
Sesampai di kamar hotelnya Zenira baru ingat jika dia belum makan sejak tiba di hotel tadi siang.
"Ya ampun, kamu bilang mau menjaga kesehatanku, kok sekarang justru kamu yang terlambat makan. Duh!" Keluh Rei sambil menarik kereta yang penuh makanan itu kehadapan Zenira.
Zenira yang tak mau membuat Rei menjadi cemas akhirnya memulai makan siangnya yang kesorean, tak mau Zenira menyisakan makannya malam itu, Rei ikut mengambil sepiring mie yang rasanya sangat enak.
"Ayo, makan yang banyak. Kita punya rencana punya anak kan tahun ini!" Goda Rei sambil mengambilkan sepotong ayam goreng yang berukuran besar.
"Mmmm, ini enak. Coba kamu cicipi!" Ucap Zenira menyodorkan sepotong telur dadar ke piring Rei.
Rei tertawa melihat mereka saling memberikan makanan yang mereka nilai enak, malam itu pun penuh canda dan tawa antara Rei dan Zenira.
Tak terasa malam semakin larut dan Zenira kembali mengantuk karena kekeyangan.
Rei memeluk mesra Zenira yang terlihat sangat cantik di dalam kamar mereka yang sedikit redup.
Rei menarik tangan Zenira dan membaringkan istrinya itu di atas kasur dan akhirnya bulan madu kesekian mereka terjadi.
\*\*\*\*
Keesokan paginya.
Dret drett
Ponsel Rei berdering tangan Rei segera menggapai ponsel yang diletakkannya di nakas samping tempat tidurnya.
Rei mengangkat panggilan telepon itu tapi tak ada suara dari sambungan telepon itu.
Tak mau terlalu memikirkan siapa yang meneleponnya, Rei mematikan ponselnya dan kembali tidur.
Menjelang siang Rei dan Zenira baru bangun, mereka tak sedikitpun cemas akan panggilan telepon yang tadi pagi di terima Rei hingga putra dari keluarga Ramon itu menyalakan ponselnya kembali.
Rei membaca pesan singkat yang masuk dari tadi di ponselnya. Dia terperanjak saat Adelia mengatakan Papinya masuk rumah sakit lagi karena tadi pagi terjatuh di kamar mandi.
"Papi!" Teriak Rei begitu tahu kabar dari pesan singkat Maminya.
"Papi kenapa?" Tanya Zenira yang melihat Rei sangat kaget.
"Kita harus pulang Zenira, Papi masuk rumah sakit."
Zenira yang terkejut karena kabar yang diberitahu Rei segera untuk membantu Rei untuk berkemas dan bergegas pulang ke Jakarta.
Namun sebelum mereka pulang Rei kembali menelepon Maminya untuk menanyakan kabar tentang Papinya meskipun dia masih dalam perjalanan pulang.
Rei dan Zenira pulang dengan terburu-buru.
"Jangan terburu-buru ya, kamu juga harus hati-hati!" Pesan Zenira kepada Rei yang tak bersedia menyewa sopir karena dia ingin sekali segera menuju Jakarta hari ini juga.
Perjalanan di mulai siang hari sehingga jalanan belum terlalu ramai oleh kendaraan.
Setelah beberapa saat beristirahat akhirnya Rei dan Zenira sampai di Jakarta dengan selamat.
Saat tiba di rumah kediaman orang tuanya, kondisi rumah sangat sepi tak ada petugas jaga di pintu depan dan ini sangat aneh untuk Rei.
"Ada yang nggak beres!" Gumam Rei.
"Apanya yang nggak beres?" Tanya Zenira sambil turun dari mobilnya.
Rei membuka gerbang rumahnya dan suasananya benar-benar sangat sepi, biasanya jika semua pergi paling tidak petugas penjaga pintu tetap di tempat tapi kali ini tak ada seorang pun di rumah itu.
Keadaan rumah benar-benar sepi dan Rei menelepon Maminya Zenira hanya terdiam saat suaminya nampak serius menghubungi ibu mertuanya, dia berpikir yang tidak-tidak akan kondisi Ramon.
"Bagaimana?" Tanya Zenira saat melihat Rei menutup teleponnya.
"Papi di rawat di rumah sakit, tak ada yang boleh pulang karena Mami sangat khawatir akan kondisi Papi!" Tutur Rei.
"Parah?" Tanya Zenira lagi.
Rei membuang napasnya menggelengkan kepala, dia tak mendapatkan kabar detail kondisi Papinya karena Maminya nampak sangat syok.
"Ya sudah, kita tunggu saja!" Ucap Zenira berjalan menuju dapur untuk mengambilkan suaminya itu minum.
Memang Rei sangat khawatir akan kondisi Papinya terlebih setelah Papinya mengalami serangan jantung beberapa bulan yang lalu.
Saat Zenira sedang menunggu kabar dari ibu mertuanya, Tora turun dari taksi online di depan rumah. Rei segera menghampiri untuk mengetahui kabar Papinya.
"Tuan Ramon tadi jatuh di kamar mandi. Tapi sudah di rawat kok, mas Rei tenang saja." Bisik Tora mencoba menenangkan Rei yang nampak masih saja panik.
"Gini deh, kamu di rumah sama, Zenira. Aku ke rumah sakit sebentar. Ya!" Pinta Rei yang di jawab pelayan setianya itu dengan anggukan.
Tora juga meminta Rei mengusulkan agar BI Emi yang tinggal di rumahnya untuk tinggal di rumah ini saja sebagai teman untuk Zenira kalau-kalau malam hari Zenira membutuhkan cemilan.
Rei setuju dan langsung mengirim pesan singkat kepada Bi Emi seperti saran Tora.
Setelah Bi Emi pelayan di rumah Rei tiba, Rei bergegas menuju rumah sakit tempat Papinya di rawat.
Rei, untung kamu cepat datang!" Seru Mami saat melihat putranya akhirnya datang.
"Ada apa, Mami?" Tanya Rei dengan panik.
"Sejak tadi Papi mengigau mencarimu!" Ucap Adelia menarik tangan Rei menuju kamar rawat inap di mana Ramon terbaring.
"Rei." Bisik Papi dengan begitu lemah.
Papi nampak sangat senang dan membuka matanya.
Rei nampak begitu senang karena Papinya ternyata tak mengalami hal yang membahayakan hanya saja dia tadi kehilangan keseimbangan sehingga terjatuh.
"Papi tak apa-apa?" Tanya Rei memastikan.
Ramon tersenyum dan berkata kalau tadi dia terjatuh, kakinya yang tadinya mati rasa kini justru bisa di gerakkan kembali.
Tentu saja kabar itu sangat menyenangkan untuk Rei. Apalagi kini Papinya bisa bangkit berdiri sendiri dari posisi tidurnya ke posisi duduk.
"Kamu lihatkan Papi justru lebih baik karena jatuh tadi." Ucap Ramon menunjukkan kakinya yang sudah tidak kaku seperti dulu.
"Aku akan memberitahu, Zenira tentang kabar ini. Tadi dia sangat cemas atas kondisi Papi." Ucap Rei melangkah pergi keluar ruang rawat Papinya.
Saat Rei sedang keluar kamar, dokter yang merawat Ramon masuk dan mengabarkan bahwa besok pagi Ramon sudah bisa pulang ke rumah karena kondisinya sudah sangat membaik.
"Syukurlah, aku senang mendengarnya!" Ucap Mami sambil menepuk-nepuk bahu suaminya itu dengan pelan.
"Kalau begitu saya permisi!" Pamit dokter pada Ramon dan Adelia.
"Tadi dokter bilang apa?" Tanya Rei saat masuk ke kamar.
"Dokter bilang Papi sudah boleh pulang besok pagi." Jawab Adelia lega.
Rei tersenyum lebar, entah apa jika Papi sampai mengalami hal buruk di saat Rei justru sedang liburan.
~To be continue..
DON'T FORGET FOR LIKE, COMMENT AND VOTE. THANK YOU..