
"Jaga Rei, ya!" Bisik Adelia kepada Zenira yang masih asyik makan dengan usus goreng yang di pesannya.
Zenira mengangguk meski ini tugas sulit tapi dia berjanji kepada mertuanya untuk terus menjaga Rei sang Tuan Muda dari keluarga Ramon. Rei hanya bisa tersenyum saat Maminya mengatakan itu kepada Zenira dan tentunya dia berharap mereka akan selalu rukun.
\*\*\*\*\*
Keesokan harinya.
Zenira kini sudah mahir menyetir mobil dan sering jalan-jalan dengan ibu mertuanya, awalnya Rei senang saja istrinya memiliki aktivitas di luar rumah seperti ini, namun lama-kelamaan dia kesal juga Zenira lebih senang jalan-jalan dari pada mengurus rumah.
"Dari mana?" Tanya Rei tegas saat Zenira baru pulang di sore hari.
"Aku tadi dengan Mamimu, Rei. Kenapa?" Jawab Zenira dengan merendahkan suaranya.
"Aku lihat kamu lebih banyak jalan-jalan dari pada di rumah. Mulai besok kamu jangan pergi-pergi lagi, ya. Setiap aku pulang kerja kamu pasti belum pulang!" Ujar Rei kesal.
Melihat Rei begitu kesal, Zenira meminta maaf kepada Rei, dia sadar dia salah dan berjanji akan memperbaiki diri.
Tapi meski Zenira sudah meminta maaf Rei masih saja nampak kesal pada Zenira.
"Iya, besok aku akan di rumah. Sudah jangan marah!" Rengek Zenira sambil terus meminta maaf kepada Rei.
"Benar, ya!" Ujar Rei meminta Zenira bersungguh-sungguh.
Zenira mengangguk dan mencari-cari resep yang bisa dia masak untuk keesokan hari agar dia tak bosan di rumah sendirian.
"Kalau kamu mau kita bisa ke cafe lagi seperti dulu, kan enak jadi nggak bosan di rumah terus!" Saran Rei saat amarahnya sudah mulai mereda.
Zenira mengangguk itu ide yang lebih baik dari pada dia diam di rumah saja dan ujung-ujungnya membuat Rei kesal lagi karena sering memasang wajah bosan.
Setelah semua masalah di rasa sudah beres, Rei bergegas mandi dan melanjutkan dengan berendam di air hangat.
Mandi air hangat seperti ini memang membuat tubuhnya lebih bugar dan tak lagi gampang marah. Zenira yang melihat Rei sedang berendam berjalan menghampiri Rei.
"Ada apa?" Tanya Rei saat tubuhnya masih di dalam bathtube dan masih polos.
Bukannya pergi Zenira malah menggoda Rei dengan kata-kata manjanya.
Tentu Rei jadi tertawa terbahak melihat istrinya itu, Rei kemudian menarik Zenira ke dalam bathtube yang membuat istrinya itu basah kuyup.
"Ah, Rei!" Ujar Zenira tertawa melihat dirinya yang basah kuyup.
"Salah siapa? Orang aku lagi mandi di gangguin!" Ujar Rei membela diri.
Mereka saling memeluk menikmati masa bersama itu, Rei yang melihat Zenira begitu cantik di saat tubuhnya basah.
"Sudah?" Tanya Zenira sambil menggoda Rei.
Maunya gimana?" Tanya Rei yang tubuhnya masih di bawah tubuh Zenira.
Zenira langsung bangkit justru memasang posisi menantang, Rei yang paham maksud istrinya itu segera bangkit berdiri dan mengejar Zenira yang masih basah kuyup dan mendarat di atas kasur.
"Mmmm, Rei. Udah jangan ragu!" Ajak Zenira dengan suara menggoda.
Rei yang masih tanpa sehelai benangpun langsung menindih Zenira dan meletakkan pedang panjangnya masuk ke gua milik Zenira.
Zenira bukannya mengelak dia justru memberi posisi enak untuk Rei dan malam indah itu kembali terjadi.
"Lagi!" Rintih Zenira yang kini berada di posisi terbaiknya.
Tak mau menyia-nyiakan posisi inti Rei terus bergerak agar mereka berdua segera sampai ke puncak kenikmatan dan benar saja tak lama kemudian mereka berdua pun merintih bersama.
"Oh, sajianmu nikmat sekali, Zenira!" Ujar Rei yang menindih tubuh Zenira.
\*\*\*\*\*
Keesokan harinya.
Rei nampak senang dengan semangat Zenira ini, tak lama kemudian istrinya ini sudah rapi dan terlihat sangat cantik dengan dandanan sederhana dan siap di meja makan.
"Kalau kamu kelelahan mending kamu tak ikut saja!" Ujar Rei sambil mengambil telur dadar di meja makan dan menaruh di piring makannya.
"Aku ikut, aku kan sudah janji!" Ujar Zenira menyakinkan suaminya.
"Ya sudah kalau kamu memaksa!" Ujar Rei lagi.
Mereka pergi bergegas menuju cafe dan tiga puluh menit kemudian mereka sudah sampai cafe dan bersiap untuk membuka cafe sebelum karyawan mereka tiba.
"Semoga hari ini ramai!" Bisik Zenira memasuki cafe.
"Benar saja, hari ini cafe sangat ramai dan membuat Rei sangat senang.
Rei berkata kepada Zenira jika baru kali ini cafe ramai setelah beberapa hari ini sepi, dan Rei berterima kasih kepada istrinya itu.
"Besok kamu datang lagi ya, pasti aku senang jika cafe selalu ramai seperti ini!" Ujar Rei dengan penuh semangat.
"Kamu harus semangat, ya!" Ujar Zenira memberi semangat kepada Rei.
Rei mengangguk dan kembali melayani para pembeli yang paling sedikit membeli lima belas kilo kopi.
"Pak, stok mulai menipis. Kita harus memesan kembali kopi terbaik!" Lapor karyawan Rei yang baru saja pulang dari gudang penyimpanannya.
"Baguslah, kita pesan yang banyak mumpung gudang mulai kosong!" Jawab Rei senang.
Belum sempat barang di kirim datang lagi langganan Rei yang memesan dua dus besar kopi dengan kualitas kopi terbaik dan harga yang tinggi. Mereka selalu saja memesan kopi tanpa menawar karena mereka tau kualitas kopi Rei yang di nilai paling baik di Jakarta saat ini.
"Sudah, pak. Saya sudah pesankan sesuai permintaan!" Lapor karyawan Rei saat semua pesanannya dalam perjalanan menuju cafe kopinya.
Tak membutuhkan waktu lama kopi pesanan Rei akhirnya datang, Rei mengecek setiap dus yang berisi kopi yang datang dan memastikan setiap kopi pesanannya.
Baru saja kopinya dinyatakan sesuai orderan, Bram datang dan memesan semua kopi yang masih berada di dalam truk itu.
"Kamu mau pesan semuanya?" Tanya Rei dengan wajah sangat kaget.
"Iya, aku bayar tunai, lihat ini!" Ujar Bram sambil memperlihatkan tas berisi uang yang di bawanya.
"Wah terima kasih, aku tak menyangka kamu mau membeli semuanya, memangnya kamu sekarang membuka coffee shop juga?" Tanya Rei.
Bram mengatakan jika kini seorang putranya membuka kedai kopi di kampusnya dan terbilang sangat laku.
"Oh kamu tak pernah cerita masih mempunyai anak yang masih kuliah!" Ujar Rei senang karena semua kopi miliknya di borong Bram.
"Ada, anakku kan banyak, masa mau aku ceritakan semuanya!" Ujar Bram tertawa.
Uang pembayaran kemudian di hitung ulang oleh Rei dan setelah semua lengkap, Bram bergegas pergi karena dia harus segera mengirim kopi-kopi yang dia beli kepada putranya.
"Lain kali aku kembali lagi, ya. Siapkan saja kopinya seperti ini!" Ujar Bram yang membuat Rei semakin bersemangat saja dengan pekerjaan yang sedang di gelutinya ini.
"Zenira lihat uang dua puluh juta tunai sudah aku terima, padahal kopinya masih di atas truk dan baru selesai aku cek!" Ujar Rei senang.
Zenira nampak senang dengan penjualan hari ini, tentu jika ini terjadi setiap hari maka mereka akan cepat kaya.
18\+\+
Happy Reading ๐๐
Tbc๐ฅฐ
Don't forget for like, vote and comment ๐ Thank You โค๏ธ๐ค