
Yura mulai mengerjapkan kelopak matanya perlahan ketika cahaya mentari menyelusup celah-celah gorden. Satu hal yang masih membuatnya tenang adalah masih ada tangan yang menggenggam jemarinya. Bibirnya tersenyum tipis, kala mengingat suaminya kalang kabut karena ia diamkan sejak kemarin.
“Tapi, ini kok rasanya beda,” gumamnya menajamkan pandangan. “Zeva?” serunya mengejutkan gadis itu.
“Kak, udah bangun? Butuh apa, Kak? Mau minum?” tawar Zeva gelagapan.
“Maaf mengejutkanmu. Di mana Zefon? Kenapa kamu yang ada di sini?” tanya Yura merasa tak enak.
Zeva merapatkan kembali bibirnya, tidak berani menatap kakak iparnya. ‘Waduh, aku jawab apa? Mana Kakak belum kasih pesan apa pun!’ gumam Zeva kebingungan.
Raut wajah Zeva mencurigakan, Yura memicingkan matanya. Ia beranjak bangun dengan susah payah, usai melakukan latihan bersama Zefon kemarin.
“Ke mana dia, Ze? Apa bersama bayi kami? Atau dia ke mana?” cecar Yura mendesis kesakitan.
“Sebenarnya ... Kak Zefon sama Boris sedang mencari Rudolf, Kak,” tutur Zeva menunduk.
“Apa? Kapan? Kenapa tidak mengatakannya padaku?” jerit Yura khawatir. Ia menyentuh perutnya yang terasa ngilu. Kekhawatiran dan penyesalan seketika merebak dari benaknya.
Zeva panik, ia segera berdiri membelai bahu kakak iparnya, “Tenangkan dirimu, Kak. Aku yakin mereka tidak terkalahkan.”
“Hubungi mereka, Ze. Cepat!” teriak Yura menggebu-gebu.
Zeva menghela napas panjang. Ia sendiri tidak tahu kondisinya bagaimana. Tapi yang jelas, Zeva paham jika dalam situasi seperti itu mereka akan sulit dihubungi. Tapi demi meredam kepanikan Yura, Zeva berusaha menghubungi mereka. Tidak peduli berapa lama akan mendapat jawaban.
\=\=\=000\=\=\=
Boris tidak mendengarkan kata Zefon, ia memang mengerahkan para bawahannya dalam pimpinan Calvin untuk menghancurkan klan musuh. Pria itu memilih untuk menyusul Zefon, meski kemampuan menyetirnya ketinggalan jauh dari Zefon.
Degup jantungnya nyaris berhenti ketika mendengar suara ledakan yang cukup besar. Kilatan api juga sempat terlihat cukup jauh di atasnya. Zefon memang membawa mobil yang ia tumpangi ke dataran lebih tinggi dan memastikan jurang yang cukup dalam.
Boris semakin menaikkan laju kendaraan, panik dan khawatir menggulung jadi satu. Ia takut jika Zefon terlambat menyelamatkan diri. Sudah dipastikan tidak akan selamat dari ledakan dahsyat bom yang dirakit para profesional Klan Black Stone.
Boris berlari hingga ke tepi jurang, matanya menelisik ke bawah. Di mana kerangka mobil terjatuh ke hamparan sungai. Meninggalkan asap pekat yang membumbung tinggi. Matanya berkaca-kaca, dadanya terasa sesak. Ia berjongkok, masih tak menyerah mengedarkan pandangannya.
“Tuan Zefon!” pekik Boris menggema, bahkan suaranya memantul di ujung sana.
Zefon tergeletak tak jauh dari Boris, terjatuh di atas tanah, tepat satu tingkat dari jalan raya. Berkat perhitungan yang cermat, ia berhasil melompat keluar sebelum mobil meledak di udara. Napasnya terengah-engah, berusaha bangun meski kepalanya berputar-putar.
“Tuan, beri petunjuk kalau Anda selamat!” teriak Boris nyaris frustrasi.
Hingga sebuah tangan penuh debu dan darah terlihat di tepi jalan. Ada cincin kawin yang tersemat di jari manisnya. Boris sangat hafal pemilik cincin itu.
“Tuan!” Boris berlari menghampiri, berjongkok, melihat Zefon bergelantungan dengan satu tangannya. Boris segera menarik lengan Zefon dengan kedua tangannya. Mengerahkan seluruh kekuatan untuk menarik tubuh bosnya agar mencapai atas.
Tanah mulai longsor, Boris segera mundur tanpa melepaskan lengan Zefon. Wajahnya memerah, ia menoleh mencari sesuatu untuk pegangan. Hingga satu lengannya meraih tiang lampu jalan untuk menahan beban tubuhnya agar tidak ikut tertarik. Karena Zefon sudah benar-benar lemas.
“Aaarrrrghh!” teriak Boris dengan seluruh kekuatannya, tubuhnya langsung terjengkang tepat di samping Zefon.
Napasnya tersengal-sengal, keringat mengucur di keningnya. Helaan napas lega menyembur dari mulutnya, segera beranjak memeriksa kondisi Zefon. “Tuan! Anda mendengarku?” tanya Boris menepuk-nepuk pipi Zefon yang berlumuran darah.
Zefon mengangguk kecil, matanya enggan terbuka. Pelipisnya memang terkena peluru yang dilesakkan oleh Rudolf. Darah segar terus mengalir sedari tadi.
Untung saja ia langsung keluar dan tembakan itu hanya mengenai permukaan kulitnya, tidak tepat bersarang di kepalanya. Hanya mengenai kulit luarnya. Tapi, terjatuhnya Zefon dari ketinggian cukup membuat sekujur tubuhnya remuk redam.
“Boris! Bawa aku ke istriku! Hari sudah hampir siang. Aku takut dia sudah bangun,” gumam Zefon di ambang kesadaran.
“Bertahanlah, Tuan!” Boris susah payah membangunkan Zefon, memapahnya masuk ke mobil. Napas Zefon mulai tak beraturan saat duduk di kursi depan. Boris segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Bersambung~