
"Sudah mas Rei, jangan teriak-teriak. Biarkan saja non Tyra pulang ke rumah Maminya." ucap Bi Emi yang sejak tadi berdiri di samping Rei.
Sadar teriakannya dapat mengganggu tidur Zenira, Rei memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya.
Rei bergegas menghubungi Maminya, dan melaporkan semua yang sudah di perbuat Tyra hari ini.
Zenira yang sudah terbangun dari tidurnya melihat suaminya itu sangat kesal mencoba bertanya.
"Kenapa kamu terlihat kesal sekali, Rei?" tanya Zenira menyelidik menautkan kedua alisnya.
Rei tidak menjawab pertanyaan Zenira dan mulai sibuk dengan ponselnya, Zenira terdiam dan menunggu sampai suaminya itu selesai mengetik.
"Tyra, biasalah!" jawab Rei saat selesai mengetik pesan untuk Maminya.
"Tyra kenapa lagi?" tanya Zenira yang masih penasaran.
"Tyra mencoba membohongiku, dengan memalsukan nama pengirim bunga yang ditujukan untuk kamu, Zenira." jawab Rei geram sambil mengepalkan tangannya hingga kubu-kubu jarinya memutih karena kesal.
Zenira mulai paham jalan pikiran adik iparnya itu. jika ia sudah berani melakukan hal sejauh ini, bisa saja kelak ia kembali membuat masalah dengan melakukan hal-hal menyebalkan lainnya yang akan membuat Zenira dan Rei bertengkar hebat.
"Berarti kita tidak boleh terlalu percaya pada siapapun mulai dari sekarang." ucap Zenira yang tidak menyangka adik iparnya mempunyai rencana sejahat itu.
"Hah, mengapa mereka selalu membuatku marah!" teriak Rei yang masih terlihat sangat kesal.
Zenira mencoba menenangkan Rei, dalam keadaan suaminya yang sangat marah bisa saja Rei melakukan hal di luar dugaan lagi.
"Sudah, jangan marah. Kita selesaikan dengan kepala dingin ya?" ucap Zenira meminta begitu lembut.
Rei yang awalnya menganggap Zenira wanita polos. Perlahan mulai melihat wanita ini mulai berubah dan tidak sama lagi dengan Zenira yang dikenalnya dulu.
Dret..drett..drettt..
Ponsel Rei berbunyi menampilkan di layar ponselnya, Adelia menelponnya.
"Rei, Tyra kabur." teriak Adelia dari sambungan telponnya terisak.
"What! Tyra kabur, Mi?" balas Rei terkejut langsung berdiri dari duduknya dan mulai terlihat panik sambil terus bertanya kronologi dari kaburnya adiknya itu.
"Iya, Rei. Sudah beberapa hari ini Tyra membuat Mami dan Papi kesal. Mami katakan kalau masih tetap membuat masalah, Mami tidak akan segan-segan mengusir ia dari rumah." jawab Mami menjelaskan kenakalan Tyra panjang.
"Kenapa adikku ini jadi begini ya, dulu ia tidak nakal dan tidak pernah membuat masalah." ucap Rei sambil terus menduga-duga kemana adiknya ini pergi.
"Kamu bilang tadi ada yang menelpon Tyra bukan?" tanya Zenira yang dari tadi mendengarkan percakapan Rei.
Rei teringat pada sosok Albert yang memang tadi menghubungi adiknya itu.
"Ah, benar sekali mereka pasti bekerjasama. Tapi aku tidak berani bertemu Albert." jawab Rei datar membolak-balikkan badannya cemas.
Zenira yang mendengar penjelasan Rei terdiam, ia tidak berani bertanya mengapa Rei tidak berani bertemu dengan Albert.
"Biar Papi saja yang menyusul Tyra." ucap Rei lagi sambil berjalan keluar kamarnya.
Ternyata perkataan Rei tadi di dengar oleh, Bi Emi yang sejak tadi mendengarkan dari balik dinding kamarnya. Bi Emi bergegas mengambil ponselnya dan segera menghubungi Tyra, via pesan WA.
Pesan itu tidak di jawab oleh Tyra yang kini sedang tidak percaya siapapun dari keluarganya. Ternyata Albert benar-benar telah meracuni pikiran Tyra sehingga gadis ini bersedia mengikuti semua perintah dari Albert.
Tiba di rumah Albert, Tyra segera turun dari taksi onlinenya dan di sambut oleh senyum jahat Albert.
"Baguslah, aku memang tidak bisa mengambil hati Rei. Tapi aku kini bisa menguasai adiknya!" gumam Albert mempersilahkan Tyra untuk masuk ke dalam rumahnya yang mewah.
Sekarang kita bagaimana, percumalah semua orang di keluargaku sudah tidak ada yang mempercayaiku lagi." ucap Tyra kesal membanting tas yang dibawanya.
"Pelayan! Ambilkan minuman yang paling mahal." perintah Albert pada pelayan di rumahnya.
"Baik, pak Albert." jawab pelayan mengangguk. Ia berjalan masuk ke ruang dapur, untuk mempersiapkan minuman yang di pesan majikannya.
"Ini minuman apa?" tanya Tyra yang memang tidak pernah merasakan minuman itu sebelumnya.
"Kamu pasti sangat kesal dengan keluargamu bukan? Ayo kita minum untuk melupakan kekesalanmu itu." jawab Albert sambil menuangkan minuman ke gelas Tyra dengan senyuman menyeringai.
Tyra terlihat sudah di kontrol oleh Albert. ia menurut saja, saat Albert memintanya meminum segelas demi segelas minuman asing itu yang belum pernah ia coba sebelumnya. Karena tidak pernah minum sebelumnya tyra pun terkapar.
Albert yang melihat Tyra terkapar meminta pelayannya mengangkat tubuh Tyra menuju kamarnya.
Setibanya di kamar Albert. pria jahat itu kemudian mengambil beberapa foto Tyra dan mengirimnya, ke Rei yang saat itu sedang tidur nyenyak di samping Zenira.
Dret..drett.. drettt..
Ponsel Rei berbunyi dan segera Rei membuka pesan masuk dari Albert.
"Dasar laki-laki hidung belang." teriak Rei begitu marah saat ia membaca pesan singkat itu.
"Ada apa? Kenapa kamu marah begitu?" tanya Zenira yang masih mengantuk.
Rei kemudian menunjukkan foto adiknya, Tyra yang sedang terbaring di kamar Albert. Ia sudah menduga Albert akan tega melakukan apa saja, untuk membalas semua perbuatan Rei padanya.
"Memangnya kamu berbuat apa sampai, Albert melakukan semua ini?" tanya Zenira penasaran.
Awalnya Rei tidak mau memberitahu, Zenira tentang apa yang diperbuat dulu pada Albert. Tapi karena, Zenira terus memaksa untuk memberitahu akhirnya Rei bicara juga.
"Dulu aku pernah punya hutang kalah bermain game online pada Albert. aku memang belum membayarnya karena aku pikir hutang itu tidak akan lunas jika, Albert tidak menganggap uang yang aku bayarkan padanya." jawab Rei panjang lebar.
Zenira terdiam ia tidak mengerti apa yang di maksud oleh Rei, suaminya.
"Maksudmu bagaimana sih?" tanya Zenira mengeryitkan keningnya.
Rei membuang napasnya dengan kasar melanjutkan ceritanya.
"Dulu aku sering sekali berhutang pada Albert. jika kalah bermain game online, uangnya mungkin sekitar 5 juta. Namun, setiap kali aku membayarkan hutang itu, Albert pria jahat itu justru memaksa aku memasang uang lagi untuk bertanding game online." jawab Rei menjelaskan perlahan agar Zenira mengerti.
Memang Albert itu jahat, ia menjebakmu sayang." ucap Zenira kesal.
Rei paham betul jebakan Albert. Itulah mengapa ia tidak mau lagi bertemu Albert.