TAKDIR CINTA SANG PEWARIS

TAKDIR CINTA SANG PEWARIS
BAB 67 - Tak Dapat Dipercaya


"Apa mungkin kita kuliner setiap hari?" Tanya Zenira sambil tertawa.


Rei bercerita jika dulu saat dia masih remaja dia selalu pergi berburu kuliner dengan teman-temannya mulai Jakarta hingga Bandung pernah dia sambangi.


Zenira nampak kagum dengan pengalaman suaminya ini, berbeda dengan Zenira yang baru tau jalan MH Thamrin hingga jalan Merdeka dari suaminya.


"Kapan-kapan kita ke Subang bahkan Karawang, ya!" Ajak Rei yang membuat Zenira semakin bersemangat.


Hari sudah semakin sore saat mereka selesai menghabiskan minuman pesanan mereka, segera saja Rei mengajak Zenira pulang karena dia tak mau mereka kemalaman di tempat ini.


"Lain kali ajak aku kesini lagi ya!" Pinta Zenira dengan manja.


"Baik, asal kamu mau aku pasti mau!" Ujar Rei berjalan menuju cafe.


Setibanya di cafe Rei bergegas mengecek pintu cafe dan berjalan menuju mobilnya, Zenira yang setia menunggu hanya tersenyum saat Rei berjalan mendekati mobil.


"Kita Pulang!" Ujar Rei sambil menyalakan mesin mobilnya dan mulai melaju pulang membelah jalanan Jakarta yang sangat padat.


"Oh, iya. Aku kapan boleh belajar menyetir?" Tanya Zenira kepada Rei.


Memang dulu Rei pernah berjanji akan mengijinkan istrinya itu untuk menyetir mobil namun belum pernah sempat karena dia selalu sibuk dengan pekerjaannya.


"Iya nanti aku daftarkan kursus!" Ujar Rei.


Sesampainya di rumah karena takut lupa, Rei segera menghubungi temannya yang memiliki tempat kursus menyetir.


Mendengar perkataan Rei jika dia sudah mendaftarkan Zenira di kursus itu. Zenira tentu sangat senang terutama karena ini cita-citanya sejak dulu ingin sekali bisa menyetir mobil.


"Aku mau secepatnya!" Ujar Zenira membuat Rei bingung.


"Kamu baru bisa ikut lusa, tempat kursusnya sangat penuh!" Ujar Rei mencoba menjelaskan.


"Baiklah, aku sih ikut aja deh!" Jawab Zenira singkat.


Memang di rumah Rei ada beberapa mobil yang jarang di pakai, tentu jika Zenira bisa menyetir dia bisa jalan-jalan dengan mobil-mobil itu.


Zenira kemudian di daftarkan oleh Rei untuk kursus hari Sabtu Minggu depan dan Zenira sudah tak sabar.


*****


Hari Sabtu.


Zenira datang ke tempat kursus dengan diantar oleh Rei, dia datang tepat waktu dan langsung memulai kursusnya.


"Hai, aku Zenira!" Ujar Zenira memperkenalkan diri.


Rei yang melihat Zenira sudah memulai kursus kemudian pamit pergi menuju cafe karena dia sudah kesiangan menuju cafenya.


Zenira memulai kursus setirnya dengan sangat kaku namun mulai bisa menikmati karena guru yang mengajarkannya sangat menyenangkan.


Tak lama kemudian Zenira sudah diijinkan menyetir di jalan yang lebih ramai dan mulai bisa mengendalikan mobil yang dikendarainya.


Setelah waktu kursus habis, Zenira bergegas menuju cafe Rei dengan naik taksi online.


"Hai, kamu tau aku sudah bisa mulai menyetir!" Ujar Zenira saat baru sampai di cafe.


"Wah sungguhkah secepat itu?" Tanya Rei tak percaya.


"Biar aku yang menyetir mobilmu sampai rumah ya!" Ujar Zenira dengan berani.


Awalnya Rei tak mau, tapi karena di paksa akhirnya dia bersedia istrinya ini yang menyetirkan mobil untuknya.


Selama perjalanan Zenira nampak sudah sangat mahir dalam menyetir, tentu Rei sangat salut pada kecepatan Zenira dalam belajar.


"Kamu hebat juga!" Puji Rei sambil mengawasi cara Zenira menyetir.


Setelah tiba di rumah Rei langsung masuk ke kamar dan mulai membereskan beberapa berkas yang tertinggal di kamar tidurnya.


Zenira nampak heran mengapa Rei hari ini nampak begitu sibuk.


Rei kemudian menunjukkan kepada Zenira apa yang sedang dia siapkan, ini adalah berkas kerja samanya dengan beberapa pemilik cafe yang ingin membeli kopi di cafenya.


"Wah, kamu hebat juga!" Puji Zenira membuat Rei tersipu.


Rei segera mempercepat kerjanya, setelah semua selesai dia bergegas turun untuk makan malam bersama istrinya.


"Hai!" Sapa Adelia dari pintu rumah Rei.


"Mami!" Jawab Rei saat melihat Adelia datang.


"Kenapa, apa kedatanganku aneh!" Ujar Adelia melihat ekspresi Rei yang kaget.


"Ah, tidak. Aku senang Mami di sini!" Ujar Rei kemudian mempersilahkan Adelia masuk.


Mami bercerita jika tadi dia dan Ramon merasa kesepian di rumah, karena itu mereka sepakat untuk menyambangi rumah Rei dan Zenira.


Tak cuma menyambangi Adelia dan Ramon nampak membawa sebuah durian berukuran besar yang berbau sangat wangi.


"Ayo kita buka!" Ajak Ramon kepada Rei dan Zenira.


Karena ukurannya yang sangat besar Rei meminta tolong kepada Tora yang juga ikut bersama orang tuanya ke rumahnya.


"Satu, dua, tiga!" Ujar Tora sebelum akhirnya berhasil membelah duren yang di beli Ramon.


Aroma durian sangat wangi dan menggoda selera mereka.


Tora dan Rei nampak berebut untuk mendapatkan daging durian terbaik dan terbesar.


Selama beberapa waktu mereka berdua menikmati buah yang wangi ini. Sedang Adelia dan Ramon serta Zenira hanya mengambil isi daging durian yang kecil-kecil saja.


"Ayo tambah lagi, Zenira!" Ujar Adelia saat melihat Zenira hanya mengambil sedikit sekali buah durian ini. Tapi Zenira menolak karena dia memang tak terlalu menyukai makan durian.


Setelah durian habis, Rei bercerita kepada Papinya jika Zenira kini sudah bisa menyetir, tentu dia sangat kagum karena Zenira baru saja mulai kursusnya hari ini.


"Wah, sungguhkah?" Tanya Adelia tak percaya.


Zenira mengangguk yakin menceritakan pengalamannya menyetir mobil Rei untuk yang pertama kalinya.


"Pokoknya, hati-hati saja jangan ngebut!" Ujar Ramon kepada Zenira.


Zenira mengangguk tentu dia tak akan mengebut mengingat dia masih sangat baru dalam menyetir mobil.


"Besok coba lebih jauh lagi, agar kamu terbiasa!" Ujar Adelia memberi saran, tapi nampaknya saran ini tak di sukai oleh Rei karena Rei khawatir Zenira akan keasyikan dan tak mau pulang saat malam tiba.


"Papi dukung kamu jalan-jalan, kapan-kapan ajak Papi, ya!" Ujar Ramon menggoda Zenira.


Mereka kemudian tertawa bersama, memang keluarga Ramon sejak dulu adalah keluarga kaya yang kompak dan tak pernah lepas dari tawa kebahagiaan.


"Rei boleh ya malam ini Mami menginap di sini!" Pinta Adelia kepada putranya karena hari sudah semakin malam.


"Tentu saja boleh, Mami!" Jawab Rei.


Adelia dan Ramon berjalan menuju kamar kosong yang dulunya adalah kamar yang di pakai oleh Tyra, adik Rei.


Adelia dan Ramon mengenang kembali anak mereka yang sudah tiada itu.


"Aku sedih kalau ingat Tyra, semoga saja dia tenang di sana!" Ujar Ramon sambil menahan tangisnya.


"Mami juga sedih kok Papi, jadi kita bantu dia lewat doa saja ya, jangan ingat yang sedihnya!" Ujar Mami mencoba menghibur Ramon.


Malam semakin larut dan Adelia bergegas tidur. Rencananya besok pagi dia ingin sekali memasakkan sarapan untuk anak-anaknya.


Happy Reading πŸ₯°πŸ€—


TBC 😘


DON'T FORGET FOR LIKE, VOTE, COMMENT AND SUBSCRIBE 🌟 THANK YOU β€οΈπŸ–€