TAKDIR CINTA SANG PEWARIS

TAKDIR CINTA SANG PEWARIS
BAB 28 - Setelah Kepergian Tyra


"Dulu aku selalu memanjakan anak-anakku, sehingga kini akulah yang harus menanggung derita tiada henti ini. Semoga ini masalah terakhir di rumah ini." ucap Ramon berharap sambil menggeser kursi rodanya dan bergerak menuju tempat duduk Adelia.


Zenira paham betul kepergian Tyra sangat membuat mertuanya ini terpukul, tapi nasi sudah menjadi bubur. Mungkin ini adalah jalan terbaik bagi keluarga ini, menghentikan masalah yang terus dibuat oleh Tyra.


"Zenira kamu sudah makan, Nak!" tanya Adelia saat melihat Zenira tidak bersemangat seperti biasanya.


"Sudah, Mami." jawab Zenira melangkah menjauh dari peti mati Tyra.


"Mami, pemakaman sudah siap. Mari kita pergi sekarang." ucap Rei yang sudah mendapatkan kabar dari pihak pemakaman.


"Iya, Rei!" jawab Adelia singkat menurut perkataan putranya dengan wajah yang sangat sedih.


Adelia berjalan mengikuti beberapa orang yang keluar dari mobil ambulance dan mulai menggotong peti mati Tyra.


Peti kemudian di masukkan ke dalam mobil ambulance dan tidak lama kemudian mereka bergegas menuju tempat peristirahatan terakhir Tyra.


Selama perjalanan Adelia dan Ramon hanya bisa terdiam dan saling pandang. Memang benar apa kata orang mempersiapkan liang lahat bagi anak sendiri adalah hal yang paling menyakitkan bagi setiap orang tua.


"Kuat, Mami!" bisik Rei saat mereka tiba di tanah pemakaman.


Adelia hanya tersenyum mendengar perkataan Rei, ia terus berjalan hingga mereka tiba di liang lahat untuk Tyra.


Tidak berapa lama kemudian, Tyra di masukkan ke dalam liang itu dan di tutup dengan tanah yang berada di sekeliling liang.


"Selamat jalan, Tyra! Maaf Papi tidak bisa mendidikmu dengan baik." gumam Ramon menyesali semua didikan yang menurutnya salah pada Tyra.


Saat pemakaman sedang berlangsung, dari balik pohon tidak jauh dari tempat peristirahatan terakhir Tyra. terlihat Albert sedang memandang Rei dengan wajah sangat marah.


Kini ia tidak tahu lagi, siapa yang dapat ia peralatan untuk mengacaukan hidup Rei dan keluarga besar Ramon yang terhormat dan terkaya di kota Jakarta.


"Kenapa, Tyra! Kenapa kamu harus pergi secepat ini." gumam Albert sambil menahan amarahnya.


Setelah acara pemakaman Tyra berakhir, Rei mengajak Ramon, Adelia dan Zenira segera pulang. Hari menjelang malam dan Rei tidak ingin mereka masih di sana saat gelap.


Zenira berjalan pelan menuju mobil, tidak sengaja matanya memandang Albert yang masih saja menatap tajam ke arah gundukan makam Tyra.


"Itu Albert!" pekik Zenira salah satu tangannya menunjuk ke arah Albert berdiri.


Rei yang mengikuti jari Zenira menunjuk ke arah Albert. segera tahu siapa pria yang ada di sana.


"Albert!" gumam Rei bergegas melangkahkan kaki ke arah Albert.


"Jangan, Rei." cegah Ramon yang tidak mau lagi mencari masalah dengan Albert, Ramon sangat tahu pemuda itu memiliki orang kuat di balik sifat jahatnya yang sedang ia tunjukkan.


"Tapi, Papi." jawab Rei menghentikan langkahnya dan tidak terima Albert melangkah pergi.


"Cukup!" teriak Ramon sambil meminta di pindahkan ke dalam mobil.


Rei menuruti permintaan Papinya, ia masuk ke dalam mobil kemudian meninggalkan Tyra dengan sejuta kenangan.


Sesampainya di rumah mereka membukanya dengan makan malam yang sudah di siapkan oleh Tora. Sepiring besar sayur capcay goreng dan beberapa potong daging rendang terlihat di sajikan dengan kondisi masih hangat.


Rei bergegas makan karena perutnya sudah sangat kelaparan.


Terdengar seseorang membunyikan bel pintu dan Tora bergegas membukakan pintu.


"Hai, selamat malam. Aku Cindy, Rei ada?" sapa tamu mereka malam itu dengan senyum ramah.


"Oh, Tuhan. Apalagi ini?" gumam Rei yang sadar Cindy akan mengacaukan malam harinya.


Cindy kemudian bergabung masuk ke ruang makan di mana semua anggota keluarga sedang berkumpul.


"Hai, Mami Adelia. Mami masih mengingatku?" sapa Cindy yang terlihat begitu cantik dengan dress berwarna biru muda yang begitu menawan.


"Cindy, ikutlah makan malam dengan kami. Apa kabarmu?" tanya Adelia menawarkan Cindy.


Adelia memanggil Tora untuk menyajikan makanan di piring Cindy.


"Pak, Tora! Ambilkan piring untuk Cindy, biar ia ikut makan malam di sini." perintah Adelia pada pelayannya.


"Baik, nyonya! Akan saya ambilkan piring untuk nona Cindy sekarang." jawab Tora bergegas menghampiri Adelia.


"Siapa yang memberitahumu?" tanya Rei seperti tidak percaya akan maksud tujuan mantan kekasihnya itu.


"Aku datang karena Albert memberitahuku jika, Tyra meninggal tadi siang." jawab Cindy memberi ucapan belasungkawa.


"Albert? Jadi ia sengaja menghubungimu. Karena ia tahu kamu pasti akan sangat sedih mendengar kepergian adikku." ucap Rei sudah menduga Albert akan selalu mengusik hidupnya.


Rei terlihat sangat tidak senang mendengar nama Albert terus di sebut, namun Cindy terlihat tidak peduli dengan respon mantan kekasihnya itu.


"Jangan begitu, Albert sudah lebih baik sekarang. Kabarnya bisnisnya sudah tutup, jadi ia mencoba membuka bisnis yang baru." ucap Cindy menjelaskan agar Rei tidak marah lagi pada teman baik mereka.


Rei hanya tertawa kecil, ia tidak benar-benar percaya jika Albert benar-benar sudah berhenti dari bisnis haramnya.


"Terserah kalau kamu tidak percaya, tapi ia benar-benar sudah berubah sekarang." ucap Cindy sambil menikmati sajian makan malam yang di tata di piringnya.


"Papi apa kabar? Kabarnya kamu sedang kurang fit, ya?" tanya Cindy sambil tersenyum pada Ramon.


Ramon hanya mengangguk sambil tersenyum, sebenarnya Ramon tidak terlalu suka pada Cindy. karena wanita ini terlalu berani dalam berhubungan dengan Rei, putranya.


"Ngomong -ngomong kamu tidak ke sini dengan putramu?" tanya Zenira yang di jawab Cindy dengan senyum.


"Oh, Alceo? Ia sedang dengan Daddynya." jawab Cindy santai sambil memasukkan daging rendang ke mulutnya.


"Alceo siapa?" tanya Adelia yang tidak tahu cerita tentang anak lelaki Cindy.


Cindy kemudian menceritakan jika ia memiliki anak lelaki yang kini sedang di asuh oleh Daddynya.


"Bawalah ia kemari, ia pasti sangat lucu." ucap Adelia meminta.


Perkataan Adelia ini, membuat Cindy mendapatkan angin segar untuk membawa putranya itu menemui Rei lagi. sedang Rei yang mengetahui akal busuk Cindy hanya bisa tersenyum kecut.


"Baiklah, biar aku telpon suamiku dan membawa Alceo kemari." ucap Cindy mengambil ponselnya di dalam saku tas kecilnya.


Sontak perkataan Cindy ini membuat Rei ketakutan dan benar saja tidak sampai lima menit Alceo datang di antarkan sopir pribadi Cindy.