TAKDIR CINTA SANG PEWARIS

TAKDIR CINTA SANG PEWARIS
BAB 48 - Yang Baru


Tugas pertama Sopiah adalah membersihkan perabot dapur dan semua piring yang lama tak terpakai.


"Bagus, seperti itu. Lakukan secara bertahap saja. Jika kamu lelah kamu boleh beristirahat terlebih dahulu!" Bimbing Tora kepada Sopiah.


Sopiah menurut dan terus membersihkan semua piring di depannya dan karena dia sudah sangat mahir semua dapat di kerjakan secara cepat dan baik.


Tora nampak puas dengan hasil kerja Sopiah, dia lalu mengajak Sopiah menuju ruang cuci baju untuk memperagakan cara mencuci baju yang baik.


Setelah beberapa kali mencoba akhirnya Sopiah nampak sudah mahir saja mengoperasikan semua peralatan di ruangan itu.


"Nah, yang ini setrikaan uap. Begini cara kerjanya!" Ujar Tora sambil memperagakan cara menyetrika baju yang benar.


Sopiah awalnya tak bisa namun setelah beberapa kali mencoba akhirnya dia mahir juga.


Melihat hasil kerja Sopiah yang baik, Tora bergegas menuju tempat Zenira berada dan memberikan penilaiannya untuk Sopiah.


"Bagus kalau begitu, jadi sekarang kita bisa mempekerjakannya!" Ujar Zenira sambil mengecek hasil kerja Sopiah di dapur.


Tora mengangguk. "Semoga saja dia betah!" Gumam Tora dengan penuh harap.


Karena Sopiah sudah dianggap mahir Tora meninggalkannya di rumah Rei dan dia kembali ke rumah Ramon.


Hari pertama ini Sopiah sudah siap memasakkan masak siang untuk Rei dan Zenira.


Selama memasak Sopiah nampak terus melempar pandang ke arah Rei, Zenira yang tak nyaman berjalan menghampiri Sopiah.


"Kenapa kamu terus menatap, suamiku?" Tanya Zenira dengan nada tinggi.


"Maaf, Nyonya. Saya tidak bermaksud apa-apa!" Ujar Sopiah dengan sangat menyesal.


"Kamu ini kenapa sih, dia cuma memandangku sesaat saja!" Ucap Rei menenangkan Zenira.


Zenira kembali ke kursinya dan melanjutkan makan siangnya.


"Jangan begitu, kasian. Mungkin dia hanya tak sengaja saja!" Ujar Rei sambil mengelus lembut rambut Zenira.


Zenira mengangguk membenarkan apa yang dikatakan suaminya itu.


Makan siang pun berakhir. Zenira berjalan menuju taman belakang rumahnya untuk sekedar menghilangkan penat.


Saat dia sedang duduk tiba-tiba Zenira mendengar Sopiah sedang berbincang dengan seseorang via sambungan telepon.


"Aku rasa dia itu Rei yang menghamilimu, Rika!" Kata Sopiah pada temannya dari balik telepon genggamnya.


Sontak Zenira kaget mendengarnya, dia tak menyangka jika ada saja masalah dari masa lalu Rei yang menghampirinya.


Zenira berjalan menghampiri Sopiah yang masih sibuk dengan sambungan teleponnya.


"Apa yang kamu bilang tadi!" Seru Zenira yang membuat Sopiah kaget.


Sopiah langsung menutup sambungan teleponnya itu dan mengatur napas untuk mulai bercerita kepada Zenira.


"Jelaskan apa yang kamu bicarakan tadi!" Zenira nampak semakin marah.


Sopiah tak menjawab dia terus saja diam sampai akhirnya Rei datang karena mendengar Zenira terus saja berteriak.


"Ada apa ini?" Tanya Rei kebingungan.


"Tadi aku dengar dia menghubungi temannya via sambungan telepon dan berkata kamu adalah orang yang menghamili temannya!" Ujar Zenira sambil menghapus air matanya yang sudah tak dapat dia tahan lagi.


"Hah, siapa? Aku tak tau apa yang kamu maksud!" Ujar Rei.


"Rika?" Ujar Rei seperti mengingat seseorang dari masa lalunya.


"Jangan bilang kamu kenal wanita itu, Rei!" Ucap Zenira dengan sangat marah.


Rei terdiam, dia mengajak Zenira masuk kamar karena dia tau maksud Sopiah ingin melihat mereka bertengkar.


"Sepertinya dia benar soal, Rika!" Ucap Rei dengan sangat menyesal.


"Apa?" Zenira terkejut dan nampak mulai menangis kembali.


"Maafkan aku, saat itu aku masih sangat remaja dan tak bisa mengontrol gairahku!"


Mendengar perkataan Rei itu Zenira tertunduk dan sangat sedih, dia tak menyangka setelah dia berusaha menerima Rei dengan semua perubahannya ada saja masalah yang menghampirinya dan sangat menyakiti hatinya.


Zenira yang tak bisa berkata-kata meminta Rei meninggalkannya sendirian di kamar, sedang Rei nampak menghubungi Tora untuk menceritakan apa yang baru saja terjadi di rumahnya.


"Jadi dia masih ada hubungannya dengan, Rika!" Bisik Tora saat tiba di rumah Rei.


"Memangnya kamu ketemu dia di mana?" Tanya Rei dengan nada lemah.


"Dia itu tetanggaku di desa, mas Rei tapi aku tak tau jika ada hubungannya dengan, Rika!"


"Ya sudah, tak apa. Aku juga sebenarnya sudah lupa tentang, Rika. Jika kini ada yang mengungkitnya tentu itu bukan salah Sopiah." Tutur Rei dengan wajah menunduk.


Tora mencoba bertanya kepada Sopiah apa benar Rika yang di maksud adalah Rika yang dia kenal. Memang Tora juga mengenal Rika yang kebetulan masuk sebelum Tora bekerja.


"Benar, kak. Pas kakak nyari asisten saya tau dari, Rika. Jadi dia meminta saya mendaftar!" Lanjut Sopiah.


Tora membuang napas panjangnya, dia tak menyangka jika orang yang di bawanya hari ini justru membuat masalah di rumah Rei yang sebenarnya sudah jauh lebih baik.


"Tapi saya jangan di pecat ya, kak. Saya sedang butuh uang banget!" Pinta Sopiah dengan penuh harap.


Tora berkata dia tak akan memecat Sopiah selama pekerjaannya beres dan dia tak lagi mengungkit-ungkit masalah Rika lagi di rumah ini. Sopiah yang memang butuh uang berjanji tak akan mengungkit lagi masalah yang telah lama di simpan oleh Rika dan keluarganya di kampung.


"Kalau boleh tau bagaimana kabar Rika sekarang?" Tanya Tora dengan bijak.


"Saat ini kak Rika, sudah menikah dan tinggal dengan suaminya yang juragan sembako!" Jawab Sopiah dengan senyum.


Mendengar kabar itu tentu Rika tak akan mengungkit masa lalunya, tentu itu hanya harapan Tora karena bagaimanapun semua bisa saja terjadi.


"Bagaimana?" Tanya Rei yang sudah sejak tadi menunggu hasil introgasi Tora pada Sopiah.


"Katanya Rika sudah menikah. Semoga saja karena ini tidak akan mengungkit masa lalu, mas Rei!"


Rei nampak begitu senang dengan kabar yang di sampaikan Tora ini, dia memang dulu tak sanggup melihat tubuh Rika yang molek sehingga tak dapat menahan diri dan semuanya terjadi.


"Kamu tanya kabar anaknya?" Tanya Rei yang masih saja nampak penasaran.


"Ah, iya. Nanti lah aku tanyakan lagi!" Ujar Tora yang harus segera kembali ke rumah kediaman Ramon karena pekerjaannya yang masih menumpuk di sana.


Tora pamit kepada Rei dan bergegas pulang dengan mengendarai sepeda motornya.


Happy Reading 😘


Tbc


Jangan lupa Like, Vote, Komen dan subscribe ya guys..😍πŸ₯°