kacang.


Zenira lalu memotongnya dan mulai memakannya benar saja, siomay ini rasanya sangat nikmat seperti apa yang dikatakan Rei tadi.


"MMM, enak!" Ujar Zenira mengambil siomay kedua kalinya.


Rei yang melihat Zenira mengambil siomay kesukaannya langsung melotot dan meminta Zenira tak melanjutkan makan siomaynya.


"Rei jangan begitu. Nanti kalau kurang juga pasti Mami bikinkan lagi!" Ujar Mami mencoba melerai Rei yang nampak sangat marah.


Setelah aksi rebutan siomay, Mami kemudian menyajikan sepiring besar capcay goreng yang pastinya di sukai semua orang, tak lupa Mami juga menambahkan bubuk cabe agar rasa masakannya semakin mantap dan menggugah selera.


"Aku suka ini," bisik Zenira saat menyuap yang pertama kali.


Mami sangat senang masakannya di sukai oleh semua anggota keluarga dan akhirnya dalam kurang dari lima menit semua makanan habis.


"Wah makanan Mami hari ini enak sekali!" Puji Zenira kepada Mami mertuanya.


"Kapan-kapan kamu datanglah lagi ke sini, nanti kita masak bersama lagi. Semenjak Tyra meninggal hati Mami sering merasa kesepian sendiri di rumah besar ini!" Ujar Mami.


Zenira yang melihat kesedihan di mata Mami mertuanya itu kemudian menghiburnya dan berjanji akan kembali ke rumah ini lain waktu dan menemaninya memasak lagi seperti hari ini.


Rei nampak senang akhirnya Maminya mempunyai teman untuk memasak, biasanya Mami tak pernah mau untuk di temani di dapur karena takut teman memasaknya itu kelelahan.


"Besok kalau aku datang kembali ke sini kita masak siomay ikan, ayam dan udang seperti tadi ya, Mi!" Pinta Zenira kepada Adelia.


Mami mengangguk, siomay ayam memang masakan kesukaan semua begitu juga dengan siomay udang dan ikan. Cara buatnya simpel tapi tetap enak di makan kapan saja.


"Kalau kamu mau nanti Mami catatkan resepnya dan buatlah sendiri di rumah, Rei pasti akan makin sayang kepadamu!" Ujar Mami membuat Zenira tersipu malu.


Mami mengambil secarik kertas dan nampak mencatatkan resep siomay itu dan memberikannya kepada menantunya ini, Zenira nampak sangat senang karena selama ini menu masakan yang dia masak hanya itu-itu saja benar-benar tak ada perubahan dan kadang Rei bosan karenanya.


"Eh, Rei bagaimana kabar Rama? Kalian sudah berjanji untuk bertemu?" Tanya Ramon kepada Rei.


"Besok pagi kami berjanji untuk bertemu, semoga saja ada tempat yang cocok untuk gudangku ya?" Harap Rei.


Ramon menyarankan Rei untuk sedikit berhati-hati dalam menyewa tempat, kadang ada tempat yang nampaknya bagus tapi harganya mahal dan ada tempat yang kurang bagus tapi tetap terasa mahal karena fasilitasnya yang kurang lengkap.


Rei berjanji akan mengingat pesan Papinya itu, dia memang belum pengalaman dalam sewa menyewa tempat sehingga butuh saran dari Papinya yang lebih berpengalaman.


Happy Reading πŸ“™



TBC 🌟



Don't forget for like, vote, and comment. Thank you β€οΈπŸ–€