TAKDIR CINTA SANG PEWARIS

TAKDIR CINTA SANG PEWARIS
BAB 27 - Sisa Bencana


"Lihat kami sudah punya bukti kuat tentang kejahatanmu. Kamu masih mau mengelak?" tanya Rei tegas yang sudah muak dengan adiknya itu.


Tyra terdiam, ia kini paham kalau sedang terpojok. Tidak mau hilang akal,Tyra menangis sejadinya dan meminta maaf pada kedua orang tuanya.


Zenira yang melihat sandiwara adik iparnya itu, memilih untuk diam saja dan membiarkan Rei yang bertindak atas kejahatan yang kali ini dilakukan oleh adiknya itu.


"Sudahlah, bagusnya kamu dilaporkan saja ke polisi. Kejahatanmu ini sudah tidak bisa di maafkan!" ucap Rei sambil mengambil ponselnya.


"Rei, jangan!" teriak Tyra meminta sambil terus memohon pada kakaknya itu.


Ramon yang terlihat setuju dengan Rei menghubungi Pak Suryo polisi kenalannya.


"Papi, jangan. Aku mohon!" ucap Tyra meminta yang tidak di gubris Ramon.


Ramon meminta Pak Suryo segera menuju rumahnya, karena ia sudah tidak mau memberi ampun pada anak bungsunya itu.


Sekeras apapun Tyra meminta Ramon. Ramon tidak melepaskannya untuk tuduhannya kali ini, sekeras itu pula Ramon yakin akan segera melaporkan Tyra.


Tidak lama kemudian pak Suryo dan tim kepolisian datang ke rumah Ramon pengusaha terkenal di Jakarta itu dan segera membawa Tyra.


"Papi, jangan lakukan ini. Aku mohon!" teriak Tyra saat digelandang ke kantor polisi.


Ramon hanya menghunuskan tatapan tajam, memandang dingin putrinya itu dan masuk ke rumah karena hari itu sangat terik.


"Sekarang bersihkan semua makanan yang ada di kulkas, aku yakin Tyra sudah meracuni isi kulkas kita!" ucap Ramon meminta sambil mendorong kursi rodanya.


Zenira memandang ke arah Ramon yang terlihat sangat sedih akan semua yang terjadi ini, tapi Zenira tidak berani berkata-kata karena ia tahu saat ini yang dibutuhkan oleh keluarga suaminya adalah ketenangan.


Zenira berjalan melangkah menuju kamarnya saat Rei terlihat masih duduk berdua dengan Maminya di dapur. Adelia terlihat sedang membersihkan kulkas yang terlihat masih menyisakan beberapa makanan yang belum terbuang.


Dari kejauhan Zenira melihat mertuanya itu sesekali mengusap air matanya yang jatuh tidak terbendung, karena tidak menduga akan semua yang dilakukan Tyra.


"Sudah Mami. Jangan bersedih." ucap Rei menghibur Adelia sambil menyodorkan tisu ke arah Maminya itu.


"Entah apa lagi yang akan terjadi di rumah ini?" gumam Adelia sambil mengusap air matanya.


Dret..drett..drettt..


Ponsel Rei berbunyi, ia bergegas mengangkatnya.


"Rei, Tyra keracunan." kata Pak Suryo pihak kepolisian, dari seberang telpon genggamnya.


"Apa?" pekik Rei tidak percaya dan sambungan telpon pun berakhir.


"Ada apa?" tanya Adelia yang melihat Rei sangat kaget.


"Tyra keracunan, Mi. Pak Suryo mengatakan kalau Tyra keracunan dan saat ini sedang di larikan ke rumah sakit." jawab Rei gugup.


Tentu kabar ini sangat mengagetkan bagi Adelia yang baru saja mengetahui niat jahat dari Tyra.


"Apalagi ini?" pekik Adelia berusaha duduk di kursi yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.


"Ada apa lagi, Rei?" tanya Zenira tergesa berjalan menghampiri suaminya karena ia mendengar teriakkan Rei.


"Baru saja Pak Suryo memberitahu, Tyra keracunan dan sekarang berada di rumah sakit." jawab Rei menjelaskan menghembuskan napasnya berusaha tenang.


"Rei, kamu harus segera ke rumah sakit yang telah di informasikan pihak kepolisian, sekarang!" perintah Zenira memberikan saran.


"Zenira kamu tidak usah ikut, temani Mami di rumah." ucap Rei bergegas pergi dan meminta Zenira untuk menjaga Maminya yang terlihat kurang sehat.


"Pergilah, aku akan menjaga Mami." ucap Zenira mencoba menyakinkan Rei.


"Baiklah aku akan segera pergi ke rumah sakit sekarang." pamit Rei bergegas meninggalkan rumah kediaman orang tuanya.


Wajah Tyra sangat pucat dengan jarum infus yang menempel di tangan kirinya, ia masih belum bisa banyak bicara. Namun dokter memastikan kondisi Tyra saat ini masih dalam keadaan baik.


Rei kemudian menghubungi Zenira untuk memberitahu kondisi adiknya itu dan memencet tombol merah di ponsel genggamannya.


"Halo." sapa Zenira yang langsung mengangkat panggilan telponnya.


"Zenira, kondisi Tyra sudah membaik." kata Rei bernapas lega.


"Syukurlah, Rei!" balas Zenira tersenyum.


"Tapi Papi jangan di beritahu dulu, Tyra masuk rumah sakit. Aku khawatir Papi akan sangat sedih atas kejadian ini." kata Rei meminta dari seberang telpon genggamnya.


"Baiklah, Rei. Aku setuju." balas Zenira mengangguk dan panggilan telpon pun terputus.


Zenira berjalan melangkahkan kakinya menghampiri Adelia untuk memberitahu kabar kondisi Tyra.


"Bagaimana kondisi Tyra?" tanya Adelia yang melihat Zenira menjatuhkan bokongnya duduk di sampingnya.


"Rei sudah di rumah sakit, kondisi Tyra baik Mi!" jawab Zenira mencoba membuat Maminya tenang.


"Syukurlah, apapun yang terjadi tetap harus di syukuri." ucap Adelia tersenyum.


"Iya Mami sebentar lagi kondisi Tyra pasti sudah sadarkan diri." bisik Zenira menggenggam tangan mertuanya itu memberi kekuatan.


Baru saja lega dengan kondisi Tyra. Rei kembali menghubungi Zenira dengan nada bicara yang berbeda.


"Zenira Tyra meninggal." kata Rei sambil menahan tangis di balik telpon genggamnya.


"Apa? Tyra meninggal?" tanya Zenira tidak percaya mengulang pernyataan Rei.


Adelia yang mendengar kabar Tyra meninggal dunia, menangis sejadi-jadinya.


Tyra, oh Tuhan!" teriak Adelia dengan histeris.


Ramon yang mendengar teriakkan Adelia di dapur menghampirinya. Ia juga belum tahu apa yang sebenarnya terjadi, sampai akhirnya Zenira sambil berbisik memberitahu Ramon tentang kondisi Tyra di rumah sakit.


"Ya Tuhan, tadi ia masih di sini. Tyra masih sehat, kenapa sekarang kalian berkata putriku sudah tiada?" tanya Ramon menangis terisak tidak percaya akan kabar duka ini.


Zenira meminta Rei segera mengabarkan kondisi terbaru Tyra karena kedua orang tuanya sudah sangat cemas.


Sore hari, Tyra di pulangkan dengan kondisi di peti. Menurut tim dokter yang menanganinya. Tubuh Tyra mengalami pembusukan yang cepat dan mereka khawatir jasadnya akan menimbulkan bau busuk yang berbahaya bagi siapa saja yang menciumnya.


Rei mendampingi peti jenazah Tyra hingga tiba di rumah dan meminta Papi dan Maminya segera mempersiapkan pemakaman untuk Tyra hari ini juga.


Mami yang paham maksud Rei segera menghubungi pihak pemakaman untuk mempersiapkan penguburan Tyra.


Ramon hanya diam melihat jasad Tyra yang sudah terbaring di dalam peti berwarna putih yang di letakkan di ruang tengah rumah mewahnya. Ramon terlihat masih tidak percaya putrinya itu kini telah terbujur kaku.


"Baiklah, pihak pemakaman sedang mempersiapkan liang lahat untuk Tyra. Setelah siap kita akan memakamkan Tyra hari ini juga sesuai saran dari pihak dokter!" ucap Adelia menjelaskan agar Ramon tidak terus memandang sedih pada peti Tyra.


Ramon menarik napas panjangnya dan kembali tersenyum. Ia terlihat sudah merelakan Tyra, putrinya agar Tyra bisa beristirahat dengan tenang.


"Papi, makanlah kue-kue ini. Papi belum makan sejak siang tadi." ucap Zenira menyodorkan piring yang berisi kue kesukaan mertuanya itu.


Ramon tersenyum, ia merasa kehadiran Zenira memang untuk menggantikan posisi Tyra yang kini telah tiada.


Tangan Ramon mengambil salah satu kue yang di tawarkan Zenira kemudian mulai memakannya.


"Nak, terima kasih kamu sudah mau menemani kami. Entah apa jadinya jika tidak ada kamu saat ini di rumahku yang megah tapi tidak bernyawa ini." ucap Ramon sambil mengusap air matanya yang perlahan jatuh di pipinya.


Zenira menghapus air mata itu dengan kedua tangannya sambil meminta pada Ramon untuk tabah menghadapi semua ini.