
"Kok bisa sih ada anak model begini!" Gumam Karina kesal.
Begitu tau akan kesalahpahaman ini akhirnya Karina segera menghubungi kakaknya dan melaporkan semua perhitungan yang terjadi di bank.
"Pantas saja!" Seru Evan saat mendengar kabar itu dari adiknya, Evan sudah menyangka ini pasti terjadi karena nilai hutang Bram yang tidak sedikit.
Evan bergegas pergi menuju cafe milik Rei dan betapa kagetnya Rei dan Bram saat mengetahui niat jahat anak-anak Bram ini.
"Itulah yang membuatku tak yakin, mana ada hutang nambah padahal sudah tertutup lelang!" Ujar Rei kesal.
Bram yang mengetahui semua ini hanya bisa terdiam dan tak menyangka anak-anaknya begitu tega kepadanya, padahal uang 2 milyar itu dia dapatkan paling tidak Bram bisa memperbaiki hidupnya sehingga tak sampai menjadi gelandangan seperti saat ini.
"Tenanglah, kita akan membantu sampai uang itu kembali!" Lanjut Rei dengan geram.
"Tidak, tidak usah!" Tegas Bram dengan wajah menahan tangis.
Evan mengatakan apa yang dilakukan anak-anak Bram ini kelewatan dan harus di tindak, tak pantas rasanya anak menyerobot uang Ayahnya sendiri mengingat Bram kini sedang sangat membutuhkan uang ini.
"Jika, itu yang mereka mau biarkan. Aku tak mau tau lagi tentang mereka. asal ada bukti sisa hutang itu bukan milikku sungguh itu lebih dari cukup bagiku. Untuk sisa lelang biarkan saja, kalau benar uang itu untuk anak-anakku!" Bisik Bram bangkit berdiri dari duduknya lalu berjalan dengan langkah gontai menuju kamarnya.
"Dia pasti sangat berat menerima ini semua, biarkan saja dulu!" Pinta Rei kepada Evan yang sebenarnya sudah menyiapkan tuntutan kepada anak-anak Bram.
Evan mengangguk dia tak mau melangkah terlalu jauh untuk kasus ini jika Bram tak bersedia menuntut anaknya sendiri.
"Kita ngopi saja di depan, kamu pasti suka kopi dari cafeku!" Ajak Rei.
Evan berjalan melangkah menuju sebuah kursi di depan cafe milik Rei dan tak lama kemudian Cleo menghampiri untuk menyajikan kopi panas yang sudah di pesan Rei tadi.
Saat sedang menyeruput kopi tiba-tiba wanita muda menghampiri mereka.
Rei yang tak mengenal wanita itu kemudian bertanya siapa gerangan wanita itu dan ada perlu apa dia ke cafenya.
"Hai, saya sedang mencari Papa?" Tanya wanita muda itu dengan sangat ramah.
"Papa? Siapa?" Tanya Rei lagi.
Wanita itu memperkenalkan diri sebagai Jeslyn, putri dari Bram yang sedang mencarinya. Dia ingin sekali menyampaikan banyak hal setelah perceraian Papanya dengan Mamanya dan kejatuhan Bram di bisnisnya.
Mengetahui siapa Jeslyn, Rei mempersilahkan Jeslyn masuk ke cafenya dan mengetuk pintu kamar Bram.
Tok tok tok
Bram, ada tamu!" Panggil Rei dari balik pintu.
Bram nampak tak mau menjawab panggilan Rei itu.
"Papa, ini aku!" Sapa Jeslyn dengan begitu lembut.
Mendengar suara putrinya akhirnya Bram mau keluar kamar dan betapa senangnya dia ketika Jeslyn ada di depannya.
"Putriku!" Ujar Bram sambil memeluk erat Jeslyn yang sudah bertahun-tahun tak ditemuinya.
"Papa sayang, apa kabarmu? Boleh kita bicara!" Ujar Jeslyn sambil menghapus air mata di pipi Bram.
Bram akhirnya mengajak putrinya ke suatu tempat tak jauh dari cafe milik Rei untuk membicarakan semua isi hatinya.
Rei yang paham akan keinginan Bram mengijinkannya untuk pergi bersama putrinya ke tempat yang tak di sebutkannya itu.
"Rei, Evan. Terima kasih kalian mau membantuku selama ini, aku ijin pamit dan aku harap kita bisa bertemu lagi!" Pamit Bram yang baru saja sampai.
"Wah, kenapa buru-buru. memangnya kamu mau kemana?" Tanya Rei yang kaget dengan pamitnya Bram ini.
"Putriku mengajakku pulang ke rumahnya, dia bilang baiknya aku bertemu dengan anak-anakku yang lain dulu sambil menyelesaikan masalah keuangan ini!" Lanjut Bram dengan rona wajah bahagia.
"Oh, syukurlah jika kalian sudah menemukan titik temu. Tapi jika kamu membutuhkanku, kamu tau di mana bisa menemuiku, ya!" Pesan Rei kepada Bram.
Pria paruh baya itu kemudian bergegas mengemasi barang-barangnya yang masih berada di dalam kamar kecil di belakang cafe, tak lupa Bram berpamitan dengan semua karyawan cafe yang selama ini menemaninya melalui hari-hari sedihnya.
Setelah berpamitan Bram bergegas memasukkan barang-barangnya ke mobil Jeslyn yang di parkir tak jauh dari cafe milik Rei itu.
Bram dan Jeslyn melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan Rei.
Meski Bram sudah pergi tapi Rei sangat senang akhirnya temannya itu bisa menyelesaikan masalahnya bersama anaknya.
"Baiklah sudah selesai!" Gumam Rei lega.
Rei pamit kepada Evan dan seluruh karyawannya karena dia ingin segera pulang setelah masalah yang kemarin sempat membuatnya sedih akhirnya berakhir juga.
"Setiba di rumah, Zenira nampak kaget melihat suaminya yang datang lebih awal dari biasanya, Zenira meminta Rei untuk mengajaknya jalan-jalan lagi karena hari masih sore.
"Memangnya kamu mau di ajak ke mana?" Tanya Rei saat baru saja menyandarkan punggungnya ke kasurnya yang empuk.
"Kita nyari babat, sate usus lagi ya!" Rengek Zenira yang membuat Rei tertawa.
"Kamu ketagihan ya?" Goda Rei kepada istrinya.
Zenira tertawa lepas, memang kemarin dia ingin sekali mengajak Rei berburu kuliner dan jajanan favoritnya tapi karena Rei datang dengan tamu akhirnya dia mengurungkan niatnya itu.
"Jadi bisa kan kalau hari ini kita ke sana?" Pinta Zenira dengan penuh harap.
Rei mengangguk tapi sebelum pergi dia meminta Zenira untuk menunggunya beristirahat sejenak.
Zenira mengangguk dan setelah lepas maghrib mereka bergegas pergi ke warung makan yang membuat Zenira ketagihan itu.
Sesampai di warung makan langganan Rei ternyata sudah nampak antrian yang sudah cukup panjang, satu persatu pembeli mengambil makanan yang sudah mereka pesan, aroma makanan tercium menggiurkan dan membuat Zenira ingin cepat-cepat memilih menu yang dia mau.
Begitu tiba giliran Zenira untuk memesan, Zenira langsung memesan ayam goreng bumbu rempah kesukaannya, sepiring nasi, babat dan sayur asem beserta sambal lengkap dengan lalapan sayur yang kemarin sempat membuatnya tak bisa berhenti makan.
Rei yang melihat porsi pesanan Zenira yang banyak hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tertawa.
Setelah membayar pesanannya Zenira segera berjalan menuju kursi dan duduk menunggu pesanannya di antar.
Tak lama pesanannya datang dan Zenira segera memulai makan malam istimewanya itu.
Happy reading🥰
To be continued📒
Jangan lupa terus dukung karya author dengan Like, Vote Komen dan kesan yang mau ngasih hadiah bunga dan bintang juga boleh🌹🌟😘
Terima kasih guys..❤️🖤