TAKDIR CINTA SANG PEWARIS

TAKDIR CINTA SANG PEWARIS
BAB 72 - Terlalu Cemas


"Yang penting kamu jaga kualitas, jadi pelanggan akan selalu kembali ke cafe kita!" Ujar Zenira.


Rei mengangguk, karena kopi sudah laku semua sekali lagi karyawan Rei memesan ulang kopi yang tadi sudah di borong oleh Bram.


Tak lama kemudian kopi-kopi pesanan Rei datang, sebelum pulang Rei menyempatkan untuk mengecek semua kopi yang datang itu.


Setelah memastikan semua sudah sesuai dengan orderan, Rei berpamitan kepada semua karyawannya.


"Kita pulang sekarang?" Tanya Zenira yang nampak sudah selesai semua dengan pekerjaannya.


Rei mengangguk dan bergegas pergi meninggalkan cafe miliknya.


Sesampai di mobil Rei teringat dia belum makan sejak siang.


Zenira meminta Rei untuk makan terlebih dahulu sebelum pulang.


"Mau makan di mana?" Tanya Rei mencoba bertanya kepada Zenira.


"Kemana ya, aku tak tau tempat yang enak untuk makan jam segini!" Ujar Zenira lagi.


Rei teringat sebuah warung makan tak jauh dari cafenya, warung makan sederhana namun berkesan yang terletak di dekat stasiun kota Jakarta.


"Kamu selalu tau saja tempat makan enak seperti ini?" Tanya Zenira saat memasuki warung makan sederhana itu.


Rei bergegas mengambil posisi kursi duduknya dan memesan masakan rumahan, harganya tentu aman di kantong tapi untuk rasa tak usah di ragukan.


Tak lama pesanan Rei dan Zenira sudah tersaji nikmat di depan meja mereka.


Zenira langsung menyantap nasi campur plus gorengan peyek, harga satu porsinya adalah tiga puluh lima ribu, harga terbilang murah untuk santapan di tengah kota seperti ini.


Berbeda dengan Rei, pria tinggi ini lebih suka memesan soto ayam dengan rasa segar tak lupa diberi sambal agar rasanya lebih mantap.


"Kamu suka?" Tanya Rei saat melihat Zenira mulai menyantap nasi campur pesanannya.


Zenira mengangguk dan nampak tak bisa di ganggu.


"Lain kali kita kesini lagi ya, kamu belum pernah makan nasi Padang di seberang rumah makan ini kan?" Tanya Rei kemudian melanjutkan makannya.


Memang di dekat stasiun ini banyak sekali warung makan kecil namun menyajikan makanan yang nikmat dan lezat.


Beberapa warung kabarnya sering di datangi warga yang hidupnya sudah berkecukupan karena memang tempat ini adalah tempat yang mengandung kenangan manis bagi banyak warga sekitarnya.


"Kamu mau nambah?" Tanya Rei pada istrinya yang baru selesai makan.


Zenira menggeleng, memang porsi dari makanan di sini cukup banyak, namun karena rasanya yang enak Zenira tak bisa berhenti makan sebelum nasinya habis tak berbekas.


Setelah selesai makan Zenira dan Rei bergegas memutuskan pulang.


Hari ini memang cukup melelahkan bagi Zenira dan Rei meski begitu mereka tetap bersyukur karena lelah yang mereka rasakan itu berbuah berkah yang melimpah.


"Kalian baru pulang!" Sapa Adelia yang ternyata sudah sejak tadi menunggu Rei pulang.


"Mami, sejak kapan datang. Kami makan dulu di luar tadi jadi baru pulang!" Ujar Rei menjelaskan mengapa dia baru sampai.


"Tak apa, kami hanya kesepian di rumah, jadi kami kemari untuk menengokmu. Kami baru sampai kok!" Ujar Adelia kemudian mengajak Rei dan Zenira berbincang di dalam rumah.


Zenira dan Rei menurut dan mulai berbincang tentang banyak hal termasuk tentang ramainya cafe ini.


"Sungguhkah, wah hebat sekali kamu sekarang bisa menjual kopi banyak sekali dalam waktu singkat!" Puji Adelia kepada Rei.


"Papi mana, Mi?" Tanya Rei yang belum melihat Papinya sejak tadi.


"Papi ada, biasa sama Tora di atas!" Ujar Adelia sambil menunjuk ke arah lantai dua rumah Rei.


Rei mengangguk lalu dia melanjutkan ceritanya tentang penjualan kopinya yang semakin baik saja setiap harinya.


Meski begitu Adelia meminta Rei tak lupa berbagi jika dia memiliki uang lebih dari hasil penjualannya setiap hari.


"Ah, untung Mami mengingatkanku, tentu aku akan berbagi. Terima kasih sudah mengingatkan!" Ujar Rei.


Zenira nampak sibuk di dapur untuk membuatkan mertuanya minuman hangat dan segar, kebetulan saat di cafe tadi seorang karyawan Rei menawarinya sebungkus bubuk jahe yang kabarnya sangat di sukai oleh mertuanya itu.


"Wah kamu tau saja kesukaan, Mami!" Ujar Adelia senang saat aroma jahe semerbak di ruang tamu Rei.


Rei meminta Zenira membuatkan juga satu cangkir air jahe itu karena memang minuman itu sangat cocok di minum pada malam hari yang dingin seperti saat ini.


Zenira kembali ke dapur dan membuatkan lagi satu gelas air jahe untuk suaminya.


Adelia dan Rei kembali melanjutkan mengobrol hingga larut malam, sedang Zenira yang sudah mengantuk memilih untuk segera tidur karena besok dia sudah berjanji kepada Rei untuk kembali ke cafe bersama suaminya.


******


Keesokan harinya.


Zenira nampak sudah berpakaian rapi saat Rei baru bangun, semangat Zenira ini ternyata membuat Rei semakin mencintai saja istrinya ini.


"Kamu bangun jam berapa?" Tanya Rei yang bergegas bangun dan mandi pagi.


Zenira hanya tersenyum dan meminta suaminya segera turun karena di bawah dia sudah menyiapkan makan paginya dengan sangat spesial.


"Wah, kamu benar-benar istri idaman!" Puji Rei kembali melanjutkan mandi paginya.


Zenira turun ke dapur dan membuatkan kopi untuk Rei, dia tau segelas kopi pasti akan membuat Rei semakin bersemangat sebelum akhirnya mereka berangkat kerja.


"Wah, asyik nih!" Ujar Rei saat selesai mandi dan mulai sarapan.


Setelah selesai sarapan Rei dan Zenira bergegas pergi menuju cafe, seperti biasa mereka datang lebih awal dari pada karyawannya yang lain. Ini mereka lakukan agar karyawannya menjadi lebih bersemangat dalam bekerja.


Tepat jam delapan pagi karyawan mulai berdatangan dan cafe milik Rei segera buka.


Tak banyak pembeli hari ini dan Rei menjadi sedikit kecewa, Zenira meminta Rei untuk bersabar karena dalam penjualan pasti ada waktunya menunggu dan ada waktunya untuk panen penjualan.


"Kamu benar juga, masa tiap hari mereka beli kopi dalam jumlah banyak!" Ujar Rei mencoba menghibur diri.


Siang menjelang dan tamu yang di tunggu Rei akhirnya tiba, Bram datang dengan membawa kabar gembira dan membuat Rei semakin bersemangat saja.


"Kopimu nikmat, Rei. Anakku suka dan penjualannya perhari laku keras. Kamu benar-benar bawa hoki ya!" Ujar Bram sambil menunjukkan foto saat putranya mendapatkan orderan besar dari teman-teman kampusnya.


Rei sangat senang bersiap memenuhi pesanan kopi dari Bram lagi.


"Ya, nanti aku pasti pesan kepadamu. Jangan khawatir kita, adalah partner bisnis!" Ujar Bram sambil menepuk bahu Rei.


Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜


TBC πŸ“—πŸ“’


Don't forget for like, vote, comment and subscribe 🌟 Thank You β€οΈπŸ–€