
"Zenira kamu tidak mengundang, Mamamu?" tanya Adelia saat acara sudah hampir berakhir.
Zenira menggelengkan kepala pelan.
"Mamaku, sedang sakit. Rencananya baru besok aku ke Bandung melihatnya!" jawab Zenira pandangannya sangat sedih.
"Sabar ya, Zen! Kamu tidak perlu mencemaskan orang tuamu. Mami yakin, Mamamu akan baik-baik saja. Sebaiknya kamu tidak usah pulang dulu ke Bandung, karena itu akan membuatmu sangat lelah di perjalanan." ucap Adelia meminta memberikan perhatiannya.
Jarak Jakarta - Bandung cukup jauh pasti sangat menguras tenaganya yang saat ini sedang berbadan dua, Zenira tertunduk dan tidak berani lagi berbicara karena itu akan membuatnya kembali teringat pada kondisi ekonomi kedua orang tuanya yang semakin buruk saja.
Adelia yang tahu kondisi hati menantunya, kembali bertanya apa sebenarnya yang menjadikannya terlihat begitu cemas.
Zenira awalnya tidak mau bicara. Namun, setelah di desak Adelia ia akhirnya mau juga menceritakan semuanya.
"Kenapa kamu tidak bilang, Zenira. kami pasti akan membantu." ucap Adelia mencoba membesarkan hati Zenira.
"Terima kasih, Mami atas perhatiannya. Aku pun ingin seperti itu tapi entahlah mereka seperti enggan menerima bantuanku." ucap Zenira dengan raut wajah sedih.
"Mami mengerti, apa yang diinginkan kedua orang tua Zenira. Mereka tidak mau merepotkan anaknya, meski mereka sangat sulit secara ekonomi di sana." ucap Adelia mengusap bahu Zenira pelan.
"Ya sudah, jika begitu kita bantu doa saja. Walau kita tahu sebenarnya mereka sangat membutuhkan." ucap Ramon membesarkan hati Zenira.
Saat acara hampir berakhir sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan kedai milik Rei. Seorang wanita muda berparas cantik turun dari mobil. Wajahnya seperti tidak asing bagi Rei dan keluarganya.
Tubuh tinggi dan rambutnya panjang sebahu, setelah turun wanita itu menghampiri Rei.
Seluruh tamu undangan terlihat sangat kaget akan kedatangan wanita ini, kecuali Tyra tentunya.
Rei yang membulatkan matanya lebar terus melihat kemana wanita itu akan melangkah, setelah melihat Rei ada di sana. Wanita itu berjalan menghampiri Rei.
"Hai, Rei. Kamu masih ingat dengan aku?" tanya wanita itu dengan senyum yang memikat hati.
"Kenapa kamu kemari?" tanya Rei kesal dengan sorot mata tajam.
"Kamu tidak ingin melihatku, kenapa? Karena kini kamu takut pada istrimu." ucap wanita itu mencibir dengan senyuman tipis.
Rei yang tidak mau Zenira tahu siapa wanita itu, kemudian mengajak istrinya yang sedang hamil besar itu untuk pergi.
"Hei,Tunggu! biar aku memperkenalkan diriku pada istrimu." ucap wanita itu mencegah semakin Rei kesal.
"Siapa dia, Rei?" tanya Zenira penasaran.
"Dia bukan siapa-siapa." ucap Rei terlihat panik.
"Sungguh serendah itu aku di matamu, Rei? Lupa kamu dulu pernah mengemis cintaku?" ucap wanita itu semakin berani.
"Mengemis cinta? apa maksudnya, Rei. Jelaskan kepadaku." ucap Zenira meminta sambil terus mengusap air matanya yang terus mengalir di pipinya.
Rei makin salah tingkah, ia tidak enak dengan keluarganya yang sedang berkumpul dan terus menghunuskan tatapan tajam ke arahnya.
Berbeda dengan Tyra yang justru senang telah mengundang wanita itu dan telah membuat Rei merasa berdosa pada Zenira.
"Jelaskan padaku, siapa dia?" teriak Zenira membuat Rei tidak bisa berkutik lagi.
"Rei, kenapa kamu diam saja. Jawab aku!" teriak Zenira dengan nada suara sangat sedih.
"Hah! Kalian ini cuma bisa bikin aku kesal saja." teriak Rei bergegas pergi meninggalkan kedai miliknya yang baru saja di buka tanpa sedikitpun memberikan penjelasan.
Rei yang kesal kemudian melangkah pergi keluar dari kedai miliknya.
"Tunggu biar, Papi yang jelaskan!" ucap Ramon mencoba menjelaskan siapa wanita yang datang itu.
Ramon memperkenalkan wanita itu sebagai Emelie, mantan kekasih Rei. Memang Emilie dan Zenira tidak pernah bertemu sebelumnya.
Emilie kini telah menikah dan hidup bahagia dengan dua orang anak dari pernikahannya.
"Aku tidak berniat mengganggumu, aku hanya ingin mengucapkan selamat padamu. Jadi untuk apa kamu menghindar?" tanya Emilie pada Rei yang terlihat kikuk.
Rei memang sering salah tingkah pada Emilie, sejak dulu ia memang begitu. Apalagi saat ini ia terlihat sedang menjaga perasaan Zenira yang sedang berbadan dua.
"Ow, salam kenal ya! Aku Zenira, istri Rei." ucap Zenira mencoba memperkenalkan diri.
Setelah berkenalan, Emilie bisa cepat akrab dengan Zenira. Tyra yang berencana merusak suasana bahagia ini dengan kedatangan Emilie ternyata gagal total. Justru Emilie membuat Rei menjadi lebih bahagia karenanya.
"Siapa yang mengundangmu ke sini, Emilie?" tanya Rei penasaran.
Emilie kemudian menceritakan tentang rencana Rei membuka kedainya yang ia ketahui dari Tyra, adik Rei dan berterima kasih pada Tyra karena akhirnya bisa kembali bertemu keluarga Rei setelah beberapa tahun ini mengalami perang dingin dengan mantan kekasihnya ini.
"Oh, Tyra. Kenapa tidak bilang mau mengundang, Emilie!" ucap Rei sambil melemparkan senyuman ke arah Tyra, yang terlihat merengut tidak senang.
Zenira hanya tersenyum melihat raut wajah adik iparnya itu, sebenarnya kalau tidak ada mertuanya itu mungkin Zenira akan sangat marah akan kedatangan Emilie ini, tapi ya sudahlah damai seperti ini bukannya lebih menyenangkan.
Setelah acara makan-makan berakhir, kini tiba saatnya Rei pulang untuk beristirahat.
Lelah sekali hari ini meski hanya untuk acara yang beberapa jam saja pikir, Zenira.
"Kita langsung pulang ya." ucap Zenira meminta yang terlihat sudah sangat mengantuk.
Emilie yang melihat Zenira sudah akan pulang memilih pamit karena ada keperluan lain. setelah saling berpamitan, mantan kekasih Rei itu akhirnya berlalu pergi entah kemana.
Dret..drett..drettt..
Tiba-tiba ponsel Rei berbunyi, Rei bergegas mengangkat panggilan telpon itu.
"Hei, kamu memblokirku, aku lihat bisnismu sudah di mulai." kata seorang pria yang menghubungi Rei dari seberang telpon genggamnya.
Rei yang sejak tadi berdiri di pojok kedainya, segera tahu itu Albert sahabat lamanya. Ia tidak berani menjawab karena takut ketahuan lagi oleh istrinya dan keluarganya.
"Jangan diam saja, jawablah aku!" kata Albert yang terlihat sangat senang, akhirnya panggilan telponnya di jawab oleh Rei.
"Nanti aku hubungi lagi, ya!" balas Rei menutup panggilan telponnya sepihak.
Zenira yang curiga dengan gerak gerik, Rei bergegas menghampiri namun tidak berani memberikan pertanyaan.