
"Jadi bagusnya Tyra kita beri hukuman apa?" tanya Rei mencoba bertukar pikiran dengan Maminya.
Adelia tidak menjawab, ia lebih memilih berjalan menuju dapur dan mencari camilan yang sekiranya dapat merubah moodnya yang berantakan ini.
"Kenapa Mami malah pergi!" ucap Rei menegur kesal.
"Terus Mami harus bagaimana, Rei kalau Mami lapar." ucap Adelia yang mulai memotong buah pear yang ia dapatkan dari dalam kulkasnya langsung memakannya.
"Ya sudah, Mami makan dulu saja. Setelah itu kita bicara lagi." ucap Rei berjalan melangkah menghampiri Maminya, kemudian memeluk erat Maminya itu.
Adelia terlihat senang dengan pelukan Rei. Ia membalas pelukan Rei dengan ciuman kecil di dahi putranya sambil tersenyum.
"Coba kamu seperti ini sejak dulu, Mami dan Papi pasti tidak perlu susah-susah memintamu menikah!" ucap Adelia mengacak rambut putranya.
"Kalau tidak di paksa menikah mana mungkin aku jadi seperti ini." jawab Rei menatap ke arah Zenira.
Zenira hanya tersenyum membalas tatapan suaminya yang semakin hari semakin manis saja.
Zenira kemudian ikut masuk ke dapur dan mulai berbincang dengan suami dan mertuanya itu. Saat mereka sedang asik berbincang tiba-tiba.
Braak..
Terdengar sesuatu jatuh dengan keras, Rei dan Adelia saling berpandangan dan bergegas menuju asal suara itu.
"Papi!" teriak Tyra terdengar mengiringi suara itu.
"Papi." gumam Rei sambil mempercepat jalannya dan bergegas berjalan menuju kamar Ramon.
Betapa kagetnya mereka ketika membuka pintu kamar Ramon, mereka melihat pengusaha paruh baya itu sedang berbaring di lantai sambil menahan sakit di kakinya.
"Cepat panggil dokter!" teriak Rei panik.
Ramon masih saja mengerang kesakitan dan tidak ada yang tahu mengapa ia sampai terjatuh dari tempat tidurnya.
Semua mata mengarah pada Tyra yang tadi memang mengantarkan Ramon ke kamarnya.
"Jangan menatapku seolah ini salahku, aku tadi sedang di kamarku!" ucap Tyra membela diri.
"Benar, mas Rei. Tadi saya lihat, non Tyra memang masuk ke kamarnya!" ucap Tora menceritakan apa yang ia lihat.
"Ya sudah, sekarang kita tunggu dokter saja." ucap Rei sambil membaringkan tubuh Ramon di atas tempat tidur.
Tidak lama kemudian dokter datang di rumah, dokter pun bergegas menuju kamar Ramon yang terletak di lantai satu rumah mewah ini.
Setelah pemeriksaan tekanan darah dan gula darah. Dokter keluarga Ramon mengatakan kondisi pengusaha paruh baya itu memang sedang drop sehingga terjatuh dari tempat tidurnya.
"Tadi Papi mau ambil air di dispenser itu." jawab Ramon dengan suara lirih sambil mengangkat tangannya menunjuk ke dispenser yang ada di dalam kamarnya.
"Papi kalau mau apa-apa panggil pelayan saja!" ucap Rei mengusap dahi Papinya yang terlihat berkeringat.
Melihat Papinya ini, Rei meminta ijin pada Zenira untuk menginap di rumah ini beberapa hari ke depan, karena khawatir kejadian jatuhnya Papinya terulang kembali.
Tentu Zenira mengijinkan suaminya itu menginap di rumah orang tuanya. Lagi pula beberapa hari ini mereka merasa rumah mereka sangat sepi.
"Baguslah jika kalian mau tinggal di rumah ini. Mami sangat senang, bukan begitu Papi." ucap Adelia menghibur suaminya.
Ramon yang mendengar rencana, Rei untuk menginap jadi ikut senang. Memang mereka jarang sekali bersama sehingga membuatnya sangat jenuh.
"Biar aku meminta pada sopir untuk membawa bajuku dan Zenira." ucap Rei bergegas mengirim pesan singkat pada sopirnya.
Benar saja pelayan sudah menyiapkan makanan spesial untuk mereka semua, berupa ayam panggang betutu serta lalapan dan es campur rumput laut kesukaan Rei.
Untuk cemilan setelah makan, Mami meminta pelayan untuk mempersiapkan kue pie buah kesukaan Tyra yang terlihat sangat nikmat di makan di siang hari yang terik ini.
Seluruh anggota keluarga berjalan bersama menuju ruang makan dan Ramon diantar menggunakan kursi roda yang sudah di persiapkan oleh Rei.
Setiba di ruang makan mereka terlihat sudah melupakan semua kejadian tidak menyenangkan yang terjadi hari ini di rumah mewah ini.
Ramon sangat senang semua terlihat makan dengan lahap dan berharap anak-anaknya bisa selalu akur seperti hari ini.
"Kamu senang ya, kalau anakmu kumpul begini?" ucap Adelia memandang dengan senyum sumringah ke arah Ramon.
Zenira menyajikan puding untuk Papi dan Mami mertuanya, selama menyajikan dessert mungil ini. Adelia terus memandang menantunya yang cantik ini.
"Terima kasih Zenira. Semoga kamu selalu sehat, Nak." Doa Ramon untuk Zenira yang di balasnya dengan kata amin, dan senyuman manis.
Setelah acara makan siang, seluruh anggota keluarga memilih menghabiskan siang ini di kamar mereka masing-masing.
Rei dan Zenira masuk ke kamar untuk sekedar beristirahat siang, sedang Tyra memilih menghabiskan waktunya di taman belakang sambil sibuk dengan ponselnya.
Rei yang dapat memandangi adiknya yang berada di taman belakang dari kamarnya, ia mulai menaruh curiga adiknya itu sedang berbincang dengan seseorang untuk merencanakan sesuatu yang jahat.
"Hei, jangan begitu sama adikmu. Bisa saja ia ingin mempersiapkan sesuatu yang lain." tegur Zenira yang kesal mendengar perkataan buruk Rei tentang Tyra.
"Aku yakin sekali, ia masih ada hubungan dengan Albert." bisik Rei ketus.
"Kamu ini, jangan begitu. Adikmu bisa saja berubah, seperti kamu." ucap Zenira bercanda membuat Rei semakin gemas.
"Sudahlah, aku lelah mengawasinya terus. Aku mau tidur saja." ucap Rei berjalan melangkah menuju tempat tidurnya, dan mulai merebahkan tubuhnya. Sedangkan Zenira yang sibuk menonton TV terlihat cuek pada Rei.
Dret..drett...drettt..
Ponsel Rei berdering, Rei yang tadinya mulai mengantuk bangkit berdiri dari tempat tidurnya dan mengambil ponselnya yang masih saja berdering.
"Siapa?" tanya Zenira singkat saat melihat wajah Rei mengeryitkan dahinya.
"Entahlah." jawab Rei sambil mengangkat panggilan telponnya.
"Jangan kamu pikir kamu sudah menang Rei. Aku akan membuat adikmu mengulangi kesalahan yang sama." ucap penelpon Rei dengan nada mengancam.
Rei terdiam sesaat, lalu ia melangkah berjalan menuju jendela tempat ia tadi mengawasi Tyra.
Adiknya itu masih di sana dan masih memainkan ponselnya.
Zenira yang melihat Rei sangat cemas berjalan melangkah menuju jendela dan ikut mengintip gerak-gerik Tyra dari jendela itu.
"Kenapa lagi, Tyra?" bisik Zenira penasaran.
Rei tersenyum, ia menceritakan apa yang dikatakan penelpon gelap itu.
"Sepertinya ini hanya ancaman." bisik Rei mencoba menenangkan istrinya itu.
"Aku tidak yakin." jawab Zenira sambil memandang wajah Rei dengan serius.
Rei kemudian turun dari kamarnya menuju garasi tempat biasanya Tora menunggu, putra pertama Ramon itu kemudian meminta Tora melakukan sesuatu untuknya.