TAKDIR CINTA SANG PEWARIS

TAKDIR CINTA SANG PEWARIS
BAB 45 - Teledor


Zenira tak menjawab baginya perkataan Rei ini seperti pedang bermata dua, bisa berbahaya jika tidak di jawab tapi lebih berbahaya jika di jawab.


"Kenapa kamu diam saja, kamu tak suka membantuku di cafe?" Tanya Rei dengan senyuman.


"Jangan begitu, aku sangat senang kamu menerima bantuanku, apalagi sekarang aku sudah resign dari pekerjaanku, jadi lebih baik aku membantumu dari pada cuma bengong di rumah!"


Rei jadi ingat, memang karena jadi istrinya Zenira harus mengorbankan segalanya termasuk cita-citanya yang ingin sekali lanjut ke karirnya.


"Bagaimana kalau kamu bekerja saja?" Ucap Rei berusaha membangkitkan semangat istrinya.


"Sudahlah, tak usah. Kalau aku bekerja nanti malah susah bagi waktunya sama halnya kalau aku bekerja yang jaraknya jauh lagi!" Ujar Zenira memberi penjelasan.


Rei terdiam, sebenarnya memang akan sangat repot baginya jika Zenira harus bekerja lagi, karena sebagian besar pekerjaan di cafe ini sudah dia kuasai tapi kalau ingat gara-gara dia Zenira jadi tak melanjutkan karirnya dia jadi sedih juga.


"Kamu yakin tak mau bekerja lagi?" Tanya Rei menyakinkan istrinya.


"Sudahlah, tak usah. Aku sudah cukup jadi istrimu saja!" Ucap Zenira dengan senyuman khasnya.


"Syukurlah, kalau begitu, jadi kita nggak usah nambah biaya ongkos transportasimu." Gumam Rei yang terdengar oleh Zenira.


"Ih, kok ngomong gitu?" Ujar Zenira sambil memukul mesra suaminya itu.


Rei tertawa, dia memang senang sekali menggoda istrinya ini.


"Pak, ada tamu?" Panggil karyawan cafe kepada Rei.


Rei langsung melotot, dia takut yang datang kali ini adalah orang yang tidak di inginkannya.


"Siapa?" Tanya Rei melangkah bergegas keluar.


Saat melihat Zenira ikut berdiri Rei langsung meminta istrinya itu duduk saja di kursinya.


"Jangan ikut, biar aku saja!" Tegas Rei.


Zenira menurut, dia kembali duduk dan tak ingin tau siapa tamu yang datang siang itu.


"Hai, Rei!" Sapa tamu Rei yang di sambut Rei dengan pelukan.


Melihat suaminya begitu senang akan kehadiran temannya itu, Zenira menghampiri Cleo, karyawan yang sudah lama bekerja dengan suaminya bahkan sebelum cafe ini berdiri.


Cleo tampak menggelengkan kepalanya.


"Masa kamu tak kenal?" Tanya Zenira semakin penasaran.


"Nggak tau saya, Bu!" Tegas Cleo.


Rei kemudian mempersilahkan temannya itu duduk di sudut cafe jauh dari tempat Zenira berada, Zenira yang melihat Rei seperti menyembunyikan sesuatu darinya. Kemudian memasang wajah kesal tak berkesudahan.


"Cleo siapkan minum untuk Abeng tamuku!" Perintah Rei kepada Cleo yang sejak tadi berdiri di samping Zenira.


"Abeng, sepertinya aku pernah dengar nama itu!" Gumam Zenira sambil mengingat-ingat nama yang baru saja di ucapkan oleh Rei.


"Ah, aku ingat. Kapan waktu Papi pernah bercerita tentang, Abeng. Dialah anak Pak Suryo, polisi kenalan Rei yang sekarang telah menjadi Intel.


Setelah mengingat tentang Abeng, Zenira kembali ke kantor tempat biasanya Rei bekerja, dia tak mau terlalu ikut campur akan apa yang sedang di pikirkan Rei karena dia tak mau akhirnya Rei menjadi tak nyaman dengan keberadaannya di cafe itu.


"Baiklah, terima kasih atas informasimu!" Ucap Rei sebelum akhirnya Abeng meninggalkannya di cafenya.


"Dia itu siapa?" Tanya Zenira mencoba memastikan!"


"Itu Abeng anaknya pak Suryo. Dia ingin memberikan informasi terbaru soal Albert katanya Albert sudah tak tinggal lagi di Jakarta, kemungkinan dia pindah ke luar negeri!" Tutur Rei dengan wajah serius.


"Oh, syukurlah." Jawab Zenira sambil berjalan menuju dispenser membuat kopi instan favoritnya.


"Jangan banyak-banyak kalau ngopi, walau instan tetap saja itu kopi!" Ujar Rei memberi pengertian kepada Zenira.


Zenira tersenyum, entah mengapa belakangan ini dia jadi sering sekali minum kopi, atau mungkin ini karena dia bekerja di cafe kopi jadi dia ingin minum kopi terus.


Zenira tersenyum kemudian berjanji tak akan minum kopi banyak-banyak.


"Rei, apa tadi laporan Abeng cuma tentang, Albert. Sepertinya kalian berbincang cukup lama!" Lanjut Zenira yang masih saja penasaran.


"Nggak ada cuma ngomongin, Albert aja!" Tegas Rei yang melihat Zenira mulai khawatir.


"Mas, Rei!" Teriak Tora yang baru saja sampai di cafe.


"Tora, ada apa?" Tanya Rei sambil keluar dari kantornya dengan wajah sangat cemas."


"Mas Rei, Gawat!"


Zenira yang melihat Tora begitu cemas lalu keluar dari kantor Rei dan mendekati Tora.


"Rumah mas Rei, kemalingan!"


Mendengar perkataan Tora itu Rei langsung melotot, dia memang sudah hampir empat bulan ini tak menjenguk rumahnya karena dia lebih nyaman tinggal di rumah orang tuanya.


"Bagaimana ceritanya?" Tanya Zenira dengan sangat panik.


"Tadi saya mengantar Bi Emi pulang. Pas saya buka pintu kok seperti ada orang berlari di samping rumah. Lalu Bi Emi berteriak karena brankas, mas Rei yang di letakkan di ruang kerja raib!" Tutur Tora dengan sangat kebingungan.


Rei meminta Zenira membuatkan minuman untuk Tora dan bergegas menghubungi polisi untuk mengusut rumahnya yang kerampokan.


Sambil menunggu polisi bergerak ke rumahnya, Zenira dan Rei mengajak Tora untuk melihat lebih dekat tempat kejadian perkara.


Tiba di rumahnya, Bi Emi nampak masih sangat panik di ruang tengah rumah mewah itu.


"Yang hilang apa?" Tanya Rei yang baru datang itu.


"Hanya brankas, mas Rei."


"Tak apa brankas itu isinya tak seberapa, yang penting kita semua selamat. Memang aku sangat teledor meninggalkan rumah ini kosong sangat lama. Mungkin mereka sudah mengincar rumahku ini!" Ujar Rei sambil membuka pintu beberapa ruangan yang sudah lama sekali tidak dia sambangi.


"Rei!" Terdengar Mami memanggil sambil tergesa masuk ke rumah.


"Bagaimana, Nak. Apa saja yang hilang?" Tanya Ramon yang juga ikut bersama Adelia menyambangi rumah Rei.


"Hanya brankas saja, nggak ada yang lain. Sepertinya pas dia masuk bersamaan dengan Tora membuka pintu jadi cuma itu yang diambil!" Ujar Rei menjelaskan.


Tak lama setelah Adelia dan Ramon tiba di rumah Rei, petugas kepolisian berdatangan dan mulai mencari barang bukti yang mungkin tertinggal di rumah Rei.


Setelah mengelilingi rumah untuk mencari petunjuk akhirnya petugas menyimpulkan perampokan ini dilakukan oleh orang yang mengenal lokasi rumah Rei dan kemungkinan besar pernah masuk ke rumah ini.


"Siapa?" Gumam Rei sambil berjalan mondar mandir mengingat-ingat siapa saja yang tau Rei meletakkan brankas di ruang kerjanya.


~To be continue...



Jangan lupa Like, Vote dan Komen ya Guys❤️



Jangan lupa pencet Tombol Favorit nya😘



Dukungan dan support dari kalian sangat berarti bagi Author😊



Terima kasih semuanya😍😍😍