
"Biar Mami saja yang bayar!" Ujar Adelia menghalangi Zenira tapi menantunya ini tidak mau, dia merasa Mami sudah terlalu baik kepadanya sehingga dia tak mau merepotkan mertuanya ini.
Tak lama kemudian Tora menghampiri mereka dan bergegas pergi menuju cafe milik Rei.
Setiba di cafe, mereka mulai berbincang apa saja yang tadi sudah mereka beli.
"Istrimu suka sekali ya Mami ajak jalan-jalan ke pasar baru!" Ujar Adelia sambil menunjukkan jajanan yang di beli Zenira di sana.
Rei tertawa terbahak, Mami memang belum tau jika Zenira suka sekali jajanan yang ada di sana.
"Dia memang suka jajan!" Goda Rei sambil mencubit kecil pipi Zenira.
Zenira mengatakan jika dia suka jajanan di pasar baru karena selain rasanya enak, harganya murah dan banyak jajanan yang jarang dia lihat sebelumnya.
"Lain kali kita ke pasar baru lagi ya!" Seru Zenira kepada Rei.
Rei hanya tertawa, dia tau betul jika istrinya ini memang suka jajan meski jajanannya itu sesuatu yang sederhana.
"Zenira juga beli daster untuk baju rumah, nanti kalau bagus kita beli lagi ya!" Ajak Adelia membuat Zenira bersemangat.
"Iya Mami. Aku tadinya ingin memulai berbisnis baju daster tapi aku bingung bagaimana memulainya?" Ujar Zenira kepada Adelia.
"Memang berbisnis itu gampang-gampang susah, butuh keberanian untuk memulainya dan harus siap rugi juga!" Ujar Mami memberi pengertian kepada Zenira.
Zenira mengangguk dia memang butuh banyak belajar dari Rei, suaminya untuk bisa menjadi pebisnis yang sukses.
"Oh ya, bagaimana dengan kabar gudangmu yang baru!" Tanya Adelia kepada Rei.
"Besok baru bisa aku pakai, Mami. Hari ini baru aku bersihkan sekalian menandatangani surat perjanjiannya!" Tutur Rei sambil menyajikan kopi untuk Mami dan istrinya, kali ini Tora tak minum kopi, katanya karena kebanyakan minum kopi perutnya jadi kembung.
Tora lebih memilih minum teh ketimbang kopi, apalagi jika tehnya di tambah dengan es batu, wah dia sangat menyukainya.
Rei melanjutkan ceritanya tentang gudang yang di sewanya, dia mengatakan harga sewa yang di berikan Rama sangatlah murah.
"Ya, sementara sewa dulu pasti setelah ini akan di naikkan dan aku akan mencoba membeli sendiri ruko untuk barang jualanku agar aku tak perlu repot sewa ke orang!" Ujar Rei.
Ide Rei ini benar juga, kadang kita menyewa rumah atau toko harga awalnya akan di buat murah agar kita mau menggunakannya. Namun perlahan tapi pasti harga sewa pasti akan di naikkan dan itu akan menjadi biaya yang cukup besar untuk penyewa.
"Papi, sebenarnya punya tempat untuk kamu pakai menyimpan kopimu, tapi terlalu jauh jaraknya kalau dari cafemu ini!" Ujar Adelia mencoba mengingat-ingat ruko kosong milik Ramon.
Rei mengangguk dia memang tau Papinya punya ruko tak terpakai tapi tempatnya jauh dari sini, Rei mengaku tak sanggup jika harus bolak-balik jika harus mengambil barangnya.
"Rei bukankah itu Bram!" Seru Zenira saat Bram datang ke cafenya.
Rei bangkit berdiri dari tempat duduknya kemudian menyalami Bram temannya yang baru sampai itu.
Bram nampak lebih sehat dengan potongan rambut lebih rapi, dia kini nampak berbeda dengan saat dia tinggal di kamar kecil di dalam cafe milik Rei ini.
Rei kemudian memperkenalkan Bram pada Maminya.
"Sepertinya kita pernah bertemu?" Tanya Bram saat menjabat tangan Adelia.
"Ow, kamu yang punya toko kain itu bukan!" Ujar Adelia mencoba mengingat-ingat.
"Iya, benar itu aku. Tapi itu dulu!" Ujar Bram mengenang masa jayanya.
Dulu Bram memang mempunyai beberapa usaha mulai dari toko kain hingga sampai toko bahan bangunan tapi itu dulu sebelum Bram bangkrut di meja judi.
"Habis hartaku karena judi, itulah kenapa aku selalu meminta putraku jangan pernah mengenal meja jahat itu!" Bisik Bram mengenang masa sulitnya.
"Sudah, yang penting sekarang semua sudah beres dan sudah kembali normal!" Ujar Adelia menyemangati Bram.
Bram sangat berterima kasih kepada Rei, baginya Rei adalah penyemangatnya mungkin jika Rei tak membantunya dia masih sangat terlilit hutang dan tak akan pernah bisa bangkit dari keterpurukannya.
"Bantu apa, aku hanya memberikan kamar kecil di belakang cafeku, jangan membesar-besarkan!" Ujar Rei merendah.
Bagi Bram bantuan Rei ini lebih dari itu, dia bahkan meminta Evan untuk mencari alasan yang membuatnya hampir putus asa. Kalau bukan dari Rei entah dari mana dia bisa bersemangat lagi seperti sekarang.
"Kita semua keluarga, jangan sungkan untuk meminta tolong. Aku yakin kelak kami juga akan membutuhkanmu dan begitu pun sebaliknya." Ujar Adelia membuat Bram tersenyum.
Hari sudah semakin siang, karena ini memang waktunya makan siang, Rei meminta Cleo untuk membelikan nasi bungkus untuk semua yang ada di cafe.
Rei memesankan menu ayam bakar untuk mereka semua.
Mami sangat senang, ini memang makanan kesukaannya sejak dulu. Memang makanan yang di jual sederhana namun sangat nikmat.
Karena Adelia suka, Rei meminta Cleo membelikan jatah lebih.
"Karena jumlah karyawan dan di tambah Bram semuanya berjumlah 11 orang, belikan 12 bungkus ya!" Pesan Rei kepada Cleo.
Cleo menurut dan bergegas pergi menuju warung makan sederhana yang tidak terlalu jauh jaraknya dari cafe milik Rei itu.
Tidak membutuhkan waktu lama Cleo sudah datang dengan 12 nasi bungkus lengkap dengan ayam bakar kesukaan Adelia.
Mereka makan bersama dengan lahap tak lupa Rei meminta di buatkan kopi pahit sebelum makan siangnya ini berlangsung.
Kopi pahit membuat Rei semangat makan dan tak ingin cepat-cepat selesai.
Zenira sangat senang bisa makan siang bersama dengan Adelia, Rei, Tora, Bram serta semua karyawan Rei.
Setelah semua selesai makan, Bram pamit pulang karena harus mengurusi urusan bisnisnya yang akan di mulai beberapa minggu lagi.
"Nanti kalau sudah buka undang aku, ya!" Ujar Rei sebelum Bram beranjak pergi.
Bram tersenyum dan berjanji akan mengundang Rei minggu depan.
Hari sudah semakin sore saat Bram beranjak pulang. Adelia dan Tora nampak sudah mulai lelah dan ingin segera pulang saja.
Rei meminta ijin kepada karyawannya untuk pulang bersama Mami dan istrinya serta Tora, asisten rumah tangga Maminya.
Mereka akhirnya pulang bersama sebelum cafe tutup.
Happy Reading 🥰
TBC😘
DON'T FORGET FOR LIKE, VOTE AND COMMENT 🌟 THANK YOU ❤️🖤